Meadow

Meadow
Nanny!!!


__ADS_3

Ayatha hanya diam, bukan dia tidak ingin memperjuangkan cintanya, tapi... sekarang fokus Ayatha lebih ke Raphael... jika memang dia dan Andra di takdirkan berdua, maka mereka akan berdua, jika tidak.. Ayatha masih memiliki Andra yang lain.


Hanna yang melihat Ayatha hanya terdiam tidak lagi memaksa, Raphael sedikit bergoyang, perlahan membuka matanya, dia dengan lemas terduduk, melihat kearah Ayatha.


" Ibu, "kata Raphael melihat Ibunya, Hanna takjub dengan mata Raphael, begitu mirip dengan ayahnya..sekali lihat saja akan tahu ini anak Andra.


" Rapha, panggil Tante" kata Ayatha memperkenalkan Hanna, Raphael yang baru bangun memandang Hanna, dia memiringkan sedikit kepalanya, membuat tingkahnya makin lucu.


" Tante, " kata Raphael dengan sangat patuh. Hanna tertawa melihat tingkah Raphael yang lucu sekali, dia mencubit pipi Raphael, Raphael terlihat pasrah saja.


" Raphael pusing? Capek?, "kata Ayatha memandang anaknya lembut.


Raphael mengelengkan kepalanya.


" Ingin makan?, "kata Ayatha.


" Iya" kata Raphael lagi.


Ayatha tersenyum...


" Mari kita pergi makan dengan Paman Maxi " kata Ayatha.


" Paman ada disini?, "kata Raphael senang.


" Iya, ada di bawah, Raphael ingin menemuinya?, "kata Ayatha.


" Iya, " kata Raphael semangat.


Hanna hanya memandang adegan ibu dan anak itu, dia belajar bagaimana Ayatha bisa mendidik Raphael menjadi anak yang begitu penurut dan manis, dia sangat kagum pada Ayatha, walaupun dia mengasuh Raphael sendiri, dia tetap melakukannya dengan baik.


Ayatha dan Raphael turun ke bawah, Hanna tidak ikut, dia bilang dia ingin beristirahat, meminjam kamar Ayatha sebentar, karena pinggangnya terlalu sakit.


Saat selesai menuruni tangga, Raphael langsung berlari kearah Maxi, Maxi yang melihatnya langsung menangkap Raphael, mengendongnya dengan senang.


" Kak, mari makan... Raphael sudah lapar, " kata Ayatha.


" Baiklah, Ayo...kita makan apapun yang Andra mau, "kata Maxi.


" Sepertinya Kakak harus biasa memanggilnya Raphael kalau disini," kata Ayatha lagi.


" Owh, baiklah, Raphael ingin makan apa?, "kata Maxi.


" Makan ayam," kata Raphael polos.


" Hahaha baik lah, mari beli ayam yang banyak, "kata Maxi.


Maxi mengendong Raphael keluar, menaruhnya dalam pengkuannya di belakang, Ayatha duduk di sampingnya, mereka segera pergi.

__ADS_1


Ayatha dan Maxi makan di salah satu pusat perbelanjaan, sebenarnya Maxi kurang suka makan di tempat yang begitu ramai, namun karena Ayatha memaksa agar makan di tempat seperti itu, Maxi hanya mengikutinya, Ayatha ingin setelah makan dia bisa langsung berbelanja kebutuhan Raphael.


" Raphael suka makanan ini?, "kata Maxi melihat Raphael yang sangat lahap memakan makanannya.


" Suka" kata Raphael dengan gayanya yang imut


" Kalau suka makanlah yang banyak, Paman akan membelikan apapun yang Raphael mau, " kata Maxi.


" Jangan seperti itu, nanti dia akan manja, tidak bisa mandiri, " kata Ayatha memperhatikan Kakaknya.


" Sesekali biarkan dia memilih apa yang dia mau, jangan terlalu keras juga, " kata Maxi memandang Ayatha, dia sangat sayang pada Raphael, punya keponakan begitu imut, siapa yang tidak sayang?


" Ya aku tidak keras, tapi tidak ingin menjadikan dia anak yang manja, " kata Ayatha.


" Raphael habis ini mau makan ice cream?," Tanya Maxi lagi dengan lembut


" Tidak…disini dingin, tidak ingin makan ice cream" kata Raphael menatap Maxi.


" Wah, anak pintar, baiklah, habis ini kita akan cari mainan, ok, " kata Maxi yang seperti anak-anak.


" Ok, Paman, " kata Raphael lagi.


Maxi tertawa senang, Ayatha juga,…


" Jadi, apa rencanamu selanjutnya?, "kata m


" Tidak ada, aku hanya ingin membawa Raphael pulang, dia harus tahu di mana keluarganya sebenarnya, sudah 5 tahun, ingin melihat desa, pergi melihat kedua orang tuaku, dan sahabat, mereka pasti sudah marah sekali padaku, " kata Ayatha tersenyum.


