Meadow

Meadow
Mau kemana, calon suami?


__ADS_3

Andra masih sibuk dengan beberapa kerjaannya, sudah 3 hari dia meninggalkan tugasnya, maka dari itu dia tidak bisa lagi meninggalkan tugasnya.


 


 


" Selamat siang Tuan Andra, anda ingin keluar untuk makan siang atau makan siang di sediakan di sini?"tanya Asisten Wang


 


 


" Di sini saja. " kata Andra lagi sambil mengerjakan beberapa tugasnya.


 


 


" Baik Tuan, saya akan menyiapkannya. " kata Asisten Wang memberi hormat lalu pergi.


 


 


Andra menatap jam di mejanya, kira-kira Ayatha sedang apa sekarang? Apakah dia sudah siuaman? pikirnya.


 


 


Dia mengambil handphonenya, menelepon Wayren.


"Halo?"  kata Wayren


 


 


"Iya, Ayatha sudah siuman?" kata Andra lagi


 


 


"Sudah, dia sedang membersihkan diri, sekarang aku sedang keluar membelikannya baju, kau tidak ingin ke sini? " kata Wayren lagi.


 


 


"Masih banyak pekerjaan yang tertunda, kalau sudah selesai, aku akan ke sana, " kata Andra lagi


 


 


"Ok, tapi sepertinya kau harus datang, aku sedikit mengkhawatirkannya," kata Wayren lagi.


 


 


" Kenapa?" kata Andra


 


 


"Sejak bangun dia kelihatan bingung, tidak menangis, namun terlihat linglung"


 


 


"Benarkah?"


 


 


"Ya, mungkin kedatanganmu akan menolong"


 

__ADS_1


 


"Baiklah, aku akan kesana secepatnya," kata Andra bangkit dari tempat duduknya, mematikan sambungan telepon lalu segera mengambil jas yang yang tergantung, dia segera menghubungi Asisten Wang.


 


 


Saat dia membuka pintu, Andra terdiam.


 


 


"Kau mau ke mana, calon suami?" kata Nadine berdiri tepat di depan Andra.


 


 


Andra hanya bisa mematung melihat Nadine, bahkan panggilan telepon yang di buat tidak di jawabnya. Dia segera mematikan handphoneya, Nadine tersenyum manis, lalu memeluk Andra.


 


 


......


 


 


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan Ayatha , Risa juga Wayren hanya berkumpul di kamar itu, hening...terasa sedikit canggung, Ayatha benar-banar lebih banyak diam, kadang saat Risa berbicara padanya, dia bahkan tidak menyimaknya.


 


 


Wayren mengernyitkan dahi, dia sengaja tidak memberitahukan Ayatha bahwa Andra akan datang, dan untungnnya seperti itu, karena dari tadi siang dia menunggu namun Andra tak kunjung datang juga.


 


 


" Wayren, apakah kak Andra akan datang?" bisik Risa agara Ayatha tak mendengar


 


 


 


 


" Kau kan tinggal meneleponnya saja," kata Risa lagi


 


 


" Sudah, tidak di angkat dari tadi, mungkin ada rapat yang penting, dia sudah tidak bekerja selama 3 hari," kata Wayren lagi mencoba mencari alasan yang masuk akal.


 


 


" Mungkin juga, tapi kita tidak bisa di sini menemani Ayatha." kata Risa lagi


 


 


" Tidak apa-apa, aku sudah tidak apa-apa kok, kalian bisa pulang." kata Ayatha yang tiba-tiba menimpali, membuat Risa dan Wayren terkejut, mereka pikir Ayatha tidak mendengarkan mereka.


 


 


" Tapi..." kata Wayren masih cemas dengan keadaan Ayatha


 


 

__ADS_1


" Benar kok, aku sudah tidak apa-apa." kata Ayatha tersenyum


 


 


" Kalau begitu, kami minta maaf, minggu depan kami harus ujian akhir di sekolah, kalau hari ini menemanimu disini, aku takut kami tidak lulus, " kata Risa lagi


 


 


" Iya, aku mengerti, aku juga tidak ingin kalian tidak lulus, pulanglah. " kata Ayatha lagi.


 


 


" Hubungi aku jika terjadi sesuatu, tidurlah... jangan terlalu banyak pikiran. " kata Wayren mengelus kepala Ayatha, memandangnya dengan lembut, Ayatha hanya tersenyum.


 


 


" Iya, besok aku akan menyuruh supirku mengantarkan barang-barang mu ke sini. " kata Risa


 


 


" Baiklah. " kata Ayatha


 


 


" Aku pulang dulu ya, " kata Wayren lagi


 


 


" Iya. " kata Ayatha.


 


 


Wayren dan Risa lalu berjalan kepintu keluar...Risa beberapa kali melambaikan tangannya, Ayatha jadi tersenyum melihat tingkah lakunya.


 


 


Sekarang Ayatha hanya terdiam, dia melihat kearah cincin pernikahannya, cincin pernikahan itu bersinar terang terkena pantulan cahaya.


 


 


Ironis bukan? Di hari pertama pernikahan bukannya orang akan bahagia, bisa bersama dengan suaminya, melangkah bersama untuk menata hidup, selalu bersama baik duka mau pun suka, bukankah itu janji pernikahan yang tadi di iyakan oleh Ayatha. Sekarang dia duduk sendiri, terpaku, menatap cincin pernikahannya.


 


 


Orang tuanya meninggal saat dia belum tahu apa-apa, bahkan kadang dia lupa bagaimana wajah orang tuanya, hanya samar-samar, wajah ibunya cantik, dengan lesung pipi yang dalam di tiap pipinya, ayahnya tinggi dan tegap, tampan.


 


 


Ayatha ingat, malam itu ayah dan ibunya pergi bersama, Ayatha merengek ingin ikut hingga dia menangis segugukan, namun, ayah dan ibunya tetap tak membawanya, lalu saat pagi hari...ayah dan ibunya yang selalu ada disampingnya, mereka tidak pernah lagi ada di sana..mereka tak pernah pulang.


 


 


Tidak ada kata perpisahan, tidak ada apapun, mereka hanya pergi seperti itu saja, dulu dia selalu menyalahkan kedua orang Tuanya yang meniggalkan dia sendiri di dunia ini,  sekarang, haruskah dia menyalahkan Maxi?


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2