
Wayren baru pulang sekolah, dia segera masuk kerumah dan menuju keruang makan, melihat kesegala arah, dia ingin sekali melihat Ayatha sekarang, sudah beberapa hari dia tidak terlalu banyak berjumpa dengan Ayatha. Namun dia tidak menemukannya
" Selamat sore Tuan Muda Wayren, anda baru pulang sekolah? " kata Bibi Moi menyambut Wayren
" Iya, di mana Ayatha? " kata Wayren
" Tuan Muda Andra menyuruh orang untuk menjemput Ayatha beberapa jam yang lalu, " kata Bibi Moi menjelaskan.
Wayren mengerutkan dahinya, apa mungkin Andra mengajak Ayatha ke sana?.
" Baiklah, suruh Ayatha menemuiku jika dia sudah pulang," kata Wayren serius
" Baik Tuan"
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, Wayren masih duduk di ruang tamu, dia sedang menunggu Ayatha dan kakaknya pulang, sebenarnya dia sangat cemas. Bukan takut Andra dan Ayatha kenapa-kenapa, dia hanya cemas diantara Andra dan Ayatha ada apa-apa.
Dia sudah menghubungi ponsel kakaknya, namun handphonenya tidak aktif. Dia semakin kesal, bagaimana mereka bisa pergi begitu lama? Pikir Wayren berdiri dan melihat ke arah jedela.
Tak lama, mobil masuk keperkarangan rumah, ini mobil yang sama seperti yang mereka gunakan waktu pergi dari kantor Andra, dan Assisten Wang yang menyetir, di sebelahnya ada Ayatha, namun ada yang berbeda dengan Ayatha.
Wayren hanya mengamati tanpa keluar, dia melihat gaun yang dipakai oleh Ayatha, dia sangat cantik, cantik sekali. Namun hal itu yang membuat Wayren tambah gusar, ke mana mereka sampai Ayatha memakai gaun seperti itu.
Setelah memberi salam, Ayatha masuk dari pintu samping, sedangkan Andra segera masuk ke rumah dari pintu utama, dia berjalan langsung menuju ke kamarnya.
Andra membuka pintu kamarnya, aneh, kenapa pintunya tidak terkunci?. Dia segera membuka pintunya, melihat Wayren yang sudah duduk di ruang membacanya
" Hei, bagaimana kau bisa masuk? " kata Andra menatap adiknya
" Kunci cadangan, kenapa pulang terlalu lama? " kata Wayren serius, Andra menangkap nada bicara adiknya yang menyimpan kesal.
" Tidak ada, hanya pergi ke sana, " kata Andra seadanya sambil membuka jasnya.
" Perlukah aku mengingatkanmu bahwa pertunanganmu dengan Nadine hanya tinggal menunggu waktu dia pulang dari Jerman? " kata Wayren mencoba menahan emosinya.
" kau tidak perlu mengingatkan aku, aku ingat itu," kata Andra juga mulai terpancing
" Karena itu, cobalah untuk membuat tidak orang berharap, " kata Wayren berdiri dan segera keluar dari kamar Andra, Andra menatap kepergian adiknya, wajahnya suram.
..........................
Ayatha baru selesai mandi, gaunnya di gantungkan olehnya dengan sangat hati-hati, wah, gaun ini pasti sangat mahal, pikir Ayatha. Pintu di ketuk, dan Ayatha keluar, ternyata Bibi Moi.
__ADS_1
" Ayatha bisakah kau keluar sebentar, ada lampu yang harus kau periksa, " kata Bibi Moi tampak gugup dan sedikit ketakutan, melihat itu Ayatha sedikit mengernyitkan dahi, tidak bisanya Bibi seperti ini.
" Oh, baiklah, " kata Ayatha, Bibi Moi menemani hingga ke pintu samping.
" Hati-hati," kata Bibi Moi membuat Ayatha kebingungan.
" Baiklah, " kata Ayatha mau tidak mau tetap keluar.
