
Ayatha memandangi ponselnya, sudah lama sejak dia bekerja di rumah nyonya renata dia
tidak pernah lagi menggunakannya, hari ini adalah hari liburnya, Ayatha
mengaktifkan handphonenya dan seketika beberapa pesan masuk ke handphonenya, Ayatha tersenyum membaca pesan yang ternyata dari Risa, benar-benar gadis yang lucu , pikir Ayatha.
" Halo, " kata Ayatha saat menelepon Risa
“ Ayatha? Kau kah itu, ini bener-bener kau?” jawab Risa sangat antusias
" Iya " kata Ayatha
“ Kau sangat jahat, sudah berapa lama kau tidak menghubungi ku, aku sudah menghubungimu berulang kali, tapi nomormu sudah tidak aktif, bagaimana keadaan mu?”
" Aku baik, maaf baru bisa menghubungimu sekarang," kata Ayatha
“ Apakah pekerjaanmu menyenangkan? Mereka tidak membuatmu sedih kan? Apakah mereka melarang kau memakai handphone? Aku punya banyak hal yang ingin aku cerita kan padamu”
" Baiklah, hari ini aku libur... " Kata Ayatha belum sempat Ayatha menyelesaikan kata katanya, Risa langsung memotongnya.
“ Kau libur?! Kau harus bertemu dengan ku, harus! Berjanjilah “
" Baiklah, " kata Ayatha tersenyum
“ Aku tunggu di rumah persembunyian yah,” kata Risa
" Baiklah, " kata Ayatha segera memasukkan handphonenya lalu bersiap-siap
Andra berjalan ke ruang tengah rumahnya, suasana masih sangat sepi, tidak biasanya
dia tidak melihat Ayatha berdiri di dekat kamarnya, dia sedikit penasaran namun
tidak terlalu mengambil pusing.
" Selamat pagi Tuan Muda, " kata Bibi Moi memberi salam.
" Pagi Bibi, " kata Andra memberikan senyumannya
" Hey, Pagi kak... Kau lihat Ayatha? " Kata Wayren yang sudah siap dengan baju
sekolahnya.
" Tidak.. Hari ini kau ke sekolah? " kata Andra
" Aku sudah terkena panggilan 2 kali, 1 x lagi panggilan akan sampai pada Ayah,
menyebalkan sekali, di mana dia yah? " kata Wayren.
" Entah lah, " kata Andra.
" Ayatha hari ini sedang libur Tuan dan tadi pagi dia sudah izin untuk pergi, "
kata Bibi Moi menerangkan.
" Apa? Kenapa dia tidak bilang dulu pada ku? " Kata Wayren kesal.
" Dia juga tidak bicara apapun padaku, " kata Andra mencoba memberi tahu adiknya.
" Aku harus mencarinya, " kata Wayren kesal.
__ADS_1
" Kau harus kesekolah, kau ingat, aku ada dirumah, akan ku kabari jika dia sudah
pulang, " kata Andra mengurungkan niat Wayren.
" Baiklah, jangan lupa mengabariku, aku pergi dulu, " kata Wayren meninggalkan
kakaknya.
Andra menatap kepergian Wayren, lalu dia kembali ke ruang mambaca kamarnya.
Ayatha duduk di salah satu kedai es krim yang menurut Risa adalah tempat yang menjual es krim terenak di dunia, dia mematap jendela jauh melihat jalanan yang sepi.
" Hey, apa yang sedang kau lihat? " Kata Risa sambil membawa es krimnya.
" Eh..tidak ada," kata Ayatha tersenyum.
" Bagimana? Apakah pekerjaanmu menyenangkan? " kata Risa
" Ehm... cukup menyenangkan, keluarga itu baik, " kata Ayatha sekedarnya
" Apa keluarga itu punya anak laki-laki yang tampan? " Tanya Risa dengan
semangat ciri khas gayanya.
" Yah.. Nyonya itu punya anak laki-laki kembar, " kata Ayatha tersenyum melihat tingkah Risa
" Wow! Itu pasti menyenangkan sekali, " kata Risa
" Bagaimana denganmu? Bukannya seharusnya hari ini kau sekolah? " Kata Ayatha penasaran
" Aku bolos, tentu untukmu, kau sudah begitu lama tidak menghubungiku, lalu aku
" Benarkah?"
