
1 minggu ini Wayren dalam mood yang jelek, dia hanya diam, tidak ingin bicara, bahkan kalau melihat wajahnya, sepertinya dia akan membunuh siapapun yang mengganggunya.
Risa juga begitu, dia jadi takut mengganggu Wayren. Dia sebenarnya kasihan melihat Wayren, dari matanya dia tahu sekali bahwa Wayren sangat sedih, pasti karena Ayatha, pikirnya
Risa sedang berjalan meninggalkan kelas, dia sedang sibuk membalas pesan dari Ayatha, dia akhir akhir ini memang sering menanyakan kabar Ayatha, dia juga khawatir
tentang keadaan Ayatha.
Tiba-tiba dia menabrak seseorang pelan di depannya. Risa menatap siapa yang di tabraknya, ternyata Wayren, menandangnya dengan tatapan suram.
" Maaf," kata Risa
Wayren hanya terdiam, lalu meninggalkan Risa begitu saja, entah kenapa melihat tatapan Wayren suram itu, hati Risa merasa tidak enak.
" Wayren!" kata Risa memanggil Wayren dengan lembut, mendengar Risa memanggilnya, Wayren
berhenti, namun tidak membalikkan wajahnya
" Kenapa? " kata Wayren, suaranya berat
" Ingat di hutan kau minta maaf, aku bilang tidak akan memaafkanmu? " kata Risa
" Lalu?" kata Wayren tak bergeming
" Aku akan memaafkan dengan syarat," kata Risa lagi
Wayren mengerutkan dahinya, dia akhirnya membalikan badannya, menatap Risa.
" Apa syaratnya? " kata Wayren
" Kau harus ikut aku hari ini," kata Risa tersenyum tipis
Wayren menatap Risa lekat, Risa sedikit ketakutan, memangnya dia salah ngomong ya?
Pikir Risa.
Wayren sebenarnya sedang tidak ingin melakukan apapun, hatinya hancur saat Ayatha pergi, saat ini, dia hanya ingin sendiri. Namun Wayren juga tidak ingin pulang
dulu kerumah, rumah itu selalu mengigatkannya dengan Ayatha.
" Baiklah " kata Wayren seadanya,
" Wah... ayo, sekarang kita pergi " kata Risa mengandeng tangan Wayren, menariknya pergi, Wayren kaget dengan tarikan tangan Risa, namun dia hanya mengikutinya.
Risa menarik Wayren ke arah mobilnya, supirnya segera menyambut Risa.
" Aku ingin pergi sendiri dengan temanku, kamu pulang saja," kata Risa
" Baik Nona," kata supir itu menyerahkan kunci pada Risa.
" Ayo," kata Risa melirik Wayren
" Kemarikan," kata Wayren
" Apanya ?"
" Kuncinya "
" Aku juga bisa menyetir kok, sudah masuk saja, hari ini kau harus mengikuti apapun kata ku, " kata Risa menyuruh Wayren masuk, dengan malas Wayren masuk ke dalam mobil Risa.
" Baiklah " kata Risa mantap
Wayren yang duduk malas di sampingnya, Wayren hanya menutup wajahnya dengan hoodienya.
" Hei, jangan pake hoodie di sini, kau pikir aku supir, lepaskan," kata Risa menarik hoodie Wayren,
membuat Wayren menatap Risa kesal.
" Apaan sih?" kata Wayren
" Dan 1 lagi, cobalah untuk tersenyum," kata Risa sambil tersenyum lebar seperti mencontohkan.
__ADS_1
" Nih… " kata Wayren juga membuat senyum lebar namun ekspersinya tetap kesal.
" Dilihat-lihat, senyumanmu jelek, sudah jangan senyum," kata Risa lagi
" Ini kita mau pergi atau tidak, kalau tidak aku akan keluar," kata Wayren seperti anak
kecil yang sedang ngambek
" Sabar dikit dong, ngambek mulu, " kata Risa segera bersiap-siap mengemudikan mobilnya.
Tidak lama mereka berangkat, sepanjang jalan Wayren hanya memperhatikan Risa yang berisik bernyanyi mengikuti lagu yang di putar di radio mobilnya. Hingga tanpa sadar
dia tesenyum melihat kelakukan gadis konyol ini.
Perjalanan lumayan lama, mereka akhirnya sampai juga, Wayren menatap tempat tujuannya, seperti sebuah pasar malam di tengah lapangan, banyak permainan dan jualan khas pinggiran. Wayren belum pernah ke tempat seperti ini.
" Kita ke sini?" kata Wayren tidak percaya
" Iya, memangnya kenapa?" kata Risa
" Kau yakin ke sini? " kata Wayren mengernyitkan dahi
" Iya, kenapa sih? Disana seru tau, ayo turun," kata Risa membuka pintu
mobilnya.
