
Risa baru saja sampai di kelas, saat seorang teman sekelasnya memberitahu bahwa dia dipanggil ke kantor kepala sekolah. Sejak kejadian kemarin, semua teman-teman Risa menjadi baik padanya.
Dia segera bejalan ke arah kantor kepala sekolah.
" Selama pagi Bu?"kata Risa memberi hormat pada Ibu kepala sekolahnya.
" Selamat pagi Nona Risa, silahkan duduk, " kata kepala sekolah
" Ada apa ya Bu, saya di panggil pagi ini?" kata Risa lagi
" Oh, kemarin anda lari dari kegiatan yang kita lakukan di gunung, maka dari itu kami akan memberikan hukuman pada anda " kata Ibu kepala sekolah
" Ha? Hukuman?" kata Risa kaget.
Kalau saja kemarin dia tidak ikut Wayren untuk pulang, pasti dia tidak akan menrima hukuman dari sekolah seperti ini, sepertinya Wayren itu memang membawa bencana baginya, pikir Risa.
" Iya, anda kami hukum untuk membersihkan sekolah selama seminggu, " kata Ibu sekolah
" Ha? Seminggu? " kata Risa kaget mendengar hukumannya
" Kalau begitu aku juga harus di hukum, " kata Wayren tiba-tiba masuk kedalam ruangan kepala sekolah, Ibu sekolah dan Risa lansung kaget. Ibu kepala sekolah langsung berdiri melihat kedatangan Wayren.
" Maaf, maksud anda?" kata Ibu kepala sekolah itu lagi
" Iya, aku juga pergi dari kegiantan itu kan? Berarti aku juga harus di hukum, " kata Wayren duduk di sofa dengan seenaknya.
" Eh..itu..." kata Ibu kepala sekolah seperti serba salah
" Kenapa? Apakah ayahku atau ibuku melarang aku untuk di hukum? " kata Wayren melirik kearah kepala sekolah.
Risa yang melihat Wayren agak kesal melihat gayanya, namun benar juga, kenapa Wayren tidak dipanggil dan di hukum?
Ibu kepala sekolah hanya terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Wayren.
__ADS_1
" Ah..sekolah macam apa ini?" kata Wayren seenaknya
Risa mengerutkan dahinya, bukannya sekolah ini punya keluarganya??
" Baiklah Tuan Wayren, anda juga di hukum, " kata kepala sekolah itu
" Ok , apa hukumannya?" kata Wayren antusias
" Membersihkan sekolah selama seminggu " kata Risa jujur
" Membersihkan sekolah? Apa anggaran untuk membersihkan sekolah ini tidak cukup jadinya hukuman siswa harus membersihkan sekolah, apakah benar Ibu kepala sekolah? " tanya Wayren serius, membuat Ibu kepala sekolah gugup
" Tidak, tidak, hukumannya cukup menulis di papan tulis mading, " kata Ibu kepala sekolah
" Menulis apa?" kata Wayren tegas, membuat auranya berubah, Risa yang melihat Wayren yang sekarang terlihat serius jadi terkesima, dia boleh juga , pikir Risa.
" Ok, tidak ada syarat yang lain kan?" kata Wayren
" Tidak, " kata Ibu kepala sekolah agak senang karena Wayren menerimanya
" Baiklah " kata Wayren berdiri dan segera keluar dari ruang kepala sekolah, Risa yang bingung langsung mengikuti Wayren keluar.
Wayren segera berjalan menuju mading sekolah.
" Wah, papan tulis ini besar sekali, pasti pegal menulis sepenuh papan tulis ini, " gumam Risa yang ada di samping Wayren
" Kau tulislah, " kata Wayren menyuruh Risa
" Tidak usah kau suruh juga aku akan menulisnya, kau yang sebelah sana, " kata Risa
" Iya " kata Wayren seadanya sambil duduk di tempat duduk yang ada disana
__ADS_1
" Kau tidak menulis? " tanya Risa
" Nanti saja, aku masih malas," kata Wayren
" Kalau tidak cepat-cepat nanti kita bisa ketinggalan kelas " kata Risa lagi
" Itu lebih bagus, aku sedang malas belajar hari ini, " kata Wayren seadanya sambil melipat tangannya lalu menaikan kakinya ke kursi, dia bersender dengan malas.
" Dasar, kau benaran dari keluarga Tadder gak sih? Kau berbeda sekali dengan kakak mu," kata Risa mengerutu.
" Hei, aku ingatkan yah, jangan membanding-bandingkan aku dengan kakakku, " kata Wayren kesal menatap Risa, Risa yang melihat itu sebeneranya tidak peduli, tapi dia juga lagi malas melawani Wayren, jadi dia langsung menulis.
Ini sudah hampir jam istirahat siang, dan akhirnya Risa hampir selesai menulis kata-katanya di papan tulis itu, dan Wayren masih saja duduk malas. Risa memandang Wayren, biar saja, dia akan menulisnya sampai pulang, biar dia disini sendirian sampai malam, pikir Risa.
" Ah, akhirnya selesai, " kata Risa senang
" Kau lama seklai sih, " kata Wayren dengan malas bangkit dari tempat duduknya
" Aku mau tau kau seberapa lama sih menulis papan tulis sebesar ini, " kata Risa tersenyum licik
" Hanya sebentar, " kata Wayren mengambil spidolnya
" Aku tidak percaya, " kata Risa
Wayren menulis kata-katanya sebesar papan tulis itu, membuat papan tulis itu penuh dengan tulisannya hanya dengan 1 baris kalimat yang besar.
Risa terbelalak, apa yang dia lakukan.
" Syaratnya kan hanya menulis memenuhi 1 papan tulis ini kan? Tidak dibilang berapa baris, berapa kata? Jadi ini sudah penuh, kau tidak percaya, percaya lah, " kata Wayren meletakkan spidolnya lalu pergi.
Risa terdiam, dia masih tidak percaya, tapi benar juga kata Wayren, dia saja yang menyimpulkan harus menulisnya secara biasa, padahal kepala sekolah hanya bilang memenuhi 1 papan tulis itu. Ah... dia tidak senang dikalahkan oleh Wayren.
__ADS_1