
Andra langsung menuju ke rumah kediaman Maxi, dia pergi kesana begitu sampai di kota,
dia masih bisa ingat suara Ayatha yang bergetar ketakutan tadi.
Pelayan segera memberitahukan Hanna saat Andra sampai, Hanna tampak ragu, namun di
segera menemui Andra di ruang tamu.
" Hai! " kata Hanna menyapa Andra, Andra lansung berdiri
" Hai,apakah Ayatha ada di sini?" kata Andra
Hanna terdiam, 2 tahun yang lalu, hatinya juga hancur gara-gara pria ini, dia dan Ayatha
merasakan hal yang sama, bedanya mungkin dia lebih beruntung, dia tahu bahwa Andra
tidak menyukainya, maka saat dia bertunangan dengan Nadine, dia bisa
menerimanya, toh walaupun tidak bertunangan dengan Nadine, dia tetap tidak bisa mendapatkan Andra. Ayatha berbeda, Andra pernah dengan sepenuh hati
memperjuangkannya, namun dia malah memilih orang lain, dia tahu hancurnya hati Ayatha, orang yang dia cintai yang dia pikir juga mencintainya, malah memilih orang
lain...harapan yang sia-sia bukan?
" Dia sedang istirahat, dia sangat ketakutan, " kata Hanna mencoba biasa saja
" Bolehkah aku melihatnya? " kata Andra, tampak sinar kecemasan dan kepedulian
dalam matanya.
" Aku mengizinkan, tapi aku takut Kakakku tidak, dia sedang pergi, kapan saja bisa
kembali, jadi aku rasa kau tidak bisa lama-lama bertemu dengannnya, " kata
Hanna lagi
" Terima kasih, " kata Andra
" Dia ada di lantai 2, pelayan akan mengantarmu, " kata Hanna menyuruh salah
satu pelayannya menunjukkan kamar Ayatha
" Sekali lagi terima kasih, " kata Andra tersenyum
Hanna membalas senyuman itu seadanya...
Andra membuka pintu kamar Ayatha dengan perlahan, dia melihat Ayatha yang sedang
tertidur di ranjangnya, dia lalu duduk disampingnya, karena merasa ada orang
disampingnya, Ayatha jadi terbangun.
" Hai," kata Andra menatap Ayatha
" Andra? " kata Ayatha sedikit kaget, bagaimana Andra bisa kesini? Kalau Maxi
melihatnya Ayatha takut Maxi akan marah padanya.
" Sudah aku disini, jangan takut, dia tidak melakukan apapun padamu kan? " kata Andra
lembut
" Tidak, dia tidak melakukan apapun padaku, aku hanya merasa terancam, " kata Ayatha,
Andra memengang kedua tangan Ayatha, melihat ada tanda biru di pergelangan
tangannya
" Kenapa tanganmu? " kata Andra
" Keenan," kata Ayatha lagi
" Kau bilang dia tidak melakukan apapun padamu, " kata Andra emosi
__ADS_1
" Ini tidak apa-apa, tidak sakit lagi," kata Ayatha
" Lain kali, kalau dia melakukan hal ini, cepat katakan padaku, " kata Andra
mengelus tangan Ayatha
" Baiklah, tadi Keenan bilang dia sudah bertemu dengan Nadine, " kata Ayatha
" Nadine? Bagaimana bisa? " kata Andra kaget
" Aku juga tidak tahu, dia bilang Nadine mengatakan aku mengoda mu, makanya dia ingin aku mengodanya, " kata Ayatha seadanya
" Ini semua pasti ada hubungannya dengan Nadine, " kata Andra geram
" Aku rasa juga iya, " kata Ayatha
" Sudah, aku akan mengurusnya nanti, yang penting kau istirahatlah, jangan pergi
kemana-mana tanpa ada pengawasan, " kata Andra lagi
" Baiklah, " kata Ayatha
" Aku tidak bisa lama-lama di sini, Hanna bilang Maxi bisa pulang kapan saja, kalau
dia melihatku disini sekarang, dia akan sangat marah, mungkin nanti aku akan
menemuinya secara formal, tidak seperti ini, " kata Andra
" Iya"
" Tidurlah, " kata Andra berdiri, lalu segera keluar dari kamar Ayatha.
Hanna menunggu di luar kamar Ayatha.
" Dia akan istirahat lagi, " kata Andra
" Iya "
" Terima kasih, aku minta tolong untuk menjaganya ya"
Andra
membalas senyuman itu, lalu turun dan pergi keluar.
____________________________________________
Andra
menyuruh supir menuju ke kediaman Nadine, semenjak Andra dan Nadine
bertunangan, dia menetap dinegara ini, dengan cepat Andra masuk kedalam rumah Nadine.
