Meadow

Meadow
Jangan panggil aku ibumu


__ADS_3

Andra menjalankan mobilnya kearah pemakaman Ayatha, dia dengan cepat berjalan kepusara


itu, pusaranya masih sama, masih terlihat indah, Andra geram, bagaimana orang


bisa membuat pusara untuk orang lain padahal orang itu masih hidup.


Andra dengan emosi menendang batu nisan itu, tidak ada yang boleh membuat hal seperti ini terutama untuk Ayatha, dia tidak akan mengijinkannya. Dia menghancurkan nisan


itu, menginjak-injaknya hingga berkeping-keping, memukulnya dengan batu yang ada di sana, meluapkan semua emosi yang selama ini dia simpan, mengapa begitu


kejam membiarkan orang hingga seperti ini, larut dalam penderitaan, padahal


selama ini dia masih hidup.


Napas Andra terengah-engah, melampiaskan kemarahannya di sana, Andra yang biasanya sangat berwibawa dan menjaga penampilannya, terlihat berantakan dan kacau, dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana nasibnya bisa begini parahnya.


Setelah dia puas melampiaskan semua emosinya, dia lalu kembali kerumahnya, setidaknya sekarang dia sudah lebih tenang.


Saat dia masuk kedalam rumahnya, Nyonya Renata sudah menunggunya, di sampingnya Jessy tampak masih menangis. Andra sebenarnya tidak ingin ibunya tahu tentang ini, atau setidaknya dia akan memberitahukannya dengan perlahan namun ternyata Jessy sudah duluan menemui ibunya.


" Andra? Apa yang telah terjadi padamu? Yang dikatakan Jessy itu benar? Kau ingin


membatalkan pernikahan kalian? "kata Nyonya Renata mencecar Andra dengan semua pertanyaan

__ADS_1


Andra diam, tak ingin menjawab pertanyaan ibunya yang begitu emosional, di matanya terlihat kekecewaan yang paling dalam.


" Andra, kalian akan menikah 1 minggu lagi, semua sudah siap, undangan, baju,


semuanya, apa kau ingin mempermalukan ibu? Bagaimana nasib Jessy? Namanya akan


tercoreng jika kau membatalkan pernikahan ini, gara-garamu nanti dia akan susah


menikah," kata Nyonya Renata mencoba membujuk anaknya


"Ayatha masih hidup, " kata Andra


" Ayatha? " kata Nyonya Renata menatap dalam pada Andra


" Lalu di mana dia? Kalau dia masih hidup kenapa dia tidak menemui mu, sudah lebih dari 2 tahun kalian berpisah, kalau dia memang peduli padamu, sekarang di mana dia? " kata Nyonya Renata emosional


" Aku belum tahu dia di mana, tapi aku yakin dia masih hidup, " kata Andra menatap ibunya


dengan yakin


" Andra? Ini sudah 2 tahun, kau menyia-yiakan gadis sebaik Jessy hanya untuk Ayatha yang entah dia masih mencintaimu atau tidak, " kata Nyonya Renata


" Aku masih mencintainya Bu, aku tidak bisa mencintai siapapun lagi, jika aku memaksakan diri menikah dengan Jessy, hidupnya akan sangat menderita, aku pasti tidak akan bisa menyentuhnya, " kata Andra pada Ibunya

__ADS_1


Nyonya Renata menatap Andra dengan penuh emosi, keras kepala memang salah satu ciri keluarga ini, dan Nyonya Renata tahu seberapa keras kepalanya Andra.


" Kalau kau ingin melihat Ibu bahagia, lanjutkanlah pernikahanmu dengan Jessy, " kata Nyonya Renata berusaha sabar


" Maafkan aku Bu, " kata Andra


Nyonya Renata sangat marah, dia ingin Jessy menjadi menantunya, kenapa Ayatha lagi? Kenapa Ayatha terus merusak anaknya, dia sangat marah, karena rasanya 2 tahun ini terasa sia-sia, dia mencoba membuat Andra bangkit tanpa Ayatha, namun dia kembali lagi


ke Ayatha.


Tanpa sadar Nyonya Renata mengangkat tangannya, menapar Andra sangat keras, saking kerasnya suara itu bergema di rumah itu. Andra menatap ibunya dengan lembut, memandang wajah marah Nyonya Renata, matanya memancarkan kekecewaan yang dalam. Jessy yang melihat itu semua terdiam...dia tidak menyangka Nyonya Renata yang begitu lembut, tega menampar Andra.


" Maafkan aku Bu, " kata Andra


Mata Nyonya Renata merah, menahan segala rasanya, kaget, bigung, dan tak menyangka dirinya bisa berbuat seperti itu, tapi yang pasti dia sungguh kecewa, kecewa atas


keputusan Andra.


" Aku hanya memberimu satu kesempatan, nikahi Jessy, atau jangan sebut aku Ibumu, " kata Nyonya Renata


Andra terdiam, dia memandang Jessy di balik tubuh ibunya, dia tampak bimbang. Dia


mengepalkan tangannya dengan erat, seakan emosiya yang baru saja dia lampiaskan

__ADS_1


tadi terisi lagi penuh.


__ADS_2