
Siang itu Andra sedang di kantornya, dia berencana untuk kembali ke rumah sakit nanti sore. Ayatha juga sudah pulang kerumah tadi pagi, tidak lama handphone Andra berdering. Nyonya Renata meneleponnya.
" Selamat siang ibu, ada apa?" kata Andra lembut
“ Selamat siang, apa kah Ibu menganggu mu?” kata Nyonya Renata dari seberang
" Tidak ibu, ini hampir jam makan siangku, " kata Andra melihat jam tangannya
“ Oh, baguslah, Ibu ingin bertanya kapan kau pulang?, di sini sangat sepi,” kata Andra, dia ngernyitkan dahi, bukannya Ayatha sudah pulang?
" Bukannya Ayatha ada di sana?" kata Andra
“ Oh, Ayatha, begini, kau ingat Tuan Maximillain Medison? Yang waktu itu baru membuka hotel di pesisir, " kata Nyonya Renata, Andra langsung kaget
" Iya kau ingat, lalu apa hubungannya dengan Ayatha?" kata Andra.
“ Tadi pagi dia datang ke sini, Ibu juga kaget, Ibu kira dia mencari Ayahmu, tapi ternyata dia malah meminta izin untuk bertemu Ayatha, sepetinya dia mengenal Ayatha, lalu…”
" Lalu?" kata Andra mulai gusar
“Dia minta izin untuk makan siang bersama Ayatha, Ibu tidak bisa menolak
ya, jadi Ayatha sekarang sedang makan siang dengan Tuan Medison,” kata Nyonya Renata.
" Ibu, aku harus mengurus sesuatu, aku akan pulang secepatnya, tunggu aku ya, " kata Andra mencoba selembut mungkin walaupun wajahnya cemas
“Baiklah, jangan terlalu dipaksakan, jangan telalu lelah ya,” kata Nyonya Renata
Andra lansung menutup teleponnya, lalu segera menelepon seseorang
" Saya butuh lokasi Tuan Maxi Medison dan Ayatha, saya tunggu 10 menit dari sekarang," kata Andra tegas
“ Baik Tuan,” jawab dari seberang.
Andra gelisah, dia tidak bisa duduk dengan tenang, dia berdiri, berjalan ke arah jendela, lalu kembali lagi, terus begitu saja. Perasaannya tidak enak, mungkin karena dia tidak menyukai Maxi dari awal.
Tak lama akhirnya handphonenya berdering, dia dengan cepat menjawab teleponnya.
" Di mana?" kata Andra tidak sabaran.
“ Cafe Morning Glory, tempat duduk di no 4, bagian jendela, ” jawab telepon itu
" Batalkan seluruh jadwal ku, siapkan mobil, dan reservasi meja yang berdekatan dengan mereka, tapi pastikan mereka tidak melihat ku," kata Andra tegas
“ Baik Tuan,” kata panggilan itu
Andra menutup sambungan teleponnya, lalu segera mengambil jasnya dan berjalan tergesa-gesa keluar dari kantornya.
Sesampainya dia di cafe itu, Andra bisa melihat Ayatha yang duduk di depan Maxi, dia masuk dari pintu samping, sehingga Ayatha maupun Maxi tidak bisa melihat mereka.
Asisten Wang menyediakan meja tepat di sebelah tempat duduk Maxi dan Ayatha, namun terdapat sekat diantara keduanya, Andra duduk tepat di belakang Maxi.
Setelah memesan minuman, dia lalu mendengarkan percakapan Ayatha dan Maxi
__ADS_1
" Terima kasih sudah bersedia pergi dengan ku," kata Maxi lembut sambil tertawa pada Ayatha,
" Sama-masa Tuan..." kata Ayatha, belum selesai dia bicara
" Maxi, panggil saja Maxi, jangan pakai Tuan, " kata Maxi pada Ayatha
" Baiklah, Maxi " kata Ayatha tersenyum
Maxi, pria yang tampan, dia tidak kalah menariknya dengan Andra maupun Wayren, usianya mungkin sudah 25 tahunan, membuat wajahnya tampak dewasa.
