
Andra melihat kearah Ayatha, Ayatha yang mendengar itu langsung bergegas ke lantai 2, dia berlari menuju ke ruang tidur di lantai 2, saat dia membuka pintu, benar saja ada Raphael disana sedang tertidur pulas, sepertinya dia di beri obat bius oleh Tuan Ray, Ayatha menatap anaknya yang begitu pulas, dia lalu mengendong Raphael, walaupun berat dia tetap berusaha untuk membawa anaknya turun.
Ambulance datang dengan cepat, mereka segera menangani Tuan Ray, membawanya pergi, tidak ada yang menjaganya, semua nya tetap tinggal di sana.
Andra segera menolong istrinya yang mengendong Raphael dengan kesusahan, tubuh ayatha kecil, mengendong anak 7 tahun, pasti sangat susah.
Andra membawa Raphael turun, lalu menidurkannya di sofa, Nyonya Renata melihat cucu kesanyangannya dengan sedih, dia terlihat cemas.
" Apa yang dilakukannya pada Raphael?," kata Nyonya Renata, Andra melihat Nyonya Renata. Matanya nanar, Nyonya Renata yang melihat itu mundur selangkah, dia memang salah mengubah takdir Andra dari dia kecil, membuat dia merasakan penderitaan tidak di anggap selama ini, bahkan gara-gara dirinya lah beberapa kali Andra hampir kehilangan semuanya.
" Maafkan ibu," kata Nyonya Renata.
Andra menatap ibunya, dia mendekati ibunya, memandang wajah ibunya yang lembut dan cantik, dari kecil ibunya yang ada di sampingnya, memberikan segala kasih sayang yang bahkan belum tentu di berikan oleh ayahnya walau dia tahu Andra adalah anaknya. Setiap malam ibunya selalu ada disana, mengelus kepalanya, mengajarinya dengan senyuman yang selalu mengembang seberapa pun hancurnya hatinya, seberapapun lelahnya, Nyonya Renata selalu ada.
" Ibu, " kata Andra lembut sekali.
Nyonya Renata yang mendengar Andra memanggilnya dengan penuh kelembutan malah menangis, dia menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Andra yang melihat itu lalu memeluk ibunya, memeluknya dengan erat, Nyonya Renata menangis sejadi-jadinya.
" Kau tetap ibuku, dari aku lahir, aku hanya mengenalmu sebagai ibuku, tidak akan pernah berubah, " kata Andra berbisik lembut pada ibunya, Nyonya Renata jadi makin terharu, dia memeluk anaknya, semua yang di sana terharu melihat kejadian itu.
Nyonya Renata melepaskan pelukannya, melihat kearah Andra, Andra tersenyum sangat lembut menghapus air mata Nyonya Renata, lalu kembali memeluknya.
" Jadi kita sebenarnya bukan kakak beradik?, " kata wayren menepuk pundak Andra.
" Bodoh, kau tetap adik kecilku, " kata Andra menatap Wayren.
" Ah, padahal aku berpikir untuk menjadi kakakmu, kau dapat banyak keuntungan dengan menjadi kakak," kata wayren.
" Tidak akan, aku tetap lahir duluan, " kata Andra tertawa, semua yang ada disana juga tertawa melihat tingkah Wayren.
Ayatha yang duduk di samping anaknya, ingin berdiri, namun rasanya tiba-tiba semua ruangan itu terasa gelap, mungkin karena tadi terlalu ketakutan, hingga membuat dia lemas, hingga akhirnya pingsan.
Andra yang melihat istrinya pingsan langsung membawa istrinya pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Kepala Ayatha berat, dia baru saja sadar, bibirnya sedikit pucat, perut bawahnya terasa keram, saat dia sadar, Andra ada di sana, sedang menunggunya.
" Hai, " kata Andra lembut.
" Aku di mana?, " kata Ayatha.
" Aku membawamu ke rumah sakit, " kata Andra.
" Oh, bagaimana dengan Raphael?," kata Ayatha kaget, dia baru ingat tentang Raphael, terakhir bukannya anaknya masih belum sadar? Saking kagetnya dia langsung terduduk.
" Hei, jangan begitu, tidur saja dulu, kata dokter kau masih lemah, mungkin karena terlalu syok, hingga pingsan, Raphael tidak apa-apa, dia sehat, sedang ada di rumah dengan ibu," kata Andra.
" Oh, baiklah, ehm..bagaimana dengan keadaan ayahmu? " kata Ayatha lagi.
" Dia kritis, sedang ditangani di sini juga, " kata Andra, ada sedikit kesedihan di matanya.
" Aku yakin dia tidak apa-apa, " kata Ayatha menenangkan suaminya.
Jeremy masuk kedalam ruangan Ayatha, dia tersenyum melihat Ayatha yang sudah sadar.
" Wah, pasangan favorit ku, apa kabar kalian? Aku sangat ingin bertemu kalian tapi tidak di rumah sakit terus menerus" kata Jeremy tertawa.
" Kami juga inginnya tidak bertemu denganmu di sini, " kata Andra menimpali.
" Jangan terlalu serius Andra, Ayatha bagaimana perasaanmu?, " kata Jeremy.
" Pusing, mual, dan sedikit tidak nyaman di perut bawah," kata Ayatha menjelaskan perasaannya.
" Ehm...begitu yah?, " kata Jeremy memeriksa status Ayatha.
" Dia mempunyai masalah pada rahimnya, " kata Andra menatap Jeremy.
" Oh, benarkah?, " kata Jeremy.
__ADS_1
" Iya, akan melakukan operasi bulan depan, " kata Ayatha.
" Kalau begitu besok pagi kita jadwalkan untuk pemeriksaan kandungan, sepertinya malam ini kalian harus tinggal di sini lagi," kata Jeremy.
" Ya, tidak masalah, " kata Andra.
" Jeremy, kirim salam pada Hanna, apa kabar
Chendrik dan Cheryl? " kata Ayatha.
" Wah, mereka sehat, sangat sehat hingga tidak membiarkan aku dan ibunya untuk tidur, punya anak kembar benar-benar tantangan, " kata Jeremy tertawa.
" Iya, pasti sangat menyenangkan, tapi tolong jangan laporkan hal ini pada Kak Maxi, " kata Ayatha.
" Tenang saja, ini urusan kita bertiga saja, " kata Jeremy.
" Baiklah, terima kasih, " kata Ayatha.
" Istirahatlah kalian berdua, " kata Jeremy, lalu keluar dari ruangan ayatha.
Ayatha memandang suaminya, hari ini berat, padahal ini hari ulang tahunnya.
" Aku masih punya 2 hari lagi kan untuk memberikanmu hadiah ulang tahun" kata Ayatha lembut.
" Tidak perlu, yang penting kau sehat, itu sudah hadiah buatku, " kata Andra.
" Kau mencoba mengodaku ya?, " kata Ayatha tertawa kecil.
" Benar kok, tidurlah, besok pagi kita akan melakukan pemerikasaan, aku sangat mencintaimu, jangan takut-takuti aku lagi," kata Andra menatap Ayatha, kepedulian terpancar disana.
" Iya, maafkan aku, aku akan tidur, kau juga tidur lah, jangan bekerja lagi, " kata Ayatha yang melihat di ranjang penunggunya bertaburan banyak berkas-berkas.
" Siap bos, aku akan patuh," kata Andra tersenyum.
__ADS_1