
Pagi harinya, Ayatha bangun pagi sekali, sebenarnya dia tidak bisa tidur tadi malam,
dia terbangun di tengah malam..namun tidak bisa lagi menutup matanya, hanya
bisa termenung dan menangis. pagi ini, Ayatha berusaha untuk tetap melakukan
aktifitasnya, bersiap-siap sebelum kakaknya menjemput, walau sebenarnya seluruh
tubuhnya terasa remuk.
" Wah, kau bangun pagi sekali, " kata Maxi melihat Ayatha yang tampak lebih
segar, dia segaja sedikit berdandan, memakai perona wajah hanya untuk menutupi
betapa pucatnya dia, saat di depan kaca itu dia sudah berjanji, tak akan
berlarut-larut karna banyak orang yang mendukungnya, walaupun sebenarnya hal
itu lebih susah dari pada yang dia perkirakan
" Iya Kak, " kata Ayatha seadanya
" Baguslah kalau begitu, ayo ikut dengan ku, " kata Maxi, membukakan pintu untuk Ayatha,
setelah Ayatha dan Maxi masuk, mereka segera menuju ke perusahaan utama milik Maxi.
" Ini perusahan utama milik kita, kita punya 2 rumah sakit, 10 hotel yang tersebar di
dalam negeri maupun di luar negeri, 9 pusat pemberlanjaan dan apartmen taraf
internasional, dan beberapa cafe dan restauran, itu semua milik keluarga Medison
di bawah nama Crown Empire" kata Maxi menjelaskan
" Wah, benarkah begitu banyak? " kata Ayatha tidak percaya dengan apa yang di
jelaskan Maxi
" Itu masih dalam pengembangan, oh, iya ini, " kata Maxi menyerakan kotak
perhiasan
" Apa ini? " kata Ayatha bingung, membuka kotak itu, ada sebuah gelang emas
putih dengan mainan berbentuk mahkota, simple tapi tampak elegan.
" Sini aku pakaikan, " kata Maxi, memakaikan gelang itu di tangan Ayatha yang
kecil.
" Ini tanda keluarga kita untuk wanita, semua keluarga Medison memiliki gelang ini,
mulai sekarang kau resmi menyandang nama Medison, jangan pernah lepaskan gelang
ini apapun yang terjadi, dengan gelang ini, kau bebas masuk ke semua aset milik
kita " kata Maxi
" Hanya dengan gelang ini, " kata Ayatha takjub
" Iya, semua keluarga memilki tandanya masing-masing, " kata Maxi memperlihatkan
gelangnya yang di pakainya, lebih kelihatan macho dari pada punya Ayatha.
" Benarkah? Aku baru tahu, " kata Ayatha
" Iya, kau lihat, keluarga Tadder juga memiliki tandannya sendiri, mereka memakai
cincin tanda keluarganya, " kata Maxi
" Oh, " mendengar nama keluarga Tadder, hati Ayatha kembali sakit.
__ADS_1
" Sudah lah, ayo, sebentar lagi kita sampai, " kata Maxi, mereka segera masuk dari
pintu khusus, para pengawal membuka kan pintu untuk Maxi dan Ayatha, beberapa Asisten
Maxi lansung mendekatinya.
" Selamat pagi Tuan Maxi, selamat pagi Nona Ayatha, " kata Asisten Edward pada Maxi
dan Ayatha
" Jam berapa rapat seluruh pemegang saham? " kata Maxi
" Jam 9, " kata Asisten Ed
" Baiklah, aku ingin mengenalkan Ayatha pada mereka " kata Maxi langsung masuk, dia
menunggu Ayatha yang ada di belakangnya
" Baik tuan" kata Asisten Ed
Maxi tersenyum pada Ayatha yang kelihatan gugup.
" Perkenalkan, mulai sekarang Nona Ayatha akan sering datang ke sini, dia adalah
adikku, jadi mulai sekarang apapun yang dibutuhkan oleh nona Ayatha, kalian
harus membantunya, " kata Maxi keras, memastikan semua pegawainya yang ada
di sana bisa mendengarnya.
" Baik Tuan, " kata para pegawai serempak, Ayatha tampak sungkan di perlakukan
seperti itu.
" Ayo, kita ke ruanganku, " kata Maxi mengajak Ayatha, ketika dia ingin membuka
lift, dia melihat Hanna yang ada di dalam lift, Hanna tampak kaget melihat Maxi
dan Ayatha berdua.
Maxi mengeluarkan gestur untuk menyuruh para pegawai yang mengikutinya untuk bubar,
seperti sudah mengerti, para pegawai lalu pergi begitu saja.
