
Ini pagi yang cerah, Ayatha sudah berjaga semalaman di depan pintu kamar Andra, sekesali dia memeriksa keadaan Andra, dan untungnya menjelang pagi Andra tidak panas
lagi, namun dia tetap khawatir, maka dari itu Ayatha tetap melanjutkan berjaga
di depan kamar Andra.
Wayren berjalan menuju kamar Andra saat dia melihat Ayatha sedang terduduk di depan
kamar kakaknya, tampak mengantuk dan hampir tertidur, Wayren mengerutkan
dahinya, tidak mungkin Ayatha menunggu di situ semalaman, pikirnya.
" Hey... " kata Wayren selembut mungkin agar tidak mengagetkan Ayatha, namun Ayatha
tetap saja terlihat terkejut melihat Wayren, dia langsung berdiri memberi salam
pada Wayren.
" Selamat pagi Tuan Muda Wayren, " kata Ayatha pelan
" Kau di sini semalaman? " Tanya Wayren sambil mengerutkan dahi
Ayatha hanya mengangguk pelan, sebenarnya dia sangat mengantuk saat ini, namun berusaha untuk tetap sadar agar jika Andra membutuhkannya dia bisa selalu ada, cara ini
yang dianggap Ayatha bisa menghapus sedikit rasa bersalahnya.
" Istirahat lah, aku akan menjaga Andra, " kata Wayren khawatir melihat Ayatha yang
begitu lemah.
" Tidak apa-apa Tuan, saya akan berjaga, saya khawatir Tuan Muda Andra membutuhkan saya," kata Ayatha mencoba menjelaskan.
" Kau ini, istirahatlah, dia juga kakakku, aku akan menjaganya dengan baik, istirahat
lah, " kata Wayren sedikit kesal karena Ayatha tidak mau mendengarkannya
" Terima kasih Tuan, tapi saya akan di sini, " kata Ayatha lagi
" Aku memerintahkan mu untuk pergi istirahat sekarang, " kata Wayren sambil
memegang tangan Ayatha dan menariknya untuk membawanya ke kamar.
" Wayren... " Kata Ayatha sedikit keras membuat Wayren berhenti menariknya
Wayren hanya terdiam melihat Ayatha, dia tidak tahu ternyata Ayatha sekeras kepala ini, dia benar-benar kesal melihat kelakuan Ayatha, namun dia mencoba menahannya.
" Maafkan aku, tapi aku akan di sini saja, " kata Ayatha sambil memberikan hormat
pada Wayren.
" Kau sudah pintar sekarang, " kata Wayren sambil mengusap kepala Ayatha lalu
pergi dan masuk kekamar Andra meninggalkan Ayatha yang kebingungan.
Wayren berhenti setelah menutup pintu kamar kakaknya, dia masih kesal, namun dia
mencoba menahannya dan menghembuskan napas panjang untuk meredam rasa kesalnya,
dia segera melihat kakaknya yang masih tertidur tenang, Wayren menarik kursi,
lalu duduk di kursi di samping ranjang kakaknya. Andra tampak terbangun karna
ulah adiknya.
" Pagi, " kata Andra melihat adiknya sudah duduk di sampingnya, dia segera duduk
di ranjangnya.
" Pagi, bagaimana keadaan mu? " kata Wayren
" Ssudah jauh lebih baik, " kata Andra sambil memegang kepalanya
" Kau tetap saja sama seperti dulu, selalu sakit jika hujan, seharusnya kau lebih
tahan sekarang, kau kan sudah dewasa, " kata Wayren
" Kenapa? Aku ingat kau selalu cemburu waktu aku sakit dan Ibu mencemaskan ku, sedangkan kau tidak, " kata Andra tersenyum melihat adiknya.
Wayren hanya terdiam, sekarang dia cemburu jika Ayatha yang mencemaskan Andra.
" Ada apa? " Kata Andra heran melihat reaksi adiknya
" Tidak apa-apa, bisa kau suruh pelayan pribadimu untuk istirahat, dia sudah menjagamu semalaman "
" Benarkah ?" Kata Andra tidak percaya
" Ya... Aku sudah menyuruhnya, tapi dia tidak mau menurutinya, jadi tolong suruh dia
istirahat, " kata Wayren dengan nada datar
" Di mana dia?"
" Di luar "
" Jadi kau kesini hanya menyuruhku untuk menyuruhnya istirahat? Sekarang siapa yang
sakit sebenarnya, " kata Andra mengoda adiknya
" Sudah lah, cepat keluar, " kata Wayren
Andra hanya tersenyum melihat tingkah adiknya, dia segera turun dari ranjang dan segera pergi keluar.
