
Tuan Ray dengan santainya duduk di sana, seakan dia memang sedang menunggu Ayatha, sangat tenang hingga membuat Ayatha mengigil, apa yang di lakukannya disini? Jangan-jangan Raphael?
" Mencari anakmu?, " kata Tuan Ray tenang, suaranya yang berat bergema di ruangan itu, membuat Ayatha serasa dihujani oleh air es.
" Iya, dimana dia?, " kata Ayatha dengan suara bergetar.
" Membiarkan anak sendiri pergi, itu bukan contoh ibu yang baik, " kata Tuan Ray berdiri, dia berjalan mendekat, lalu berhenti cukup dekat sehingga Ayatha bisa melihat seluruh wajahnya.
" Dimana raphael? " kata Ayatha lagi, dia memaksa dirinya untuk menghadapi ketakutannya, tangannya mengepal kuat.
" Dia sedang istirahat, anak yang tampan dan sopan, kau benar-benar pintar mendidiknya menjadi pewaris keluarga Tadder yang sempurna," kata Tuan Ray.
" Jangan sakiti dia, " kata Ayatha, air mata mengumpul di pelupuk matanya, di otaknya timbul bayangan-banyagan mengerikan yang bisa di lakukan oleh Tuan Ray pada Raphael.
" Mana kesopananmu sebagai menantu, lagi pula aku tidak akan melukainya, dia cucuku, " kata Tuan Ray dengan senyumnya yang sedikit menakutkan.
Ayatha mengigit bibirnya, tubuhnya benar-benar mematung, tidak bisa berkata apapun lagi, ingin minta tolong, namun tidak sanggup, dia bisa melihat Andra dan keluarganya disana, namun tidak bisa berteriak.
" Keluargaku itu sangat bahagia, namun penuh kepalsuan, " kata Tuan Ray, Ayatha menatap Tuan Ray, tidak..tidak pernah ada kepalsuan di sana, namun kenapa Tuan Ray mengatakan hal itu?.
" Apa yang kau mau?, " kata Ayatha lagi dengan mata yang memerah.
" Nona Medison, kau tahu apa yang ku mau, " kata Tuan Ray.
Di sana, Andra sedikit cemas, kenapa Ayatha juga tidak kembali? Dia menatap villa itu.
" Ada apa andra?, " tanya Wayren.
" Ehm, aku rasa aku harus menyusul Ayatha, dia mencari Raphael, mungkin kesulitan karena villa itu besar sekali, " kata Andra.
__ADS_1
" Butuh bantuan?, " kata Wayren.
" Baiklah, " kata Andra.
Andra dan Wayren berjalan menyusuri padang rumput itu, lalu masuk ke dalam rumah itu, mereka tertegun melihat apa yang ada di depan mata mereka, Andra melihat ayahnya yang sedang berdiri di depan Ayatha, secepatnya dia menghampiri Ayatha yang tampak hanya berdiri di depan ayahnya, menarik Ayatha menjauh, a
Ayatha kaget… tiba-tiba saja Andra ada di sana, Wayren juga mendekat.
" Ayah, apa yang kau lakukan disini?," kata Andra menatap ayahnya.
" Kalian terlalu bahagia aku tidak ada, hingga lupa kapan aku bebas?, " kata Tuan Ray tenang.
" Di mana Raphael?, " kata Andra pada Ayatha, Ayatha hanya menangis, melihat respon Ayatha, Andra tahu Raphael ada pada ayahnya.
" Di mana anakku?, " kata Andra menatap ayahnya dengan mata memerah menahan emosi.
" Cucuku, sedang istirahat, sudah aku bilang aku akan menemuinya bukan?, " kata Tuan Ray, dia malah duduk dengan santainya.
" Hai, wayren, sudah lama kau tidak menemuiku, apa kabar? Kau juga tak membawa cucuku untuk menemuiku, Nathan bukan?, " kata tuan Ray.
" Aku tidak butuh basa basimu, dimana Raphael?, " kata Wayren.
" Sudah aku bilang, dia sedang istirahat, " kata Tuan Ray.
" Dia tidak mungkin tidur, ini bukan jam biasanya dia tidur, " kata Ayatha, air matanya mengalir deras.
" Aku tidak bilang dia sedang tidur bukan? " kata Tuan Ray.
" Apa maumu? Tak bisakah kau membiarkan kami saja, apa salah kami padamu?, " kata Andra.
__ADS_1
" Kalian memang tidak salah apa-apa, tapi orang tuamu lah yang salah padaku, " kata Tuan Ray menatap sangat tajam pada Andra, Andra bingung mendengar kata-kata Tuan Ray, orang tua? Ibunya sudah meninggal terkubur damai di sana, ayahnya? Bukannya dia?.
" Apa maksudmu?, " kata Andra.
" Kau mau tahu maksudku, Andra kau harusnya berterima kasih padaku, aku membesarkanmu, membiarkan kau jadi anakku, aku pernah ingin benar-benar menjadikamu anakku karena sikapmu yang begitu baik, namun setelah bertemu dengan wanita itu, kau sangat berubah… aku jadi tidak berminat lagi menjadikanmu anakku," kata Tuan Ray.
" Kau bukan ayahku?, " kata Andra terkejut, matanya menatap lurus ke arah Tuan Ray, menatapnya, menganalisa semuanya, Tuan Ray pandai sekali memainkan emosi seseorang.
" Aku sangat benci pengkhianat, dan ayahmu adalah seorang pengkhianat, " kata Tuan Ray.
" Apa maksudmu, katakan saja sejujurnya?, " kata Andra merasa dipermainkan.
" Aku bukan ayahmu, ayahmu adalah Alexander Tadder, " kata Tuan Ray.
" Alexander?, " kata Andra bingung, dia tidak pernah mengetahui nama itu.
" Alexander adalah sepupuku, ayahmu mengkhianatiku, aku menyuruhnya untuk menjaga Hara, tapi dia malah menikah dengannya, saat ibumu mengandungmu, dia pergi tak pernah kembali, karena mengingat ibumu, aku mengizinkan Renata membawamu pulang, " kata Tuan Ray tajam, semua orang di ruangan itu terdiam, Wayren menatap Andra yang syok, sedangkan Ayatha pun sama syoknya mendengar penjelasan Tuan Ray.
" Raychard, Andra adalah anakmu, " kata Nyonya Renata memecah keheningan, semua orang sekarang tertuju pada Nyonya Renata yang ada di depan pintu. Sekarang semua orang jadi bingung.
" Renata, untuk apa kau membelanya? Karena dia anak Alexander? Satu-satunya orang yang kau cintai?, " kata Tuan Ray tertawa sinis.
Nyonya Renata tidak tertawa, wajahnya sangat serius, dia berjalan menuju ke arah Tuan Ray, menatapnya dengan dalam, seakan siap untuknya 1 lawan 1.
" Aku tidak berbohong, Andra adalah anakmu dengan Hara, " kata Nyonya Renata, Tuan Ray mengerutkan dahinya.
" Jangan membuat permainan emosi, kau tidak pintar melakukannya, " kata Tuan Ray lagi.
" Aku tidak mempermainkan emosi, aku berkata yang sejujurnya, " kata Nyonya Renata.
__ADS_1
" Apa maksudmu?, " kata Tuan Ray mulai percaya, dia kenal Renata, wanita ini sangat lembut, tidak pernah sedikit pun mengeluh apapun yang di lakukannya, berdiri tersenyum di sampingnya, walaupun tak pernah di anggap seumur hidupnya.
" Sudah aku katakan Andra adalah anakmu, " kata Nyonya Renata lagi kesal.