" Iya, Oh iya... Kau tahu sesuatu, " kata Risa dengan semangat
" Tidak "
" Tentu saja, aku belum mengatakannya, kau tahu aku akhirnya bertemu dengan pageran
impianku! Pria idamanku, " kata Risa sangat sangat bersemangat dengan gaya
yang cendrumg lebay
" Benarkah?, siapa dia?" Tanya Ayatha ikut bahagia
" Entah, aku juga baru sekali bertemu dia di sekolah, " kata Risa
" E...bagaimana bisa kau menyukainya namun baru sekali bertemu? " kata Ayatha
" Yah, namanya juga cinta pandangan pertama," kata Risa senyum senyum sendiri
" Bagaimana dia? " Kata Ayatha
" Dia tinggi... Matanya indah, kulitnya putih, wajahnya sangat tampan, dia benar
benar sempurna, kau tahu..dia juga tersenyum padaku, senyumnya sangat menawan, benar- benar pangeranku, " kata Risa mendiskripsikannya.
Mendengar cerita Risa, tiba-tiba wajah Andra terngiang di pikirannya, eh..kenapa aku
__ADS_1
malah memikirkan Andra, pikir Ayatha. Ayatha segera membuangkan pikirannya
tentang Andra jauh-jauh, sambil mendengarkan Risa yang tidak hentinya bercerita tentang pria yang di lihatnya di sekolah.
Andra duduk sendiri di ruang bacanya, beberapa kali dia mencoba konsen untuk membaca bacaannya namun ntah mengapa dia lebih tertarik untuk terus melihat jam
rumahnya. Sudah hampir sore dan Ayatha belum pulang juga, ntah bagaimana dia
sedikit merasa khawatir dengan Ayatha. Dia kembali melihat jam dan segera
menutup bukunya lalu keluar kamarnya.
Andra berjalan menuju dapur, mencoba melihat apakah Ayatha sudah ada di kamarnya atau tidak, dia berjalan perlahan menuju kamar para pelayan. Bibi Moi pernah
memberitahu Andra dimana kamar Ayatha. Andra berhenti di depan sebuah kamar
yang tertutup rapat. Dia sedikit ragu untuk membuka pintunya, namun dia coba
menyakinkan dirinya. Di bukanya perlahan kamar Ayatha, gelap dan kecil. Dia tidak
pernah menyangka kamar Ayatha yang begitu kecil, ada perasaan tidak enak, dia
kembali menutup kamar Ayatha perlahan, lalu pergi meninggalkannya.
" Ayatha belum pulang Tuan, " kata Bibi Moi memberitahu Andra saat Andra menemuinya
di ruang tamu.
" Aku ingin berjalan keluar sebentar, " kata Andra berjalan keluar rumahnya
Dia berjalan keluar gerbang dan berjalan menuju ke depan jalan raya, jalanan tampak sepi, dia beberapa kali melihat ke beberapa arah, seperti menunggu sesuatu, namun dia
jalan tampak sepi, beberapa saat dia disana sampai akhirnya dia kembali ke
rumah.
Ayatha masih menunggu di halte bis, hari ini yang menunggu sangat banyak, ada beberapa ibu muda yang kelihatan membawa anak-anak balitanya, mereka kelihatan asik
mengobrol, Ayatha hanya memperhatikan, lalu matanya tertuju pada seorang anak,
mungkin umurnya baru 3 tahun, dia sedang mengejar bola yang tadi di pengangnya,
Ayatha hanya melihatnya, namun lama kelamaan anak itu terus mengejar bola yang
sudah mengelinding ke jalan raya dan ada beberapa mobil yang menuju ke arah
anak itu.
" Awas!!! " teriak Ayatha berlari kearah anak itu, lalu memeluknya sebelum sebuah
mobil menghatamnya, mobil itu menabrak Ayatha walaupun mobil itu sudah mecoba
berhenti
Semua orang berteriak, sayup-sayup antara sadar dan tidak Ayatha melihat ibu anak itu
mengambil anaknya yang menangis sangat kuat, dia bisa mendengar beberapa orang
menanyakan keadaannya sebelum semuanya gelap.
__ADS_1