Andra melihat keluar, dia melihat Ayatha sudah tertidur di kursi di sebelah pintunya,
Andra melihatnya dengan tatapan heran, benarkah dia menunggu di luar semalaman?
Pikir Andra.
" Bagaimana? Kenapa kau diam saja? " Kata Wayren
" Kau lihat? " kata Andra memperlihatkan Ayatha yang sudah ketiduran di kursi
" Dasar gadis bodoh, " kata Wayren segera mengendong Ayatha dengan hati-hati agar
dia tidak terbangun, lalu masuk ke kamar kakaknya, Andra yang melihat hal itu
hanya diam saja, Wayren meletakkannya di atas ranjang Andra, perlahan-lahan
lalu menyelimutinya.
" Kenapa kau meletakkanya di kamar ku? " Kata Andra melihat kelakuan adiknya
" Kamarnya terlalu jauh, lagi pula dia ketiduran gara-gara menjagamu "
" Lalu bagimana dengan ku? " kata Andra
__ADS_1
" Kau boleh istirahat di kamar ku "
Andra ingin menjawab adiknya namun segera di urungkannya karena melihat Wayren yang serius duduk di samping Ayatha, Andra kesal,sebenarnya siapa yang sakit di sini?,
pikirnya sambil melangkah pergi ke kamar adiknya.
Wayren hanya menatap Ayatha, sesekali dia menarik selimut untuk menyelimuti Ayatha yang tidur sangat pulas, dasar, gadis bodoh, kata Wayren dalam hati sambil tersenyum
tipis.
Ayatha tidur benar-benar pulas bahkan dia tidak sadar bahwa dia sedang tidur di ranjang Andra
Andra tidak bisa memejamkan matanya walaupun sudah berulangkali dia memaksakan matanya untuk tidur kembali, namun sia-sia, Andra melihat langit-langit kamar Wayren, benarkah dia menjagaku dari tadi malam? Pikir Andra.
Andra bangkit, berjalan kembali ke kamarnya, lalu duduk di kursi ruang membacanya,
dia bisa melihat Wayren yang sedang duduk menjaga Ayatha dari tempat duduknya.
Dia benar benar menjaga Ayatha, pikir Andra melihat tingkah adiknya.
Mendengar seseorang masuk ke kamar , Wayren segera melihat ke belakang, melihat kakaknya yang sudah duduk di sana, dia segera bangkit dan segera dudukdi depan kakaknya.
" Bagaimana keadaanya? " Kata Andra
" Tidur dengan sangat pulas, " kata Wayren sambil melihat kearah Ayatha
" Oh”
" Dia seharusnya tidak perlu melakukan itu, dasar gadis bodoh, padahal kan kau memang
selalu seperti ini, " kata Wayren kesal
" Aku tidak menyuruhnya untuk menjagaku semalaman, " kata Andra yang bingung
melihat adiknya tiba-tiba kesal padanya.
" Kau harus benar-benar merubah kebiasaan sakitmu itu, " kata Wayren masih
kesal.
" Kau juga harus berubah, " kata Andra pada adiknya
" Berubah seperti apa? Seperti kau dan Ayah?" Kata Wayren
" Seharusnya kau lebih serius, tanggung jawabmu akan lebih besar, " kata Andra
" Sudahlah, kau jangan mulai seperti ibu, ini hidupku, aku yang mengatur bagaimana hidupku, " kata Wayren kesal
" Kau harus menerimanya , ini sudah takdirmu dari saat kau di lahirkan sebagai pewaris utama keluarga Tadder "
" Kita... Takdir kita, kau juga mempunyai nama Tadder di belakang namamu "
" Bagaimanapun caranya aku tidak akan bisa menjadi pewaris yang sempurna menurut Ayah," kata Andra nanar
" Ayah lagi, Ayah lagi, kau masih saja memikirkan apa yang Ayah mau, tenang saja, aku tidak menginginkan menjadi pewaris apapun dari keluarga ini, " kata Wayren
tambah kesal karena Andra menyebut ayahnya.
Saat Andra ingin menjawab adiknya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.
" Masuklah, " kata Andra, ternyata Bibi Moi yang mengetuk pintu kamar Andra
" Ada apa Bi? Kakakk sudah membaik, tidak usah khawatir, " kata Wayren
" Bagus lah Tuan, namun ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan Tuan Muda pertama, saya sudah mengatakan bahwa Tuan Muda butuh istirahat namun dia tetap memaksa," kata Bibi Moi
" Siapa? " tanya Wayren penasaran
" Nona Muda Hanna dari keluarga Medison, Tuan " kata Bibi Moi lagi
" Oh, baiklah, aku akan bersiap sebentar, " kata Andra ingin bangkit, namun segera di hentikan oleh Wayren
" Aku yang akan menemuinya, kau siap-siap aja dulu kak, sarapan, dan minum obatmu,
" kata Wayren semangat dengan senyum jahilnya.
