Meadow

Meadow
Sedingin angin dalam badai salju


__ADS_3

Randi pergi bersama teman-temannya setelah melakukan lamaran pada Ayatha, Randi sangat


bahagia malan itu, teman-temannya mengucapkan selamat padanya. Suasana riuh,


mereka berpesta hingga jam 3 pagi.


Saat Randi ingin pulang, dia melihat seseorang yang sudah sangat mabuk di tempat duduk


bagian pojok, dia melihatnya sekilas, awalnya tidak ingin peduli, tapi setelah


melihat wajahnya, ada perasaan familiar, dia mirip dengan siapa ya? Pikir Randi


dalam hati


" Hey, Bung? Kau tidak apa-apa? "kata Randi menyapa Andra yang sudah terlalu mabuk, dia


sangat mabuk,..ingin melupakan semua yang dia rasa dan dia liat tadi, kalau


bisa melupakan semuanya selamanya.


" Randi, itu temanmu? Jika iya, bawa dia pulang, kami ingin tutup, "kata Pemilik


PUB itu


Randi bingung, dia tidak kenal dengan pria ini, tapi pria ini terlihat familiar dan


kelihatan sedih. Jadi hatinya sedikit tesentuh melihatnya.


" Baiklah, terima kasih atas pestanya," kata Randi


" Ok, " kata teman-teman Randi


Randi membopong Andra yang sangat mabuk kedalam mobilnya, menempatkannya di tempat


duduk belakang, lalu mengendarai mobilnya menuju ke villa Ayatha.


Ayatha sebenarnya belum tidur, dia tidak bisa tidur malam itu, entah kenapa dia merasa


sedih sekali, padahal malam itu dia baru saja dilamar dengan sangat romantis


oleh Randi...dia sedih, sedih sekali memikirkan apa yang di rasakan Andra saat


melihat semua itu...dari sekian lama, hingga saat ini, dia ternyata masih


peduli.


Suara bell membuat Ayatha menghapus air matanya, dia menyuci wajahnya sedikit, lalu melangkah


keluar, lalu membuka pintu, jantung Ayatha hampir copot, melihat Randi membawa Andra.


" Kenapa kau membawanya ke sini? " kata Ayatha kaget


" Kau kenal dia? "kata Randi terkejut


" Ehm.." kata Ayatha tidak menjawab.


" Nanti saja menjelaskannya, tolong aku membawanya ke kamar, " kata Randi lagi


" Kenapa harus di sini? " kata Ayatha sedikit menolak


" Iya, karena di sini ada 4 kamar, kalo di tempatku tidak ada, "kata Randi lagi,


lalu dia berjalan masuk kedalam villa Ayatha, meletakkan Andra di salah satu


kamar di villa Ayatha.


" Hah, akhirnya, " kata Randi yang sedikit kesusahan dengan Andra tadi


Ayatha hanya diam memperhatikan Andra yang wajahnya merah karena mabuk, hatinya sakit


melihat Andra yang seperti itu, dia tidak pernah melihat Andra mabuk seperti

__ADS_1


itu.


 " kau mengenalnya? " kata Randi menatap Ayatha..


" E... dia.. Tadder "kata Ayatha bingung menjelaskannya, dia tidak mungkin mengatakan


dia adalah ayah kandung Andra.


" Owh, Wayren? Yah..pantas saja aku merasa dia familiar, ternyata mungkin karena dia


mirip dengan Andra, untung saja aku memambawanya ke sini, kalau tidak dia sudah


di letakkan di jalanan, " kata Randi


" E... Iya, dia Wayren, " kata Ayatha mengigit bibirnya


" Yah, aku juga menginap di sini ya, aku sudah mengantuk, " kata Randi


" Baiklah,tidurlah di kamar atas, " kata Ayatha


" Ok," kata Randi memandang Ayatha dengan lembut.


Randi pergi keluar, Ayatha masih mengamati Andra, dia masih memakai jas, pasti tidak nyaman


tidur dengan jas itu, Ayatha ragu, namun mendekat kearah Andra, duduk di


samping ranjang Andra. Wajah Andra sangat merah, namun tidak sedikitpun


mengurangi ke tampanannya, dia masih sama seperti yang ayath ingat, rambutnya,


wajahnya, hidungnya yang mancung dan tajam, bibirnya yang merah. Sangat


menawan, tiba-tiba jantung Ayatha rasanya berdegup sangat kencang,  rasa cintanya pun tidak berubah dengan pria


ini...


