
Andra menatap jam dikantornya, sudah jam 15.00, dia baru saja memimpin rapat dikantornya, tangannya sibuk memainkan cincin yang ada di jari manisnya. Ruang kantornya sangat luas, beberapa sofa yang kelihatan berkelas ada disana. Dia tampak memikirkan sesuatu.
Handphonenya berdering. Wayren menelepon dirinya.
" Ada apa Wayren?" kata Andra menjawab teleponnya
“ Kau dimana? “ kata Wayren
" Di kantor, masih mengurusi beberapa hal di sini, " kata Andra
“ Kau masih di kantor? kau ingatkan ini hari apa? ” tanya Wayren
" Iya, aku ingat, " kata Andra wajahnya tampak suram
" Kau sudah 10 tahun tidak ke sana, mau aku temanin ? " kata Wayren
" Ehm… tidak perlu, aku akan kesana nanti sore, " kata Andra bangkit dan menuju ke arah jendela kantornya yang seluruhnya terbuat dari kaca, memperlihatkan pemandangan indah dari lantai 30 itu.
" Baiklah, telepon aku jika butuh aku, by the way... happy birthday, " kata Wayren
" Terima kasih, aku akan menelponmu nanti, " kata Andra mematikan hpnya, dia terlihat sangat gusar.
Dia kembali memainkan cincinnya. Berjalan menuju meja nya lagi, namun tidak duduk, hanya menatap layar handphonenya. Dia menghubungi seseorang.
" Asisten Wang, tolong jemput pelayan pribadiku, aku akan pergi 30 menit lagi, tolong siapkan semuanya, " kata Andra
" Baik Tuan, " jawab Asisten Wang
Ayatha sedang menyiapkan beberapa makanan yang akan di hidangkan untuk makan malam nantinya, nyonya besar sedang beristirahat, jadi dia sedikit bisa membantu di dapur.
" Ayatha... bersiap-siaplah," kata Bibi Moi tiba-tiba masuk kedalam dapur
" Untuk apa Bi?" kata Ayatha bingung
" Tuan Muda Andra sudah menunggumu "
" Baiklah, " kata Ayatha segera berberes
Ayath segera menuju kedalam mobil yang menunggunya. Mereka langsung menuju ke kantor Andra. Setelah sampai, mobil itu tidak berhenti di depannya, namun masuk kedalam basement dan masuk ketempat yang tampaknya hanya mobil tertentu dapat masuk.
Ayatha di persilahkan untuk keluar. Di sana terparkir banyak mobil, dan tampak sekali itu mobil-mobil itu sangat mahal.
Dari atas, terlihat Andra turun menggunakan lift, Ayatha dapat melihatnya, dia langsung gugup. Sementara di sampingnya sudah berdiri 2 orang pria dengan setelan jas hitam yang dia tahu adalah bodyguard Andra.
" Selamat sore tuan muda Andra, " kata mereka serempak.
" Sor,e " kata Andra datar dan dingin, Ayatha bisa melihat raut wajah Andra sangat berwibawa jika dikantor, beda dengan dia di rumah.
" Saya ingin bersama pelayan pribadi saya dan Asisten Wang di sini, yang lain tinggalkan kami, " kata Andra lagi
" Siap Tuan, " kata 2 bodyguard yang tadi, mereka segera bergerak dan masuk ke dalam lift lalu pergi.
" Mereka sudah pergi Tuan, " kata Asisten Wang
" Baiklah, ayo pergi, " kata Andra lagi
" Baik, " kata Asisten Wang membuka pintu mobil untuk Andra, sedangkan Ayatha segera naik di kursi depan bersama Asisten Wang yang menyetir. Mereka segera pergi, Andra memang sangat berbeda sekarang, lebih banyak diam.
" Asisten Wang, ke apartemen Luxerious, Private Basement, " kata Andra
__ADS_1
" Baik Tuan, " kata Asisten Wang mengikuti.
Sepanjang jalan Ayatha hanya duduk dengan tegang, sedangkan Andra hanya diam melihat beberapa dokumennya.
Sesampainya di apartemen itu, mereka langsung diarahkan ke arah private basement, di mana memang hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk, terlihat seberapa ketat pemeriksaan di sana.
Di sana hanya terparkir 1 mobil sport yang tampak sangat mahal, bentuknya sangat bagus. Ayatha belum pernah melihat mobil seperti itu.
" Asisten Wang, aku akan pergi dengan Ayatha, aku mau tidak ada yang tahu, tolong kau buat tetap seperti itu, " kata Andra memainkan lagi cincinnya
" Siap Tuan Muda, " kata Asisten Wang sambil memberi hormat.
