
Ayatha diam menatap jamnya, masih jam 5 pagi, tapi Ayatha sudah harus berkerja hari ini. Sudah 3 hari Ayatha tidak bisa masuk sekolah. Ayatha sudah memutuskan dia tidak akan sekolah lagi, harus giat mencari uang agar bisa mempertahankan rumahnya. Rumah ini adalah rumah peninggalan nenek dan orang tuanya, masa kecilnya, kenangannya, semua ada dirumah ini. Ayatha boleh kehilangan apapun, asal jangan rumah ini.
Ayatha perlahan-lahan membuka pintu rumahnya, keadaan masih gelap diluar jendela, Ayatha pelan-pelan mengambil sepedanya yang biasanya dia letakkan di samping rumah. Ayatha lalu mendorong sepedanya menuju pintu gerbang saat tiba-tiba…
" Hey, " kata Seseorang mengejutkan Ayatha , ini masih pukul 5 pagi, siapa yang menegurku, pikirnya sambil melihat kearah suara datang, Ayatha melihatnya samar-sama karna masih gelap, saat dia mulai mendekat ayatha baru melihatnya, ternyata Andra.
" Andra?" tanya Ayatha bingung, juga bertanya-tanya kenapa dia ada disini, jam segini?
" Aku ingin pergi kesekolah, hari ini aku piket, kebetulan lewat sini dan aku juga disuru Bapak Hery, dia sangat khawatir karna kau tidak masuk 3 hari, dia bilang dia khawatir karna kau tinggal sendiri dan takut kau sedang sakit, " kata Andra panjang lebar, dia tidak pernah berbicara begitu panjang pada Ayatha.
" Owh.. bukan, aku tidak apa-apa, " kata Ayatha sambil menyelipkan rambutnya ke telinga dan tersenyum pada Andra.
" Lalu? "
" Sepertinya aku akan berhenti sekolah "
" Apa? Kenapa? " katanya bingung.
" Tidak apa-apa, aku sudah terlambat, aku jalan dulu ya, " kata Ayatha sambil menaiki sepedanya, Ayatha sekilas melihat Andra sebelum pergi, Andra kelihatan bingung, namun dia tidak berkata apa-apa.
Ayatha mendayung sepedanya dengan semangat, hari ini hari yang baru… aku harus giat bekerja, aku akan menghidupi diriku sendiri, mulai sekarang aku hanya sendiri, semangatnya pada diri sendiri.
Tak berapa lama Ayatha sampai juga di tempat Toserba yang langsung disambut Bibi pemiliknya dengan senyuman, dia sedang mengangkat barang-barang dari mobil ke dalam gudang penyimpanan.
" Wah..kau sangat semangat hari ini Aya, kau tidak harus setiap hari datang sepagi ini, kau boleh datang jam 8 atau 9 pagi, " kata Bibi itu tersenyum melihat Ayatha meletakkan sepedanya
"Tidak apa-apa bibi, sini biar ku bantu, " kata Ayatha mengambil beberapa barang dari tangan Bibi.
" Kau memang seperti yang dikatakan Pamanmu, kau sangat rajin, kami sangat beruntung memiliki pekerja sepertimu, " kata Bibi itu lagi memuji.
" Tidak bibi, " kata Ayatha dengan senyuman.
" Owh ya, bukan kah kau bersekolah, Pamanmu semalam menelepon, dia bilang kau masih sekolah, kenapa kau tidak bilang pada kami? kalau kami tahu, kami pasti mengijinkan kau bersekolah dulu, dan berbagi shift dengan orang lain, " kata Bibi itu kelihatan penasaran.
" Tidak bibi, aku sudah berhenti sekolah, aku hanya ingin fokus mencari uang, " kata Ayatha.
" Hey… kau tidak boleh seperti itu, sekolah adalah yang nomor satu, uang dapat dikejar, tapi ilmu hanya 1 kali seumur hidup kau dapatkan, " kata Bibi menasehati.
