Meadow

Meadow
Jika melawanku, Kau pasti menyesal


__ADS_3

Wayren segera kembali ke kantornya, dia tahu ayahnya ada disana. Dia tidak peduli


sedang ada di kantornya, di hanya berjalan dengan cepat. dia dengan emosi


berjalan terus, hingga di halangi oleh 2 bodyguard ayahnya.


" Aku ingin bertemu Ayahku!" kata


Wayren dengan nada begetar menahan emosinya, matanya merah membara


" Tuan Ray sedang tidak bisa diganggu," kata bodyguardnya.


" Kau lepaskan aku, atau aku akan melakukan hal yang akan kalian sesali nanti, " kata Wayren


Bodyguard itu tetap menahan Wayren, Wayren habis kesabaran, memukul salah satu dari bodyguard tersebut, salah satu bodyguard menahan Wayren, namun Wayren bagai kerasukan langsung memukul bodyguard yang lain, para karyawan yang melihat ketakutan, ada yang menjerit takut, membuat keributan di kantor itu.


Bodyguard tetap mencoba menahan Wayren namun Wayren kembali memukul mereka, para bodyguard hanya bisa menerima, tidak mungkin membalas.


" Ada apa ini? " kata asisten ayahnya membuka pintu ruangan ayahnya, melihat bodyguard yang melihat jatuh ke lantai, sedangkan Wayren tampak


begitu marah.


" Tuan Wayren, maaf Tuan Ray tidak bisa di ganggu, " kata asisten Tuan Ray


" Kau juga mau aku pukul? " kata Wayren


dengan mata merah mentap asisten itu, asisten itu sedikit ketakutan, 2


bodyguard saja tidak bisa menahan Wayren, apa lagi dia yang kecil. Wayren


berjalan masuk sambil melihat kearah asisten itu dengan tajam, asisten itu


hanya terdiam.


Wayren masuk, melihat ayahnya yang sibuk bekerja, Tuan Ray menatap Wayren, mukanya


hanya datar.


" Ada apa? " kata Tuan Ray


" Apa yang kau lakukan pada Ayatha? " kata Wayren tanpa basa-basi


Tuan Ray sangat tenang, tidak menunjukan sedikit pun emosi, melipat tangannya dengan


tanang, melihat Wayren tajam.


" Wayren apa yang kau bicarakan? " kata Tuan


Ray


" Ayah, tidak perlu berpura-pura, katakan dimana sekarang Ayatha? " kata Wayren berteriak


" Wayren, jaga sikapmu! " kata Tuan Ray marah karena teriakan Wayren


" Aku tidak perduli, cepat katakan di mana dia? " kata Wayren tajam


Tuan Raymenekan tombol intercomnya.

__ADS_1


" Masuk, " kata Tuan Ray


Begitu dia mengatakan itu, 8 orang pegawal dan bodyguard masuk, langsung mengepung Wayren, memegangi tangannya, dia berontak, memukul beberapa orang, namun kalah jumlah.


" Bawa dia pulang, pastikan tidak ke mana-mana, tidak menghubungi siapapun, " kata Tuan Ray, Wayren menatap ayahnya dengan tatapan benci, sangat benci hingga ingin membunuh ayahnya sendiri. Dia di seret pergi dari kantor ayahnya.


____________________________________________


Tuan Ray kembali duduk dan dengan tenang menyelesaikan pekerjaannya.


Andra tiba di gerbang rumahnya, tidak disangka, pintu gerbang itu dibukakan sangat lebar untuknya, seperti ayahnya sudah tahu dia akan menemuinya.


Dengan cepat Andrakeluar, penjagaan di rumah sangat banyak, seperti sekali masuk jangan harap untuk keluar, namun Andra tidak peduli, berjalan menyusuri ruangan yang kosong, di depan kamar Wayren dia melihat beberapa orang pengawal, namun mereka tidak menahan Andra, Andra tahu, ayahnya sudah menunggunya.


Dia berjalan dengan cepat kearah ruang kerja ayahnya, para pengawal membukakan pintu untuk Andra.dia sekarang berhadapan lansung dengan ayahnya.


Tuan Ray sungguh menakutkan, menunggu Andra dengan tenang di kantornya, seperti siap berperang, di sofa Andra melihat Nyonya Renata, Nyonya Renata sangat senang


melihat Andra, seperti sudah terlalu lama menahan rindu. Andra menahan diri


untuk tidak memperhatikan ibunya.


" Ada apa kau datang ke sini? " suara Tuan Ray terdengar berat.


" Di mana Ayatha? " kata Andra


Tuan Ray tersenyum sinis menatap Andra, Andra mengepalkan tangan menahan emosinya, matanya memerah.


