
Ayatha sampai ke apartemennya, membuka pintu dan lansung terkejut. Dia melihat Hanna
sudah duduk menunggu nya diruang tengah, wajahnya kesal dan cemberut menatap Ayatha.
" Siapa yang mengizinkanmu pulang, tanpa mengatakan padaku? " kata Hanna dengan
emosinya
" Maaf, tapi aku sudah menghubungi Kak Maxi, aku kira dia mengatakannya padamu, "
kata Ayatha yang kaget melihat Hanna
" Ah! Seharusnya kau bilang padaku, aku kan ingin oleh-oleh dari mu, " kata Hanna
menghambur memeluk Ayatha
" Kau bisa datang ke sana kapan saja, masih perlu oleh-oleh dari ku? " kata Ayatha
membalas pelukan Hanna
Semenjak kejadian Maxi memberitahu semuanya, Hanna sudah menerima Ayatha, dia sering
sekali datang kesana untuk menemani Ayatha, mereka benar-benar menjadi saudari.
" Kau sangat sibuk ya, baru pulang juga tidak langsung ke rumah, malah pergi 2 hari
tidak tahu ke mana?" kata Hanna lagi
" Aku pergi ke kampung halamanku, sudah lama tidak ke sana, " kata Ayatha lagi
" Oh, begitu, kalau begitu karena kau pulang tanpa beritahu aku, ayo kau harus meneraktirku,
" kata Hanna menarik tangan Ayatha
" Ok, ok, baiklah, " kata Ayatha mengikuti kemauan saudarinya.
Mereka memilih tempat makan di mall yang ada di bawah apartement Ayatha, tempatnya
lumayan ramai, namun karena Hanna menggunakan kartu khususnya, mereka bisa
langsung mendapatkan tempat. Hanna memesan lumanyan banyak makanan.
" Kau sangat kelaparan? " kata Ayatha
" Kapan lagi aku di teraktir oleh Kakakku sendiri? " kata Hanna, Hanna bersikeras
dia harus jadi anak paling terakhir, jadi dia menganggap Ayatha adalah
kakaknya, padahal menurut usia, ayathalah yang paling muda di antara mereka.
" Aku selalu meneraktirmu bukan saat di sana? Jadi makanan ini kau yang teraktir,"
kata Ayatha tertawa kecil
" Benar juga, baiklah, aku yang teraktir, " kata Hanna juga.
Tak lama makanan mereka datang, meja langsung penuh, 4 makanan utama, dan 2 desert, juga
minuman mereka sudah datang. Hanna dan Ayatha langsung makan dengan senang
" Sudah kah kau bertemu Andra?" kata Hanna memecah konsentrasi Ayatha.
" Belum, " kata Ayatha berbohong, dia tidak ingin Hanna tahu, dia tidak harus
menceritakannya, dan parahnya nanti hal ini akan sampai ke kakaknya, dia tahu
betapa Maxi menjaganya dari Andra.
"Aku dengar gosip, sepetinya pertunangan Andra dan Nadine tidak berhasil, "
kata Hanna lagi
" Oh " kata Ayatha terlihat tidak tertarik
" Ayolah, memangnya tidak ada sedikit pun perasaanmu dengan Andra lagi? Dulu aku kalian
sangat mencintai, aku bahkan iri, " kata Hanna lagi
" Bagaimana denganmu? Bukannya kau juga sudah menunggunya lama? " kata Ayatha
__ADS_1
" Aku rasa aku lebih beruntung darimu, setidaknya Andra sudah mengaskan bahwa dia
tidak menyukaiku, jadi melupakannya juga lebih mudah, " kata Hanna
" Yah, sepeti itu lah, " kata Ayatha
Hanna menatap ke arah saudarinya, Ayatha memang lebih buruk keadaanya, Hanna lah
saksinya, bagaimana terpuruknya dia dulu saat awal mengetahui Andra dan nadine
bertunangan, tidak sedetikpun air mata itu kering dari matanya, menangis
sepanjang malam, hingga tidak bisa tidur, sedihnya lagi, dia menangis dalam
hening, karena tidak ingin sampai Maxi tahu, di lain waktu dia hanya termenung,
pandangannya kosong, kadang di ajak berbicara pun sangat susah. Dia sangat
patah hati...tubuhnya kurus, kurang tidur dan tidak mau makan sama sekali.
Hanna lah yang ada disana, 2 orang yang patah hati dengan pria yang sama,
menjadikan mereka lebih dekat.