Ayatha hanya tersenyum melihat Bibi dan Bibi itu kelihatan penasaran melihat ekspresi Ayatha.
" Apa yang sedang kalian bicarakan berdua?" kata Paman pemilik toko tiba-tiba datang, dia masih mengunakan celemeknya, kelihatnya dia baru memilih ikan untuk dijual hari ini.
" Suamiku, lihatlah Aya, aku bertanya kenapa dia tidak ingin sekolah lagi? Dia hanya tersenyum, " kata Bibi itu mengadu pada Suaminya, Paman tampak kaget dengan apa yang dikatakan Bibi, dia lansung mendekati Ayatha.
" Kenapa kau tidak ingin sekolah lagi, kami akan mengijinkanmu sekolah, " kata Paman dengan tatapan penasaran.
" Tidak apa-apa Paman, aku hanya ingin fokus untuk bekerja, ini sudah keputusanku, " kata Ayatha tersenyum agar tidak dikira tidak sopan mengabaikan nasehat orang tua.
" Kau pasti sangat menderita, kenapa Bibimu yang kejam itu sangat tega menyiksa anak baik seperti mu, benar-benar bencana, kenapa Ron bisa mempunyai istri seperti singa itu, " kata Bibi kelihatan mengerutu sambil memilah daun bawang untuk hari ini.
" Ah, istriku, sudahlah, pagi-pagi jangan mengerutu dan membicarakan orang seperti itu" kata Paman sambil mengangkat kotak bersar dari mobilnya.
" Aku tidak membicarakan orang, aku mengatakan kenyataan, kenapa? Kau takut si singa itu datang dan memarahiku, aku tidak takut, " kata Bibi panjang lebar, dan kelihatanya dia masih mengerutu pada dirinya sendiri.
" Bibimu memang seperti itu, " kata Paman pada Ayatha, Ayatha hanya bisa tersenyum sambil mengambil bungkusan yang masih ada didalam mobil.
Ayatha sudah tidak lagi mempersalahkan kenapa Bibinya tega melakukan hal ini padanya, dia tidak ingin mengeluh, dia hanya ingin menjalani hidupnya, jika memang ini adalah jalan hidupnya, dia akan menerimanya, jika memang dia harus bekerja selamanya… dia tidak akan mengeluh.
Ayatha duduk sebentar di belakang toko ini, tadi pagi banyak sekali pelanggan, dia bahkan tidak sempat duduk untuk sesaat saja. Ayatha memegangi tangannya, rasanya mulai mati rasa karena dari tadi aku merendamnya dengan air dingin. Ayatha lalu memijati pinggangnya… rasa lelah menyergapnya, namun dia harus bertahan, itulah tekadnya.
" Aya? Dimana kau? " kata Bibi memanggil Ayatha.
Ayatha bergegas bangkit dan langsung kebali masuk kedalam toko.
" Iya bibi, maaf, tadi aku kebelakang sebentar, " kata Ayatha sungkan karena menghilang di tengah pekerjaan.
" Ah… tak perlu sesungkan itu, aku hanya ingin menitip toko ini sembentar, aku harus mengambil beberapa barang ke rumah, pamanmu sedang pergi, bisa kan? Toko nya juga sudah sepi, " kata Bibi panjang lebar.
" Owh, iya Bibi, aku akan menjaganya, " kata Ayatha sambil melihat bibi yang langsung pergi.
Ayatha berjalan menuju kedepan melihat ke toko, toko ini memang selalu sepi jika sudah siang, dia duduk di belakang meja kasir dan mulai melipat tangannya lalu meletakkan kepala di atas lipatan tangannya, sepertinya bersandar sebentar tidak apa-apa, pikir Ayatha.
" Kau tidur pada saat jam kerja, " kata Seseorang.
Ehm… siapa itu, ah… sebentar lagi, aku ingin beristirahat sebentar lagi, pikir Ayatha. lalu tiba-tiba Ayatha langsung sadar… aku kan sedang mejaga toko ini, pikirnya. Ayatha lansung bangun, membuka matanya lebar-lebar.
