
Hanna berjalan lunglai menuju koridor rumah sakit, saat dia berjalan di koridor, dia
melihat TV yang sedang menyiarkan berita pertunangan Andra dan nadine, badannya
bergetar, pada akhirnya dia memang tidak bisa mendapatkan Andra, jadi untuk apa
dia menunggu selama ini?
Dia berjalan terhuyung, tanpa sadar, dia terjatuh, high heels yang di pakainya terselip
lagi, pergelangan kakinya terasa nyeri, namun tak senyeri yang ada di hatinya
sekarang.
" Nona, anda tidak apa-apa? " tanya Jeremy yang tidak sengaja melihat Hanna
terjatuh, mendengar itu, Hanna kembali dari lamunan sedihnya.
" Tidak apa-apa, " kata Hanna
Jeremy mencoba membantu Hanna, namun Hanna segera meringis kesakitan
" Aduh, kakiku sakit, " kata Hanna
" Nona, sepertinya kakimu keseleo, kemari, biar aku membawa mu, " kata Jeremy, Jeremy
segera mengendong Hanna, Hanna yang kaget melihat kelakuan Jeremy sedikit
berontak.
" Apa yang kau lakukan? Kau tidak tahu aku siapa?" kata Hanna
Jeremy hanya tersenyum, lalu meletakan Hanna di atas kursi roda.
" Aku tahu anda adik pemilik rumah sakit ini, aku hanya ingin membantu anda ke kursi
roda ini, maaf, tidak ada maksud apapun, karena kaki anda akan bertambah parah
jika nanti anda terus berjalan, " kata Jeremy.
Hanna terdiam, dia sedikit salah dengan Jeremy, dia kira Jeremy akan melakukan hal
yang tidak baik.
" Aku akan membawa anda ke UGD untuk dilakukan perawatan pada kaki anda," kata Jeremy lagi
" Bisakah kita tidak ke UGD, kau bisa merawatku di ruanganmu? " tanya Hanna
Jeremy memandang Hanna, sekilas tadi Hanna seperti tidak percaya padanya, namun
sekarang dia malah mengajaknya ke ruangannya, gadis yang unik, pikir Jeremy
" Baiklah, " kata Jeremy segera mendorong kursi roda menuju ke ruangannya.
Hanna segera di dudukan di tempat tidur pemeriksaan, Jeremy langsung dengan profesional mengurus kaki Hanna, dia membebat kakinya agar tidak bergerak.
Hanna hanya terdiam, melihat Jeremy dengan cekatan namun lembut membebat kakinya, namun hatinya kembali ke cuplikan di TV tadi, Andra akan segera bertunangan, hatinya
__ADS_1
kembali perih dan pedih. Tidak di sangka Hanna malah menangis hingga tersesu-sedu.
" Nona, apakah kakimu sesakit itu? " kata Jeremy yang kaget melihat Hanna yang
menangis seperti itu.
Hanna hanya mengeleng, Jeremy melihat tangis Hanna yang kian menjadi, dia menarik kursi, duduk di depan Hanna, Hanna masih terus menangis, menumpahkan semua rasa sakit hatinya.
Setelah Hanna mulai tenang, Jeremy masih menatapnya dengan lembut.
" Sudah baikan? " kata Jeremy yang melihat kearah Hanna, Hanna hanya terdiam, lalu
mengangguk.
" Terima kasih, " kata Hanna menghapus air matanya
" Sama-sama, oh iya ini, " kata Jeremy mengambil sesuatu dari lemari di ruangannya
Sebuah sendal rumah, dengan bulu berwana pink. Jeremy segera memakaikannya pada kaki Hanna.
" Ini punya mu? " kata Hanna sedikit penasaran, karena warnanya pink
"Oh, ini bukan punya ku, juga bukan punya rumah sakit, seorang pasien memberikan ini
untukku, dia bilang, akan cocok diberikan pada pasanganku, kebetulan aku tidak
punya adik ataupun pasangan, jadi aku simpan saja, mungkin berguna suatu saat,
dan ini adalah saatnya, " kata Jeremy tersenyum, Hanna melihat sekilas
lagi ke sandal rumah berbulu pink itu, dia jadi sedikit tersenyum.
