
Sejak itu suasana rumah tampak lebih dingin, Andra lebih banyak di kantor dengan
kerjaannya, sedangkan Wayren tidak lagi berbicara pada keluarganya, dia muak
atas kepura-puraan dan keegoisan keluarganya.
Nyonya Renata bisa merasakan perubahan Wayren, dia mendatangi kamar anaknya, ingin tahu apa
yang sebenarnya terjadi.
" Bolehkah Ibu masuk?" Kata Nyonya Renata yang melihat Wayren sedang duduk
di kamarnya sendiri.
Wayren melihat ibunya sekilas,
" Masuklah, ini kan rumahmu Bu " kata Wayren seadanya dengan wajah yang
seperti menegaskan dia tidak ingin bertemu siapapun.
Nyonya Renata duduk di sampingnya, memegang tangan Wayren, namun Wayren segera menariknya.
" Ada apa?" kata Nyonya Renata pada anaknya dengan lembut
Wayren hanya tersenyum malas, Nyonya Renata tahu sifat Wayren, jika dia melakukan itu...
Pasti dia sedang marah padanya.
" Ibu rasa ini waktu yang tepat membicarakan apa yang kau rasakan, apa kau tidak
percaya Ibu lagi?" Tanya Nyonya Renata
" Bukankan tidak ada yang bisa di percaya di keluarga kita, oh.. ini bukan
keluarga, ini hanya perkumpulan bisnis, " kata Wayren dengan nada
mengejeknya, Nyonya Renata terkejut namun mencoba tenang.
" Apa maksudmu? " Kata Nyonya Renata lagi
" Ibu tahu, Ayatha dan Andra saling mencintai? "
" Iya Ibu tau, "
Wayren diam, dia terkejut ibunya tahu soal Ayatha dan Andra
" Lalu kenapa ibu mendukung Andra untuk bertunangan dengan Nadine, aku tidak percaya Ibu
melakukan itu, " kata Wayren
" Ibu melakukannya karna Ibu tau yang terbaik untuk Andra, " kata Nyonya Renata
pelan
Wayren menatap ibunya, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Ibu bilang Ibu menyayangi Andra, Ibu seharusnya tau, Andra dan Ayatha seharusnya
bersatu, " kata Wayren lagi, dia kesal sekarang
" Karena Ibu menyanyangi makanya ibu harus melakukan ini semua, Andra hanya anak
di luar nikah, jika hal itu sampai keluar, maka seluruh masa depannya akan
hilang, dengan menikahi Nadine, kedudukannya akan kuat, dia akan menjadi
menantu orang yang hebat, tidak akan ada yang bisa mengusiknya nanti, "
kata Nyonya Renata lagi.
" Tidak, Ibu tidak mencintainya, " kata Wayren tersenyum
Nyonya Renata kaget, Namun hanya diam saja
" Ibu tidak menyanyanginya, Ibu membiarkannya menikahi wanita yang tidak dia cintai,
itu akan menghancurkan hidupnya, apakah Ibu mau Andra jadi seperti Ayah,
melakukan hal yang sama seperti cerita Ibu, Ayah dan Hara? Apa ibu yakin Nadine
bisa menerima anak hasil selingkuhan seperti Ibu juga? " Kata Wayren lagi.
Nyonya Renata tiba-tiba menampar Wayren, setelah itu Nyonya Renata tampak kaget dengan apa
yang baru saja dia lakukan pada Wayren, dia adalah wanita penyayang, dia wanita
yang tidak tega memukul anaknya, namun kali ini dia merasa apa yang dikatakan Wayren
sudah keterlaluan.
Wayren terdiam, Ini pertama kalinya ibunya memukulnya...
" Sejak kecil aku selalu iri pada Andra, kau selalu membelanya, memujinya, aku bahkan
pernah berpikir apa mungkin sebenarnya aku lah yang bukan anakmu, tapi hari
__ADS_1
ini, aku bersyukur aku bukan Andra, untuk pertama kali dalam hidupku Ibu, aku
senang aku bukan Andra, jika tidak, hidupku akan sepertinya, aku rasa aku
memang bukan seorang Tadder" kata Wayren berdiri lalu pergi meniggalkan
ibunya yang masih terdiam.
_____________________________________________________
Seminggu sudah, Andra tidak pernah menghubungin Ayatha, Ayatha hanya di rumah, menatap
ponselnya, dia selalu mengecek semuanya, takut tiba-tiba ada pesan ataupun
sesuatu dari Andra. Ayatha tidak berani menghubungi Andra, karena Andra
memintanya untuk menunggu.
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, maya segera ingin membukakan pintu, namun Ayatha berjalan
duluan, dia sangat berharap Andra yang datang. Dia membuka pintu, melihat
sekilas, senyumnya sedikit memudar, ternyata Wayren.
" Hai," kata Wayren
" Hai, " kata Ayatha tersenyum
" Kecewa aku bukan Andra? " kata Wayren membalas senyuman Ayatha
" Oh, tidak bukan begitu, " kata Ayatha
" Aku ingin tahu keadaanmu, urusan sekolahku baru selesai, makanya hari ini aku baru
bisa bertemu dengan mu, ada waktu? " kata Wayren
" Oh, iya, tentu, " kata Ayatha
" Ayo keluar makan es krim, " kata Wayren
" Oh, baiklah, tunggu sebentar ya, aku siap-siap dulu, masuklah, " kata Ayatha
" Tidak perlu, aku tunggu di sini saja, " kata Wayren
" Baiklah, sebentar ya, " kata Ayatha.