Ayatha membuka jas Andra perlahan-lahan, menyisakan kemeja putihnya, Andra tampak


" Ayatha, " kata-kata itu keluar dari bibir Andra yang merah


Hati Ayatha sakit, pria ini menunggunya, 5 tahun bukan waktu yang cepat, apa yang terjadi


padanya waktu mengetahui Ayatha sudah meninggal, sama kah seperti dia? Kalau


begitu dia juga sangat menderita.


Ayatha berdiri, mengambil beberapa air dan handuk kecil bersih yang ada di lemari


penyimpanan, lalu kembali ke kamar Andra, Randi seperti nya sudah tidur di


kamar atas.


Ayatha meletakan handuk dan air itu di meja samping tempat tidur Andra, dia mengambil


handuk yang sudah di basahi, lalu mulai mengelapkannya pada wajah Andra yang


berkeringat.


Karena airnya dingin, Andra sedikit terbangun, melihat kabur pada Ayatha, dia memegang


tangan Ayatha. meletakkannya ke dada tepat di jantungnya.


" Sakit," kata Andra, pandangannya nanar melihat Ayatha.


Ayatha mengigit bibirnya, tapi matanya berkaca-kaca, Andra terus melihat Ayatha. menatapnya


sangat dalam, dengan cepat tanpa ada aba-aba memegang pipi Ayatha, lalu


mencium bibir Ayatha, Ayatha kaget..hanya terdiam,  5 tahun ini tidak ada yang


menciumnya, bahkan Randi pun tak di izinkannya.

__ADS_1


Namun Ayatha tidak bisa menolak saat bibir lembut Andra menyentuh bibirnya. Karena dia juga


menginginkannya, jauh di hatinya..dia sangat merindukan pria ini.


Andra mencium Ayatha dengan sangat lembut, seolah ingin menikmati setiap detik itu.


Napas Andra menerpa pipi halus Ayatha. tanpa sadar air mata mengalir di pipinya


yang halus.


Andra yang sadar Ayatha menangis, melepaskan ciumannya, dia sudah cukup sadar dengan


keadaan, walaupun kepalanya masih sangat berat. Perutnya pun mual, namun dia


tak peduli... dia memandang Ayatha, Ayatha masih menangis tersedu... Andra


memeluknya... memeluk erat seakan ingin meremas Ayatha.


Ayatha pun hanya diam saja, kehangatan tubuh itu, kehangatan yang selalu di rindukannya.


wangi tubuh Andra sangat menghipnotis, dia sangat merindukannya, beBahu dan


lengan itulah yang selalu di impikannya untuk menjadi tempat pulang...namun


sekarang saat dia ada di pelukan itu lagi, rasanya malah terasa sesak..karena


dia tahu, dia dan Andra bagaimana pun tidak akan pernah bersatu.


Andra yang merasa tidak di balas, melepaskan pelukannya. Ayatha masih menangis menahan


pilu.


" Ada apa? " kata Andra


Ayatha mengigit bibirnya, menangis sambil tertunduk


" Kau masih mencintaiku kan? Aku bisa merasakannya, " kata Andra


Ayatha masih manangis, dia ingin menjawab, iya...sangat, namun dia tidak bisa melakukannya,


tak ingin memberikan sedikitpun harapan pada Andra, dia hanya menahan tangisnya


yang semakin menjadi, takut membangunkan Raphael, apa lagi disini ada Randi.


Andra melihat tangis pilu Ayatha merasa kasihan, sebegitu sedihkah dia bersama Andra?


Sebegitu sakitnya kah? Hingga menangis begitu pilu. Ternyata dari semua hal,


tangisan pilu ayathalah yang paling menyesakkannya, membuat hatinya tambah


terluka, haruskah sekarang dia melepaskannya? Hidupnya sungguh bahagia saat Andra


jauh, namun sekarang melihat tangis pilu itu Andra merasa sangat bersalah...


sepertinya memang harus berpisah...


" Tidur lah, sudah malam, Raphael nanti terbangun, " kata Andra datar, serasa


dingin untuk Ayatha, perkataannya seakan bagaikan hembusan angin di saat badai


salju, dia memposisikan dirinya untuk tidur.


Ayatha terdiam sebentar, menatap Andra yang membelakanginya. Ayatha berdiri, lalu


keluar dari kamar Andra, tak sedetikpun Andra membalikkan badannya hingga pintu


tertutup, Andra terus menutup matanya...memejamkannya, namun air matanya


mengalir.


Ayatha pun tak tidur, hanya menangis dalam diam... terkadang memang apa yang di inginkan,

__ADS_1


belum tentu bisa kita dapatkan.


__ADS_2