
Ayatha dan Andra hampir menepi, saat mereka melihat begitu banyak orang berkerumun di pantai
itu, banyak sekali, bahkan terlihat banyak sekali wartawan, di sana juga sudah
berdiri Keenan dengan senyumnya menatap Ayatha dan Andra. Ayatha menatap Andra,
Andra juga, entah kenapa hati kecil nya menagatakan ada yang tidak beres.
Ayatha turun duluan di sambut dengan sangat ramai oleh para wartawan, Keenan membantunya turun, dahi Ayatha terus berkerut, Keenan langsung mendekapnya dalam pelukannya, Ayatha kaget setengah mati, Andra juga begitu, dia hanya bisa
terdiam. Dia tidak mungkin melakukan hal yang bisa memancing masalah di depan
semua wartawan.
" Ada apa ini?" kata Ayatha bingung
" Bagaimana kabarmu sayang? " kata Keenan terdengar sangat mesra, Ayatha menatapnya
dengan tatapan tidak percaya dan terkejut, apa maksudnya?
" Bagaimana kabar Anda Nona Ayatha, kemarin Keenan melakukan pengakuan yang
sangat mengejutkan, dia mengatakan anda adalah pacarnya? Benarkah? " kata
wartawan itu mencerca pertanyaan bertubi-tubi pada Ayatha
" Pacar? " kata Ayatha menatap Keenan kesal, Keenan hanya tersenyum manis
" Benar, dia pacar saya, iya kan sayang? " kata Keenan masih merangkul Ayatha yang
sebenarnya dengan cara memaksa.
Andra juga mendengar hal itu, dia terdiam, mengepalkan tangannya dengan sangat emosi.
" Tuan Andra anda juga terperangkap badai bersama dengan nona Ayatha? " tanya seorang wartawan beralih ke Andra
Andra tersadar, dia hanya menatap ke arah wartawan itu.
" Sayang, akhirnya kau sampai juga, " suara Nadine terdengar sangat senang, beberapa
bodyguard lansung menghampiri Andra, membuat tembok pembatas antara Andra dan wartawan, Nadine langsung berhambur memeluk Andra, Andra tampak masih kaget
dengan keadaan ini, dia hanya melihat kearah Ayatha, begitu juga Ayatha yang
terdiam melihat adegan itu.
Nadine mencium pipi Andra sedikit, namun Andra hanya memandangnya dengan sangat
dingin, dia sudah berbulan-bulan tidak menemui Nadine.
" Kau tidak apa-apa? Aku sangat khawatir saat menerima kabar kau terjebak di pulau
itu, " kata Nadine lembut
__ADS_1
Andra masih bingung dan terlihat linglung, Ayatha pun sama, dia hanya pasrah di dalam
pelukan Keenan.
" Aku tidak apa-apa, " kata Andra pada Nadine yang sibuk memperhatikannya.
" Ayo kita pergi, " kata Nadine, konsentrasi massa terbelah 2, sebagian sibuk
memoto Ayatha dan Keenan, yang lain mengejar Andra dan Nadine yang langsung
pergi dengan mobilnya.
" Sudah yah, pacarku baru sampai, dia harus istirahat, " kata Keenan, dia menarik Ayatha
pergi dari kerumunan itu, menariknya masuk kedalam sebuah mobil, lalu pergi
dari sana meninggalkan kerumunan wartawan itu.
Ayatha terdiam, dia masih bingung dengan apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba dia jadi
pacarnya Keenan, padahal dia tidak ada hubungan apa-apa, lalu bagaimana dengan Andra?
Sesampainya di lobby hotel, Ayatha langsung turun, tiba-tiba kepalanya terasa berat dan
pusing, kenapa malah jadi begini.
" Hei, tidak baik di lihat orang kalau kau jalan secepat itu meninggalkan pacarmu,
" kata Keenan melihat Ayatha yang buru-buru meninggalkannya
kata Ayatha kesal, bahkan nada bicaranya lebih tinggi, membuat dia jadi pusat
perhatian di lobby itu, menyadari akan hal itu, Ayatha langsung pergi meninggalkan lobby itu.
