
Andra baru saja pulang dari kantornya, dia memparkirkan mobilnya di halaman rumahnya, rumahnya sudah sepi tentu saja ini sudah hampir jam 12 malam.
Bibi Moi yang sudah tahu bahwa Andra selalu pulang malam membukakan pintu untuk Tuannya.
" Selamat datang kembali Tuan Andra," kata Bibi Moi, Andra tersenyum, tak tampak kelelahan di wajahnya yang tampan, dia masih saja terlihat menawan.
" Bibi, kau boleh istirahat, tak perlu menungguku pulang, " kata Andra penuh perhatian.
" Tidak apa-apa Tuan, aku akan menunggu anda tiap malam," kata Bibi Moi, mata Bibi Moi terlihat sembab
" Terima kasih bibi, kenapa dengan matamu, terlihat bengkak? " Kata Andra
" Ah, ini tidak apa-apa Tuan, hanya rindu rumah, " kata Bibi Moi
" Pulanglah, nanti aku akan mengatakannya pada Ibu, " kata Andra
" Tidak perlu Tuan, ehm... Aku akan memanaskan makanan untuk Tuan, " kata Bibi Moi
" Baiklah, terima kasih, " kata Andra
Andra masuk ke dalam rumahnya, dia melihat semua lampu sudah mati, kecuali di ruang tengah, Andra langsung menuju kesana.
Di sana dia melihat Jessy sedang duduk
sambil menonton TV, dia melihat Jessy telihat sedikit menahan kantuknya, Jessy
memang menginap beberapa hari di sana untuk mengerus keperluan pernikahan
mereka, karena itu juga sebenarnya kenapa Andra pulang larut malam, dia merasa
agak kesusahan berurusan dengan Jessy, dia mulai lelah harus bersikap yang bukan keinginannya.
Melihat Andra yang memasuki ruangan itu Jessy tersenyum, dia semangat, akhirnya yang dia tunggu- tunggu pulang juga.
" Baru pulang? " Kata Jessy dengan senyumnnya
" Selamat malam, " kata Andra seadanya, dia melepaskan dasinya dengan sembarangan, dia sebenarnya malas berurusan dengan Jessy malam ini.
" Selamat malam, sudah makan malam? " kata Jessy jadi canggung
" Sudah, " kata Andra sekenanya, padahal dia belum makan dari siang.
" Yah, aku belum makan karena aku kira kau belum makan, Jadi aku menunggumu, " kata Jessy
" Baiklah, aku akan menemani makan, " kata Andra datar saja
" Yee! Ayo makan, " kata Jessy,
dia merangkul tangan Andra, Andra hanya tersenyum sedikit.
Mereka menuju ke ruang makan, Bibi Moi sudah mamanaskan semua makanan yang ada, Andra dan Jessy duduk bersampingan, Jessy segera mengambil beberapa makanan dan mulai makan, Andra hanya memperhatikan.
" Lain kali jangan menunggu hingga pulang baru makan, tak baik untuk lambungmu, " kata Andra menasehati
Jessy menatap Andra, pria ini dingin jadi kata-kata begitu saja membuat hangat hati Jessy, pria di sampingnya ini sangat tampan, dia beruntung sebentar lagi akan menjadi
istrinya.
" Aku akan tetap menunggumu, jadi setiap kali kau ingin pulang malam, kau akan ingat
aku belum makan, jadi kau akan pulang secepatnya," kata Jessy tersenyum ceria
Andra menatap Jessy, sebenarnya Andra tak punya peduli sama sekali Jessy akan makan
atau tidak, dia pasti akan lebih memilih bekerja, tapi dia juga tahu bagaimana
dulu ibunya menunggu ayahnya pulang bekerja malam, ibunya tidak makan sama
sekali, namun saat ayahnya pulang, ayahnya malah tak peduli, tidak menemaninya
makan, jadi Andra lah yang mengantikan ayahnya, ibunya selalu tersenyum,
mengusap kepalanya, lalu ibunya mengatakan agar Andra jangan pernah melakukan wanita seperti itu, saat itu Andra mengatakan iya dengan tegas, dia tidak akan
memperlakukan istrinya seperti ayahnya, namun sekarang dia malah memperlakukan
calon istrinya seperti ini.