" Kenapa bertanya padaku? " kata Tuan


Ray seperti mengejek, Andra mengertakan giginya dengan kuat.


" Kau tak punya bukti aku yang melakukannya, lalu datang dan bertanya padaku? sangat lucu, " kata Tuan Ray sinis


Andra menahan emosinya, Andra tahu bagaimana ayahnya, semakin keras dia, ayahnya kan jauh lebih keras, semakin dia tenang, ayahnya pun seperti itu.


" Apa mau mu? " kata Andra bergetar, matanya sangat merah, kepalanya serasa mau pecah menahan semua amarah.


Tuan Ray kembali tersenyum sinis..


" Kau hidup baik walaupun tanpa keluarga, aku salut padamu, " kata Tuan Ray


" Cepat, katakan lah, " kata Andra lagi


" Kau pikir aku akan melepaskan mu dengan semudah itu, kau sudah aku tempah dengan baik menjadi sekarang, hebatnya kau malah membangun perusahaan orang lain dengan kemampuanmu itu, itu namanya pengkhianat, " kata Tuan Ray


Andra diam tidak menjawab, menatap lurus kepada ayahnya.


" Aku tidak suka caramu berkhianat, kau harusnya sudah tahu apa maksudku bukan? " kata Tuan Ray sangat dingin.


" Tak bisa kah kau membiarkan aku dan


dia hidup bahagia?, Apa salahnya dia hingga kau menculiknya, jika ingin aku


kembali, maka cukup aku yang kau culik," kata Andra tak sanggup lagi


menahan dirinya

__ADS_1


" Kau pasti becanda jika berpikir aku akan menyutujuimu bersama dengannya? " Kata Tuan Ray santai, membuat bulu kuduk siapapun akan naik gara-gara dia.


" Maksudmu? " Kata Andra


" Mencampakkan wanita seperti Nadine untuk wanita sepertinya, tentu tidak sepadan, dia seorang janda, janda dari pesaing bisnisku, apa lagi sekarang dia malah masuk ke keluarga Medison, apa kau pikir aku akan


membiarkanmu menikah dengannya, kau pewaris sempurna untuk keluarga ini, selama


aku masih hidup, aku tidak akan menerimanya, " kata Tuan Ray


" Aku tahu kau hanya tidak ingin aku bahagia karena sudah menyebabkan wanita yang kau


cintai meninggalkan mu, itu bukan salahku... kalau kau mencintai Ibuku, bahkan


sampai detik ini kau tidak pernah melihat kuburannya lagi!" teriak Andra


Tuan Ray terdiam, emosi tampak di matanya, selama ini dia tidak ingin lagi mengingat hal itu


" Jika kau masih ingin mencarinya, cari saja, tapi aku tidak janji apakah tubuhnya masih


tahan akan siksaan atau tidak, " kata Tuan Ray tenang, dia sangat pintar mengendalikan emosinya


" Apa yang kau lakukan padanya? " Kata Andra makin marah


" Bukan aku, tapi kau akan liat apa yang akan terjadi jika melawanku, " kata Tuan Ray


Andra kembali mengertakan giginya, ayahnya tidak bisa dilawan, semakin melawan, ayahnya akan semakin jadi gila, dia takut ayahnya akan membuat Ayatha terluka, atau


buruknya, malah melenyapkannya. Mata Andra benar-benar memancarkan sinar


kemarahan, kebencian, juga ketakutan.


" Baiklah, aku akan kembali," kata


Andra lirih


Tuan Ray tertawa, puas sekali, sehingga membuat orang merinding, begitu kejam.


" Kau tidak boleh bertemu dengan wanita itu lagi, kalau tidak, dia tidak akan penah melihat


matahari lagi, " kata Tuan Ray


" Baiklah, lepaskan dia, " kata Andra,


suaranya bergetar, matanya perih, nyeri di lubuk hatinya sangat dalam, namun


dia tidak ingin menunjukkan itu pada ayahnya, setelah berbicara, 2 bodyguard masuk, memegang pundak Andra, Andra menatap mereka dengan mata membara.


" Aku bisa berjalan sendiri ke kamarku," kata Andra ketus pada mereka


Andra berbalik, hatinya sakit, namun tetap menunjukan ekspresi dingin, dia tidak akan


bisa menemui Ayatha lagi.


Andra menghancurkan semua barang yang ada di kamarnya, memukul tembok hingga


tangannya berdarah, kesal, tak mampu,dia hanya duduk di lantai, manahan

__ADS_1


tangis seperti bisanya dalam diam, air matanya tidak terbendung.


__ADS_2