
Wayren berlari di lorong rumah sakit, di belakangnya Nyonya Renata juga mengikutinya, dengan wajah sangat cemas keduanya menuju UGD rumah sakit, mereka langsung ke sana ketika mendapat kabar Andra dan Ayatha kecelakaan.
" Kalian keluarga Tuan Andra? " kata Dokter menegur Wayren, Wayren masih telihat
linglung dengan kedaan ini
" yah..yah.. saya adiknya, " kata Wayren linglung
" Keadaan Tuan Andra kritis, masih belum sadar, dia sudah dipindahkan ke ICU, " kata dokter itu menjelaskan, Wayren
tercengang, kaget, tapi masih cemas dan bingung jadi satu, suara Nyonya Renata
menangis terdengar.
" Bagaimana dengan Ayatha? "kata Wayren
bertanya
" Keluarga Nona Ayatha langsung membawanya ke rumah sakit milik keluarga mereka, tapi kondisi Nona juga
tidak baik, " kata Dokter itu saja, lalu dia kembali kedalam.
Tiba tiba dia merasa cemas yang dalam, namun tidak bisa bertindak apapun.
Wayren menjaga Andra 3 malaman, bergantian dengan ibunya, mereka terus menjaganya di rumah sakit. Wayren menyuruh Risa menjaga Ayatha di sana, memberikan kabar bagi mereka.
Itu pukul 08.00 malam, saat ponsel Wayren berdering. Dari Risa, tiba-tiba entah kenapa
perasaan Wayren merasakan perasaan ada yang tidak beres.
" Halo? " kata Wayren
“ Wayren, bisakah kau ke sini? ” suara Risa serak seperti orang yang manangis.
Wayren segera keluar dari ruangan Andra, meninggalkan ibunya yang sedang menjaga Andra sendiri. Dia melajukan mobilnya dengan sangat cepat, kepalanya sakit, dia sudah tidak tidur dengan baik beberapa hari ini, hatinya terasa sakit... dia gelisah.
Di lorong UGD itu sudah ramai sekali, Maxi ada di sana...dia duduk di lantai, terlihat
__ADS_1
lemah, Hanna memeluk Risa, keduanya menangis tersedu-sedu, Wayren terhenti, dia
bingung, cemas, linglung dengan keadaan ini. Seorang dokter ada di sana, Wayren
mendekatinya...
" Ayatha? "kata Wayren bertanya
Dokter itu terdiam, tidak menjawab...
" kami sudah berusaha yang terbaik, " kata Dokter itu saja, lalu dia kembali kedalam.
Wayren menatap Maxi yang terduduk di lantai, dia juga begitu, kakinya terasa tidak
punya tenaga... rasanya tiba-tiba lorong itu yang tadinya sangat ramai jadi
hening seketika, air matanya turun... namun wajahnya hanya datar saja.
Dia ingin berteriak, namun tak mampu, rasanya suaranya tercekat di kerongkongannya, udara
serasa sangat berat untuk di hirup, tiba-tiba saja rasanya dunia itu hancur,
percaya... tidak mungkin Ayatha...
Dia mengumpulkan tenaganya yang tersisa, bangkit lalu berjalan menuju Maxi, menatap
Maxi, Maxi masih seperti orang linglung.
" Ayatha... di mana dia?" kata Wayren terbata.
Maxi melihat Wayren... mata Maxi kosong, memancarkan kesedihan yang paling dalam. Tidak menjawab, lalu membuang mukannya.
" Ayatha sudah meninggal, " kata Jeremy yang berdiri di samping Hanna
Wayren menatap Jeremy, dia mendekati Jeremy, memegang kerah kemeja Jeremy. Semua orang langsung melerai Wayren, dia menatap Jeremy dengan tajam.
" Tidak mungkin! Tidak mungkin! Kau bohong kan, dia tidak mungkin meninggal," kata
__ADS_1
Wayren dengan nada yang sangat keras.
Semua orang menatap Wayren, Risa memeluk Wayren, mencoba untuk menenangkan Wayren, Wayren terjatuh, terduduk di lantai, sama seperti yang di lakukan Maxi, dia lemas,
tidak bertenaga lagi. Pandangannya kosong, bagaimana bisa Ayatha meninggalkannya?
Suara tangis memenuhi seluruh lorong itu, membuat siapapun yang mendengarnya tersayat hatinya.
____________________________________________
Wayren berjalan dengan gontai, dia memakai pakaian serba hitam, Risa memeganginya,
mencoba membuat Wayren tidak terlalu gontai, memasuki tempat persemayaman
terakhir Ayatha.
Saat mereka masuk, peti Ayatha sudah di hiasi dengan banyak bunga, terutama bunga
kesukaannya, sedap malam, bunga itu menebarkan wanginya di seluruh ruangan yang tampak suram, hanya suara tangisan yang terdengar, Risa menangis teRisak
melihat foto Ayatha yang sedang tersenyum itu ada di depan peti, Wayren sudah
tidak bisa menangis, bahkan saat melihat foto itu, tatapannya hanya kosong.
Maxi terlihat duduk di depan peti itu, hanya duduk menatap kosong, Wayren duduk di
sampingnya, Hanna memeluk Risa yang menangis tersedu, tak lama Hanna kembali
menangis, matanya sudah sangat bengkak.
Wayren dan Maxi hanya menatap peti itu, tidak berkata apapun. Hingga peti itu di bawa, Wayren tidak mengatakan apapun, namun saat peti itu di masukkan ke liang tanah, Wayren baru menangis, air matanya jatuh begitu saja... ini terakhir kalinya dia akan
melihat Ayatha... sakit ini tidak dapat dilukiskan, dia teRisak, baru kali ini
dia menamgis begitu pilu, bahkan untuk seorang Wayren yang biasanya angkuh,
tangis tak dapat dia bendung.
__ADS_1
Pemakaman Ayatha tidak seperti yang dia bayangkan, banyak orang yang datang, dari panti asuhan, beberapa pegawai dari hotel, Paman dan Bibi dari desa, dan banyak
lagi. Dia tidak di makamkan dalam sepi.