" Bagaimana dengan Andra?, "kata Maxi lagi.


Ayatha terdiam…dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya dengan Andra.


" Aku tidak tahu, tidak memaksa untuk bertemu dia, biarkan nasib yang menentukan, " kata Ayatha.


Maxi hanya memandangi Adiknya, menghembuskan napas panjang, lalu kembali makan.


" Kapan Kak Christine dan Liam akan datang kesini?" kata Ayatha.


" Mungkin minggu depan mereka sudah ada di sini, aku sedang mengatur waktu menjemput mereka," kata Maxi.


" Baguslah, jadi keluarga kita semua berkumpul, " kata Ayatha seadanya.


Setelah makan, Maxi mengandeng Raphael menyusuri mall itu, mereka menuju tempat mainan, sedangkan Ayatha sibuk dengan beberapa keperluan Raphael.


" Aku ingin bola ini "kata Raphael.


" Tentu, ada lagi yang Rapha inginkan?, "kata Maxi

__ADS_1


" No, tidak, "kata Raphael


" Hanya ini? Paman bisa membeli yang lain" kata Maxi.


" Tidak, Ibbu bilang beli mainan cukup 1 saja, " kata Raphael dengan gayanya yang imut.


Maxi tertawa lepas melihat kelakuan Raphael


" Baiklah, kalau ingin yang ini, ayo ketempat ibumu," kata Maxi.


Mereka kembali ke arah Ayatha...


" Anakmu sangat patuh padamu, aku jadi ingin tahu bagaimana dia begitu patuh, aku ingin Liam juga bisa begitu, ajari aku, " kata N


Maxi menatap Ayatha dengan lembut.


" Semua anak itu istimewa, mereka memiliki kelebihan masing-masing, dari kecil memang Raphael anak yang sedikit pendiam dan penurut, itu bukan karena aku, malah dia yang mengajariku bagaimana mengurusnya, Liam anak yang penuh energi seperti ibunya, biarkan dia melampiaskan energinya," kata Ayatha tersenyum


" Wah… kau sekarang terdengar lebih dewasa dari aku, "kata Maxi tersenyum.


" Hahaha, tidak juga," kata Ayatha melihat beberapa jaket musim dingin.


Raphael kemudian berlari, karena tidak terlalu memegangi Raphael dengan erat, dia lepas dari genggaman Maxi.


" Rapha? Mau kemana?"kata Ayatha melihat anaknya sudah pergi menjauh, dia lalu mengikuti Raphael, Raphael baru pertama kali datang kesini, tidak mungkin tiba-tiba dia pergi begitu saja, lagi pula Ayatha khawatir Raphael akan tersesat.


Nyonya Renata sedang menemani Nanny untuk membeli beberapa keperluan yang akan di bawanya pulang, Nanny banyak sekali bercerita tentang apapun, mengomentari makanan dan barang dagangan yang ada disana, dengan sabar Nyonya Renata mendengarkannya. Dia memang menantu idaman.


" Aku ingin melihat jam ini sebentar, " kata Nanny melihat kearah toko jam, dia tidak masuk, hanya melihat dari luar.


" Isbu, kalau ingin mari ke dalam," kata Nyonya Renata lembut.


" Ah, tidak…hanya ingin melihat sedikit, aku tidak ingin, aku sudah tua, tidak ingin hal seperti ini lagi, kalau kau ingin, beli lah untukmu… semenjak Ray di penjara, aku selalu lihat kau tertekan, " kata Nanny melihat menantunya, Nyonya Renata hanya tersenyum.


" Sebeneranya aku tidak lagi memikirkan tentang dia, aku lebih khawatir tentang Andra, aku tidak menyangka hidup akan seperti ini, Wayren yang aku khawatirkan dari dulu, sekarang hidupnya sudah tenang, punya seorang istri, bisa bekerja dengan baik, "kata Nyonya Renata mengandeng tangan mertuanya.


" Yah… Andra memang sedikit kasihan, aku tidak menyangka hidupnya seperti itu," kata Nanny sedikit sedih.


" Benar…padahal aku membayangan saat umurku segini, aku sudah bisa mengendong cucu, "kata Nyonya Renata tersenyum kecut.


Nanny terhenti, dia tiba-tiba saja terhenti, membuat Nyonya Renata sedikit kaget, Nanny seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tidak jadi.


" Ada apa ibu? " kata Nyonya Renata penasaran.


" Owh, itu..tidak..ibu hanya teringat sesuatu, tidak penting, " kata Nanny mencari alasan membuat nyonya Renata makin penasaran, namun tidak menanyakan lagi.


" Nanny!!!, " teriak Raphael, berhenti di dekat Nanny dan Nyonya Renata. Raphael memiringkan kepalanya sedikit, membuat dia bertambah imut.

__ADS_1


__ADS_2