Andra hanya mengerutkan dahinya melihat kelakuan, ntah apa yang sekarang ada di pikiran Wayren, namun dia tidak melarang dan hanya melihat Wayren pergi meninggalkan kamarnya.
Wayren tersenyum jahil sambil menuju ke ruang tamu tempat Hanna duduk dengan
anggunnya.
" Hai!" kata Wayren
Hanna terkejut melihat siapa yang datang, matanya hampir keluar karena terbelalak
melihat Wayren yang berdiri, dia segera menahan rasa kagetnya, Wayren terus
tersenyum sambil duduk di depan Hanna.
Bibi Moi segera menuangkan teh di cangkir yang ada di depan meja Wayren.
" Apa kabar? " Kata Wayren
" Baik, di mana Kak Andra? " kata Hanna seadany
" Kakakku sakit, dia masih butuh banyak istirahat, " kata Wayren
" Benarkah ? Jadi bagaimana keadaannya ? " Kata Hanna dengan nada khawatir
" Kau bahkan tidak mau melirikku padahal aku ada di depanmu, " kata Wayren
Hanna tampak mengacuhkan Wayren dengan meminum minumannya, kenapa sih dia yang datang?, pikir Hanna, dia benar-benar membuat Hanna kesal.
" Kau menyukai Kakakku?" kata Wayren tiba tiba serius membuat Hanna terdiam sambil melihatnya.
" Kau sangat naif jika kau menyukai kakakku di dunia kita yang seperti ini, apakah
kakakmu tidak pernah mengajarimu? Oh, iya, Kau baru saja masuk kedunia seperti
ini, welcome to our world, " kata Wayren santai sambil meminum tehnya.
" Apa sih maksudmu? " kata Hanna dengan nada sangat kesal pada Wayren.
" Kakakmu benar-benar belum mengajarimu dengan baik, apa pantas seorang nona Muda dari keluarga Medison berbicara seperti itu pada salah satu pewaris keluarga Tadder?
, jika Kakakmu di sini dia pasti malu " kata Wayren tersenyum jahil
Hanna terdiam, rasa kesalnya pada Wayren benar benar sudah di puncak, namun dia
mencoba untuk menahannya, benar, aku tidak boleh terbawa emosi, pikir Hanna.
Wayren hanya memperhatikan wajah Hanna, dia benar benar tertawa puas melihat ekspresi Hanna, namun dia mencoba menahannya agar serius.
" Lalu apa sebenarnya yang ingin kau katakan? " Kata Hanna mencoba mengatur apa yang di katakannya, membuat Wayren tersenyum geli.
__ADS_1
" Di dunia kita, pernikahan bukan tentang cinta, pernikahan adalah tentang bagaimana cara kita untuk memperluas kekuasaan dan menambah kekayaan keluarga kita" kata Wayren serius.
" Jadi? "
" Kakakku adalah pewaris utama keluarga Tadder, sejak dia lahir, hidupnya sudah diatur
sedemikian rupa menjadi seorang pewaris yang sempurna, bagaimana dia harus bertindak, di mana dia harus bersekolah, bagaimana dia harus di didik, semuanya sudah diatur dari awal"
" Lalu?"
" Dan tentu saja masalah pasangan, keluargaku sudah mengatur siapa yang pantas menjadi pasangan pewaris tahtanya, karena itu aku katakan kau terlalu naif jika
menyukai Kakakku seperti itu saja, ini bukan dunia biasa, ini dunia kita, dan
biasakanlah " kata Wayren
Hanna tertegun, hatinya sakit, pipinya memanas, kali ini apa yang dikatakan Wayren
benar... Terlalu naif jika dia beranggapan bisa dengan mudah menjalin cinta dengan pewaris tahta keluarga terkaya, tentu saja pasangan Andra sudah di tentukan sebelumnya, rasanya tidak mungkin, bahkan untuk seseorang seperti dia,
pikir Hanna.
Air mata Hanna hampir menetes, namun dia segera mencoba tegar. Dia tidak ingin menangis di depan Wayren.
Wayren tersenyum geli melihat ekspresi Hanna, dia sangat ingin melihat Hanna menangis, namun dengan wajah seperti ini saja sudah membuat dia puas.
" Tapi tenang, aku punya solusinya, " kata Wayren tersenyum nakal.
" Maksudmu?"
" Aku juga pewaris keluarga ini jadi kalau kau mau, kau bisa berpasangan denganku, " kata Wayren jahil
" Aku mau pulang, " kata Hanna bangkit tanpa memperdulikan Wayren
" Kenapa buru-buru, aku baru mau menjelaskan jika kau mau jadi pasanganku, " kata Wayren juga bangkit
" Titip salam saja pada Kak Andra, semoga cepat sembuh, " kata Hanna memberi salam
lalu pergi begitu saja meninggalkan Wayren.