Dia tahu sekarang bangaimana perasaan ayahnya dulu, wanita yang di cintainya
meninggalkannya selamanya, dan dia harus hidup setiap hari dengan wanita yang
sama sekali tidak dia cintai dan tak ada di hatinya, lalu kita harus menuntut
__ADS_1
apa darinya? Harus jadi suami yang baik? Kalau cinta terlalu dalam dan merasa
sakit hingga ke darah daging, bisakah mencoba mencintai yang lain?
" Makanlah, jangan menungguku, " kata Andra lagi
Jessy terdiam, kenapa hati Andra begitu keras, bahkan dia tidak bisa menyanggupi
hanya untuk makan malam berdua dengannya, Jessy berhenti makan.
" Aku sudah kenyang, kau pergilah bersih-bersih dulu, sudah malam, " kata Jessy,
di pelupuk matanya terlihat air mata yang mulai mengumpul
" Baiklah, " kata Andra acuh, tak memperhatikan air mata Jessy yang mulai mengalir, Andra hanya pergi ke kamarnya.
Dia membersihkan dirinya, setelah itu dia belum bisa tidur, insomnianya kambuh
akhir-akhir ini, jadi dia putuskan untuk membaca buku di ruang membaca di kamarnya.
Malam ini langit bergemuruh keras, namun hujan tidak datang, hanya suara yang saling
bersautan, tiba-tiba pintu kamar Andra terketuk. Dia kaget, siapa malam-malam
begini?, Dia lalu membuka pintunya.
Jessy berdiri di sana dengan kimono tidurnya, wajahnya sedikit ketakutan, Andra
memandanganya dengan heran.
" Andra aku takut, " kata Jessy
" Takut apa? " Kata Andra
berusaha untuk melembutkan nada bicaranya
" Suara gunturnya menyeramkan sekali, aku tadi sudah tertidur namun karena itu jadi
terbangun, " kata Jessy lagi
" Lalu aku harus bagaimana? " Kata Andra
bingung
Andra menatap Jessy, dia sedang ingin sendiri...
" Kita belum menikah, tidak bisa tidur bersama, Tidur lah di kamarmu, " kata Andra
mencoba menolak sehalus mungkin
" Aku tidak mau, aku benar-benar takut," kata Jessy hampir menangis, melihat itu Andra jadi tak tega.
" Baiklah masuk," kata Andra, Jessy senang, dari kecil memang dia takut akan suara guntur. Andra menutup pintunya.
" Wah, masih membaca, ini sudah hampir pukul 1 loh, " kata Jessy kaget
" Iya, masih belum bisa tidur, kalau kau ingin, tidur lah duluan, " kata Andra
" Kalau nanti sudah menikah, kau tidak aku izinkan untuk tidur sampai malam begini,
tidak baik untuk kesehatan, sekarang kau harus tidur, besok pagi bukannya harus
kerja lagi? " Kata Jessy menyuruh Andra namun dengan nada sangat perhatian. Andra sebenarnya belum mengantuk, namun untuk menghargai perhatian Jessy, dia menuruti permintaan Jessy.
Andra membuka pintu menuju kamar tidurnya, Jessy masuk kedalam, ini baru pertama kalinya dia masuk kedalam kamar Andra, kamarnya sangat besar dan tertata rapi, di lemarinya Jessy melihat susunan jam tangan dan sepatu mewah milik Andra.
" Wah kamarmu besar sekali, " kata Jessy
" Yah, tidur lah di sana, aku akan tidur di sofa, " kata Andra.
" Andra... " Kata Jessy menarik tangan Andra, Andra menatapnya.
" Ada apa? " Kata Andra sabar
" Ranjangmu kan sangat besar, kita bisa tidur berdua, kalau kau tidur di sofa pasti tidak
nyaman, " kata Jessy manja
Andra menatap Jessy... Tak enak menolaknya
" Baiklah, " kata Andra
Andra berbaring di sisi kanan, sedangkan Jessy di sebelahnya, Andra mengambil jarak
__ADS_1
yang cukup lebar diantara mereka, dia lalu memejamkan matanya.