" Maafkan saya tuan, " kata Ayatha langsung menunduk dan memberi salam, Ayatha mengintip sebentar melihat siapa yang ada di depannya. Dia langsung terkejut… Andra lagi..kenapa dia ada dimana-mana? Pikir Ayatha.
" Ternyata kau kerja disini? " kata Andra telihat sedikit penasaran.
" Ehm.. iya " kata Ayatha.
" Jadi ini alasannya kenapa kau tidak masuk selama 3 hari ini, kau bekerja sekarang" kata Andra.
" Iya"
" Ini, aku ingin beli ini, " katanya sambil mengambil beberapa bungkus permen mint.
" Owh, baiklah, semuanya 10.000, " kata Ayatha.
" Kenapa kau bekerja?" katanya dengan tatapan penasaran namun kelihatan masih dingin sambil memberikan uangnya.
" Terima kasih, ini kembalianya, " kata Ayatha sambil memberikan kembaliannya.
" Jawablah, " katanya dingin, Ayatha memandangnya dengan tatapan bertanya, kenapa aku harus menjawabnya, pikir Ayatha.
" Tidak apa-apa, " kata Ayatha lagi sambil tersenyum, mencoba ramah.
" Ehm, kau tidak bertanya padaku kenapa aku bisa disini? "katanya sambil memakan permennya.
" Haruskah?" kata Ayatha.
" Entahlah, " katanya sambil tidak perduli dan langsung melangkah pergi.
__ADS_1
Ada apa dengan dia? Bukankah dia yang bertanya, lalu dia pergi begitu saja… dia aneh sekali, pikir Ayatha sambil menatapnya.
Ayatha menggiring sepedanya, bibi kelihatan tersenyum sambil melambaikan tangan padanya dibalik pintu toko, ini sudah jam 8 malam, dan bibi memberikan Ayatha keringanan agar bisa cepat pulang karena tadi dia sudah dibantu menjaga toko dan karena Ayatha tidak memberi tahu pada Paman. sepertinya mereka pasangan yang lucu, Bibi suka sekali pergi waktu dia ditugaskan untuk menjaga toko, mungkin dia pergi bersama teman-temannya, sedangkan paman tidak suka jika bibi pergi jika sedang menjaga toko, jadinya Ayatha yang selalu menjadi penjaga rahasia bibi.
Ayatha berhenti di depan rumahnya, kelihatan bibinya sedang duduk sendiri didepan rumahnya… Ayatha melihatnya dengan cemas, kali ini apa yang akan dilakukan Bibi pada rumah ini, pikirnya.
" Aku pulang, " katanya pada Bibi.
" Owh, sudah pulang, dari mana saja kau? " kata Bibi dengan ketus.
" Aku pergi " katanya pelan.
" Aku juga tau kau pergi, makanya sekarang kau pulang, ah, sudahlah… Aya, Bibi sudah memutuskan… Bibi akan menjual rumah ini, " kata Bibi tenang saja, Ayatha langsung kaget.
" Hah? Kenapa mau menjual rumah ini?, " kata Ayatha panik.
" Kenapa? Kenapa tidak boleh? Rumah ini milikku, " katanya dingin
" Ini rumah peninggalan orang tua dan nenek, Bi, " kata Ayatha dengan mata-mata
berkaca-kaca.
" Apa peduliku? "
" Bukan kah Bibi bilang Bibi mengizinkan ku untuk tinggal disini, aku akan membayar sewanya, aku pasti membayar semua sewanya, " kata Ayatha menangis.
" Diam lah, aku tidak ingin semua orang di kampung ini mengira aku menyiksa mu, " kata Bibi kesal melihat Ayatha menangis.
" Aku janji Bibi, Aku akan membayar semua biaya dirumah ini, "
" Ah.. baiklah, aku memberimu waktu 1 tahun, dalam 1 tahun kau harus bisa membayar uang rumah ini, dalam 1 tahun kau harus memberiku 250.000.000, " kata Bibi kesal sekali.
