Meadow

Meadow
Menangis dalam diam


__ADS_3

Andra memimpin rapat hari itu, wajahnya tampak pucat, sejak saat itu dia tidak pernah


tidur nyenyak, mimpinya selalu tentang Ayatha yang terlihat menderita, ingin


tahu bagaimana keadaanya sekarang, namun dia tidak bisa. Sekarang, dimanapun,


kapanpun Andra bergerak, selalu ada 4 bodyguard yang hanya mendengar kata-kata


ayahnya, dia hanya pergi ke kantor dan pulang, tidak bisa keluar kemanapun,


benar-benar seperti tahanan.


Andra bangkit, merasakan sedikit pusing, lalu hampir jatuh, beberapa orang di ruang


rapat cepat menangkap tubuhnya, dia merasakan hidungnya hangat, darah keluar


dari hidungnya.


" Tuan Andra sepertinya kondisi Anda tidak baik" kata seorang Manager


Andra hanya terdiam, beberapa orang memanggil pengawal Andra. mereka segera membawa Andra, setelah melaporkan status mereka membawa Andra kerumah sakit, rumah sakit


terdekat adalah rumah sakit Crown.


Andra segera di bawa ke UGD, begitu melihat Andra, Jeremy langsung membawanya, dia membawa Andra ke ruangannya,


melarang pengawalnya untuk masuk dengan alasanan privasi pasien.


Andra di baringkan di tempat pemeriksaan, Jeremy menangani pendaharan hidung Andra,


wajah Andra sangat pucat. Setelah menyuruh orang untuk mengambil darah Andra


dan mendapatkan laporannya, untunglah semuanya normal.


Andra terduduk, dia hanya merasakan sedikit pusing.


" Kau mengalami kelelahan, tidak bisa tidur? " kata Jeremy lagi.


Andra tersenyum...


" Kau juga tidak akan bisa tidur jika seperti ini, " kata Andra, Andra yakin Jeremy


tahu keadaanya, Hanna pasti memberitahunya.


" Ya aku tahu keadaanmu, hei, Ayatha juga di rawat di sini, " kata Jeremy memberitahu


" Bagaimana keadaanya? " kata Andra


Jeremy tampak berpikir...


" Bagaimana jika kau melihat nya sendiri? " kata Jeremy tersenyum.

__ADS_1


" Bagaimana? " kata Andra mengerutkan dahi


Jeremy menekan beberapa nomor, lalu menelepon.


" Suster, tolong bawa Nona Ayatha


ke ruangan CT-Scan , lakukan


dengan cepat, kabari aku jika sudah disana, tinggalkan saja dia di sana sendirian, tolong


suruh para operator untuk keluar juga." kata Jeremy. Dia lalu mematikan teleponnya.


Andra menatapnya dengan penasaran


Setelah menunggu beberapa menit, telepon berdering.


" Oh, bagus, terima kasih, " kata Jeremy


lagi.


Mematikan telepon.


" Andra, naiklah ke kursi roda itu, dan beraktinglah bahwa kau sangat lemah," kata Jeremy


" Baik. " kata Andra, dia duduk, lalu Jeremy mendorongnya keluar, para pengawal menahan Jeremy.


" Ingin di bawa ke mana?" kata pengawal itu


" Keadaan Tuan kalian cukup parah, kepalanya sangat sakit, dia harus di CT-Scan, " kata Jeremy, pengawal ini melihat keadaan Andra, Andra hanya terlihat lemah, wajahnya memang masih pucat.


" Silahkan, " kata Jeremy,


Jeremy mengantarkan Andra menuju ruang CT-scan, saat para pengawal ingin ikut, Jeremy melarangnya.


" Hanya untuk dokter dan pasien, radiasinya sangat kuat, kami hanya punya dua baju anti radiasi, jika kalian boleh saja masuk namun tanggung sendiri efeknya, salah satunya kanker, " kata Jeremy menjelaskan, mendengar itu para pengawal itu undur diri.


Jeremy tersenyum, lalu mandorong Andra masuk, Andra terpaku, melihat Ayatha disana,


mereka saling berpandangan, Andra berdiri dari kursi rodanya, menatap Ayatha


dalam dalam, mendekatinya dengan wajah sedih.


Ayatha pun sama kagetnya, namun langsung berubah tangis, betapa dia merindukan Andra,


akhirnya bisa bertemu lagi. Menatap Andra lekat-lekat, seolah takut kehilangan


sedetik pun dari momen ini.