" Aku ke sini ingin menanyakan pada mu, bagaimana kau bisa bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Tadder?" kata Maxi penasaran, Ayatha sebenarnya tidak menyangka bahwa Maxi ingin mengetahui itu, mereka bahkan belum pernah berbicara telalu banyak. Begitu juga Andra, dia penasaran kenapa Maxi ingin tahu.
" Sebenarnya itu semua kebetulan, saya sedang mencari pekerjaan saat itu, tidak sengaja saya membatu Nyonya Renata saat tasnya di rampok, sebagai gantinya Nyonya Renata menjadikan saya pelayan pribadi, " kata Ayatha tersenyum, wajah Maxi tampak bingung
" Kenapa kau butuh pekerjaan?" kata Maxi
" Saya harus mendapatkan kembali rumah saya di desa, jadi saya harus mencari pekerjaan, agar bisa membeli rumah itu kembali, " kata Ayatha jujur saja.
Maxi tampak kaget, membuat Ayatha bertanya-tanya ada apa dengan Maxi.
" Bagaimana kau menjual rumahmu?" kata Maxi lagi
" Aku tidak menjualnya, Bibiku yang menyuruhku keluar dan dia menjualnya, " kata Ayatha menjelaskan lagi.
Wajah Maxi tampak kesal, Ayatha bingung melihatnya.
" Bagaimana bisa? Rumah itu milikmu, setiap bulan aku selalu membayar keperluanmu pada mereka, dan mereka mengusirmu?" kata Maxi marah
Melihat wajah Ayatha yang kebingungan, Maxi langsung mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.
" Halo, aku menelpon untuk menanyakan kabar Ayatha?" kata Maxi pada orang itu, Ayatha mengernyitkan dahi, Ayatha? Dia di depannya sekarang, dan siapa yang di telepon oleh Maxi?. Maxi hanya mendengarkan dan menatap Ayatha.
" Bagaimana bisa kau bilang dia baik-baik saja di desa, kalau dia sekarang ada di depanku," kata Maxi kesal pada orang yang dia telepon, Maxi menyerahkan handphonenya pada Ayatha yang masih tidak tahu ada apa ini sebenarnya.
" Ini, bicaralah pada Pamanmu, " kata Maxi menyodorkannya, Ayatha kaget... Paman?
" Halo?" kata Ayatha ragu-ragu
“ Ayatha, itu kau? Ayatha… bagaimana kau bisa bertemu dengan Tuan Maxi?” kata Paman Ayatha, suaranya seperti bergetar
" Aku tidak sengaja bertemu dengannya, sebenarnya ini ada apa paman? " kata Ayatha bingung, kenapa Maxi kenal dengan pamannya, ada apa ini sebenarnya?
“ Hah... maafkan paman Ayatha, Paman bersalah, sebenarnya dari sejak orang tuamu meninggal, Tuan Maxi lah yang membiayai segala keperluanmu, rumah itu juga punya mu, semenjak ibu meninggal, Tuan Maxi menyerahkan segalanya pada Paman, tapi... ” kata pamannya seperti menangis, mendengar itu, Ayatha seperti tersambar petir, dia sangat kaget.
Bagaimana bisa? Selama ini dia pikir uang sekolah dan kebutuhannya dipenuhi oleh pamannya, bagaimana bisa Maxi? Dia memandangi Maxi saja, dengan tantapan kaget namun sedih... air matanya menetes, dia tidak sanggup lagi mendengar, lalu menyerahkan handphonenya.
Maxi yang melihat Ayatha syok, wajahnya berubah simpati.
" Ayatha, ingatkah kau aku ini siapa? " kata Maxi lembut
Ayatha yang masih syok hanya mengelengkan kepalanya. Maxi tersenyum lembut, dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Menyerahkan foto itu pada Ayatha.