" 250.000.000 bibi? Itu banyak sekali, " kata Ayatha terkaget mendengar nominal yang disebutkan bibi.
" Banyak? Kalau tidak bisa ya sudah... kalau kau masih mau rumah ini, berusahalah…agar kau tahu bagaimana hidup ini, " kata Bibi ketus.
" Iya, bibi, aku akan berusaha…" kata Ayatha mengusap air matanya walaupun dalam hatinya, Ayatha masih bingung dia harus bagaimana untuk mendapatkan uang sebanyak itu.
" Baiklah, aku sudah membereskan semua barang mu, mulai hari ini kau tidak boleh tinggal dirumah ini lagi, " kata Bibi dingin.
" Tapi…kenapa? Izinkan aku tinggal disini, aku akan mencari uang itu, " kata Ayatha kaget dan kebinggungan, bagaimana dan di mana dia harus tidur malam ini.
" Tidak, kau tidak boleh tinggal dirumah ini kecuali kau sudah membayarkan uang yang aku minta tadi," kata Bibi ketus.
" Izinkan aku tinggal disini bibi, aku mohon, ini sudah malam… dimana aku bisa tidur, " kata Ayatha memelas pada bibinya, bibinya kelihatannya tidak tersentuh sama sekali.
" Apa peduliku?, cepat bawa tas ini, lalu pergi" kata bibi kelihatan dingin sekali, dia juga kelihatan kesal karena ayatha terus menangis. sepertinya ayatha benar-benar diusir dari rumah ini, dengan gemetar dia mengambil tas yang sudah dibereskan bibinya, Ayatha memandangi rumah itu. Tangisnya malah menjadi-jadi.
" Hey, diamlah… kau membuatku merasa seperti orang jahat, " katanya
" Bibi, izinkan aku tinggal disini, walau satu malam saja, " kata Ayatha terisak.
" Tidak, aku sudah menyewakannya dengan orang lain, dia sudah menyewanya selama 1 tahun, aku harus membersihkan semuanya hari ini, besok mereka datang, " kata Bibi dingin, Ayatha terdiam, terkaget.. bagaimana bisa dia menyewakan rumah ini pada orang lain?.
" Ah.. apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan? Cepatlah pergi!! " katanya dengan keras membentak Ayatha.
Ayatha terdiam, tertegun, dengan langkah pelan dia berjalan menuju gerbang, udara dingin membuat badannya mengigil, dia tidak tahu menggigil karena dinginnya hari ini, atau karena kesedihannya. Saat sampai di gerbang, Ayatha melihat lagi kearah rumahnya, bibinya kelihatan kesal melihat kelakuannya, dia lalu masuk kerumah dan menutup pintu dengan keras.
Air mata membanjiri mata Ayatha saat dia teringat apa yang sudah kulewati dirumah ini, dia ingat pertama kali dia menaiki sepeda, Ayahnya yang membelikannya, dia medorong Ayatha dengan sepeda roda tiga itu. Tangisnya menjadi-jadi, namun Ayatha mulai berjalan meninggalkannya, meninggalkan semua kenangan indah.
Ayatha terdiam, terduduk ditaman, udara semakin dingin, namun tidak menganggunya sama sekali. Ayatha menerawang jauh, namun pikirannya kosong. Air matanya sudah tidak mengalir lagi, matanya sudah perih sekali karena dia sering mengelapnya.
Bagaimana aku bisa membiarkan Bibi mengambil rumah itu? Kenapa aku tidak melawannya? Kenapa aku tidak bisa mempertahankan apa yang selama ini menjadi miliknya? Pertanyaan itu sekarang ada di pikirannya, 1 tahun 250.000.000, itu jalannya kembali kerumah itu, pikirnya dengan semangat.. Namun semangat itu kembali pudar saat dia berfikir, bagaimana caranya dia mendapatkan uang sebanyak itu. Dia sudah bekerja dengan serius.. namun gajinya hanya 50.000 perhari.. bagaimana dia bisa membayarnya?.