" Nanti juga kau mau jadi pacarku, siapa sih yang tidak mau jadi pacarku, " kata Keenan
bergumam, tersenyum namun tidak mengejar Ayatha.
Ayatha segera naik kelantai kamarnya, namun saat pintu lift terbuka, Andra sudah ada
di depan lift itu, Andra tampak kurang bagus moodnya, menarik Ayatha keluar
dari lift, lalu membawanya ke ruangan di pojok, gudang tempat penyimpanan
alat-alat kebersihan, dia langsung menutup pintunya.
Ayatha menatap Andra, mata Andra terlihat dingin dan merah, dia pasti salah paham, pikir
Ayatha.
" Katakan padaku apa yang terjadi? Jelaskan, " kata Andra dengan nada emosi
" Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, " kata Ayatha menatap Andra
__ADS_1
" Kenapa Keenan mengatakan pada semua orang kalau kau pacarnya? " kata Andra
mengepalkan tangannya, dia sangat cemburu dan emosi.
" Aku juga tidak tahu, aku tidak punya hubungan apa pun padanya, tiba-tiba saja dia
membuat kabar seperti itu, " kata Ayatha menjelaskan
Andra hanya menatap Ayatha, tidak ada kebohongan dari mata Ayatha yang bisa dilihat oleh Andra. Dia sangat emosi, hingga dia memukul tembok tempat itu. Ayatha kaget, tercengang dengan kemarahan Andra.
" Aku tidak suka jika kau dekat dengannya, " kata Andra lagi
" Bagaimana dengan mu? dengan Nadine? " kata Ayatha menatap Andra. dia tidak seperti Ayatha yang dulu, yang hanya bisa memendam rasa sakitnya, sekarang dia lebih bisa mengekspresikan semuanya, dia tidak mau lagi menderita sendiri, sudah cukup.
" Aku sudah janji akan memutuskan pertunangan, aku akan menepatinya, tapi bukan begini caranya, " kata Andra menatap Ayatha
" Aku juga tidak punya hubungan apapun dengan Keenan, aku juga tidak punya rasa
apapun padanya, " kata Ayatha meyakinkan Andra
Andra terdiam, melihat ketulusan di sinar mata Ayatha, hatinya sedikit tenang
mendengar penjelasan Ayatha. Dia lalu memeluk Ayatha..
" Maafkan aku, aku terlalu terbawa emosi, " kata Andra yang menyadari kesalahannya.
" Tidak apa-apa, aku juga akan melakukan hal yang sama, " kata Ayatha membalas
pelukan Andra.
" Kita harus secepatnya mengurus Keenan, dia sungguh keterlaluan sekarang," kata Andra
kembali emosi
" Aku tidak tahu apa rencananya, tapi dia memang sudah keterlaluan, aku akan bicara
dengan Kakak, " kata Ayatha
" Baiklah, cobalah bicara dengan Max, kalau memang sudah tidak bisa, biar aku bertindak,
kalau aku bertindak sekarang, akan jadi kacau nantinya, " kata Andra
" Iya, aku tahu, " kata Ayatha
" Baiklah, aku harus mengurus Nadine dulu, aku harus memastikan dia pulang, kalau ada
sesuatu yang tidak menyenangkanmu, maafkan aku, tapi aku tetap akan memenuhi
janjiku padamu, hubungi aku kapanpun kau butuhkan aku, " kata Andra menyerahkan selembar kartu nama pada Ayatha.
" Iya, baiklah, "
" Aku keluar dulu, " kata Andra, dia mengecup bibir Ayatha sebentar, lalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Ayatha masih mematung, bibir Andra hangat, dia tersenyum... rasanya sudah lama sekali tidak merasakan rasa bahagia seperti ini, lalu Ayatha keluar dari ruangan itu, kembali ke kamarnya.