Andra memberikan gestur pada Ayatha untuk mengikutinya, dia segera mengeluarkan kunci kendaraan itu, dia segera masuk ke dalam mobil itu diikuti Ayatha. Karena mobil itu hanya punya 2 tempat dua tempat duduk, mau tidak mau Ayatha duduk di samping Andra.
Dengan cepat Andra melajukan mobilnya, pergi meninggalkan apartemen itu, Andra hanya diam sepanjang perjalanan, sedangkan Ayatha juga tidak bisa memulai pembicaraan, Andra dan Ayatha pergi meninggalkan kota itu.
Saat Andra melihat toko bunga, dia memberhentikan mobilnya.
" Ayo, " kata Andra pada Ayatha, nada bicaranya sudah mulai melembut, tidak setegang tadi
" Iya Tuan, " kata Ayatha
" Kita tidak di rumah dan tidak ada orang di sini, panggil saja aku Andra, " kata Andra membuka jasnya. Lalu dia membuka cincinnya dan di letakkan ke tempat penyimpanan, dia sedikit tersenyum lalu keluar, Ayatha hanya memperhatikannya, entah kenapa dia benar-benar rindu senyuman Andra, semenjak Andra bekerja, dia tidak pernah lagi melihat senyum Andra.
Ayatha mengikuti Andra keluar.
" Anda mencari apa Tuan ? " kata penjual bunga itu dengan ramah, disana banyak sekali.
" Aku mencari bunga untuk seorang wanita, " kata Andra tersenyum pada pemilik toko bunga, tampak pemilik toko bunga, wanita yang masih berumur sekitar 28-30 tahun itu tersipu melihat indahnya senyum Andra, bahkan bunga-bunga disana kalah dengan senyumannya.
Bukannya dia menyukai Yosa, untuk siapa bunga ini? Atau jangan-jangan Andra sudah punya orang lain yang dia cintai?, entah kenapa dada Ayatha terasa terbakar, detak jantungnya tidak beraturan, dan dia jadi susah bernafas.
" Apakah bunganya untuk Nona yang bersama anda?"tanya penjual bunga itu lagi.
Andra menatap Ayatha yang masih kesusahan mengatur dirinya.
" Oh, bukan, aku tidak tahu dia menyukai bunga apa, bunga apa yang kau suka Ayatha? " kata Andra tersenyum, membuat Ayatha yang kelihatan masih bingung dengan perasaannya.
" Oh… ehm... bunga selalu memiliki arti, apa yang anda mau tunjukan ?" tanya Ayatha
" Kerinduan " kata Andra tampak suram
" Oh, itu bunga camelia, bukannya camelia pink berarti kerinduan. Anda berikan ini kepada seseorang yang telah lama di rindukan, " kata Ayatha mencoba tersenyum
" Benarkah? Aku tidak tahu kalau bunga juga memiliki arti, " kata Andra membalas senyum Andra, Ayatha mencoba tesenyum namun saat Andra memalingkan wajahnya, senyumnya langsung hilang.
" Iya, benar sekali, anda sangat benar, camelia pink ini memang melambangkan kerinduan, dan sangat cocok jika anda memberikannya pada wanita yang anda rindukan, lagi pula bukankah bunga ini sangat indah, " kata pemilik toko itu
" Baiklah, aku beli semua, bisakah anda merangkainya dengan indah, " kata Andra
" Tentu, aku akan merangkainya, ini akan sangat indah, " kata Pemilik toko itu langsung senang, tentu saja, Andra membeli bunga camelia itu banyak sekali.
Ayatha melihat banyak sekali bunga-bunga beraneka rangam di sana, di pojok ruangan dia melihat rangkaian bunga sedap malam yang mekar dan menaburkan harum semerbak, membuat seluruh ruangan ini terisi baunya.
Ayatha ingat, dulu saat dia kecil, di rumahnya selalu ada bunga sedap malam karena ibunya sangat menyukai bunga ini. Dia sangat rindu wangi ini, Ayatha lalu memandangi bunga sedap malam itu, Andra hanya memperhatikannya.
" Kau suka dengan bunga ini?" kata Andra yang sudah ada di belakang Ayatha
__ADS_1
" Oh, tidak Tuan, " kata Ayatha keceplosan
" Andra, biasakan itu, apa nama bunga itu? " kata Andra melihat rangakaian bunga itu.