Tiba-tiba Ayatha teringat perkataan Roni waktu dikelas, dia ingin pergi bekerja di kota besar, dia bilang bahwa gaji disana jauh jauh berkali kali lipat dari pada yang ada disini. Iya, Aku harus bekerja! Aku harus bekerja di kota itu… harus! Pikir Ayatha dengan semangat, lalu desir angin membuat badannya kembali mengigil…tapi bagaimana caranya? Tabungannya mungkin cukup untuk membawanya kesana, untuk sekedar ongkos dan hidup beberapa minggu sepertinya uang itu cukup, pikirnya...
Ayatha membuka tasnya... Dia mencari kotak kecil yang dulu diberikan neneknya, dia terus mencarinya tapi tidak ada.. apa bibinya mengambil kotak itu? Apa dia tahu didalamnya ada tabunganku, pikir Ayatha.
Ahk… Ayatha ingin sekali bisa menjerit sekeras-kerasnya… Kenapa Bibinya sangat kejam padanya..bahkan uang tabungannya pun di ambilnya. Jadi bagaimana dia bisa kekota jika begitu. Ayatha kembali meneteskan air matanya, angin semakin kencang, membuatnya benar-benar mengigil.
" Sedang apa kau disana?, " kata seseorang membuat Ayatha terkejut, Ayatha tak bisa melihatnya karena matanya kabur dan bengkak, orang itu maju dan Ayatha baru sadar, dia lagi… Andra lagi, Ayatha hanya bisa tertunduk dan mengusap air matanya.
" Apa yang kau lakukan disini? Udara sangat dingin, " kata Andra berdiri didepannya.
" Tidak apa-apa, " kata Ayatha serak.
" Kau tidak pulang?, " katanya membuat air mata Ayatha kembali mengalir.
" Tidak" kata Ayatha pelan.
" Ehm..sebenarnya dari tadi aku mengikutimu, aku kebetulan lewat dekat rumahmu saat aku lihat kau dengan Bibimu" kata andra, dia lalu diam dengan wajah dinginnya.
" Maaf kau melihat itu "
" Tidak apa-apa, aku hanya lewat, sekarang apa yang akan kau lakukan? "
" Tidak tahu "
" Kemana kau akan pergi malam ini? "
" Tidak tahu "
" Tinggalah dirumahku, malam ini, " katanya datar saja.
Ayatha menatap Andra, terkejut, dia hanya menatap Ayatha dengan wajah dinginnya.
" Tidak apa-apa, aku akan mencari tempat yang lain, " kata Ayatha menyangkalnya.
" Ayah dan Ibuku pergi malam ini, aku akan memperbolehkanmu tinggal dirumahku malam ini, " katanya lagi
" Ehm.. tapi a…ku… " kata Ayatha kebingungan harus bagaimana menolaknya.
" Ayolah..aku tidak mengajakmu, aku memaksamu, " katanya sambil membereskan tas Ayatha, lalu mengambilnya, Ayatha hanya melihatnya dengan bengong, kenapa dia melakukan itu lagi, Ayatha hanya terdiam saja meliatnya pergi.
__ADS_1
" Kau mau disitu sepanjang malam, membeku, atau mengikutiku? " katanya dingin sekali.
Ayatha baru tersadar, lalu dengan buru-buru mengikutinya dari belakang, apa ini tidak apa-apa? Kepala Ayatha sudah terlalu pusing memikirkannya lagi.Terlalu banyak masalah terjadi dalam 1 hari.
Ayatha berjalan mengikutinya, dia berhenti di depan salah satu rumah… rumah itu besar dan kelehatan mewah… benarkah dia tinggal dirumah ini? pikir Ayatha takjub melihat rumah sebesar ini.
" Masuk lah, " katanya sambil membuka gerbang dan memperhatikan Ayatha yang mungkin kelihatan bodoh karena terpana melihat rumahnya.
" Owh, iya " kata Ayatha.
