
Ayatha terduduk di ruang tengah rumahnya, dia sedikit kaget karena tiba-tiba harus
pulang secepatnya, di rumah juga di jaga begitu banyak pengawal, Hanna pun
merasa aneh.
" Ada apa ini? " kata Hanna
" Entahlah, aku juga tidak mengerti, " kata Ayatha.
" Tuan Maxi menyuruh kami untuk melindungi Nona Ayatha, " kata pengawal itu menjawab
pertanyaan Hanna
Hanna mengerutkan dahinya, tampak masih penasaran namun tidak bertanya.
" Aku dengar kau bertemu dengan Andra ya? " kata Hanna mencoba mengoda kakaknya
" Bagaimana kau tahu? Dari Jeremy? " kata Ayatha tersenyum
" Yah, dia tidak bisa menyembukan apapun dari ku, " kata Hanna tersenyum
sumringah.
" Kalian tidak boleh bertemu lagi, " kata Maxi dengan suara beratnya, membuat
suaranya sedikit bergema di ruangan itu.
Ayatha dan Hanna kaget melihat Maxi yang ada di sana, bukannya seharusnya Maxi ada di kantor, kenapa sekarang ada disini.
" Maksud Kakak? " kata Ayatha bingung
" Mulai sekarang, aku minta padamu, jangan lagi bertemu Andra, karena kalau kau
melakukannya, aku takut nyawamu akan terancam, " kata Maxi dengan suara
lembut melihat Ayatha.
Ayatha hanya memandangnya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya, kenapa sekarang malah kakaknya yang melarang dia untuk bertemu Andra, kenapa semuaorang ingin mereka tidak bertemu lagi.
Maxi menangkap tatapan sedih Ayatha, walaupun tidak mengatakan apapun, dia tahu Ayatha sedih.
Maxi medekati Ayatha, berlutut di depannya agar posisinya sejajar dengan Ayatha,
memegang tangan Ayatha dengan lembut.
" Ayatha, aku tahu pasti berat bagimu, tapi ini harus aku lakukan, aku mohon, ini demi mu
dan Andra juga, aku berjanji padamu, jika semua hal ini selesai, aku pasti
mempersatukan kalian lagi, aku sudah berjanji, aku akan menepatinya, "
__ADS_1
kata Maxi dengan suara sangat lembut, tatapannya juga sangat lembut, membuat Ayatha mengerti, walaupun matanya basah, Ayatha mengangguk dengan lemah.
Maxi memeluk Ayatha dengan lembut, mengelus kepala Ayatha yang menangis di pelukannya.
Sejak hari itu Ayatha hanya ada di rumah, tidak boleh sama sekali keluar, bahkan dokter
yang mengurunya pun datang ke rumah, saat butuh sekali keluar, penjagaannya sangat ketat.
Andra tidak tahu kenapa, namun Ayatha seperti hilang, jeremy mengatakan Ayatha tiba-tiba di suruh untuk pulang, sejak saat itu dia tidak pernah keluar lagi, tapi jeremy
mengatakan bahwa Ayatha akan melakukan pengecekan untuk melepas gipsnya. Jeremy
tidak berani menjanjikan Andra akan bertermu dengan Ayatha, karena penjagaan
yang sangat ketat, bahkan lebih ketat dari pada milik Andra.
Andra frustasi, tidak tahu apa yang harus dilakukannya? Benar-benar bingung, tidak
tahu apa yang harus dilakukannya. Dia emosi, dia marah... kenapa begitu susah
hanya untuk mencintai? Kenapa begitu banyak rintangan?? Padahal yang diinginkan
Andra dan Ayatha sangat simpel, hanya ingin bersama selamanya.
____________________________________________
Handphone Maxi berdering, dia segera mengangkatnya
“ Kami sudah
menangkap mereka, datanglah jika kau mau”
" Baiklah, " kata Maxi
Dia segera keluar dari kantornya, lalu pergi menuju ke tempat yang di beritahukan oleh
petinggi polisi itu, tempat itu bukan kantor polisi, hanya seperti gedung biasa, namun di dalamnya terlihat banyak sekali penjagaan..
" Maxi, selamat pagi, " kata Petinggi polisi itu lagi
" Selamat pagi, bagaimana? " kata Maxi
" Sedang di adakan introgasi oleh ahlinya, aku menyiapkan ahli penyelidikan yang paling
hebat di negara ini, dia juga ahli dalam memanipulasi otak, aku yakin dia bisa
mendapatkan informasi yang di butuhkan, dia sudah memecahkan banyak kasus, " kata Petinggi polisi itu
" Baiklah, terima kasih, " kata Maxi, mereka masuk ke ruangan di mana mereka bisa
melihat proses introgasi.
__ADS_1
Introgasi berjalan cukup alot, mereka sepertinya sangat profesional, namun perlahan ahli penyeledikan itu bisa memanipulasi mereka, hingga akhirnya mereka mengaku, Maxi bernapas lega.. akhirnya, mereka menyebutkan bahwa Tuan raylah yang menyuruh mereka untuk menculik Ayatha. Namun mereka tidak mengaku bahwa mereka membuat Ayatha terluka, seorang wanita yang di kirim oleh Tuan Ray lah yang melakukannya, mereka tidak mengenalnya, tidak tahu namanya, hanya mempersilahkannya masuk,
lalu wanita itu memukuli Ayatha.
Maxi terdiam, mengigit bibirnya, tidak apa... asalkan Tuan Ray dapat di tangkap,
hidup Ayatha dan Andra akan segera tenang.
" Sudah cukup bukti untuk melakukan penahanan? " kata Maxi menatap petinggi
polisi.
" Sudah, aku akan melakukan penangkapan secepatnya, aku peringatkan, dia punya banyak koneksi, bahkan aku sekarang melawan teman sejawatku sendiri, tapi aku akan melakukan yang terbaik, " kata Petinggi polisi itu
" Baiklah, terima kasih "
Polisi datang dengan cepat ke rumah kediaman Tuan Ray, mengepung rumah itu, saat itu malam hari, Nyonya Renata, Andra dan Wayren ada di rumah. Tuan Ray juga baru
pulang ke rumah.
Para pengawal menahan para polisi,namun polisi yang lain memaksa untuk masuk.
Andra dan Wayren keluar, melihat apa yang terjadi, Nyonya Renata hanya duduk di kamarnya, dia sudah tahu apa yang terjadi, dia tidak ingin menyaksikan suaminya di tahan, dia hanya duduk menatap jendela.
" Ada apa ini? " kata Wayren pada kepala polisi
" Saya ingin melakukan penahanan terhadap Tuan Ray, ini surat penahannya, " kata
salah seorang yang sepertinya memimpin penangkapan itu
Wayren membaca suratnya, memang itu surat penahanan, Wayren melihat Andra tidak
percaya, Andra mengambil surat itu. Membacanya, lalu menyerahkannya kembali
kepada pimpinan itu.
" Baiklah, dia ada di ruang kerja, " kata Andra sedikit tercekat, bagaimanapun dia
adalah ayahnya. Namun perbuatan Tuan Ray memang sudah tidak bisa di toleransi
lagi.
Wayren menatap Andra, Andra juga menatap Wayren. Wayren tidak mengatakan apapun, hanya kembali ke kamarnya.
Tuan Ray tidak melawan saat di bawa polisi, Andra, Wayren ataupun Nyonya Renata tidak
melihat saat Tuan Ray di bawa pergi, mereka hanya berdiam diri di kamar. Rumah
itu langsung terasa sepi, Nyonya Renata menangis, bagaimanapun dia adalah
suaminya.
__ADS_1