__ADS_1
" Bukan kah itu dirimu?" kata Maxi lembut
Iya, di dalam foto itu ada dirinya, dirinya dengan seorang anak laki-laki yang lebih tua sedikit darinya, anak laki-laki itu mengenggam tangannya, di belakang mereka ada ayahnya dan seorang kakek, Ayatha ingat...dulu dia sering diajak pergi kerumah kakek itu, dan memang kakek itu punya cucu anak laki-laki itu.
" Iya, anak laki-kali itu aku" kata Maxi
Ayatha tambah kaget, anak laki-laki itu sekarang duduk di depannya dengan senyum lembut
" Hah...benarkah? anda sangat berbeda, " kata Ayatha tersenyum tidak percaya
" Kau juga, sudah lama tidak bertemu, kau tumbuh jadi wanita yang cantik, " kata Maxi menatap lembut Ayatha, membuat Ayatha jadi tersipu.
Andra yang mendengar itu menjadi kesal, dasar, tukang rayu, pikirnya sambil meminum minumannya.
" Terima kasih" kata Ayatha seadanya
" Bisakah kau lihat tulisan di belakannya" kata Maxi
Ayatha langsung melihat tulisan di belakang foto itu, matanya terbelalak melihat apa yang tertulis di belakang fotonya itu...
'*10 september
Harold madison, Maxi, Ayatha, Ronald
Kami telah setuju menjodohkan Maxi, cucu ku dan Ayatha, anak dari Ronald hari ini.
Kami harap mereka akan terus bersama.
Harold Medison*'
" Ini? Apa ini benar? " kata Ayatha kaget, suaranya bahkan lebih tinggi dari pada biasanya. Maxi hanya tersenyum, sedangkan Andra yang mendengar suara Ayatha menjadi gusar, dia ingin tahu apa yang tertulis di belakangnya.
" Benar, aku tunanganmu, " kata Maxi tersenyum manis, Ayatha sama sekali tidak percaya, orang tuanya meninggal secara mendadak, dan dia tidak pernah di beritahu kalau dia sudah di jodohkan dengan Maxi.
Bagaimana ini mungkin, pikir Ayatha tak habis pikir.
Sedangkan Andra yang mendegar perkataan Maxi, sangat kaget, entah kenapa sekarang dia bukan lagi kesal, namun marah pada Maxi, apa-apaan dia? datang dan menjadikan Ayatha tunangannya dengan seenaknya?, pikir Andra, tanpa sadar dia memeras gelasnya dengan sangat kuat.
" Bagaimana mungkin, tapi... " kata Ayatha bingung dan masih tidak percaya, kenapa dia tiba-tiba bisa punya tunangan, dan tungannya adalah Maxi
" Ayahmu dulu bekerja di rumah kakekku, aku sering datang ke sana, di sana kita bertemu, kau ingat? Aku selalu bersamamu karena kakekku menyukai ayahmu dan dirimu, dia menjodohkanku dengan mu, tapi karena umurmu masih sangat muda saat itu, mereka menunggu hingga kau dewasa," kata Maxi
" Dan anda setuju untuk bertunangan dengan ku?"
" Tentu, kalau tidak untuk apa aku memberikan seluruh keperluanmu dari saat orang tuamu meninggal, bukannya dulu juga setuju menikah dengan ku? " kata Maxi
" Hah, aku setuju menikah dengan anda? " kata Ayatha kaget, Maxi sangat suka dengan wajah kaget Ayatha, sangat polos dan manis.
" tentu, kau bahkan yang meminta ku untuk menikah dengan mu, " kata Maxi tertawa.
Ayatha jadi malu, wajahnya jadi memarah. Bagaimana mungkin, kenapa dia tidak ingat sama sekali?.
" Kau sangat cantik jika tersipu malu seperti itu, pipi mu memerah, tidak salah aku menunggumu, " kata Maxi membuat Ayatha tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sedangkan Andra, dia tidak tahan lagi, ruangan cafe itu terasa panas baginya, dia bangkit dan langsung keluar dari cafe tersebut, pergi meninggalan Ayatha dan Maxi.
__ADS_1