
Andra membaca bukunya dengan serius sambil menemani Nadine sarapan, ini sekarang jadi rutinitasnya, bangun, pergi ketempat Nadine, menemaninya makan, lalu kekantor, saat makan siang dia juga harus menemani Nadine, hingga malam hari, mungkin kalau bisa 24 jam sehari itu Nadine tidak akan melepaskannya.
" Bisakah kau tidak membaca buku, aku ada di sini loh, " kata Nadine menurunkan buku yang di baca Andra.
Hari ini Nadine sangat cantik, dia mengenakan riasan natural, rambutnya yang bergelombang sepinggang jatuh, wanginya lembut, membuat semua pria akan teralihkan perhatiannya. Beberapa orang juga mamandang Andra iri, mendapatkan wanita yang begitu cantik? Beruntung sekali...
" Baiklah, aku harus memimpin rapat lagi hari ini, bisakah kau selesaikan sarapanmu dengan cepat?"kata Andra dingin
Nadine terhenti, dia sepertinya sedikit kesal dengan yang di lakukan oleh Andra, dia merasa Andra yang sekarang benar-benar berbeda dengan yang dulu di sana.
" Aku ingin bertanya, di mana kau tadi malam?" kata Nadine, nada suaranya masih lembut, terlihat sekali dia sangat pintar mengatur emosinya.
" Di rumah, " kata Andra enteng
" Aku menelepon rumahmu, namun mereka bilang kau belum pulang, padahal itu sudah jam 1 malam, meraka juga mengatakan bahwa kau tidak pulang kerumah kemarin," kata Nadine menatap Andra curiga.
Andra menatap Nadine dengan tatapan seriusnya, dia mencoba menutupi kekagetannya.
" Aku memang tidak pulang ke rumah, aku menginap di hotel dekat kantor, karena setiap pagi aku harus datang untuk menemuimu, kau tahu rumahku terlalu jauh dari sini," kata Andra meminum minumannya dengan santai
" Benarkah? Aku menyuruhmu untuk menginap di tempatku, namun kau menolak, kenapa harus tinggal di hotel? " kata Nadine
" Kita bukan siapa-siapa, kita belum bertunangan, rasanya aneh jika harus tidur berdua dengan mu. " kata Andra lagi
" Atau jangan-jangan kau menemui wanita lain? Kau sangat berbeda, bukan Andra yang ku kenal dulu, " kata Nadine emosinya mulai terlihat
" Jangan sembarangan bicara, lagi pula kau hanya mengenalku sekilas, kita hanya bertemu beberapa kali di Amerika "
__ADS_1
" Aku cukup mengenalmu, benar kah? Ada wanita lain?" kata Nadine menatap Andra sangat dalam, jari jarinya yang lentik tampak merah karena menggenggam garpu dan sendok dengan erat.
" Kenapa kau mencurigaiku seperti ini?, Nadine, kalau memang kau tidak percaya, lebih baik kita batalkan saja pertunangan ini," kata Andra tak kalah emosinya.
Nadine terdiam, tampak matanya sedikit berkaca-kaca, dia tidak ingin melepaskan Andra, sampai kapanpun, tidak akan pernah... dia lebih baik mati dari pada harus melepaskan Andra, Andra itu cinta pertamanya, dia sudah menunggu untuk bertunangan dengan Andra lebih dari 5 tahun.
Sekarang saatnya, dan dia tidak ingin mengacaukannya. Tapi kalau ternyata memang benar di hati Andra ada wanita lain? Bagaimana? Dia harus melenyapkan wanita itu, harus...!! tekatnya dalam hati.
" Ternyata kalian berdua di sini." kata Tuan William di ikuti Tuan Ray yang ada di belakangnya.
" Ayah! " kata Nadine langsung bediri dan berjalan menuju kearahnya, dia segera memeluk Ayahnya erat-erat, melepaskan segala rasa yang ada di hatinya.
Andra melihat Ayahnya datang, dia berdiri, memberi salam pada Tuan William dan Ayahnya. Tuan William mengangguk sambil tersenyum, Ayahnya hanya mengangguk saja.
" Iya, aku sangat merindukan Ayah, " kata Nadine menatap Ayahnya, matanya sedikit berair
" Dasar anak manja, " kata Tuan William
" Halo Paman, apa kabar?" kata Nadine menyapa Tuan Ray
" Sehat, bagaimana dengan mu? Apa Andra meperlakukanmu dengan baik saat di sini? " kata Tuan Ray dengan lembut sambil terenyum
" Iya, dia memperlakukanku dengan baik, namun dia mulai sibuk ya. " kata Nadine sambil sekilas melihat Andra, Andra hanya bisa menunduk.
" Tentu, dia seorang direktur sekarang, tidak bisa tiap saat bermain dengan mu lagi. " kata Tuan William menggoda anaknya.
__ADS_1
" Selamat datang Paman, " kata Andra
" Terima kasih Andra, sekarang kau sudah resmi ya menjalankan perusahaan Ayahmu dan aku dengar perusahan itu kemanjuannya jadi sangat pesat, " kata Tuan William bangga akan calon menantunya
" Terima kasih Paman, " kata Andra tersenyum tipis
" Kami tidak ingin menganggu kalian, aku dan Ray akan kembali dulu, bersiap-siap dan sedikit beristirahat, lanjutkan saja apapun yang kalian lakukan. " kata Tuan William
" Iya Ayah, " kata Nadine tersenyum manis padanya
Setelah itu Tuan William dan Tuan Ray pergi meninggalkan mereka, suasana kembali canggung. Nadine tidak melanjutkan makannya. Sedangkan Andra hanya terdiam, mulai saat ini dia harus pura-pura baik dengan Nadine, dia sebenarnya ingin berontak, namun belum tahu harus bagaimana.
" Kalau kau mau pergi, pergi saja, aku masih ingin di sini." kata Nadine sambil menunduk menutupi bola matanya dengan bulu matanya yang panjang
" Kalau begitu, aku pergi dulu." kata Andra, berdiri mengambil jasnya lalu melangkah pergi.
"Andra..." panggil Nadine, membuat Andra terhenti namun tidak berbalik.
" Kenapa?"
" Apakah kau menyukaiku?" kata Nadine lagi
" Haruskah ku jawab, suka tidak suka... kau adalah calon tunanganku, itu saja. " kata Andra lagi, lalu pergi meninggalkan Nadine yang terdiam
Entah kenapa dia meresa sekarang dia sadar, dia tidak ada di hati Andra. rasanya sakit... tapi dia pasti bisa membuat Andra menyukainya... dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan hati Andra, walaupun harus mati sekalipun.
__ADS_1