" Selamat sore Tuan Andra, " kata pelayan pribadi Nadine, Septi.
" Selamat sore, apa Nadine ada di rumah?" kata Andra
" Nona sedang berada di kamarnya, aku akan mengabarkan kedatangan Anda, " kata Septi
" Baiklah, " kata Andra, Septi segera melangkah menuju ke kamar Nadine.
Tak lama Nadine datang dengan gayanya, dia sangat senang Andra mencarinya, semenjak mereka tunangan, Andra sangat sulit untuk di temui, mereka juga sangat jarang
berhubungan dengan alasan Andra terlalu sibuk. Hari ini tentu Nadine sangat
senang karena tiba-tiba Andra mencarinya.
" Andra! " kata Nadine berhambur memeluk Andra, namun Andra hanya terdiam, tidak
membalas sedikitpun pelukan Nadine. Nadine yang merasa tidak di respon lalu
melepaskan pelukannya.
" Ada apa? " kata Nadine melihat wajah dingin Andra.
__ADS_1
" Apa yang kau katakan pada Keenan tentang Ayatha? " kata Andra to the point.
Wajah Nadine langsung berubah, wajahnya sangat kesal, Andra jarang mencarinya, sekalinya mencari dia malah menyinggung Ayatha.
" Apa kau tidak rindu padaku? Kenapa menanyakan Ayatha sekarang? " kata Nadine
mencoba menahan rasa kesalnya
" Baiklah Nadine, aku rasa ini saatnya, aku sudah tidak ingin lagi berpura-pura, kau juga
tidak perlu berpura-pura, mari batalkan pertunangan ini, " kata Andra juga
mencoba menjaga sikapnya.
" Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengatakan apapun pada Keenan, dan kenapa kau membatalkan pertunagan kita? " kata Nadine tidak bisa lagi menahan
emosinya.
" Nadine, aku sama sekali tidak memiliki rasa apapun padamu, aku rasa kita akan saling
menghancurkan jika terus seperti ini, " kata Andra mencoba bersabar
" Tidak! Aku tidak mau, aku sangat mencintaimu, kau hanya milikiku, " kata Nadine hampir histeris
" Nadine, aku hanya mengganggapmu sebagai temanku, tidak lebih, aku menerima pertunangan ini karena ayah dan ibuku, kau sendiri tahu dari awal aku ingin membatalkan
pertunagan ini, " kata Andra menjelaskan
" Ini semua pasti karena Ayatha kan? Dia mengoda mu lagi kan? Wanita itu benar-benar
murahan, " kata Nadine
" Jaga bicaramu Nadine! " kata Andra sekarang tidak bisa lagi mengontrol emosinya
Nadine terdiam karena di bentak oleh Andra, dia sangat membenci Ayatha, dia yang
menyebabkan semua ini, selama 2 tahun ini, walaupun Andra jarang sekali
menghubunginya, dia merasa sangat bahagia, karena apapun Andra adalah miliknya,
sekarang Andra kembali seperti ini, Ayatha, aku benar-benar akan melenyapkanmu,
pikir Nadine.
Nadine melihat pisau buah yang ada di dekatnya, mengambilnya, lalu meletakannya di pergelangan tangannya. Andra yang melihat itu langsung kaget, Septi yang juga
ada melihat itu kaget.
" Nadine, apa yang kau lakukan? " kata Andra
" Kau hanya milikku, kalau kau mau memutuskan pertunangan ini, silahkan, tapi aku lebih memilih mati dari pada harus melihatmu dengan yang lain, " teriak Nadine
dengan wajah menahan nyeri, darah menetes di pergelangan tangannya yang putih.
" Nadine, kau sudah kehilangan akalmu? " kata Andra kesal namun serba salah, dia
takut jika dia terus memaksa, Nadine akan benar-benar melakukan bunuh diri,
tapi dia juga kesal melihat tingkah Nadine.
" Iya, aku sudah kehilangan akalku gara-gara mencintaimu, apa sih kurangnya aku Andra?
aku sangat mencintaimu dari awal, aku rela melakukan apapun untukmu, "
kata Nadine menangis
Andra terdiam, dia menekan giginya, menahan diri untuk tidak memperburuk suasana.
" Nona, letakkan pisau itu, anda tidak boleh melakukan hal ini, " kata Septi
membujuk Nadine
" Diamlah, aku tidak butuh apapun, Andra...aku tidak main-main sekarang, jika kau tetap membatalkan pertunangan kita, aku benar-benar akan membunuh diriku, " kata Nadine
__ADS_1
Andra masih diam, menatap Nadine dengan serba salah.
" Tuan Andra, tolong turuti keinginan nona Nadine, kami mohon, " kata Septi yang panik