
Ayatha terbangun, sinar matahari menerobos masuk kedalam ruangan itu, kemarin dia bermimpi tentang Andra, Andra datang dan menemaninya disini, dia juga menciumnya... Ayatha terduduk, rasanya mimpi itu sangat nyata, bahkan sekarang saja dia bisa mencium wangi tubuh Andra.
Ayatha melihat jam, ternyata sudah jam 9.00, dia tidur sangat lelap, mungkin karena tidak bisa beristirahat dengan tenang beberapa hari ini, jadinya kemarin dia tidur lelap sekali.
Ayatha melihat ponselnya, 1 pesan ada disana, dari supir risa, mengatakan bahwa barang-barangnya dititipkan di resepsionis. Ayatha langsung berjalan turun dari ranjangnya, dan keluar menuju resepsionis.
" Selamat siang, saya nona Ayatha dari kamar 1020, ada barang yang dititipkan di sini?" tanya Ayatha
" Oh iya, saya akan menyuruh orang untuk mengantarkan barangnya, lalu apakah sekarang sarapan pesanan anda bisa di antarkan?" kata resepsionis tersebut
Ayatha mengernyitkan dahi, dia tidak pernah memesan apapun
" Tapi saya tidak pesan apapun?" kata Ayatha
" Oh, iya di pesan atas nama Tuan Andra, dia menyuruh saya untuk mengantarkan sarapan jika anda sudah bangun," kata resepsionis tersebut
Ayatha tertegun, Andra? jangan-jangan kemarin dia benar-benar datang?
" Bagaimana Nona?" kata Resepesionis tersebut lagi
" Baik, antarkan saja, " kata Ayatha tesenyum..
" Baiklah, mohon menunggu, " kata Resepsionis tesebut ramah
Ayatha baru saja mau melangkah menuju kamarnya, saat tiba-tiba...
" Ayatha, " suara seorang wanita, Ayatha melihat kebelakang, mencari sumber suara...Christine berdiri disana.
" Christine?" tanya Ayatha lagi, dia kaget kenapa tiba-tiba Christine disini?
" Bisakah kita bicara?" kata Christine, Ayatha terdiam, namun tak enak menolak
" Baiklah, ehm.. aku harus siap-siap dulu, mau menunggu di kamarku?" kata Ayatha sopan
" Tidak, aku menunggumu di sini saja, temui aku di restauran ya," kata Christine ramah
" Baiklah," kata Ayatha lagi.
Ayatha segera kembali kekamarnya, segera mandi dan bersiap-siap, dia bahkan tidak jadi sarapan, dia berpikir tidak enak jika Christine menunggu lebih lama.
Ayatha duduk di depan Christine, gadis ini cantik, tentu saja, dia seorang model, tapi Ayatha dan dia sama sekali tidak mengenal satu sama lain.
" Maaf mengganggu waktumu, " kata Christine memecah kesunyian
" Tidak, kau tidak mengganggu," kata Ayatha sungkan
" Sebenernya aku tidak bermaksud merusak acara pernikahanmu, maafkan aku. "
" Ehm... aku rasa aku yang seharusnya berterima kasih padamu, karenamu aku jadi tahu semuanya," kata Ayatha, kilasan kejadian kemarin muncul dipikirannya, dan rasanya menyedihkan.
" Maxi bukan orang yang jahat." kata Christine, ada sorot mata sedih di matanya.
Ayatha hanya diam...
__ADS_1
" Aku harap kau tidak memandangnya sebagai orang yang jahat, dia juga sangat menderita, selama ini dia hidup dengan trauma, dia juga selalu merasa bersalah setiap harinya. Dia orang yang sangat bertanggung jawab, aku hanya terkejut dia menikahi mu. " kata Christine lagi.