Andra berlutut di depan Ayatha, mensejajarkan dirinya dengan Ayatha, melihat setiap jengkal tubuh Ayatha, matanya suram dan berkabut, melihat gips di kaki Ayatha.


" Bagaimana kabarmu? " kata Andra

__ADS_1


memegang tangan Ayatha dengan erat bagaikan tidak bertemu 1000 tahun.


" Aku baik, " kata Ayatha terisak.


" Ayolah, aku mempertaruhkan pekerjaanku di sini bukan untuk melihat kalian bertegur sapa… Oh.... ok, " kata Jeremy ingin komplain,


namun belum selesai dia bicara, Andra sudah mencium Ayatha. Jeremy lalu membalikkan badan untuk tidak melihat adegan itu.


Ciuman Andra dalam, menumpahkan semua kerinduan, rasa bersalah, dan cintanya pada Ayatha, Ayatha juga,  rasanya benar-benar tidak bisa hidup walaupun berpisah sedetik saja dari Andra, Ciuman itu disertai tangis bagi keduannya.


Andra tidak terlalu memaksakan untuk mencium Ayatha lebih lama karena dia tahu keadaan Ayatha, Andra tersenyum namun airmatanya mengalir, Ayatha juga begitu, begitu senang, hingga tidak bisa lagi menahan tangisan. Ingin memeluk namun keadaannya tidak mungkin. Ayatha memegang pipi Andra, hanya memperhatikan, terkadang kata-kata tidak di butuhkan untuk menyampaikan banyak rasa.


" Tunggu aku, aku akan bersamamu, " kata Andra mencium telapak tangan Ayatha


Ayatha mengangguk, masih menangis.. Andra mencium air mata Ayatha.


Pintu diketuk beberapa kali, membuat Jeremy panik


" Ada apa?"kata Jeremy


" Apa begitu lama?"kata pengawal


" Sebentar lagi, tidak bisa buru-buru untuk melakukan pemeriksaan, " kata Jeremy


" Baiklah, " kata pengawal itu


Andra tersenyum getir, pertemuan ini begitu singkat, Ayatha bahkan tidak ingin


melepaskan tangan Andra, dia masih ingin bersamanya, Andra menahan kesedihannya, rasanya penuh sesak di dada hingga susah sekali bernapas, melihat air mata Ayatha yang jatuh, hatinya sakit... namun bagaimanapun, dia harus melepaskan genggaman Ayatha, Ayatha menangis mencoba tidak mengeluarkan suara, betapa sesaknya, orang bilang menangis tanpa suara adalah hal yang paling menyakitkan. Andra pun merasa begitu ,matanya basah, berjalan mundur tak ingin melepaskan pandangannya dari Ayatha walaupun sedetik. Telalu singkat... hingga tidak rela.


Air mata Andra bukti ketulusan cinta nya pada Ayatha... jatuh terus tak terbendung, melihat wanita yang di cintainya itu menangis pilu, perpisahan ini sangat menyiksa.


Ayatha terus menangis, menutup mulutnya dengan tangannya, mencoba menahan,


tangan yang lain seolah ingin mengapai Andra yang berjalan menjauhinya, dia


ingin sekali berjalan kearah Andra, memeluknya, mengatakan jangan pergi, namun dia tak sanggup.


Jeremy yang menyaksikan itu pun terbawa suasana, matanya basah, perpisahan begini sangat menyesakknya, namun mau tidak mau, di membawa Andra keluar. Mendorongnya dengan diam. Andra menyembunyikan air matanya, ingin rasanya turun dari kursi roda itu, berlari kembali dimana Ayatha berada, namun dia tidak bisa, jika ayahnya tahu, Ayatha akan lebih tersiksa.


" Terima kasih, " kata Andra pada Jeremy


Jeremy hanya terdiam, dia dapat merasakan kepedihan Ayatha dan Andra, dia mendorong Andra kembali masuk ke dalam ruangannya, memberikannya beberapa tisu.


Andra lalu keluar dari ruangan itu, Jeremy mengejarnya, berbicara pada pengawal Andra.


" Tuan Andra, hasilnya akan ada nanti, jika ingin berkonsultasi, silahkan telepon aku, " kata Jeremy memberikan nomor telepon, Jeremy tersenyum, Andra mengerti.


" Baiklah, saya akan menelepon anda jika merasa ada yang sakit, " kata Andra


" Teleponlah kapan saja, " kata Jeremy

__ADS_1


lagi.


Andratersenyum, menyimpan nomor telepon itu, pengawalnya tidak curiga. Lalu kembali ke rumah.


__ADS_2