" Kita bicarakan di kantor ku saja, " kata Maxi masuk kedalam lift, Ayatha pun
mengikutinya, Hanna terus memandangi Ayatha dengan sinis, Ayatha berdiri di
sebelah kanan Maxi, sedangkan Hanna di sebelah kiri Maxi.
Ayatha memengangi lengannya sendiri, membuat perhatian Hanna jatuh ke gelang yang
dipakai oleh Ayatha.
" Bagaimana bisa dia memakai gelang itu? " kata Hanna, Ayatha juga memperhatikan
gelang yang dipakai oleh Hanna, mereka punya gelang yang sama
" Hanna, tidak bisa kah kau menunggu kita sampai di kantorku? " kata Maxi menatap Hanna,
Hanna hanya menjawabnya dengan wajah masamnya
Setelah sampai di lantai atas, Maxi segera keluar, Ayatha dan Hanna pun mengikuti.
" Ayatha, bisakah aku bicara berdua dengan Hanna, tunggulah di ruang tunggu, nanti aku
akan ke sana untuk menemuimu, " kata Maxi lembut mencoba agar Ayatha tidak
tersinggung
" Iya, tidak apa-apa Kak, " kata Ayatha tersenyum, Maxi hanya membalasnya dengan
__ADS_1
senyuman.
Maxi lalu membukakan pintu kantornya, Hanna lalu masuk, Ayatha hanya menunggu di ruang
tunggu yang di sediakan, seorang pelayan menanyakan apa yang ingin di minum
oleh Ayatha, Ayatha memesan secangkir teh untuknya.
Dia melihat ruang tunggu itu, lebih dari mewah, tempat itu terasa sangat nyaman, Ayatha
sama sekali tidak percaya, dia sekarang menjadi salah satu keluarga terkaya di
negara itu, di balik semua kesialan, ternyata masih ada keberuntungannya yang
tersisa.
Pelayan itu meletakkan teh di depan Ayatha. Lalu dia menyalakan TV agar Ayatha merasa lebih
nyaman, setelah itu dia permisi untuk keluar.
Ayatha tidak terlalu sering menonton TV, tapi sesekali rasanya boleh juga melihat TV,
pikirnya.
" Kau tahu, tinggal 3 hari lagi, putra keluarga Tadder akan melaksanakan pertunangan,
" suara itu memecahkan ketenangan di hati Ayatha. Dia terdiam, TV itu
membuka kembali lukanya, hatinya yang sudah hancur kembali berdarah, namun dia
tidak bisa berpaling dari acara itu.
" Benar, kau tahu, Tuan Andra Tadder itu sangat tampan loh, lebih cocok jadi artis, aku
pernah bertemu dengannya sekali, " kata pembawa acara perempuan itu, di TV
menampilkan foto wajah Andra, ada kabut di sekitar mata Ayatha, itu sosok yang
sama sekali tidak ingin di lihat lagi oleh Ayatha, namun matanya tetap terpaku
pada TV itu.
" Aku dengar sosok wanita yang beruntung itu juga merupakan anak pengusaha dan
keturunan bangsawan dari Jerman, wah! Lihatlah betapa cantiknya, pasangan yang
serasi bukan? " kata pembawa acara yang lain, tampak foto Andra dan Nadine
sepertinya di ambil diam-diam oleh mereka, di sana Andra memegang tangan Nadine
dengan sangat mesra, di lain foto, Andra tampak memeluk Nadine dengan pose
seperti melindunginya dari kamera, Ayatha tersenyum kecut, mereka memang cocok,
Kabut di matanya makin tebal, dia tidak bisa membendungnya lagi, air matanya kemudian
jatuh, membasahi meja mahoni bundar itu, terlalu beruntung juga terlalu
menyedihkan, begitulah nasib memainkannya. Beberapa minggu lalu, pria itu ada
di dekatnya, di pelukannya, dia bahkan menyuruhnya untuk bertahan, tapi hari
ini, dia memeluk wanita lain dengan sangat mesra, melindunginya di dalam
dekapannya. Masihkah Ayatha percaya akan cinta?
Ayatha menangis dalam diam, sekarang yang ada hanya dirinya, dia tidak butuh cinta
dari siapapun, karena jika patah hati seperti ini, siapa yang akan merasakan sakitnya?
Hanya dirinya sendiri, mulai sekarang,
__ADS_1
dia harus lebih mencintai dirinya, karena jika cinta dari orang lain,kapanpun
bisa berubah.