Meadow

Meadow
Satu Lagi pesaing yang harus di hadapi


__ADS_3

Ayatha hanya bisa terdiam, dilihatnya sesekali Bibi Moi yang tertidur di sofa di dekatnya, sebenarnya dia sudah bangun dari tadi, dia ingin sekali keluar dan berjalan-jalan karena sudah seharian dia hanya tidur saja, namun dia tidak ingin membangunkan Bibi Moi yang tampak sangat lelah.


" Selamat pagi " kata Jeremy perlahan masuk ke kamar ayatha, Jeremy melihat Ayatha dan tersenyum manis, Ayatha membalas senyumnya, lalu mencoba memberitahu Jeremy agar tidak membangunkan Bibi moi yang masih tertidur, Jeremy mengerti.


Perlahan dia menutup pintu dan menuju tempat Ayatha.


" Bagaimana keadaanmu? " Kata Jeremy pelan depan dengan sangat lembut


" Sudah baikan, apa kabar mu? " Kata Ayatha mencoba untuk duduk, Jeremy langsung membantunya.


" Baik lihatlah sekarang aku sudah besar, " kata Jeremy dengan candaannya


" Tentu, kau besar sekarang, " kata Ayatha membalas candaan Jeremy


" Benarkah aku besar, aku sudah mencoba berdiet, kopi, Ini semua isinya kopi, " kata jeremy tertawa pelan sambil menunjuk perutnya


" Yah... besar dan sekarang kau sudah jadi dokter, " kata Ayatha tersenyum


" Yah, inilah sekarang aku, dokter " kata Jeremy membalas senyum Ayatha


" Bukankah dulu kau selalu mengatakan ingin menjadi astronot? "


" Semua berubah, karena seseorang aku merubah cita-citaku. " Kata jeremy lembut


" Benarkah? siapa dia? Kau sudah menemukan seorang gadis yang telah merubahmu? " Kata Ayatha semangat mengetahui temannya sepertinya memiliki kekasih


" Aku menemukannya sudah lama, seorang gadis yang mengatakan padaku jika aku orang yang pintar dan baik, aku harus menjadi dokter, agar bisa membantu semua orang, karena membatu orang adalah pekerjaan yang mulia dan itu akan membuatku bahagia " kata Jeremy tersenyum manis


Ayatha terdiam, menatap dalam pada Jeremy yang masih tersenyum, dia ingat, dulu saat Jeremy mengantarnya pulang, Ayatha mengatakan hal itu padanya. Sudah lama sekali, bahkan Ayatha sudah lupa, dia pernah mengatakan itu.


" Yah, karena itu aku menjadi dokter, apakah cocok? " kata Jeremy mencairkan suasana


" Pasti! Kau cocok sekali menjadi dokter, " kata Ayatha


" Baguslah, aku memang berharap kau melihatku setelah menjadi seperti ini, tidak disangka ternyata impianku terwujud juga "


" Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, " kata Ayatha tersenyum


Tiba-tiba pintu kamar Ayatha terbuka, Ayatha dan jeremy melihat siapa yang datang, ternyata Wayren dan Andra di belakangnya.


" Kau sudah bangun? " kata Wayren dengan gayanya


" Eh, Tu..." Kata Ayatha yang kaget melihat Wayren


" Ingat peraturan jika kita tidak di rumah, " kata Wayren segera mendekati Ayatha


Bibi Moi yang tadinya tertidur, langsung terbangun karena mendengar suara Wayren, Bibi Moi memberi salam pada Wayren dan Andra.


Jeremy terdiam, mereka tinggal serumah? Dan melihat penampilan mereka, seperti mereka bukan orang biasa, pikirnya. Begitu melihat tangan Wayren dan Andra, Jeremy langsung tahu dari cincin yang dikenakan oleh Andra dan Wayren, bukan kah itu tanda dari keluarga High Empire, keluarga terkaya di negeri ini. Bagaimana Ayatha bisa bertemu mereka?


" Istirahat saja Bi, " kata Andra mempersilahkan Bibi Moi untuk kembali duduk


" Kau benar-benar membuatku kesal, lain kali jika kau ingin pergi, kau harus memberitahu aku dulu sebelumnnya, dan aku harus mengantarmu ke mana pun, " kata Wayren meluapkan kekesalannya karena Ayatha pergi tanpa memberitahunya


Jeremy mengerutkan dahinya melihat tingkah Wayren pada Ayatha, dia lalu melihat kearah Andra, Andra hanya terdiam tanpa sepatah kata pun.


