Meadow

Meadow
Apa yang terjadi ke depannya, biarlah terjadi


__ADS_3

Setelah beberapa hari Raphael di rawat di sana, dia diperbolehkan pulang, keesokan harinya mereka pulang ke Jakarta, Andra tidak pernah lagi terlihat sejak itu, begitu juga Randi, Randi hanya mengirimkan pesan bahwa ada beberapa hal yang harus di kerjakannya. Ayatha percaya, dia hanya pulang dengan Raphael dan pengasuhnya yang juga sudah membaik.


Ayatha sampai di rumahnya, baru saja sampai dia melihat Randi yang sedang menunggunya di depan rumah, Ayatha menatap Randi dengan sedikit penasaran. Sudah tidak lama memberi kabar, tiba-tiba saja muncul.


" Papi!!," teriak Raphael menghambur ke arah Randi, Randi tersenyum lebar lalu mengendong Raphael.


" Dari mana saja, tidak memberiku kabar sama sekali?, " kata Ayatha menatap Randi.


" Maaf meninggalkan kalian berdua, Andra sudah sehat ya?, "kata Randi melihat Raphael, Raphael mengangguk dengan keras, dia lalu minta turun, Randi melepaskannya.


" Kemana saja? lihat kau bertambah hitam, bagaimana menikah jika seperti itu?, " kata Ayatha menatap Randi.


Randi hanya tersenyum, senyumnya penuh arti.


" Ada apa? Tidak biasanya seperti ini, " kata Ayatha.


" Tidak apa-apa, hanya terlalu merindukanmu, ke dalam yuk, " kata Randi.


Ayatha hanya tersenyum heran, jarang sekali Randi seperti ini, biasanya kalau dia di tanya, pasti Randi langsung menjawabnya, dia bukan pria yang bertele-tele dan pintar mengoda.


"Baiklah," kata Ayatha


Ayatha langsung masuk, lalu dia mengarah ke kamarnya, Randi mengikutinya dari belakang, dia masuk ke dalam kamarnya, Randy pun begitu, setelah meletakkan tasnya di ranjang, Randy memeluk Ayatha dari belakang, membuat ayatha kaget dan mematung. Tiba-tiba dia teringat bahwa Andra sangat sering memeluknya dari belakang dulu.


" Aku sangat merindukanmu, " kata Randi, Ayatha kembali terdiam, kata-kata itu juga sering di katakan oleh Andra, kenapa sekarang hatinya malah sakit.


Randi melepaskan pelukannya, lalu membalikan tubuh ayatha, Randi menatap Ayatha dengan sangat dalam, Ayatha pun cuma menatap Randi, ada apa dengan Randi?


Randi mendekat dengannya, Ayatha tahu apa yang ingin di lakukan oleh Randi, dia segera membuang wajahnya, menunduk, hingga Randi berhenti mendekatinya. Randi kecewa, yang selama ini menghantuinya memang benar, Ayatha masih belum bisa menerimanya, hatinya masih milik andra.


Randi melepaskan tangannya dari tangan Ayatha. Ayatha melihat kearah Randi, dia terlihat suram, Ayatha tahu kekecewaan Randi, namun hati kecilnya sangat menolak melakukan hal itu.


" Maaf kan aku, " kata Ayatha


" kau tadi bertanya bagaimana menikah jika aku begini, sekarang aku bertanya, bagaimana kita menikah jika begini?"kata Randy kecewa nada bicaranya meninggi, selama ini Randy tak pernah marah, Ayatha jadi terkejut mendengar suara Randi yang menenuhi ruangan itu


Ayatha terdiam, menatap wajah Randy, mata coklatnya itu memancarkan kesuraman.


" kau masih mencintainya kan?" kata Randi lagi, ayatha hanya menatapnya.

__ADS_1


" Bisakah kau menjawab? Tolong beri tahu aku, aku sudah mau gila memikirkan ini semua" kata Randi, dia tidak bisa lagi menutupi emosinya


" Maafkan aku" kata Ayatha menjawab sebisanya.


Randi terdiam, dia tahu apa jawaban ayatha. dia lalu mengeleng gelengkan kepalanya sambil tertawa, tapi tawanya menyimpan luka.


" Ah ... 3 tahun bersamamu, tidak bisa mengantikan posisinya, percuma saja," kata Randi, Ayatha melihat Randi yang terlihat frustasi. Melihat itu hati ayatha tidak nyaman, tapi dia hanya bisa diam saja.


" Selena, kita berpisah saja ya," kata Randi lagi, hati ayatha bertambah tidak enak, dia masih bisa melihat Randi tersenyum getir.


" Aku sudah berpisah dengannya," kata Ayatha


" Iya, aku tahu, kalian memang berpisah, raga kalian terpisah, tapi hati kalian tidak," kata Randi lagi


" Maafkan aku," kata ayatha menunduk


" Hey, jangan seperti itu, walaupun kita berpisah, aku akan tetap bersamamu, sebagai sahabat, " kata Randi mendekati ayatha.


