
Andra datang dengan secepatnya ke rumah sakit itu, melangkah dengan sangat buru-buru, dia
begitu ingin bertemu dengan Ayatha. Wajahnya tampak sangat sumringah, dia tidak ingin melewatkan sedetik pun.
Andra membuka ruangan dokter Jeremy, dia melihat Jeremy di dalam, Jeremy tersenyum,
salah satu pengawalnya masuk memastikan di dalam, Jeremy menatap penagawal itu.
" Privacy please... ini ruangan dokter, hanya boleh dokter dan pasien saja di dalam, "
kata Jeremy menatap pengawal itu, dia kelihatan mengerti lalu keluar.
" Sudah ingin sekali bertemu dengannya ya? " kata Jeremy tersenyum
" Di mana dia? " kata Andra
" Di sini " kata Jeremy menyibakkan gorden penutup di ruang pemeriksaannya, Ayatha
duduk di ranjang pemeriksaan, tersenyum sangat bahagia.
Andra tidak mengatakan apa-apa, dengan cepat mendatangi Ayatha, dan langsung memeluk wanitanya dengan sangat erat. Ayatha pun begitu, dia memeluk Andra terus,
seakan tidak ingin melepaskan atau di lepaskan oleh Andra.
" Aku sangat merindukan mu, " kata Andra dengan suara beratnya
" Aku juga," kata Ayatha.
Andra mencium pipi Ayatha, melihat wajahnya lekat-lekat, iya ini dia yang di carinya setiap hari, wanita ini yang selalu ingin di peluknya dengan erat, ingin dia
cintai sepanjang hidupnya... wanita ini, dia rela melakukan apapun agar
mendapatkan wanita ini kembali.
Ayatha juga menatap Andra dengan sangat senang, meneteskan air mata bahagianya.
" Jangan menangis, tidak boleh menangis lagi, " kata Andra terbata-bata, padahal
mata Andra pun basah.
" Tidak, " kata Ayatha lagi.
Andra tak ingin melewatkan sejengkalpun wajah Ayatha, menatapnya terus, tak ingin
__ADS_1
kehilangan waktu hanya sedetik pun, kembali menciumnya, mencium bibir,pipi,
hidung...setiap jengkal wajah Ayatha, dia benar-benar merindukannya. Dia pikir
tidak akan melihat wanita ini lagi, dia pikir mereka memang akan berpisah
selamanya, karena setiap hari memikirkan bagaimana cara untuk bertemu, namun
tidak pernah menemukan caranya.
Andra kembali memeluk tubuh Ayatha, merasakan aroma tubuh Ayatha, memeluknya hangat,
tidak terlalu erat agar Ayatha tidak kesakitan, tanpa kata-kata, hanya terdiam
berpelukan.
Ayatha pun begitu, dia tidak bisa mengatakan apapun, merasakan hangatnya tubuh Andra, dia berharap waktu bisa berhenti, membiarkan dia di dalam pelukan Andra selamanya.
Lebih dari 5 menit mereka hanya berpelukan, tidak melepaskan sama sekali, hingga terdengar
ketukan dari pintu, Jeremy segera bertindak.
" Ada apa? " teriak Jeremy dari dalam.
" Apakah sudah? " kata pengawalnya
Andra dan Ayatha menatap Jeremy...Jeremy hanya tersenyum...
" Lanjutkan lah," kata Jeremy, dia kembali ke mejanya, Andra menutup tirai pemeriksaan
agar Jeremy tidak melihat.
" Bagaimana kabarmu? " kata Andra menatap Ayatha lekat.
" Aku terus membaik, bagaimana dengan mu? " kata Ayatha tersenyum
" Aku juga baik, hanya tidak bebas, " kata Andra lagi
" Aku akan menunggumu, sampai kapan pun, aku akan menunggu sampai kita bisa bersama, " kata Ayatha sambil memegang pipi Andra. Andra mencium telapak tangan Ayatha.
" Siapa yang membuatmu seperti ini? Kenapa mereka membuat banyak luka padamu? "
kata Andra melihat Ayatha lebih detail
__ADS_1
" Aku tidak tahu, mata ku tertutup, tapi aku rasa dia seorang wanita? " kata Ayatha
" Seorang wanita? " kata Andra, matanya terlihat emosi, di kepalanya terlintas nama
nadine
" Aku bisa dengar suaranya, yang menculikku tidak melakukan apapun, hanya menjagaku
agar tidak kabur, tapi mataku lalu di tutup, aku bisa mendengar suara sepatu masuk, lalu dia memukul ku, " kata Ayatha mencoba mengigat, ada seberkas
kengerian di matanya, teringat hal itu sungguh menyakitkan.
" Aku akan cari mereka, jangan takut... aku minta maaf, Ayahku melakukan ini padamu, "
kata Andra lagi
" Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa, asalkan kau bersama ku, aku ingin hidup dan mati
bersamamu," kata Ayatha
Andra tersentuh, memeluk dengan erat.
" Kitaakan hidup, hidup bersama, dan mati bersama, aku janji, " kata Andra.
Jeremy menyibakkan tirainya, dia kelihatan sedikit cemas.
" Aku rasa mereka sudah tidak sabar untuk menerobos masuk, " kata Jeremy
Andra melihat Ayatha, Ayatha tersenyum, tidak lagi menangis seperti beberapa hari
yang lalu, Ayatha tidak ingin menangis, dia yakin akan bersama Andra, dia yakin
Andra akan kembali, jadi dia tidak ingin menangis.
Andra menatap Ayatha lekat-lekat, tesenyum membalas senyuman Ayatha, lalu dia mundur
perlahan, Jeremy menutup tirainya, menutupi Ayatha yang ada disana. Andra lalu
keluar dari ruangan Jeremy dengan tenang. Melihat kepada pengawalnya.
" Ada apa? " kata Andra lagi.
" Tidak apa-apa Tuan, " kata pengawalnya.
__ADS_1
" Aku sudah membaik, kita kembal ke kantor, " kata Andra.
Mereka lalu mengikutinya.