Bibi Moi menutup pintu samping perlahan, hatinya tidak enak, dia segera berlari ke kamar Andra, dengan mengumpulkan keberanian, dia mengetuk pintu kamar Andra.
" Siapa?" kata Andra yang sedang menyelesaikan beberapa pekerjaannya.
" Saya Tuan, Bibi Moi"
" Silahkan masuk, "
Bibi Moi langsung masuk, melihat wajah Bibi Moi yang kelihatan tegang, Andra mengerutkan dahi.
" Ada apa Bi?" kata Andr
" Tuan, maaf jika saya lancang, namun bisakah anda memastikan Ayatha tidak kenapa-kenapa? " kata Bibi Moi sungkan
Andra yang mendengar nama Ayatha Langsung berdiri, wajahnya tekejut.
" Tuan Muda Wayren, tadi dia memerintakahn saya untuk menyuruh Ayatha keluar dari rumah lewat pintu samping, ini sudah hampir jam 12 malam dan sangat dingin, saya jadi cemas, saya tidak bisa menolak, karena Tuan Muda Wayren kelihatan sedang marah, " kata Bibi Moi menjelaskan
Mendengar itu, Andra langsung keluar, dia menuju ke pintu samping rumahnya. Apa yang sedang dipikirkan Wayren, pikir Andra emosi bercampur cemas.
Dia segera keluar melihat kesekitar, namun Ayatha tidak ada, ke mana dia? Pikir Andra, dia berlari ke arah luar, dan dari kejauhan dia melihat Ayatha dan Wayren sedang berdiri, sepertinya mereka sedang berbicara, Andra mecoba mendekat.
" Ada apa Tuan Muda Wayren? " kata Ayatha kebingungan karna tiba-tiba saat keluar tadi Wayren langsung menariknya sampai ke sini. Karena jalan masuk kerumah mereka sangat jauh dari jalan raya, tempat mereka berdiri ini terlihat remang-remang dan banyak pohon di kanan dan kirinya. Membuat seram tempat itu terasa.
" Ke mana kalian pergi ?" kata Wayren mencoba tenang.
Andra yang mendengar itu langsung menuju ke pepohonan, dia ingin mendengarkan apa yang sedang adiknya dan Ayatha bicarakan.
" Whm… kami… " kata Ayatha bingung, dia sudah berjanji tidak akan mengatakan apa yang terjadi tadi.
" Cepat jawab!" bentak Wayren yang tidak bisa lagi bisa menahan emosinya, Ayatha yang melihat itu kelihatan ketakutan dan kaget, melihat kelakuan adiknya Andra ingin keluar namun urung dilakukannya.
" Maaf Tuan, tapi saya tidak bisa mengatakannya, " kata Ayatha gemetar, melihat Ayatha yang gemetar emosi Wayren sedikit teredam
__ADS_1
" Bukannya aku sudah bilang, jangan lagi dekati kakakku, " kata Wayren lirih sambil memegang kedua bahu Ayatha, Ayatha masih saja gemetar.
" Maaf Tuan..saya.." kata Ayatha terbata-bata
" Kau benar-benar menyukai kakakku?" kata Wayren menatap Ayatha dengan serius, tajam.
Membuat dinginnya malam mengalir keseluruh tubuh Ayatha, dia sama sekali tidak menyangka akan di marahi oleh Wayren seperti ini, dan dia sangat seram jika emosi. Wayren masih memegangi bahu Ayatha dengan keras, Ayatha beberapa kali meringis kesakitan.
Sedangkan Andra yang mendengar itu sedikit terkejut, Ayatha menyukainya, apa benar?
Ayatha tidak bisa menjawab apa-apa, dia tidak mungkin mengatakan kalau dia menyukai Andra, benar-benar tidak mungkin. Tapi dia juga tidak mau mengatakan tidak. Itu membohongi dirinya sendiri, dan membohongi Wayren.