" Baiklah, Wayren, " kata Ayatha ketakutan

__ADS_1


" Apakah kau tidak tahu, betapa khawatirnya aku saat tau kau pergi entah kemana dan tiba-tiba ada di rumah sakit " kata Wayren lagi


" Sudahlah, dia masih sakit, kenapa kau memarahinya seperti itu? " kata Andra menenangkan Wayren


" Siapa yang memarahinya? " kata Wayren masih dengan tampang kesalnya


" Bagaimana keadaanya? " Kata Andra bertanya pada Jeremy yang dari tadi hanya terbingung dengan suasana yang di buat oleh Wayren


" oh, iya dia baik baik saja, eperti yang aku katakan hari ini dia sudah boleh pulang, kau harus banyak istirahat, jaga kesehatanmu yah, lain kali kita akan lebih banyak ngobrol, Ok? " kata Jeremy sambil mengelus kepala Ayatha, Ayatha membalasnya dengan senyuman, membuat Wayren membelalakan matanya melihat keadaan itu, kenapa mereka tampak sangat akrab?, pikir wayren.


Saat Jeremy menatap Andra dan Wayren, suasana langsung mencekam, Andra dan Wayren menatapnya dengan tatapan kesal, tajam dan dingin, membuat Jeremy terasa terintimidasi.


" Kalau begitu aku keluar dulu, masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan, " kata Jeremy sambil tersenyum memberi salam pada Andra dan Wayren, Wayren hanya acuh melihat senyum Jeremy, Jeremy kembali menatap Ayatha dan tersenyum sebelum dia pergi.


Setelah itu Ayatha berkemas-kemas sedangkan Andra dan Wayren keluar untuk menyelesaikan administrasinya, Wayren yang dari tadi penasaran melihat tingkah Jeremy dan Ayatha langsung bertanya pada Andra.


" Siapa dia?" Kata Wayren


" Namanya Jeremy, dia yang merawat Ayatha," kata Andra seadanya karena dia sedang sibuk menandatangani semua berkas


" Aku tahu dia dokter, tidak perlu dijelaskan, maksudku siapa dia? "


" Dia sahabat kecil Ayatha, " kata Andra menatap adiknya


" oh satu lagi saingan yang harus di hadapi. " gumam Wayren pada dirinya sendiri


Ayatha berjalan menuju mobil di parkirkan, ketika tiba-tiba mereka berpapasan dengan Maxi, awalnya Andra ingin menghindar, namun Maxi langsung memanggilnya.


" Andra! " kata Maxi tesenyum


" Selamat pagi, " kata Andra membalas sapaan Maxi


" Ya... Bagaimana kabarmu? " kata Wayren


" Baik, Kalian sudah mau pulang? " kata Maxi


" Iya, keadaanya sudah baik, jadi kami memutuskan untuk membawanya pulang, " kata Andra


" Baguslah, kau harus berhati-hati lain kali, " kata Maxi tersenyum lembut pada Ayatha


Wayren dan Andra langsung melihat kearah Ayatha.


" Terima kasih, " kata Ayatha membalas senyum Maxi


" Baiklah, kami pulang dulu, " kata Andra lagi


" Oh, baiklah, hati-hati di jalan, " kata Maxi


sambil terus melihat ke arah Ayatha


" Ayo Ayatha, kau harus banyak istirahat, " kata Wayren menarik Ayatha, dia tidak suka tatapan Maxi pada Ayatha.


Max terdiam, dia hanya terus melihat kearah Ayatha yang meninggalkannya, wajahnya terlihat menyimpan sesuatu, saat Ayatha sudah tidak lagi terlihat, dia baru melanjutkan jalannya.


" Ah, kita punya banyak hotel, vila, apartemen, dan mall, tapi kenapa kita tidak punya rumah sakit, bahkan keluarga Medison punya 1 rumah sakit, kalau kau sudah mengantikan Ayah, buatlah 1 rumah sakit untuk keluarga kita " kata Wayren saat sudah di dalam mobil


" Kau pikir membuat sebuah rumah sakit itu mudah? buatlah sendiri jika kau mau, " kata Andra

__ADS_1


" Bagaimana menurutmu ayatha? membuat sebuah rumah sakit, " kata Wayren bertanya pada Ayatha yang duduk di belakang, Ayatha tentu kaget dengan pertanyaan Wayren yang tiba-tiba, dia tampak gugup menjawabnya.