Andra langsung berjalan, membuka pintu, lalu memasuki ruang tamu… ruang tamunya sangat indah, sangat nyaman, barang-barangnya juga kelihatan tersusun rapi.
" Disebelah sini" katanya
" eh… iya, " kata Ayatha kebingungan
mengikutinya, mereka menuju suatu ruangan, Andra lalu membukanya, itu sebuah kamar yang sangat nyaman, tempatnya juga luas, Ayatha tidak menyangka kalau akan pernah melihat kamar seperti ini, biasanya Ayatha melihat kamar seperti ini hanya di tv.
" Bersihkan dirimu dan lalu turun untuk makan malam, " katanya sambil meletakkan tasnya di tempat tidur.
" Eh, tidak.. aku hanya akan menumpang malam ini, terima kasih, " kata Ayatha sungkan sambil memberikan hormat.
" Aku tidak meminta mu, aku memaksamu, " katanya cuek lalu dia keluar begitu saja dari kamar itu.
Ayatha terdiam… Ayatha tidak tahu apa dia terlalu beruntung? Atau apakah Ayatha orang paling menyedihkan sedunia? Ayatha hanya terduduk diam di atas ranjang itu, memperhatikan seluruh kamar itu, dia mulai menangis lagi, dia ingat kamar dirumah neneknya.
Mata Ayatha masih terasa bengkak, dia memberanikan diri untuk keluar kamar, dan saat dia melihat kesamping, Andra sudah ada disana, membuat Ayatha kaget, sesaat dipikirannya, kenapa dia bisa ada dimana saja secara tiba-tiba?
" Kau sudah selesai? " katanya dengan dingin.
" iya " kata Ayatha sedikit sungkan dengan
sikap dingin Andra.
" Kesana " katanya menunjuk arah mana yang harus Ayatha jalani, Andra berjalan didepan, dia kelihatan cuek saja, Ayatha mengikutinya di depan, dia bingung sekarang dia harus bagaimana?.
Andra membawa Ayatha memasuki suatu ruangan makan, semua makanan sudah tersaji disana, ada seorang wanita setengah baya keliahatan berdiri di pojok ruangan. Andra langsung duduk, dia memberi tanda bahwa ayatha duduk di depannya.
" Makanlah, " katanya sambil mengambil makanan yang ada di meja, Ayatha jadi sungkan, lalu dia melirik Ayatha, Ayatha salah tingkah, dia segara mengambil makanan yang ada di dekatnya.
Mereka makan dengan diam, Ayatha hanya makan sedikit karena dia memang tidak berselera makan, namun dia hanya menghormati Andra, rasanya tidak sopan jika dia tidak makan sama sekali.
Setelah makan, mereka masih diam terduduk, bibi itu dengan sopan membereskan meja, Andra dengan diam lalu berdiri, Ayatha kebingungan..dia mau kemana? Dan aku harus kemana? Pikirnya, lalu Ayatha mengikutinya, Andra pergi kebalkon rumah, Ayatha baru sadar ternyata rumah andra berada di daratan tinggi, sehingga dari balkonnya mereka bisa melihat desa kecilnya.
Mereka masih diam, Ayatha tidak tahu apakah Andra menginginkan dia disana atau tidak, Ayatha jadi merasa seharusnya dia kembali saja ke kamar, lalu dia mulai berbalik.
" Disini saja, tidak apa-apa, " katanya.
" Ehm.. baiklah, " kata Ayatha berdiri disampingnya.
Ayatha dan Andra terdiam lagi, dia menatap jauh kedepan, pandangannya kembali terlihat tertekan dan berat, Ayatha melihatnya terus, hingga akhirnya andra menatapnya.
" Ada apa? " tanyanya pada Ayatha mungkin dia heran kenapa Ayatha terus memandangi wajahnya.
" Ehm...tidak apa-apa, " kata Ayatha salah tingkah karena ketahuan memandanginya.
" Apa kau selalu terlihat canggung seperti ini?, " tanyanya.
