Meadow

Meadow
Jika di dunia ini ada kehidupan selanjutnya, aku ingin jadi pria yang menjagamu.


__ADS_3

Pagi harinya Andra menemani Ayatha untuk melakukan pemeriksaan kandungan, Andra yang mendorong Ayatha sendiri di kursi rodanya, Ayatha sedikit gugup.


 


 


" Kenapa? "kata Andra lembut


 


 


" Aku takut terjadi hal yang tidak di inginkan, " kata Ayatha memegang tangan suaminya.


 


 


" Tidak akan ada yang terjadi, lagi pula apapun yang terjadi aku akan ada di sampingmu, " kata Andra.


 


 


Mendengar itu hati Ayatha menjadi tenang, tak lama mereka masuk kedalam ruangan dokter kandungan, Jeremy juga ada di sana.


 


 


" Hai, sudah siap? " kata Jeremy pada Ayatha.


 


 


" Iya." kata Ayatha, dia lalu bangkit dari kursi rodanya, Andra dengan sabar menuntunnya menuju ke tempat USG, dokter lalu melakukan pemeriksaan, Andra memegangi tangan istrinya, menatap layar USG yang sama sekali tidak dia mengertinya. Dokter kandungan saling berpandangan dengan Jeremy. Wajah mereka tampak kaget. Memperhatikan itu Ayatha dan Andra tampak cemas, apa kistanya bertambah parah?


 


 


" Kapan haid terakhirmu? " kata Jeremy pada Ayatha.


 


 


" Karena penyakit itu haidkut tidak lancar, beberapa bulan ini aku bahkan tidak haid. " kata Ayatha, Jeremy mendengar itu hanya mengangguk-angguk, sesekali bebicara dengan dokter itu dengan bahasa kedokteran yang tidak dimengerti Ayatha dan Andra.


 


 


" Baiklah, kita sudah dapat hasilnya, kita jelaskan di sana saja. " kata Dokternya.


 


 


" Baiklah. " kata Ayatha bingung, apa keadaanya benar-benar parah hingga dokternya pun harus menjelaskan di sana.


 


 


Ayatha dan Andra duduk bersampingan, Andra mengenggam tangan Ayatha agar dia nyaman, tapi Ayatha malah tambah cemas.


 


 


" Kenapa? " kata Ayatha.


 


 


" Di rahim Anda memang terdapat kista, selain itu…" kata Dokter itu terpotong menunjukan foto USG yang terprint.


 


 


" Selain itu? " kata Andra bingung.


 


 


" Haha… aku sengaja menyimpan ini, selamat yah Ayatha dan Andra, kalian akan punya bayi kecil lagi, " kata Jeremy tersenyum bahagia.


 


 


Andra dan Ayatha terdiam, masih tidak percaya dengan kata-kata Jeremy.


 


 


" Apa? Maksudnya?"kata Ayatha masih bingung.


 


 


" Iya, kau hamil, " kata Jeremy senang.


 


 


" Benarkah? Tapi bukannya kata dokter itu Ayatha akan sulit hamil, " kata Andra tak percaya.


 


 


" Iya, memang bisa, tapi kan bukan tidak mungkin, yang pasti kau positif hamil. " kata Jeremy menyakinkan.


 


 


Andra dan Ayatha saling berpandangan, di mata mereka terpancar kebahagiaan, sekarang semuanya sudah lengkap, Andra memeluk Ayatha, tawa dan senyuman bahagia tak lepas dari wajah mereka.


 


 


" Nyonya, keadaan anda sedikit lemah, jangan terlalu lelah, jaga kesehatan Anda, Saya akan memberikan vitamin, dan penguat kandungan untuk Anda, " kata dokter itu.


 


 


" Bagaimana dengan kistanya dok? " kata Ayatha khawatir akan kandungannya terganggu karena kistanya.

__ADS_1


 


 


" Tidak perlu khawatir, kita bisa membuangnya saat Anda melahirkan nanti, " kata dokter itu.


 


 


" Oh, baiklah," kata Ayatha.


 


 


" Aku doakan anak kalian sehat selalu dan tumbuh dengan sempurna," kata Jeremy.


 


 


" Terima kasih, " kata Andra menjabat tangan Jeremy.


 


 


Andra lalu dengan semangat mengantar Ayatha kembali ke ruangannya, dia sangat senang, hingga sangat hati-hati membawa istrinya. Dia lalu dengan lembut memposisikan Ayatha agar kembali berbaring setibanya di ruangan.


 


 


" Terima kasih ya, kado ulang tahunku tahun ini yang paling berkesan, " kata Andra.


 


 


" Haha, aku saja tidak tahu ini akan jadi kado ulang tahunmu, " kata Ayatha.


 


 


" Jangan terlalu lelah, mulai saat ini aku akan lebih sering di sampingmu, makan yang bergizi, " kata Andra.


 


 


" Jangan khawatir, aku sudah pernah hamil, jadi tahu apa yang harus aku lakukan, " kata Ayatha.


 


 


" Tapi kan aku baru pertama kali menjagamu, aku akan lebih cerewet, biasakan lah, " kata Andra mengecup dahi istrinya.


 


 


" baiklah, suami"kata Ayatha tersenyum


 


 


Handphone Andra berbunyi, dia melihat ternyata dari Pak Wang, dia ingin mematikannya, tapi Ayatha menyuruhnya untuk mengangkat panggilan itu.


 


 


 


 


" Maaf Tuan, Ayah anda keadaannya memburuk"


 


 


" Benarkah?! " kata Andra.