Ayatha tetap diam, tidak bisa berkata apa-apa
" Dia selalu mengatakan akan bertanggung jawab atas kejadian itu, dulu setiap hari dia akan minum obat tidur, karena merasa di hantui rasa bersalah, aku sangat kasihan padanya, dan mencoba untuk membuatnya lepas dari pengaruh obat itu, namun hati siapa yang tahu? Ternyata dia jatuh cinta dengan orang lain." kata Christine menerawang jauh.
Ayatha dapat merasakan betapa Christine mencintai max, dan sekarang dia adalah orang ketiga dalam hubungan mereka, hanya karena max ingin bertanggung jawab pada Ayatha.
" Maafkan aku, aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan Maxi." kata Ayatha
" Bukan, bukan kamu, Maxi menyukai orang lain, kau tidak perlu meminta maaf padaku," kata Christine
Pernyataan Christine membuat Ayatha tertegun, bukan dia yang membuat Christine dan Maxi putus, lalu siapa? Ternyata hubungan mereka rumit juga ya...
" Aku ke sini sekali lagi hanya minta maaf, dan ingin memberitahukanmu tentang Maxi, kau jangan dendam ya denganya, sebenarnya itu hanya kecelakaan, dia juga hampir mati dulu, namun karena dia yang memaksa, jadinya dia merasa segalanya adalah salahnya. " kata Christine lagi
Ayatha tidak dendam dengan Maxi, dia juga tidak marah padanya, sebenarnya dia juga tahu, ini bukan salah Maxi, namun dia hanya tidak bisa terima, kenapa Maxi menipunya? Menyatakan dia tunangannnya lalu menikahinya. Bukankah itu kejam...
" Aku tidak marah dengan Maxi, aku juga tidak menyalahkannya. " kata Ayatha mencoba menenangkan hati Christine.
Christine menatap Ayatha, tersirat ketulusan dan kejujuran di matanya.
" Terima kasih kalau begitu, aku tidak pernah menyangka akan bisa bertemu dan berbicara dengan istri Maxi. " kata Christine tertawa,namun sorot matanya sedih.
" Kau pastii sangat mencintainya ya?" kata Ayatha menangkap hal itu
" Mencintai seseorang itu mudah, tapi mengetahui apakah dia mencintai kita atau tidak itu yang susah. " kata Christine menatap Ayatha
" Benar." kata Ayatha seadanya, dia malah teringat Andra
" Kau tahu, kau sangat beruntung... ada seorang pria yang begitu mencintaimu, aku iri padamu, dia sampai datang menemuiku, kalau aku jadi kau, tidak akan pernah ku lepaskan dia," kata Christine tersenyum manis
" Siapa?" kata Ayatha
" Andra... aku tidak ingin mempengaruhimu, mau bagaimanapun, kau sudah sah jadi istri max, tapi apakah kau juga mencintainya? Apakah kau mau hidup terus dengannya? Kalau kau mencintainya, aku akan sangat bahagia menegetahui itu... tapi kalau tidak, sayang, kau hanya akan melukai hatimu dan hati orang yang sangat mencintaimu." kata Christine lembut penuh perhatian.
Ayatha terdiam, tertegun, mendengar nama Andra hatinya sakit, apakah Andra memang melakukan itu semua? Apa yang di katakan Christine itu benar? Andra mencintainya, lalu bagaimana dia dengan bodohnya malah melukai hatinya.
" Terima kasih sudah menemuiku, aku akan pulang sore ini, sekali lagi selamat atas pernikahanmu, tugasku disini sudah selesai, aku harap kita bisa bertemu lagi. " kata christin tersenyum, Ayatha pun mengantarkannya sampai kemobilnya, Christine melambai tanda perpisahan dan pergi meningalkan Ayatha yang mematung di depan hotel itu.
" Bisakah kita bicara sebentar?" kata seseorang mengagetkan Ayatha, dia melihat Maxi disampingnya, sejak kapan Maxi disini, Ayatha tertegun melihatnya.
" Baiklah. " kata Ayatha.