Wayren yang sedari kecil hidup dengan bergelimang harta, tanpa kekurangan sedikitpun, kemana-mana selalu dijaga, tidak pernah berpikir untuk pergi ke tempat seperti ini, tempat nya kelihatan sumpek dan ramai sekali, bahkan dia saja malas untuk pergi ke mall. Apa lagi termpat seperti ini.
Namun dia sudah berjanji untuk mengikuti Risa, dia bisa di bully habis-habisan oleh Risa nantinya kalau tidak mau megikuti kemauan Risa.
" Baiklah, ayo," kata Risa masuk kedalam,
Di sana ramai sekali, banyak orang-orang yang berlalu lalang, terlihat sekali mereka bukan orang sekelas dengan Wayren, atau bisa di bilang dari kalangan menengah kebawah. Wayren mengerutkan dahinya terus menerus, melihat kesekeliling, ramai dan sesak, dia sebenarnya tidak suka tempat yang ramai. Namun dia hanya diam
saja. Mencoba berjalan hati-hati agar tidak menabrak seseorang.
Risa melihat Wayren yang tampak tidak nyaman, hanya tertawa kecil.
" Tidak apa-apa," kata Risa
Semua orang melihat kearah Risa dan Wayren, terutama Wayren, dia sangat berbeda dengan
orang-orang di sana, penampilannya serta wajahnya.
Banyak wanita yang memandangnya, saling berbisik. Tentu saja, Wayren kan sangat tampan, bahkan wajahnya tidak kalah dengan artis-artis di TV.
" Sepertinya kau banyak fans di sini," bisik Risa
Melihat reaksi wanita yang memandangi Wayren, ada yang mukanya bersemu merah, ada yang hingga memutar kepala melihat Wayren, bahkan ada yang melongo, Risa jadi geli melihatnya. Wayren hanya diam memasang wajah dinginnya.
Dia mengamati sekeliling, bukan hanya Wayren yang menarik perhatian, Risa juga, gadis itu walaupun tidak terlalu tinggi, namun dia punya wajah yang cukup cantik, apalagi wajahnya selalu terkesan ceria, membuat semua orang akan menyukainya.
Wayren mengamati beberapa orang pria yang melihat Risa dengan tatapan ingin memangsa Risa, lalu 1 diantaranya berjalan menuju ke arah Risa, Risa orang yang cukup ceroboh, dia suka berjalan seenaknya, bahkan di tempat seperti ini, Wayren terus memperhatikan gerak-gerik laki-laki yang tampak sudah cukup berumur itu, pasti dia akan melakukan hal yang tidak baik.
Risa sama sekali tidak menyadari kedatangan laki-laki itu, membuat Wayren geram, bagaimana dia bisa dengan santai berjalan-jalan seperti itu, padahal di dekat dia ada laki-laki yang dari wajahnya saja sudah sangat mencurigakan.
Saat laki-laki itu ingin melancarkan aksinya, dia seperti ingin memegang bokong Risa, Wayren langsung menyalip laki-laki itu, Wayren menarik pinggang Risa agar mendekat dengannya, membuat Risa jatuh dalam pelukannya. Risa yang diperlakukan seperti itu sangat terkejut, dia berhenti. memandangi Wayren, jantungnya berdetak kencang sesaat, wajah Wayren datar dan dingin.
" Jangan coba-coba menyentuh wanitaku, atau kau akan tahu rasanya patah tulang, " kata Wayren menatap sinis lelaki itu yang sekarang ada percis di belakangnya, laki-laki itu langsung gugup dan meninggalkan Risa dan Wayren.
Wajah Risa memanas, memerah, wanitaku? Apa sih maksudnya? Pikir Risa. Risa orang yang sangat sensitif, di perlakukan seperti ini, siapa sih yang tahan? Apa lagi wajah Wayren yang sedang serius itu sangat tampan, Risa jadi merasa sedang di dalam drama.
" Kenapa ?" kata Wayren melihat Risa yang menatapnya terus menerus
" Tidak, oh, aku mau makan yang itu," kata Risa salah tingkah, dia langsung melangkah pergi.
Melihat tingkah Risa yang salah tingkah, Wayren akhirnya tersenyum, dia mengikuti Risa yang datang ke stand permen.
" Ah, banyak sekali permen, ada gula-gula juga," kata Risa
Wayren berdiri di belakang Risa, menghalangi banyak orang yang bekerumun di belakang Risa.
__ADS_1
" Jangan pergi telalu cepat, aku tidak bisa menjagamu nanti," kata Wayren setengah berbisik pada telinga Risa. Mendengar suara Wayren yang begitu lembut, tubuh Risa mematung, dia terdiam. Detak jantungnya seperti baru lari 100 putaran. Wayren yang melihat reaksi Risa terseyum nakal, dia puas melihat reaksi Risa, ternyata dia masih jago membuat wanita tersipu begitu.
" Nona, kau jadi beli yang mana? " tanya penjual pada Risa, membuat Risa tersadar.
" Mau yang ini," kata Risa seadanya mengambil kembang gula yang ada di depannya.