" Mungkin ".
" Owh ".
" Boleh aku bertanya sesuatu?, " kata ayatha.
" Apa? " katanya dengan tatapan penasaran.
" Kenapa kau selalu menolongku, padahal kita tidak pernah bertemu, kita hanya duduk sebangku di sekolah? Tapi kau selalu menolongku, tidak ada yang pernah menolongku, " kata Ayatha.
Andra memandang Ayatha dengan sedikit terkejut, lalu dia kembali melihat depan, Ayatha jadi merasa tidak enak telah bertanya seperti itu.
" Aku akan jawab, tapi setelah kau mengatakan, ada masalah apa kau dan wanita tadi? " katanya kembali menatap Ayatha.
" Dia bibiku, dari kecil aku tinggal dirumah itu, rumah itu peninggalan nenekku, pamanku merupakan anak laki-laki satu-satunya, sehingga memang seharusnya rumah itu jadi milik pamanku, jadi bibiku ingin menjual rumah itu, " kata Ayatha kembali berkaca-kaca berusaha mencari kata yang tepat dan mudah untuk dimengerti.
" Sepertinya rumah itu sangat berarti untukmu?, " katanya lagi.
" Iya, rumah itu satu-satunya tempat aku bisa mengenang semua kenangan tentang orang tuaku, tentang nenekku, tentang masa-masa yang tidak mungkin akan kembali padaku..karena itu aku harus mendapatkan kembali rumah itu, " kata Ayatha lagi.
" Yosa..." katanya tiba-tiba, membuat Ayatha langsung terkejut... kenapa dia memanggil nama Yosa? Dia kenal Yosa? Dari mana dia tahu Yosa? Tanya Ayatha bergelut dalam hati, namun Ayatha hanya bisa diam saja memandangnya dengan tantapan sangat kaget.
" Yosa, kau kenal dia?, " katanya lagi.
" Iya " kata Ayatha sambil mengangguk dan tetap menatapnya dengan terkejut.
" Karena dia aku melakukan semua ini, dia selalu menceritakan tentang mu, dia selalu mengatakan bahwa kau adalah sahabat baiknya... ini adalah permintaan terakhirnya, " katanya panjang lebar sambil menatap Ayatha dengan penuh arti... Ayatha juga memandangnya tidak percaya.. Yosa? kata hati Ayatha.
" Permintaan terakhirnya?, " kata Ayatha lagi dengan pelan.
" iya, dia memintaku untuk selalu membantumu, itu permintaan terakhirnya, sekarang kau sudah tau kenapa aku mencoba membantumu?, " katanya dengan tatapan dinginnya kembali muncul.
" Terima kasih... tapi aku hanya minta sesuatu "
" Apa? " tanyanya sambil memandang Ayatha dengan tatapan bertanya.
" Terima kasih banyak... tapi bisakah kau tidak lagi menolongku.. itu permintaanku, kau sudah cukup membantuku, pasti Yosa juga sudah senang dengan perbuatanmu.. aku juga sangat berterima kasih... tapi mulai saat ini aku ingin mencoba menghidupi diriku sendiri tanpa bantuan siapapun, " kata Ayatha mencoba tegas.
" Lalu apa yang akan kau lakukan? "
" Besok pagi aku akan pergi, terima kasih sekali lagi, " kata Ayatha sambil memberi hormat dan mencoba meninggalkan termpat itu.
" Kemana kau akan pergi?, " tanya nya lagi menghentikan langkah Ayatha.
" Jesuatu tempat dimana tidak ada orang yang akan mengenaliku, " kata Ayatha tersenyum dan lalu pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Ayatha berjalan gontai, Yosa, selalu saja, bahkan saat ini kau masih saja memikirkanku, terima kasih Yosa, tapi mulai sekarang aku akan memulai hidupku yang baru, aku akan berusaha karena selama ini aku hidup dengan bantuanmu dan Paman, sekarang aku akan memulai hidupku sendiri, kata hati Ayatha.