Maxi mempersilahkan Ayatha masuk kedalam mobilnya, dia duduk disebelah Ayatha, supir langsung melajutkan mobilnya.
Suasana hening, Maxi dan Ayatha tidak berbicara, Ayatha hanya memegang cincinnya.
" Apakah kau sudah makan?" kata Maxi sungkan
__ADS_1
Ayatha terdiam, iya, dia belum sarapan, dan perutnya mulai terasa perih.
" Belum. " kata Ayatha lagi.
" baiklah, kita makan dulu ya" kata Maxi tersenyum manis, Ayatha hanya memandangnya datar, dia tidak menyangka sekarang yang duduk disampingnya adalah suaminya.
Ayatha duduk di depan Maxi, Maxi memesan beberapa pancake dan menu sarapan lainnya.
" Makan lah yang banyak, kau kurus sekali. " kata Maxi perhatian.
" Terima kasih " kata Ayatha lagi
" Apa yang di ceritakan oleh Christine tadi?" kata Maxi menatap Ayatha
" Hanya menceritakan tentang dirimu," kata Ayatha seadanya
" Aku minta maaf," kata Maxi lagi
Ayatha yang tadinya sedang makan, terdiam... menatap Maxi. Ayatha sebenarnya tidak ingin membahas tentang ini sekarang, dia masih belum bisa menerima tindakan Maxi.
" Bisakah kita tidak bicara ini dulu? " kata Ayatha menatap Maxi
Maxi terdiam, dia tahu Ayatha masih marah padanya, dia hanya mengalah.
" Baiklah, makan lah dulu, " kata Maxi
Ayatha terdiam lagi, Maxi pun begitu, hingga selesai makan Ayatha lalu menatap Maxi.
" Bolehkah aku bertanya padamu?" kata Ayatha menatap Maxi
" Apa? " kata Maxi lagi
" Aku ingin tanya kenapa kau membohongiku dan menikah denganku?" kata Ayatha menatap wajah Maxi dalam-dalam
" Aku tidak pernah berniat membohongimu, aku juga tidak pernah berpikir akan menikahimu, tapi setelah bertemu denganmu, mendengar semua kesusahanmu, aku merasa semua itu salahku, jadi aku mengatakan itu semua agar aku bisa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap dirimu, aku tidak tahu, ternyata Andra begitu menyukaimu, aku kira kau tidak akan pernah tahu semua masalah ini. " kata Maxi menatap Ayatha
" Bagaimana kau pikir aku tidak akan tahu, ini bukan ikatan yang main-main, aku kira Ayahku benar-benar mengirimmu untuk ku. " kata Ayatha sedikit terbawa emosi
" Maafkan aku, tapi aku benar benar tidak bermaksud mempermainkan hatimu, " kata Maxi lagi dengan memelas
" Aku belum bisa memaafkanmu, aku ingin sendiri dulu, maaf tidak bisa menjadi istri yang baik bagimu, " kata Ayatha menahan emosinya
" Iya..baiklah, " kata Maxi menatap Ayatha.
" Terima kasih atas pengertiannya, kalau begitu aku akan kembali ke hotel. " kata Ayatha tersenyum tipis, lalu bangkit.
" Aku akan mengantarmu. " kata Maxi lagi
" Tidak apa-apa aku akan pulang naik taksi saja. " kata Ayatha, sebelum menikah, Maxi telah memberikan Ayatha uang yang cukup banyak untuk dipergunakan olehnya, sebenarnya Ayatha awalnya menolak, namun karena Maxi bilang dia tidak akan membiarkan Ayatha kesusahan apa lagi soal uang, makanya Ayatha menerimanya, toh sekarang mereka juga suami dan istri.
Maxi menatap kepergian Ayatha dengan tatapan nanar, entah kenapa dia sekarang merasa sedih melihat respon Ayatha padanya. Setelah itu dia juga meninggalkan tempat itu.
__ADS_1