" Oh, aku dengar dari Kakak, kau sudah punya seseorang ya? " kata Ayatha mengoda
Hanna
" Aku masih memberikannya masa percobaan, " kata Hanna memakan ikan yang di
ambilnya
" Kalian pacaran atau bekerja? Masa ada masa percobaannya? " kata Ayatha
" Tentu, aku tidak mau salah lagi, menyesakkan jika sudah berjalan bersama tapi harus
berpisah, " kata Hanna lagi
" Tenanglah, kau cantik, dan masih muda, masa buru-buru ingin menikah, " kata Ayatha
lagi
banyak cowok yang sudah kau tolak, cobalah seperti aku, berikan mereka masa
percobaan, " kata Hanna
" Hahaha...aku tidak berpikir untuk punya hubungan dulu, Kakak menyuruhku untuk kuliah, "
kata Ayatha lagi
" Kakak selalu begitu, kau tahu akhirnya dia bisa kembali lagi dengan Christine, "
kata Hanna lagi
" Benarkah? Wah, aku senang mendengarnya, " kata Ayatha
" Yah... tapi pura-pura saja kau tidak tahu yah, karna Kakak bilang jangan bilang
siapa-siapa dulu, " kata Hanna lagi
" Haha...baiklah, " kata Ayatha
" Aku harus kembali ke rumah sakit, kalau tidak kakak akan marah, kau ingin balik ke
apartemen atau ingin pergi lagi? " kata Hanna setelah dia selesai
menghabiskan makanannya
" Aku rasa aku hanya ingin beristirahat, besok aku akan pergi ke hotel di selatan,
belajar dan mengamati seperti mu, " kata Ayatha
" Wah, kau sekarang sudah lebih sibuk dari ku, baiklah, hubungi aku jika perlu teman,
sesekali aku akan datang ke sana," kata Hanna
" Baiklah, hati-hati ya, " kata Ayatha melihat Hanna yang berlalu pergi.
Ayatha masih duduk di tempat itu, para pelayan mengangkat piring yang sudah habis,
__ADS_1
pemandagan dari tempat makan itu lumayan juga, kaca-kacanya memperlihatkan
pemandangan kota yang indah. Tak di sangka, 2 tahun sudah dia tidak pernah
melihat kota ini. Kota yang penuh kenangan yang terkadang menyesakkan.
Tiba-tiba ada seseorang duduk di depannya, Ayatha langsung kaget melihat siapa yang ada
didepannya, duduk dengan tenangnya di depan Ayatha, menatapnya dengan dingin,
tatapan Andra membuat Ayatha terdiam.
Andra di mata Ayatha, masih penuh pesona dan sangat tampan, rambutnya di tata sangat rapi,
wajahnya lebih terlihat dewasa dari pada 2 tahun yang lalu, tampak tegas dan
dingin. Untuk apa dia disini?
Ayatha mencoba tenang, tidak ingin menunjukan keterkejutannya, atau ekspresi apapun di
depan Andra.
Andra pun hanya terdiam, dia terus memperhatikan Ayatha dengan tatapan yang akan
menghipnostis siapapun masuk kedalam matanya yang hitam.
" Terima kasih sudah memanggil polisi kemarin, " kata Andra dengan nada dingin dan
terdengar angkuh.
Ayatha terdiam, toh bukan dia yang memanggil polisi
" Maaf, tapi sepertinya anda salah sangka, " kata Ayatha tersenyum seadanya,
menunjukan ketenangannya, Andra sedikit terusik dengan nada bicara Ayatha yang
tak kalah dinginnya. 2 orang yang pernah saling mencinta ini terlihat seperti
sedang perang.
" Bagaimana keadaanmu? " kata Andra lagi, nada bicaranya sedikit melunak
" Anda bisa liat sendiri aku bagaimana? " kata Ayatha tampak tidak berminat
" Kapan pulang? " kata Andra lagi
" Aku rasa itu bukan urusan anda Tuan Andra, akan tidak baik bagi saya terlihat
beduaan dengan anda, ingatlah, anda sudah punya tunangan Tuan Andra, sekarang,
cobalah untuk setia dengan apa yang anda pilih, saya permisi dulu, banyak hal
yang saya harus lakukan, " kata Ayatha berdiri lalu berlalu, kali ini Andra
tak membiarkannya, dia langsung menangkap tangan Ayatha. saat tangan Andra yang
hangat menyentuh kulit Ayatha, ada seperti sengatan listrik yang mengalir di
tubuh Ayatha, hatinya juga tak tenang, Ayatha tidak menyukai perasaanya.
" Aku ingin berbicara denganmu, bisakah? " kata Andra menatap Ayatha suram
" Tidak, maaf, saya pergi dulu, " kata Ayatha melepaskan tangan Andra, dia lalu
pergi, meninggalkan Andra yang tampak muram. Ayatha sudah berubah, berbeda
dengan yang dulu, gadis itu terasa dingin, terasa lebih kejam. Apa yang sudah
dilakukannya, Andra berpikir sedih.
Ayatha kembali ke kamarnya, dia marah, dia sedih, perasaannya tidak karuan, dia tidak
tahu perasaanya sekarang bagaimana, dia kesal...tapi tak tahu sebenarnya kesal
pada siapa? Kesal pada Andra, atau kesal pada dirinya sendiri. Ayatha tak tahu
pasti, dia seperti orang frustasi...tidak boleh...tidak boleh seperti ini lagi,
dia tidak boleh depresi lagi. Dia mengambil beberapa butir obat, meneguknya,
__ADS_1
tak lama dia tertidur... air mata mengantung di matanya saat dia tertidur.