" Sedap malam, " kata Ayatha melihat kearahnya
" sedap malam? Namanya aneh, " kata Andra
" Iya, karena dia hanya mekar pada malam hari, " kata Ayatha menjelaskan
" Benarkah? Wow, kau seperti sangat mengerti bunga, " kata Andra
" Ibu ku sangat suka bunga, bunga ini selalu ada di rumah kami, bunganya sangat harum, " kata Ayatha tersenyum teringat akan kejadiannya waktu kecil
" Lalu bagaimana dengan bunga camelia? " kata Andra menatap Ayatha serius namun lembut
" Ayahku selalu memberikan bunga camelia merah dan putih pada ibuku, jika putih artinya kekaguman, dan merah untuk orang yang kau cintai. Sedangkan jika ayah pulang dari luar kota, dia selalu membawa camelia pink, dia bilang dia merindukan ibuku, " kata Ayatha tersenyum manis.
Melihat senyuman Ayatha Andra tak bisa berkedip, benar kata Wayren, Ayatha sangat manis, apa lagi saat dia tersenyum itu. Ayatha juga melihat ke arah Andra, membuat mata mereka terpaut beberapa saat hanya menatap.
" Tuan, bunga anda sudah siap, " kata Pemilik toko membuat Andra sadar
" Ayahmu pasti sangat romantis, " kata Andra pada Ayatha sebelum meningalkan Ayatha menemui bibi pemilik toko, itu rangakaian bunga camelia yang sangat indah dan besar.
" Ayo, sudah sore, kita harus cepat," kata Andra
Ayatha menganguk dan segera mengikuti Andra.
Mereka sengera melanjutkan perjalanan mereka, cukup jauh Andra berkendra, sampai dia berhenti di suatu tempat.
Itu desa kecil yang indah di tepian pantai, matahari sore berwarna keemasan membuat pantulan indah di atas permukaan laut, angin menerpa wajah Ayatha yang takjub melihat pemandangan ini. Ombak kecil terus menghantam pantai. Tempat itu sangat indah.
" Ayo, " kata Andra.
" Apa tidak lebih baik saya menunggu di sini, saya takut akan menganggu Anda, " kata Ayatha yang tersadar, Andra akan menemui seorang yang dia rindukan, dia takut nanti dia tidak bisa lagi mengontrol perasaannya
" Tidak akan, kemarilah, " kata Andra menaiki anak tangga yang sepertinya menuju sebuah bukit.
Mau tidak mau, Ayatha mengikutinya dari belakang, Ayatha tampak menarik napas panjang beberapa kali, namun dia tetap berusaha tersenyum di hadapan Andra.
Sesampainya diatas, Ayatha bingung, tempat itu seperti padang rumput yang luas... tak jauh dari sana ada sebuah villa, tampak sudah tua namun indah...
Andra tidak mengarah ke villa itu, dia menuju ke sebuah pohon rindang di pinggiran padang rumput di belakang villa itu. di bawah pohon itu tedapat sesuatu, itu seperti pusara, berlapis granit putih, dengan atap bulat yang indah.
Andra terus melangkah ke tengah tempat pusara itu. Di depan pusara itu dia berhenti, ada foto seorang wanita, usianya mungkin masih 20an, tampak tersenyum, dia sangat cantik. Benar-benar cantik.
Ehm...kenapa Ayatha merasa dia sedikit mirip dengan Andra? .
Andra tidak banyak berbicara, wajahnya yang tadi tampak senang, berubah suram... dia segera meletakan rangakaian bunga di atas pusara. Andra tak henti melihat foto itu.
" Apa kabar, Bu?" kata Andra sambil berdiri dengan tangan yang dimasukkan kekantongnya.
Ayatha terdiam, ibu? Bukankah ibu Andra itu nyonya renata, kenapa dia memanggil dia ibu?
Semilir angin menghembus kencang, dan Andra hanya terdiam, begitu juga Ayatha, ada banyak pertanyaan, namun dia tidak berani berbicara. Andra dan Ayatha berada disitu hampir 30 menit, namun mereka hanya berdiri.
" Sudah hampir malam, ayo pulang, " kata Andra memulai langkah, meninggalkan pusara itu, Ayatha melihat Andra yang pergi, lalu melihat lagi kearah foto itu, perasaanya jadi tidak enak. Lalu dia memberikan salam, dan mengikuti Andra yang sudah pergi.
Andra sudah menunggu bediri bersenderkan mobilnya saat Ayatha sampai dibawah. Dia melihat Ayatha, pandangannya masih suram.
" Tolong rahasiakan ini, " kata Andra pada Ayatha
" Baik, " kata Ayatha
__ADS_1
" Ayo pulang, " kata Andra langsung masuk ke mobilnya, Ayatha mengikutinya saja.