
Andra keluar kamarnya pukul 8, sebenarnya dia sama sekali tidak bisa tidur, rumah itu masih
sepi, hanya penjaga Andra yang tampak sudah mempersiapkan makanan di ruang
makan.
" Kau sudah bangun bung? " Kata Randi menatap Andra, Randi sepertinya juga baru
bangun, dia sedang menuruni tangga saat melihat Andra, Andra menatapnya dalam,
ada amarah di matanya.
" Ya, terima kasih sudah menolongku, " kata Andra sebisa mungkin menahan
emosinya, dia ingat kejadian tadi malam, Randi bisa saja meninggalkannya, namun
dia tetap membawa Andra, walaupun dia belum mengenalnya, setidaknya Andra tahu Randi
orang yang baik.
" Yah, sama-sama, Wayren,benar? Selena bilang namamu Wayren, " kata Randi
mendekat
Andra terdiam, Ayatha bahkan tidak ingin Randi tau siapa dia sebenarnya, Andra
memperhatikan Randi lagi, pria ini baik... Andra rasa dia bisa menyerahkan Ayatha
dan Raphael padanya, lagi pula yang dipilih Ayatha adalah Randi, hati Andra
sakit mencoba menerimanya.
" Yah, Wayren, " kata Andra seadanya
" Ya, kau adik Ayah Andra bukan? Aku turut berduka cita atas kehilangan Kakakmu, "
kata Randi
Andra hanya tersenyum kecut, dia masih hidup...
" Selena sepertinya terkena insomnia lagi, dia memang suka begitu, aku rasa di
tidak membawa obatnya, dia akan bangun siang nanti, " kata Randi
menjelaskan
" Insomnia? Dia juga punya masalah itu? " Kata Andra tak percaya
" Yah, kata Maxi dia punya masalah semacam depresi setelah dia kecelakaan, kadang dia
terserang serangan panik, kalau dia sudah kumat, dia akan sangat tidak
terkontrol, " kata Randi menjelaskan
Andra kembali terdiam, separah itukah? Andra juga memiliki masalah kejiwaan, tak
disangka Ayatha pun begitu, bahkan Ayatha masih merasakannya sampai sekarang.
" Ayah? " Kata Raphael baru bangun tidur, dia berjalan menuju Andra, Andra menatap
lekat pada Raphael, Raphael mengangkat kedua tangannya tanda dia ingin di
gendong ayahnya. Andra tersenyum lembut lalu mengendong Raphael, Raphael
__ADS_1
memeluk leher Andra, menaruh kepalanya di bahu Andra dengan manja.
"Tidak menyapa Papi? " Kata Randi sedikit cemburu, dia sudah dekat dengan Raphael
bahkan dari dia kecil, namun begitu 'Wayren' ini datang, Raphael langsung
lengket bagai perangko.
Raphael hanya memperhatikan Randi dengan malas, di kembali manja dengan ayahnya.
Andra menatap Raphael suram, dia tidak ingin melepaskan Ayatha terlebih lagi
melepaskan Raphael, bagaimanapun ikatannya dengan Raphael adalah ikatan darah,
dia memeluk Raphael erat, sangat erat...dia ingin mengingat bagaimana rasanya
memeluk anaknya itu, ntah kapan lagi dia akan merasakan pelukan ini lagi
nantinya, entah dia bisa bertemu lagi atau tidak dengan Raphael.
Andra menikmati semua waktu yang tersisa baginya bersama Raphael, dia mengajak Raphael
bermain, menyuapinya untuk sarapannya, saat Raphael ingin mandi, baru Raphael
lepas dari pandangannya. Suster yang memandikannya.
" Ehm.. sepertinya kau sangat suka anak-anak ya, " kata Randi yang baru selesai
berolahraga
" Ya, "kata Andra seadanya
" Wayren, bagaimana wajah ayah Andra? " Kata Randi penasaran, dia ingin tahu
pria yang meluluhkan hati Ayatha itu sebenarnya seperti apa? Randi yakin dia
Andra mentap Randi dengan wajah berkerut, apa Randi tidak bisa melihat kemiripan antara Andra
dan Raphael.
" Kenapa kau ingin tahu? " Kata Andra dingin
" Hanya ingin tahu, bagaimana orang yang sampai sekarang ada di hati Selena, "
kata Randi tersenyum
" Dia sepertiku, kami kembar, " kata Andra menatap Randi serius
" Yang benar? Wow, pantas saja, aku sedikit merasa senang dia sudah tidak ada, kalau
ada aku pasti kalah bersaing, " kata Randi dengan diselingi tawa.
Andra tak tertawa, dia malah marah..
" Maaf bung, bukan berarti aku suka kakakmu meninggal, " kata Randi tahu bahwa
wajah Andra berubah tak enak di lihat.
" Selamat atas pertunaganmu, Jagalah mereka, " kata Andra serius
" Baiklah," kata Randi
" Aku akan pergi sekarang, tak perlu membangunkan Selena, " kata Andra
__ADS_1
" Owh, ok, Bisakah aku minta sesuatu padamu? " Kata Randi
"Apa? "
" Bisakah kau jangan terlalu sering bertemu dengan Selena, kalau kau datang aku
takut dia tidak akan bisa melupakan ayahnya Andra, kalian kan kembar, pasti
sangat mirip, maaf, bukan aku tidak suka dengan mu, " kata Randi.
Andra tersenyum sinis.
" Ya, tenang saja, " kata Andra
" Baiklah, hati-hati ya," kata Randi
Andra pergi, tak melihat kebelakang sama sekali. Sejak dia menginjakkan kakinya keluar dari
rumah itu, sejak itu lah dia sudah menyerah.
Membenamkan semua rasanya, cinta, rindu, hasrat... Baginya sekarang, Ayatha dan Raphael
hanya kenangan. Sekuat tenaga dia akan melepaskan, mereka akan hidup dengan
bahagia tanpanya, membanyangkan itu, Andra tersenyum namun air matanya
mengalir.
Ayatha terbangun ketika matahari sudah sangat tinggi, sudah pukul 11.00, kepalanya sangat
pusing. Dia segera turun dari ranjang, pergi ke kamar mandi, mencuci mukanya
dan mengosok gigi, tidak ingin terburu-buru untuk mandi karena badannya terasa
kurang sehat.
Dia turun ke bawah, suara tawa Andra kecil memenuhi ruangan, dia sedang bermain dengan Randi.
" Ibu, " kata Andra kecil menghambur ke arah ibunya, dia memeluk kaki Ayatha, Ayatha
lalu mengusap kepala anaknya.
" Baru bangun? "kata Randi tersenyum manis pada Ayatha
" Yah, " kata Ayatha
" Kau kelihatan sedikit pucat, sakit? " kata Randi
" Tidak, karena tidur terlalu pagi, jadinya begini " kata Ayatha lagi
"Owh, iya, siapa? Ehm..Wayren, dia sudah pergi tadi pagi, dia tidak ingin aku
membangunkanmu, setelah makan dan bermain sebentar dengan Andra, dia pergi, dia
mengucapkan selamat untuk kita, " kata Randi menjelaskan
Tiba-tiba kepala Ayatha seperti terpukul sesuatu, hatinya sakit, nyeri sekali mendengar
kata-kata Randi, entah kenapa dia merasa sangat sedih mendengar Andra telah
pergi.
" Hei, makan lah, lalu istirahat, " kata Randi
__ADS_1
" Baiklah, " kata Ayatha yang kembali di dunianya
" Ok, "kata Randi bermain kembali dengan Andra.