" Jawab lah aku sekali, tolong… " kata Wayren lirih, matanya merah, hatinya luka, dia tidak pernah merasakan sakit seperti ini, namun Ayatha masih saja diam, Wayren menatap mata Ayatha dengan suram, di dalam matanya dia bisa menemukan jawabannya.
Wayren melepaskan genggamannya, lalu tersenyum sinis, membuat Ayatha tambah ketakutan.
" Kau benar-benar menyukainya kan? " kata Wayren tetap tersenyum sinis, dia frustasi, dia sangat ingin melampiaskan kemarahannya. Berulangkali membuang napas panjangnya menenangkan diri.
" Bisakah kau menyukaiku, walau hanya sedikit, " kata Wayren lagi dengan lirih, menatap Ayatha dengan serius.
Ayatha menatap mata Wayren, dia tidak tahu harus mengatakan apa, namun dia juga tidak mau memberikan harapan apapun pada Wayren, sebenarnya dia sama sekali tidak punya perasaan dengan Wayren.
" Maaf Tuan, " kata Ayatha menunduk, dia hampir menangis.
Wayren tediam, tidak disangka, pertama kalinya dia menyukai seseorang seperti ini, dan dirinya di tolak mentah-mentah. Dia mengepalkan tangannya. Tak tahu harus apa. Dia menahan diri, matanya panas dan perih.
" Kalau begitu, lupakan kakakku," kata Wayren dingin, mendengar itu, Ayatha menatap Wayren, dia ingin bertanya kenapa? Namun mulutnya terkunci.
" Kalau kau tidak bisa menyukai ku, kau juga harus melupakan kakakku, karena dia akan melukaimu, Andra bukan pria yang biasa, dia akan melakukan apapun untuk menjadi pewaris keluarga ini, beberapa bulan lagi dia akan bertuangan, jadi aku pastikan kau akan terluka jika kau terus menyukainya, lagi pula ayahku bisa melakukan apapun agar Andra menikahi Nadine, bahkan melenyapkanmu, ayahku tidak akan ragu-ragu," kata Wayren terus berusaha mengontrol dirinya. Dia menatap Ayatha yang kaget mendengarkan kata-katanya.
Andra akan bertunagan? Bagaimana bisa? Tentu, tentu dia bisa, dia seorang pewaris keluarga kaya, dia pasti memilih istri yang sepadan dengannya, dan apa yang dipikirkan oleh ku, bahkan menyukainya saja aku tidak pantas, pikir Ayatha yang merasakan sakit yang amat sangat di hatinya. Beberapa jam yang lalu rasanya semua dunia indah, tapi sekarang, rasanya langit akan runtuh.
Wayren yang melihat wajah Ayatha yang sedih, menjadi lebih sakit,dia baru sadar, melihat Ayatha seperti ini ternyata lebih melukainya.
Dia membuka jaket rajut yang digunakannya, menaruhkannya kepundak Ayatha.
" Kau boleh tidak menyukaiku, tapi aku janji akan selalu melidungimu, aku akan membuatmu bahagia, aku janji, " kata Wayren
Ayatha hanya melihat Wayren, air matanya turun, membuat hati Wayren hancur, dia segera memeluk wanita yang sangat di sukainya itu, Ayatha tidak bisa menahan diri, dia menangis di pelukan Wayren. saat ini, bukan hanya Wayren yang hancur, Andra pun begitu.
Andra hanya terdiam, kalau benar Ayatha menyukainya, ini akan melukai gadis itu, Andra tidak akan bisa lagi menghindar, dia harus bertunangan dengan Nadine, Wayren benar, dia tidak boleh memberikan harapan kosong pada Ayatha.
__ADS_1
Lagi pula dia juga harus melindungi gadis itu dari ayahnya atau nasibnya akan sama dengan Yosa. Melihat Wayren memeluk Ayatha, Andra hanya tersenyum kecut, dia ingin di sana menenangkan tangis Ayatha, namun dia tidak bisa.
Dia segera berbalik dan pergi dari sana.