Meadow

Meadow
Baiklah, ayo kita pacaran


__ADS_3

Andra mengendarai mobilnya menuju perumahan white piony, dia menuju rumah Jessy. Dia melihat suram pada rumah Ayatha, namun tetap melajukan mobil itu sampai ke rumah Jessy.


Dia lalu menekan bel rumah, terdengar suara dari dalam


" Tunggu sebentar, " suara Jessy


Jessy membukakan pintu, dia sepertinya sedang memasak sesuatu, dia memakai celemek, dan ada bekas putih di pipinya.


" Andra? " kata Jessy


" Ehm… maaf aku menganggumu? " kata Andra masih terkesan datar


" Owh, tidak, aku


sedang memasak kue, tidak ada kerjaan jadi memasak, " kata Jessy


" Ehm...itu, pipimu, " kata Andra


menunjuk pipinya sendiri untuk memberitahukan ada noda di pipi Jessy


" Di mana? " kata Jessy, dia mengelap pipinya,


namun noda putih itu tidak terkena. Andra lalu berinisitif mengelap noda dipipi


Jessy, Jessy tampak mematung, memadang Andra yang sedang mengelap pipinya,


mengetahui suasana itu, Andra segera menarik tangannya.


" Owh, iya, mana kesopananku, mari masuk, " kata Jessy


" Tidak perlu, aku kesini ingin mengajakmu makan malam, Ibuku ingin bertemu denganmu, Risa dan Wayren juga ada di sana, kau bisa malam ini?" kata Andra datar


Jessy senang, dia tersenyum lebar.


" Tentu, " kata Jessy sangat sumringah


" Baiklah, akan ku jemput nanti malam pukul 6, " kata Andra


" Baik, " kata Andra


Andra berjalan menuju mobilnya, dia melihat ke arah Jessy sebentar, senyuman itu... Andra


lalu berbalik dan pergi.


Pukul 6 malam Andra telah sampai di rumah Jessy, dia orang yang tepat janji, jika dia


katakan pukul 6, dia akan datang pukul 6.


Dia berjalan ke arah rumah Jessy, dia sangat tampan malam ini, dengan setelan jas semi


formal, dia tampak menawan, sebenarnya apapun yang di pakai oleh Andra telihat


sangat bagus, seharusnya dia menjadi seorang model.


Andra menekan bel rumah Jessy, sekali lagi suara Jessy terdengar.


" Tunggu sebentar, " kata Jessy


Tak lama dia membuka kan pintu, Andra sedikit tertegun, Jessy sangat cantik malam ini, mengunakan dress berwarna merah muda dengan renda transparan di bagian bahunya,


membuat penampilannya begitu anggun. Namun Andra hanya terpesona oleh


senyumannya...


" Sudah siap? " kata Andra


" Tentu, " kata Jessy


Andra berjalan duluan, Jessy mengikutinya dari belakang, Andra ingin masuk duluan ke


dalam mobil

__ADS_1


" Kau tidak membukakan pintu untuk ku? " tanya Jessy


Andra terdiam, melihat kearah Jessy, dia hanya membukakan pintu untuk ibunya dan


Ayatha, tidak pernah membukakan pintu pada wanita yang lain. Namun karena dia


tidak ingin melukai hati Jessy, dia lalu berputar dan membukakan pintu, Jessy


tampak senang, lalu masuk. Setelah itu mereka langsung pergi menuju rumah Andra.


" Wah rumahmu besar sekali, seperti istana, " kata Jessy tampak memperhatikan rumah Andra setelah mereka sampai


Andra hanya tersenyum sedikit, Bibi Moi menyambut mereka.


" Selamat malam Tuan Muda Andra,


selamat malam Nona, Anda sudah di tunggu oleh Nyonya Renata, Tuan Muda Wayren,


dan Nona Risa di ruang makan. " kata Bibi Moi memberitahukan


" Baiklah, terima kasih Bibi, " kata Andra tesenyum sedikit


lebar, Jessy memperhatikan senyum Andra, baru kali ini dia melihat senyuman Andra


yang menawan. Jantungnya berdetak kencang... memang dari awal bertemu dengan Andra,


Jessy sudah jatuh hati dengan sosok Andra yang dingin dan menawan itu.


Andra masuk, Jessy berjalan di belakangnya, begitu masuk kedalam ruang makan, Nyonya Renata, Wayren dan Risa langsung menyambut mereka.


Nyonya Renata sangat senang, dia senang melihat Andra membawa teman wanitanya, awalnya Nyonya Renata merasa Andra tidak akan lagi berhubungan dengan wanita, karena


mengetahui bangaimana sifat Andra. tapi melihat ini hatinya sangat senang. Apa


lagi Jessy sangat cantik.


Nyonya Renata duduk di bagian tengah, di kanannya ada Andra dan Jessy, di sebelah


tersenyum dan tertawa. Tidak bisa melukiskan bagaimana bahagianya dia sekarang. Jika seperti ini, dia akan mati dengan tenang.


Suasana rumah jadi ramai, apa lagi ada Wayren dan Risa yang tidak pernah akur, Jessy orang yang mudah bergaul, dia bisa cepat akrab, bahkan dengan Nyonya Renata. Andra memperhatikan itu bagaimana ibunya bisa begitu dekat dengan Jessy?. Melihat


senyum dan tawa ibunya, hati Andra tersentuh... bagaimana jika...sebuah


pemikiran melintas di pikirannya, namun hatinya menolak... tidak bisa, bukannya


dia sudah berjanji.


Setelah makan, Andra dan Wayren duduk di kursi belakang seperti biasa mereka lakukan


dulu, mereka meninggalkan para wanita mengobrol di dalam.