 


 


" Sebaiknya Tuan datang kesini, di sini juga sudah ada Nyonya besar, dan Tuan Wayren sudah menuju ke sini,"  kata Pak Wang.


 


 


" Baiklah. " kata Andra memutuskan panggilan.


 


 


Ayatha mengamati wajah suaminya, ada kecemasan di sana.


 


 


" Ada apa?"kata Ayatha


 


 


" Aku harus menemui ayah, keadaanya memburuk."kata Andra.


 


 


" Ehm, bolehkan aku ikut? "kata Ayatha.


 


 


" Tapi kau butuh istirahat, tidak boleh kecapekan, "kata Andra.


 


 


" Aku hanya duduk di kursi roda, itu tidak akan membuat aku kelelahan, lagi pula aku sudah tidur 1 harian semalam," kata Ayatha.


 


 

__ADS_1


" Baiklah, aku juga akan lebih tenang jika kau ikut, "kata Andra tersenyum.


 


 


Dengan pelan dan perlahan Andra memposisikan Ayatha di kursi roda, lalu membawa Ayatha keruangan ayahnya, saat dia membuka pintu, ibunya sedang berada di samping ayahnya. Wayren belum sampai, saat Tuan Ray melihat Andra dan Ayatha, air matanya mengalir.


 


 


" Ayah, "kata Andra mendekati ayahnya. Tuan Ray ingin berbicara namun terhalang sungkup oksigennya.


 


 


Tak lama Wayren sampai, saat Wayren sampai, semua orang menatapnya, Tuan Ray juga menatap Wayren, namun dia tidak mendekat, hanya berdiri, bersandar ke dinding.


 


 


" Andra…maafkan aku" kata Tuan Ray lemah dan terbata


 


 


Andra hanya memperhatikan ayahnya, wajahnya yang biasa keras, tegas, sekarang terlihat lesu, telihat lemah, padahal dari dia kecil, ayahnya tak pernah seperti ini, benar-benar kasihan melihatnya.


 


 


" Aku…bukan ayah yang baik….maafkan….aku. "kata Tuan Ray lagi


 


 


" Sudah ayah, beristirahat lah, aku pasti akan memaafkan mu, "kata Andra menatap mata ayahnya yang coklat, ayahnya pun memperhatikannya, lalu tersenyum, senyuman yang belum pernah dia berikan pada Andra, begitu lebar dan tulus.


 


 


" Kau….mirip sekali…dengan…Ibumu, "kata Tuan Ray lagi


 


 


Andra tersenyum, tak di sangka dia cukup terharu mendengar kata-kata ayahnya. Tuan Ray melihat kebelakang Andra, menatap lurus kearah Ayatha…


 


 


" Maafkan aku…. Semua yang aku lakukan padamu, "kata Tuan Ray pada Ayatha.


 


 


" Tidak apa-apa ayah, aku memaafkanmu, " Kata Ayatha tersenyum, Andra menatap Ayatha, Ayatha hanya tersenyum.


 


 


Tuan Ray menatap jauh kearah Wayren, dia anak yang selama ini di banggakannya,walaupun sebenernya bukan anaknya, namun sifat Wayren sebenarnya lebih cocok menjadi anaknya.


 


 


Wayen menatap Tuan Ray, bagaimana pun pria ini dari dulu memberikannya kehidupan, membuat masa kecilnya penuh dengan kesenangan, walaupun perlahan-lahan dia tidak menyukainya, tapi bagaimana pun, ayah yang dia kenal hanya Tuan Ray. Wayren mengangguk, Tuan Ray tersenyum…


 


 


Mata Tuan Ray nanar melihat istrinya, dia wanita yang selalu ada disampingnya, benar-benar tidak mengeluh walaupun seluruh hidupnya sebenarnya penuh dengan kesengsaraan, dia tidak pernah memperdulikannya, tapi dia tetap melayaninya dengan baik, dia yang sudah menghancurkan hidup wanita ini.


 


 


" Renata, maaf kan aku, "kata Tuan Ray berat


 


 


" Sudah, aku sudah memaafkanmu, aku minta maaf juga sudah melakukan hal yang tidak pantas,"kata Nyonya Renata menatap Tuan Ray


 


 


" Itu bukan salahmu, aku tahu, ini karena kau juga pasti membenciku dengan segala tindakanku, Alexander meninggal di tempat dia di tugaskan, bahkan aku tak bisa menemukan jasadnya, tapi yang aku tahu semua tentara itu di buang ke laut," kata Tuan Ray sekuat tenaga menagatakan itu.


 


 


Nyonya Renata kaget mendengarnya, air matanya keluar begitu saja, Wayren juga kaget.


 


 


" Terima kasih, "kata Wayren yang Sekarang berdiri di belakang ibunya, menenangkan ibunya yang masih menangis, Tuan Ray tersenyum lebar.


 


 


" Jika di dunia ini memang ada kehidupan selanjutnya, aku akan minta untuk menjadi pria yang akan menjagamu, " kata Tuan Ray menatap Nyonya Renata lagi, parasnya yang cantik tetap saja cantik bahkan sedang menangis.


 


 


Nyonya Renata hanya mengangguk, pandangan Tuan Ray kosong, menatap kearah atas, setelah itu dia kesusahan untuk bernapas, Andra yang melihat itu panik, memanggil dokter, mereka lalu melakukan resutisasi, namun Tuan Ray tidak tertolong….


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2