" Membuat sebuah rumah sakit, pasti akan menyenangkan, dapat membantu orang banyak, " kata Ayatha, Wayren tersenyum puas karena Ayatha mendukung idenya, Andra hanya terdiam mendegar kata-kata Ayatha.


Sekilas dia menatap Ayatha dari kaca mobilnya, di saat bersamaan Ayatha juga sedang tampak memperhatikannya. Andra memalingkan pandangannya, lalu segera mengendarai mobilnya.


Saat sampai dirumah, Bibi Moi membantu Ayatha untuk keluar dari mobil, Andra dan Wayren memperhatikannya.


" Hari ini kau harus istirahat lagi, aku tidak mau kau bekerja dulu " kata Wayren


" Tapi saya sudah tidak apa-apa, " kata Ayatha sambil memandang Andra


" Istirahatlah, aku tidak sedang butuh apa-apa hari ini, " kata Andra


" Baiklah, terima kasih Tuan, " kata Ayatha.


" Kau ini benar-benar, jika aku yang menyuruhmu kau tetap tidak mau, " kata Wayren jadi kesal kembali


" Apakah efek minuman semalam masih ada ?" Tanya Andra yang mulai kesal karna kelakuan Wayren


" Aku tidak semabuk itu, " kata Wayren pergi begitu saja


Andra tersenyum melihat kelakuan adiknya, sedangkan Ayatha hanya terdiam, seperti ada yang ingin dia sampaikan pada Andra.


" Apakah ada yang ingin kau bicarakan?" Kata Andra


" Saya hanya ingin bilang, maaf menyusahkan anda, dan terima kasih, semua biaya rumah sakit, saya akan membayarnya, " kata Ayatha sungkan


" Tidak perlu, itu sudah kewajiban, istirahatlah, atau kau akan sakit lagi nanti," kata Andra tersenyum lembut


Ayatha hanya menatap Andra, dia terpana melihat senyum Andra yang begitu lembut padanya. Hari ini banyak orang yang tersenyum padanya namun hanya senyum Andralah yang membuat jantung Ayatha berdegup kencang.


Andra menjadi gugup ketika melihat Ayatha terus memandanginya.


" Kalau begitu aku akan masuk duluan, " kata Andra menutupi gugupnya


" Baik Tuan, " kata Ayatha yang baru sadar


Wayren masuk kedalam dapurnya, suasana dapur masih sepi, ini memang bukan saatnya makan, jadi mungkin pelayan yang lain sedang mengurusi hal yang lain. Sesaat kemudian Ayatha memasuki dapur, Wayren tersenyum, memang Ayatha lah alasan kenapa dia di dapur.


" Tuan Muda Wayren ? " tatap Ayatha bingung kenapa ada Wayren di dapur


" Bagaimana keadaanmu? " kata Wayren tersenyum lembut


" Saya sudah baikan, terima kasih, " kata Ayatha


" Kau sudah meminum obatmu "


" Sudah, " kata Ayatha tersenyum pada Wayren


Wayren terus menatap Ayatha dengan tatapan yang sangat lembut, penuh perhatian, Ayatha juga hanya memandangi Wayren, Ayatha hanya bingung kenapa Wayren tetap memandangnya seperti itu.


Wayren mengangkat tangannya, perlahan menyentuh dahi Ayatha yang masih di tutupi verban, Ayatha hanya bisa melihat perilaku Wayren yang menurutnya aneh.


Wayren terus memandangi Ayatha dengan pandangannya yang dapat meluluhkan semua wanita. Namun pandangan itu bukan untuk menjahili Ayatha, namun benar- benar berasal dari hatinya, dia begitu merindukan Ayatha, kemarin, dia menahan diri untuk tidak menemuinya walau rasa khawatirnya itu menyiksanya, namun hari ini dia tidak bisa lagi menutupi perasaannya.


Dia menurunkan tangannya ke arah bahu Ayatha, lalu dengan cepat , dia menarik Ayatha kedalam pelukkannya. Di dekapnya Ayatha dengan sangat erat, melampiaskan semua rasanya, bagaimana dia sangat khawatir pada Ayatha, sedihnya dia saat Andra tak mengizinkannya bertemu Ayatha. Dia benar benar merindukan wanita ini.

__ADS_1


Semua terasa sangat cepat, tiba- tiba saja dia sudah ada di pelukkannya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Ayatha hanya bisa terdiam, tanpa membalas pelukan Wayren.


__ADS_2