Jessy menatap langit- langit kamar Andra yang putih, lampu di kamar Andra sudah
dimatikan, hanya tinggal 1 di sudut ruangan karena Jessy tak terlalu terbiasa
tidur dengan gelap gulita, dia memperhatikan wajah Andra yang begitu tenang
saat tidur. Jarak antara mereka benar benar rengang, bahkan bisa di isi 1 orang lagi.
Jessy mendekati Andra, merasa Jessy mendekat, Andra membuka matanya.
" Ehm, aku rasa kita harus ada jarak, " kata Andra terkesan dingin
" Kita kan akan menikah, bukannya harusnya membiasakan diri, " kata Jessy yang susah
menempel dengan Andra, Andra sedikit risih lalu bangkit duduk di ranjangnya.
" Kenapa? " Kata Jessy
bingung, dia langsung terduduk mengikuti Andra.
" Aku tidak terbiasa tidur bedua, " kata Andra mencari alasan.
Jessy mengigit bibirnya....
" Apa nanti setelah kita menikah, kau akan tetap sedingin ini denganku? " Kata Jessy sedih
Andra terdiam, tidak tahu harus berkata apa, dia memang tidak bisa menyentuh Jessy,
ada perasaan bersalah tak tahu bersalah dengan siapa? Ada pula rasa canggung.
" Aku rasa lebih baik aku tidur di sofa, " kata Andra lagi, ingin bangkit namun Jessy menahan tangannnya.
" Kita akan menikah, jika sudah menikah akan menjadi pasangan selamannya, apa kau
ingin tidur di sofa selamanya? Bagaimana ingin memberikan cucu pada ibu? Kau
tahu dia inginkan cucu bukan? " Kata Jessy
Andra diam lagi, Andra hanya setuju menikah dengan Jessy agar ibunya punya menantu dan Wayren bisa menikah dengan Risa, soal cucu dia sama sekali tidak punya rencana
untuk memberikannya, tentang itu biarlah jadi urusan Wayren dan Risa. Karena jika dia penuh kesadaram, dia pasti tidak akan bisa menyentuh Jessy, apa lagi berhubungan badan dengannya.
" Itu nantilah kita bicarakan, " kata Andra lagi
" Andra, kau benar-benar tidak punya nafsu padaku? " Kata Jessy, dia membuka
kimono tidurnya, di dalamnya dia hanya memakai baju yang sangat minim dan tipis
memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan kulit putihnya yang halus, jika
pria yang lain melihatnya pasti mereka sangat bernafsu, badan Jessy benar-benar
bagus, tapi Andra hanya memandangnya kaget, hanya sekilas, mengambil lagi
kimono Jessy dan meletakkanya di tubuh Jessy.
" Aku akan tidur di ruang baca, tidur lah, sudah malam, " kata Andra dingin.
Jessy memperhatikan Andra, dia benar-benar tak punya hasrat apapun padanya, bahkan
dengan hanya mengunakan pakaian yang begitu tipis dan minim, Andra pun tak
bergeming, melihatnya pun tidak. Pria itu malah pergi meninggalkannya,setidak
menarik itu kah dia di mata Andra. Padahal dia sudah merendahkan martabatnya
demi merayu Andra.
Andra tidur sofa di ruang bacanya, dia tidak tahu kalau Jessy menangis di ruang tidurnya.
Dia gelisah, sanggupkah dia hidup seperti ini setiap hari kedepannya, ini sama-sama menyiksa Andra dan Jessy, Andra tak ingin melakukan apapun pada Jessy,
hanya ingin sekedar punya status, namun Jessy menuntut lebih padanya. Rasanya akan
seperti apa pernikahan mereka nanti?... sepertinya kehidupan Andra akan sama
dengan keadaan ayahnya... tapi Andra pikir, ayahnya lebih beruntung, setidaknya
ibunya juga tidak punya rasa dengan ayahnya dan terbiasa dengan sifatnya yang
dingin, bagaimana dengan Jessy, bisakah dia terbiasa dengan sikapnya nanti.
__ADS_1