" Sepertinya kita sudah lama tidak duduk di sini, " kata Wayren menatap Andra


" Iya," kata Andra singkat


" Andra, sudah 2 tahun, apakah kau akan ingin hidup sendiri selamanya? " kata Wayren


Andra hanyamelihat kedepan, tidak menjawab apapun


" Ibusepertinya menyukai Jessy, dia sangat bahagia, jarang sekali melihatnya tertawa


seperti itu, " kata Wayren lagi


" Iya, " kata Andra lagi


" Andra,tak bisa kah kau membuka hati sedikitpun, ayatha sudah meninggal, yang


tertinggal disini hanya kau, jika ayatha bisa mengatakannya, pasti dia ingin kau bahagia, memiliki seseorang yang mengurusmu, tidak hanya menyendiri sampai tua, " kata Wayren


Andra menatap wajah Wayren dengan nanar, dia mengigit bibirnya.

__ADS_1


" Andra, Ibu sangat menginginkan menantu, bukan dariku saja, pasti dia sangat


menginginkan menantu dari mu juga, dia sudah tua, dia tidak pernah mengatakannya, tapi aku tahu dia mengawatirkanmu, jika dia sudah tidak ada, dia pasti lebih tenang jika mengetahui kau tidak sendiri, " kata Wayren lagi


" Jadi menurutmu aku harus mengkhianati Ayatha?" kata Andra menatap Wayren tajam


" Kau tidak mengkhianati dia, dia sudah tenang di sana, mungkin ini takdirnya, kalian tidak berjodoh, apa kau yakin jika kau mati, kalian juga akan berjodoh di sana?" kata Wayren, sekarang dia sudah bisa mengontrol emosinya, tidak seperti Wayren yang dulu


Andra terdiam... bagaimana pun, hati kecilnya masih milik Ayatha.


" Pikirkan lah...hidupmu masih panjang, jangan menyesal kemudian hari, yang sudah mati tidak mungkin kembali lagi, urusan mereka sudah selesai, sekarang tinggal


dirimu yang melanjutkan hidupmu, " kata Wayren


Andra masih terdiam, namun yang di katakan Wayren padanya membekas di pikirannya.


" Jika kau memang tidak ingin bahagia, aku hanya minta, tolong lakukan buat Ibu, buat


dia bahagia...dia sudah mencurahkan seluruh hidupnya untukmu, " kata Wayren,


Wayren menatap Andra, Andra pun begitu, Wayren tersenyum... lalu masuk kedalam


rumah, bergabung dengan para wanita di dalam.


Andra terdiam, pikiranya kacau, di lain sisi semua yang di katakan Wayren


benar...namun di sisi lain, ntah dia bisa atau tidak...menerima wanita itu


dalam hatinya, Andra melihat Jessy dari jendela, dia tampak tertawa bahagia,


begitu juga ibunya, mereka sangat cocok. Andra tersenyum kecut... kali ini dia


harus mengalah lagi...


Jam sudah menunjukkan pukul 10, Andra bersiap mengantar Jessy kembali pulang, Nyonya Renata memengang tangan Jessy dengan sangat lembut, mengantarkannya hingga ke dekat mobil Andra, seakan tidak ingin dia pergi.


Andra bisa melihat itu, dia kembali mengigit bibirnya. Dia membukakan pintu untuk Jessy, Jessy tersenyum senang, Andra mencoba tersenyum lebih lebar pada Jessy, Jessy sangat senang melihatnya.


" Hati-hati yah," kata Nyonya Renata


" Pasti Bu," kata Jessy tersenyum ke arah Nyonya Renata, Nyonya Renata teringat akan Ayatha ketika melihat senyum Jessy, hatinya sedikit sedih.


Andra melajukan mobilnya, lampu jalan yang berwarna kuning menerangi jalan mereka,


hening..Andra tidak berbicara, Jessy pun.


" Ibumu sangat baik, menyenangkan sekali berkumpul seperti itu, " kata Jessy memecah keheningan


" Terima kasih, " kata Andra seadannya, dia berusaha untuk menerima Jessy, namun tidak bisa.


" Andra... bolehkah aku mengatakan sesuatu? " kata Jessy dengan malu-malu


" Tentu, " kata Andra datar


" Andra, sepertinya aku menyukaimu, " kata Jessy frontal, Andra kaget, dia langsung menghentikan mobilnya. Dia lalu menatap kearah Jessy, Jessy tampak malu-malu, tersenyum sedikit.


Andra merasa kepalanya sangat penuh, banyak sekali yang dia pikirkan, Ayatha sudah meninggal meninggalkan dirinya sendiri di dunia ini. Haruskan dia terus sendiri? Haruskah dia menepati janjinya pada Ayatha? Haruskah dia egois memikirkan dirinya


sendiri dan membuat ibunya cemas? Satu-satunya wanita yang ingin dia bahagiakan di dunia ini hanyalah ibunya.


Andra tersenyum lebih lebar, lalu memandang Jessy dengan sedikit lunak.


" Kalau begitu, ayo kita pacaran, " kata Andra, hatinya sakit mengatakan itu,


rasanya tidak tenang... namun ini semua untuk ibunya.


Jessy sangat-sangat senang, hingga dia tanpa sadar memeluk Andra, Andra kaget dengan yang dilakukan oleh Jessy, namun dia tidak memeluk Jessy balik, dia hanya diam


saja.


Tak lama, Jessy melepasakan pelukkannya, Andra tesenyum seadanya, lalu mengantarkan Jessy pulang, Jessy tidak bisa berhenti tersenyum, hatinya sangat senang. Sedangkan hati Andra terasa tidak karuan...

__ADS_1


__ADS_2