" Baiklah, jangan lupa untuk mempertimbangkan penawaranku, " kata Wayren sambil tersenyum lebar, puas mengerjai Hanna, sedangkan Hanna hanya bisa menahan kesal sendiri.
Setelah mandi di kamar Wayren, Andra kembali kekamarnya untuk mengambil buku yang ada di meja disamping ranjangnya, di ambilnya pelan-pelan agar tidak mengaggu Ayatha, namun saat dia mengambilnya, Ayatha sedikit bergerak, membuat Andra menatap wajah Ayatha yang polos tertidur pulas, dia terus memandangnya, hingga
terbersit senyum di bibirnya. Andra segera menarik selimut untuk Ayatha.
" Bagaimana dia? " Kata Wayren saat masuk ke dalam kamar
" Srttt... Masih tidur pulas, " kata Andra menyuruh Wayren untuk tidak berbicara
terlalu keras
" Dasar tukang tidur, " kata Wayren sambil duduk di samping Ayatha
" Oh ya, bagaimana dengan Hanna, kau meninggalkannya sendiri, kalau begitu aku akan menemuinya, " kata Andra
" Sudah tidak perlu, dia sudah pulang, " kata Wayren acuh tak acuh
" Kenapa cepat sekali, kau apakan dia?”
" Aku cuma bilang kau masih butuh banyak istirahat, itu saja "
" Lalu?"
" Dia hanya titip salam agar kau cepat sembuh "
" Lalu?"
" Aku hanya sedikit menyadarkannya "
" Kau ini benar-benar, " kata Andra kesal
" Srtt.. Lihat kau membangunkanya"
Ayatha membuka matanya perlahan, dia terbangun karena mendengar obrolan obrolan, Ayatha sangat terkejut ketika pertama kali yang dilihatnya adalah Wayren, dia melihatke sekeliling, ini bukan di kamarnya, ini di mana? Pikirnya karena masih belum sadar sepenuhnya
" Kakak, apa hukumannya jika pelayan tertidur dalam kerjanya dan dia tertidur di
ranjangmu, " kata Wayren dengan nada mengertaknya.
Mata Ayatha terbelalak saat melihat Andra yang ada sedikit di belakang Wayren, dan dia juga baru sadar tidur di ranjang Andra, dia segera turun dan menunduk, matilah aku
sekarang, kenapa aku bisa tertidur di ranjang Andra. Ayatha sangat ketakutan,
bahkan tangannya sampai gemetaran.
" Maaf Tuan, saya tidak tahu kenapa saya bisa ada di sini, maafkan saya Tuan, " kata Ayatha lirih bahkan hampir menangis
" Sudah Wayren, tidak apa-apa ini bukan salahmu, " kata Andra mendengar suara Ayatha yang terdengar bergetar
" Makanya jika aku perintahkan untuk istirahat kau harus mendengarkannya, dan bisa
bisanya tidur di sembarang tempat, bagus aku membawamu kemari, jika aku
membawamu keluar rumah, gimana? Dasar tukang tidur, " kata Wayren
melampiaskan kesalnya pada Ayatha
" Maafkan saya Tuan Muda Wayren, maafkan saya Tuan Muda, " kata Ayatha masih gemetar
" Tidak apa-apa, sekarang istirahatlah, dan terima kasih sudah menjagaku tadi malam,
aku sudah baikan, " kata Andra lembut pada Ayatha.
Ayatha tertegun, baru kali ini dia mendengar Andra berkata begitu lembut padanya,
bahkan rasa takut dan gemetarnya hilang seketika.
Wayren juga begitu, baru kali ini dia mendengar Andra berbicara selembut itu pada Ayatha, dan tentu dia tidak suka
" Sudah sana, istirahat, " kata Wayren makin kesal
" Baik Tuan, " kata Ayatha yang segera meninggalkan kakak beradik yang berbeda bagai langit dan bumi ini.
" Sekarang apa yang akan kau lakukan?" Kata Andra pada Wayren yang masih menatap Ayatha yang pergi.
" Entahlah, mungkin minum teh atau tidur, " kata Wayren acuh tak acuh sambil berjalan
keluar.
" Dasar, " kata Andra geleng-geleng kepala sambil melihat adiknya keluar.
Andra melihat ranjangnya yang tadi di tiduri Ayatha, sejenak wajah polos Ayatha
kembali dalam pikirinnya, kembali dia tersenyum manis sambil meninggalkan
__ADS_1
kamarnya menuju ruang bacanya