Ayatha segera bersiap-siap, setelah selesai dia segera menemui Wayren yang ada di
luar. Wayren tidak bisa berkedip melihat Ayatha, dengan gaun putih simple, dia
" Kau sangat cantik dengan gaun itu, " kata Wayren mengutarakan pikirannya
" Terima kasih, " kata Ayatha tersenyum
" Ayo, " kata Wayren
Dia membuka kan pintu mobilnya untuk Ayatha, Ayatha segera masuk, dan mereka langsung
pergi. Wayren mengajak Ayatha kesebuah kedai es krim, tempatnya lucu, tidak
terlalu besar namun nyaman, es krimnya juga enak.
" Dari mana kau tau tempat seperti ini? " kata Ayatha mengambil sedikit ice cream
pesanannya
" Hanya membaca beberapa review, lalu aku ingat ingin membawamu ke sini, ujian sangat
merepotkan, " kata Wayren
" Oh, bagaimana keadaan di rumah?" kata Ayatha tersenyum
" Semua baik, Bibi Moi sangat kesepian saat kau tidak ada, dia lebih banyak termenung
sekarang, " kata Wayren tersenyum indah.
" Oh, begitu, " kata Ayatha tersenyum
" Kau tidak ingin menanyakan keadaan Kakakku?" kata Wayren yang bisa menangkap
isi pikiran Ayatha
" Eh..." kata Ayatha sedikit kaget
" Dia baik-baik saja, Ayah sudah pulang, jadi terlalu banyak pekerjaan yang dia urus,
tenanglah, nanti juga dia akan menghubungimu, " kata Wayren tersenyum,
sebenarnya hatinya sedikit sakit, dia tahu Andra tidak akan ada lagi untuknya.
" Oh, iya aku mengerti kok " kata Ayatha lagi
" Kau sudah resmi bercerai ?" kata Wayren
" Iya, mungkin bulan depan suratnya akan keluar, " kata Ayatha
__ADS_1
" Kau hebat sekali, " kata Wayren
" Hebat kenapa? " kata Ayatha
" Kau sudah melewati banyak hal dan kau tetap bisa tersenyum, " kata Wayren lagi
" Yah seperti itu lah, " kata Ayatha.
" Ayatha, kalau Kakakku pergi dari mu? Bisakah kau menyukai orang lain? " kata Wayren
tiba-tiba, Ayatha melihat kearah Wayren, dia mengerutkan dahinya.
" Kenapa?" kata Ayatha
" Tidak apa-apa, hanya ingin mencoba sekali lagi, mana tahu ada sedikit kesempatanku
untuk mendapatkanmu, " kata Wayren lagi dengan tawa kecilnya, membuat Ayatha
juga ikut tertawa.
Melihat tawa Ayatha, Wayren menyimpan senyumnya, dia tidak tahu caranya bagaimana untuk
mengatakan pada Ayatha, kakaknya akan bertunangan dengan Nadine, serasa ada
batu besar sekarang yang menimpa pundaknya.
" Ada apa? Kau tampak tertekan dari tadi ?" kata Ayatha yang bisa melihat raut
wajah Wayren
" Tidak, tidak ada apa-apa, "kata Wayren salah tingkah
" Apa
ini tentang Andra? " kata Ayatha lagi, dia hanya tersenyum kecil
" Ehm... " kata Wayren lagi
" Kapan dia akan bertunagan? " kata Ayatha menguatkan diri, seminggu yang lalu,
dia sudah tahu, Andra pasti akan bertunangan dengan Nadine, kalau tidak dia
tidak akan meninggalkannya sendiri tanpa kabar seperti ini.
" Minggu depan, " kata Wayren menatap Ayatha dengan suram, Ayatha hanya tersenyum,
namun hatinya runtuh, jantungnya serasa ingin copot, serasa ada seember air es
yang mengguyur badannya, dingin hingga ingin mengigil, namun dia menutupinya,
tidak boleh terlihat lemah, namun seberapa pun dia berusaha, air matanya tetap
berkumpul di wajahnya.
Wayren melihat itu, wajah Ayatha memang tersenyum, namun air matanya mengalir di sudut
matanya, Wayren segera menghapus air mata Ayatha, hatinya teriris, dia di sini
ingin menghibur Ayatha, namun tetap saja Ayatha sedih, bahkan ketika dia di
sampingnya, air matanya pun tetap mengalir.
" Jangan menangis, " kata Wayren lembut
" Aku tidak menangis, hanya kedinginan, es krimnya membuat otakku membeku, "
kata Ayatha mencari alasan
" Aku sudah bilang, jangan jatuh cinta pada Kakakku, kau hanya akan menderita, "
kata Wayren lagi
" Sepertinya memang seharusnya aku jatuh cinta padamu ya? "kata Ayatha tertawa kecil
mencoba mencairkan suasana yang sedih
" Kenapa kau baru sadar sekarang? " kata Wayren juga mencoba tertawa.
" Entahlah, apa kau masih mau denganku? Sekarang statusku seorang janda loh, " kata Ayatha
" Jangankan janda, bahkan jika kau istri orang juga aku akan tetap mau denganmu, "
kata Wayren
" Dasar, itu tidak baik, " kata Ayatha tertawa
" Baiklah, karena hari ini kau sedang sedih, bagaimana jika aku jadi temanmu, hari ini aku
akan menemanimu, kemana saja, " kata Wayren
" Benarkah? Kemana saja?" kata Ayatha.
" Iya "
" Aku ingin pergi kesuatu tempat, " kata Ayatha
__ADS_1
" Baiklah, ayo kita pergi sekarang " kata Wayren