" Baiklah, ini, " kata Penjual memberikannya pada Risa.
Risa segera pergi dari sana tanpa melihat ke belakang, melihat Wayren, dia terlalu malu. Benar kata orang, seberapapun kau suka seseorang, namun akan kalah dengan yang langsung bertindak. Orang yang di sukai Risa awalnya Andra, namun... sepertinya sekarang berubah...
" Wayren, ayo main ini, " kata Risa memberanikan diri, dia di sini ingin menghibur Wayren yang murung, entah kenapa malah dia yang rasanya akan terbang sekarang.
" Permainan apa ini ? " kata Wayren yang tidak pernah memainkan permainan ini.
" Oh, di sana ada target, Tuan tinggal menjatuhkan targetnya, jika anda bisa maka akan ada hadiah, kesempatan anda hanya 3 bola, " kata Penjaga stand permainan
" Baiklah" kata Wayren menyerahkan uang 100.000 pada penjaga stand
" Tuan, tidak ada uang kecil, ini hanya 5.000, " kata Penjaga stand
Wayren tidak punya uang kecil di dompetnya, semua hanya pecahan 100.000
" Ini, ini saja, aku juga mau main," kata Risa menyerahkan uang pecahan 20.000
" Baiklah, ini Tuan dan Nona, kesempatan masing-masing 2 kali yah, " kata Penjaga stand memberikan 6 bola pada Wayren dan Risa.
" Baiklah, " kata Risa, dia langsung melempar ke arah target dan meleset jauh. Wayren yang melihat itu
tertawa.
" Kau melempar seperti anak kecil," kata Wayren tertawa mengejek
" Apa? Coba kau lempar, aku ingin melihat bagaimana kau melemparnya, " kata Risa kesal di ejek seperti itu
" Liat ini yah," kata Wayren
Dia lalu melempar bolanya dengan keras, mengenai 1 target. Wayren terlihat puas, entah kenapa rasanya lumayan plong, beberapa hari ini dia terus menahan emosi, setelah melempar bola tadi, emosinya sedikit tersalurkan. Dia langsung melempar bola yang lain, melemparnya dengan emosi, membuat lemparannya jadi sangat kuat, kalau saja yang di lemparnya adalah orang, pasti orang itu sudah lebam terkena lemparan Wayren.
Risa hanya melihat Wayren, dia sedikit tersenyum, ini memang tujuannya, dia ingin Wayren melampiaskan emosinya, dengan begini emosi Wayren terlampiaskan dengan cara positif, dia takut Wayren jika tidak erlampiaskan, Wayren akan melampiaskan dengan cara yang tidak -tidak.
Setelah 6 bolanya habis, Wayren telah menjatuhkan hampir semua targetnya, hanya tinggal 1, wajahnya kesal, dan napasnya terengah-engah, seperti habis lari. Emosi di pendam memang sangat menyakitkan.
" Ini, pake punya ku," kata Risa menyodorkan 5 bola lagi pada Wayren.
Wayren menatap Risa yang tersenyum, dia segera mengambil 2 bola lagi, kembali melemparnya sekuat tenaga melemparnya. Namun karna tidak terlalu di targetkan, target itu tidak jatuh juga.
Wayren menatap Risa, rasanya plong...
" Bagaimana? Sudah baikan kan? " kata Risa tersenyum
Wayren terdiam, gadis ini... dia memperhatikan Wayren, walaupun sangat menyebalkan dan keras kepala, Risa peduli padanya...bahkan disaat semua orang bahkan dirinya sendiri tidak ada yang mengerti apa yang dibutuhkannya Wayren, Risa tahu bagaimana caranya agar Wayren kembali ceria.
" Lemparlah bagian mu," kata Wayren sambil kembali merapikan baju dan rambutnya yang terjatuh di dahinya
karna terlalu ber api-api saat melemparkan tadi.
" Baik," kata Risa, Risa kembali melempar bola sisanya, dan sama sekali tidakk ada yang kena
" Yah… " kata Risa kecewa
" Tidak apa-apa, mau coba lagi? " kata Wayren menenangkan Risa
" Enggak ah, gak seru, aku kan enggak bisa melempar," kata Risa berjalan pergi
" Tuan, Nona, jangan pergi dulu, ini hadiah kalian, " kata Penjaga stand itu memberikan sebuah tanaman kaktus mini dengan pot, Risa yang melihat itu langsung sumringah, Wayren hanya mengerutkan dahi.
" Untuk ku ya, ini sangat lucu," kata Risa berkata pada Wayren dengan tingkahnya seperti anak kecil
" Iya, untukmu saja, aku juga kurang suka tanaman," kata Wayren aneh melihat tingkah Risa yang cengengesan.
Setelah itu Risa membawa Wayren bermain hampir semua mainan disana, lempar gelang, menangkap ikan, capitan boneka, semuanya, dan di semua permainan, Wayren tersenyum dan tertawa. Risa senang... akhirnya dia tertawa juga, pikirnya.
__ADS_1