Ayatha terdiam sejenak, menatap Randi dalam-dalam, Randi tersenyum, mengambil tangan ayatha, dia melapaskan cincin di jari manis ayatha, memengang cincin itu erat. Dari mata Randi kelihat luka hatinya. namun ayatha memang tidak memiliki rasa apapun padanya.


" Sekarang kau bebas ... kerjarlah cintamu, mencintai dan di cintai itu sangat susah di dapatkan ... jangan sampai menyesal," kata Randi lagi


" Aku tidak bisa," kata ayatha, matanya sedikit basah.


"Aku tidak bisa bersama dia, dia sudah menyerah pada ku, lagi pula aku yang memintanya menjauh, aku takut apa yang terjadi padaku akan terjadi pada Andra" kata Ayatha, matanya berkaca-kaca.


" Menyerah karena kau memintanya, maka dia menyerah, jika kau ke sana dan mencarinya, aku yakin dia akan kembali, ketakutan juga karena belum di jalani, kalau kalian bersama, semua rintangan akan di jalani bersama itulah baru hidup... Lagi pula bukannya bertahan melawan semuanya lebih baik rasanya dari pada berpisah? "kata Randi memberi nasehat, Ayatha menatap Randi, iya memang iya... sampai kapan ketakutan ini membuat Ayatha menyiksa dirinya, bahkan dia tega memisahkan raphael dengan ayahnya hanya karena ketakutannya, hal yang di takutkan juga belum tentu terjadi bukan? Ketakutan hanya membuat kita berhenti.


" Baiklah," kata Ayatha seadanya


" Jangan menyerah, dia pasti sangat mencintaimu, datang ke sini, menunggu berapa lama, pasti sangat susah,"


" Iya aku tahu," kata Ayatha


"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya, besok aku harus sudah pergi ke Thailand."


"Kenapa ke sana? " kata Ayatha


" Mencari suasana baru, bekerja disana beberapa pekan," kata Randi tersenyum

__ADS_1


" Aku ingin sekali lagi kita bertemu kau akan membawa pacarmu," kata Ayatha tersenyum.


" Aku tidak janji, patah hati tidak semudah itu di sembuhkan, belum ada obatnya kata dokter," kata Randi bercanda


Ayatha tertawa, Randi pun juga, ayatha mendekatkan diri ke arah Randi, di sambut pelukan hangat Randi, Randi memeluknya dengan erat, menghirup aroma tubuh ayatha yang wangi, ingin mengingatnya dalam-dalam. Pertama kali jatuh cinta...dan hasilanya adalah bertepuk sebelah tangan.


Setelah itu Randi langsung permisi untuk mengemasi barang-barangnya, dia berpamitan dengan Raphael, Raphael tampak sedikit sedih karena kehilangan orang yang sering bermain dengannya. Randi melambaikan tangannya dengan lembut, Raphael dan Ayatha membalasnya hingga Randi tak terlihat, di saat terakhir terlihat Randi masih saja tersenyum ciri khasnya. Ayatha menatap Raphael.


" Andra ingin pulang?"kata Ayatha menatap anaknya


" Bukannya sudah di rumah,"kata Raphael tidak mengerti kata ibunya


" Kita pulang ketempat paman maxi, dan nanny, disana juga ibu akan bawa Andra ketempat terakhir nenek dan kakek, juga ketempat tante Yosa," kata Ayatha menjelaskan.


" Iya mau," kata Andra sambil mengangguk dengan kuat, Ayatha melihat reaksi raphael yang lucu sangat senang, dia mencium pipi anaknya.


" Baiklah, ibu akan bilang ke paman Maxi," kata Ayatha.


" Yah...aku kangen Nanny," kata Raphael lagi


" Ibu juga, ayo masuk, di sana udaranya lebih dingin, andra pasti suka," kata Ayatha menjelaskan.


"Benarkah? " kata Raphael


" Iya," kata Ayatha, dia mengambil handphonenya, lalu menekan nomor maxi.


" Halo kakak," kata Ayatha


" Ada apa Selena?"kata maxi lagi


" Aku ingin pulang, bisa kah?" kata Ayatha


Maxi terdiam, tidak menjawab, Ayatha menunggu respon kakaknya.


"Apa kau sudah mempertimbangkannya, bagaimana dengan andra?"kata Maxi


" Aku sudah mempertimbangkannya, kami tidak mungkin selamanya berlari, semua masalah harus di hadapi kan? Lagi pula kakak ada dibsana, aku yakin andra akan aman," kata Ayatha


"Baiklah, jika itu keputusanmu, aku akan siapkan semua untuk kepulanganmu, bersiaplah "kata Maxi

__ADS_1


" Baiklah," kata Ayatha


Dia menutup teleponnya, memandang ke arah Raphael yang sibuk bermain dengan mainannya, dia mengelus kepala anaknya, apa yang akan terjadi kedepannya, biar lah terjadi.


__ADS_2