" Terima kasih, dokter? " kata Hanna yang tidak tahu nama Jeremy
" Jeremy, sama-sama Nona Hanna, " kata Jeremy tersenyum
" Aku akan menambahkan gajimu ini nanti, " kata Hanna lagi
" Ah, tidak perlu, kalian sudah mengajiku dengan baik, " kata Jeremy
" Lalu? Aku tidak ingin berhutang budi karena ini," kata Hanna
" Ajak saja aku makan siang, bagaimana? " kata Jeremy
" Makan siang? Baiklah, kapan kau ada waktu luang ?" kata Hanna lagi
" Tunggu sampai kakimu sembuh, baru kabari aku lagi, " kata Jeremy tersenyum manis,
Hanna terdiam melihat senyuman Jeremy
" Baiklah, " kata Hanna
" Kemari, akan aku bantu kau untuk turun, " kata Jeremy
" Terima kasih, " kata Hanna
Jeremy membantu Hanna duduk di kursi rodanya, lalu Jeremy berdiri di depan Hanna
__ADS_1
" Jika butuh menguatkan atau mengendurkan bebatan kakimu, kau bisa datang ke sini
kapan saja, atau tinggal panggil aku, kau kan bosnya di sini, " kata Jeremy
lagi
" Baiklah, aku rasa aku butuh bantuanmu lagi untuk mengantarku ke kantor, " kata Hanna tersenyum manis
" Ok, itu juga boleh, " kata Jeremy
Dia lalu mengantarkan Hanna ke kantornya,menyusun beberapa barang Hanna agar dia bisa duduk di kursi rodanya.
" Bagaimana? Apa ini sudah nyaman? " kata Jeremy memposisikan Hanna
Hanna hanya melihat kearah Jeremy, Jeremy termasuk orang yang tampan, wajahnya selalu ceria, terlihat bagaimana dia selalu tersenyum, dia memang orang yang di
takdirkan menjadi dokter, karena dengan senyumnya saja orang-orang sudah merasa
senang dan nyaman.
" Iya, sudah, terima kasih, " kata Hanna lagi
" Baiklah, aku harus kembali kepelayanan, aku tidak mau nanti gajiku di potong olehmu
" kata Jeremy tertawa, membuat Hanna juga ikut tertawa.
" Baiklah, sekali lagi terima kasih, "
" Jika butuh aku, kau tahu caranya kan? " kata Jeremy lagi
" Iya aku tahu, " kata Hanna
" Yah, hanya mengeceknya saja, aku permisi dulu Nona Hanna, " kata Jeremy
tersenyum
" Panggil saja aku Hanna, umur kita tidak terlalu jauh, " kata Hanna lagi
" Baiklah, kalau begitu jangan panggil aku dokter, terasa lebih tua, " kata Jeremy
" Hahaha, ok kalau begitu, aku rasa pelayanan sudah menunggumu, " kata Hanna lagi
" Iya, baiklah, sampai ketemu lagi, " kata Jeremy
Hanna tertawa melihat tingkah Jeremy, lalu tiba-tiba Jeremy masuk lagi, membuat Hanna
kaget.
" Ada apa lagi?" kata Hanna
" Oh, aku kira kau menangis lagi, mana tahu kakimu sakit lagi, " kata Jeremy
" Kakiku tak separah itu Jeremy, sudah, ke pelayanan sana, atau aku benar-benar akan
memotong gajimu, " kata Hanna sambil tertawa
" Baiklah, " kata Jeremy menutup pintu Hanna dengan pelan
__ADS_1
Ada-ada saja, pikir Hanna tertawa mengingat tingkah Jeremy, membuat dia lupa tentang
luka di hatinya.