
1 bulan kemudian…
Semua orang berkumpul di padang rumput dekat villa milik Ibu Andra, Andra memang sengaja membuat beberapa kursi taman di dekat areal pusara ibunya, tempat itu indah, pohon willow tumbuh dengan suburnya, membuat juntaian juntaian indah, merindangkan tempat itu, jika kita duduk di bawah pohon willow itu pemandangannya sangat indah, penuh dengan warna hijau…
Andra dan Wayren duduk berdampingan, mengobrol tentang perusahaan, Wayren baru pulang beberapa minggu yang lalu, sedangkan Risa dan Ayatha membantu Nyonya Renata yang sedang menyusun makanan, mereka memang sengaja tidak membawa pelayan, hanya ingin berkumpul bersama keluarga.
Ayatha sesekali melihat Raphael yang sedang bermain bersama Nathan yang baru bisa lancar berjalan, mereka bermain di alas piknik yang di bentangkan khusus untuk mereka. Raphael sangat menyukai Nathan, karena dia bisa bermain bersama.
" Lihatlah raphael, dia semakin tampan setiap harinya, " kata Risa menuangkan minuman.
" Nathan juga sama tampannya kok, " kata Ayatha.
" Padahal saat aku hamil, aku setiap hari berdoa agar dia mirip Wayren atau kalau perempuan mirip dengan ibu, tapi dia malah terlalu mencintai ibunya, hingga jadi fotocopy ku, " kata Risa, Ayatha tertawa mendengarnya.
" Dia yang nantinya akan menjagamu, karena dia sangat menyukai ibunya, " kata Ayatha.
" Benar, dia sama sekali tidak ingin lepas denganku, aku antarkan minuman ini dulu ya, " kata Risa meninggalkan Ayatha menuju ke Wayren dan Andra yang masih asik ngobrol berdua.
" hei, kakak, Wayren, jangan bicarakan tentang kerjaan kalau sedang bersama keluarga, " kata Riaa protes, Ayatha mendekati mereka.
" Baiklah, terima kasih minumannya, " kata Andra tesenyum pada adik iparnya.
" Sama-sama kak, by the way, selamat ulang tahun ya?, " kata Risa meletakkkan tangannya di pundak suaminya.
" Owh, terima kasih, " kata Andra.
Nathan menangis, membuat perhatian ibu dan ayahnya tertuju padanya, sepertinya dia sudah bosan bermain, atau mau tidur.
" Panggilan tugas sudah memanggil, " kata Wayren
" Yah, ayo tenangkan dia dulu, "kata Risa.
__ADS_1
Wayren bangkit lalu berjalan menuju Nathan yang masih menangis, Raphael berusaha membuatnya tidak menangis, namun sepertinya Nathan tidak perduli. Risa lansung mengendong anaknya, Nathan langsung merasa nyaman, Wayren juga mencoba membuat anaknya tertawa, namun sepertinya Nathan lebih menyukai tidur di pelukan ibunya.
Andra dan Ayatha memperhatikan mereka, tersenyum senang. Ayatha mendekat, membisikkan sesuatu
" Selamat ulang tahun suami" kata Ayatha.
Andra tertawa, melihat istrinya dengan penuh kasih sayang.
" Terima kasih" kata Andra memeluk istrinya dengan penuh cinta.
" Aku belum memberikanmu hadiah, aku bingung ingin memberikan apa, kau sudah memiliki segalanya, " kata Ayatha.
" Tidak apa-apa, lagi pula seumur hidup aku belum pernah merayakan ulang tahun, aku juga tidak ingin, ulang tahunku juga merupakan hari kematian ibuku, " kata Andra menatap Ayatha, tidak mau melepaskan istrinya.
" Benarkah? Jadi selama ini saat kau ulang tahun dan aku memberi hadiah, kau tidak senang dong?, " kata Ayatha.
" Ya tetap saja senang, tapi biasanya aku merayakannya saat ulang tahun wayren, 2 hari lagi, " kata Andra.
" Kau sudah menyiapkan hadiah, mana mungkin aku mengatakan bahwa aku biasanya merayakannya 2 hari lagi, " kata Andra.
" Kau benar-benar mencintaiku ya?, " kata Ayatha senang.
" Tentu, kalau tidak akan bisa bertahan seperti ini, " kata Andra mencium dahi istrinya gemas, Raphael menatap ayah dan ibunya senang, lalu dia mendekat.
" Selamat ulang tahun ayah, " kata Raphael
" Terima kasih nak, "kata Andra mengelus kepala anaknya.
" Ibu, aku ingin pergi ke kamar kecil , " kata Raphael.
" Owh, baiklah, ibu akan menemani, " kata Ayatha.
__ADS_1
" Tidak perlu, aku sudah besar, aku bisa sendiri, " kata Raphael tersenyum, lalu pergi meninggalkan Ayatha dan Andra.
" Raphael ingin kemana?, "kata Nyonya Renata melihat Raphael yang pergi menjauh.
" Pergi ke kamar kecil, Nek," teriak Raphael yang tetap berjalan.
" Nenek temani ya, "kata Nyonya Renata.
" Tidak perlu nenek, aku sudah besar, bisa sendiri, " kata Raphael tersenyum pada neneknya yang khawatir, Andra dan Ayatha hanya memperhatikan.
" Baiklah hati-hati ya, sebentar lagi kita makan siang," kata Nyonya Renata lembut.
" Iya nek, " kata Raphael.
Ayatha memperhatikan anaknya masuk kedalam villa sendirian, Nyonya Renata tak lama menyuruh mereka untuk berkumpul di kursi taman, makanan yang dibawa sudah terhidang semua, suasananya benar-benar hangat dan nyaman.
Ayatha menunggu Raphael, tapi dia tidak kunjung datang, lama-lama ayatha jadi khawatir. Dia memengang bahu suaminya, membuat perhatian Andra yang sedang berbicang dengan Wayren mengarah ke Ayatha.
" Ada apa?, " kata Andra.
" Ehm... Raphael lama sekali, aku akan mencarinya, " kata Ayatha cemas.
" Mau di temani?, " kata Andra menatap a
Ayatha yang sudah berdiri.
" Tidak perlu, aku akan segera kembali, "kata Ayatha.
" Baiklah, " kata Andra.
Ayatha meninggalkan mereka, menyebrangi padang rumput itu, lalu pelan-pelan masuk kedalam vila itu, dia mencari kearah kamar mandi, namun dia seketika berhenti, menatap dengan dalam sosok yang sedang duduk di ruang tengah villa itu, badannya kaku, di matanya terdapat kengerian yang sangat.
__ADS_1