
Nyonya Renata memperhatikan Andra yang sedang mencoba tuxedonya, Nyonya Renata sangat bahagia, melihat anaknya yang sangat tampan mengunakan tuxedo untuk pernikahannya nanti, 1 minggu lagi Andra dan Jessy akan menikah.
Andra tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar sangat jelas di wajah dan mata ibunya.
" Lihatlah, kau begitu tampan, " kata Nyonya Renata terharu, dia malah menangis
haru.
" Ini karena baju yang dipilih Ibu, " kata Andra menatap ibunya lembut, Nyonya Renata menatap wajah Andra lagi, lalu Nyonya Renata bebalik ke arah pelayan yang ada di sana, senyum lembut itu seketika hilang dari wajah Andra, berganti kesuraman yang sangat dalam.
" Akhirnya kau menikah juga, " kata Wayren yang melihat kakaknya merapikan
ujung bajunya
" Iya, " kata Andra, mencoba tersenyum, namun sulit. Wayren melihat hal itu.
"Cinta akan datang jika kalian terbiasa bersama, "kata Wayren memepuk pundak
kakaknya, membuat pantulan mereka berdua terlihat di cermin, sungguh pemandangan yang sangat indah.
" Bagaimana dengan Ibu dan Ayah? Mereka bersama? Adakah cinta di antara mereka? " kata Andra menatap Wayren tajam.
Wayren
terdiam, hanya tersenyum kecut... akhirnya ternyata begini, Andra harus
mengulangi hidup ayahnya, menikah dengan orang yang sama sekali tidak di
cintainya, mengapa hidup seperti ini? Apakah sejarah akan berulang?
Nyonya Renata dan Wayren tampak keluar dari ruang ganti itu, meninggalkan Andra sendiri, dia memandang wajahnya... pantulan di cermin memperlihatakan betapa tampan dan menawannya dia, apa lagi dengan tuxedo itu, benar-benar bagai pangeran di dalam
kisah-kisah dongeng. Namun wajahnya tetap suram
Setelah Andra selesai menganti bajunya, Pak wang tiba-tiba datang.
" Maaf, Tuan, " kata Pak Wang membuyarkan semua lamunan Andra
" Oh, Pak Wang, masuklah, " kata Andra
tersenyum lembut, dia sangat menghormati Pak Wang, dia adalah orang yang paling
setia padanya, ke mana pun Andra pergi, Pak Wang selalu setia di sampingnya.
" Anda tampak sangat tampan dengan pakaian itu, " kata Pak Wang, wajahnya
tampak ragu...Andra dapat menangkap keraguan itu.
" Ada apa pak? " kata Andra, menatap Pak Wang dengan heran, namun Pak Wang masih terlihat ragu
" Saya tidak tahu apakah hal ini harus saya katakan pada Anda atau tidak , ehm... aku rasa aku tidak perlu mengatakannya, maaf menganggu, " kata Pak Wang begitu ragu dan
gugup
Andra memandang heran dan penasaran dengan tingkah laku Pak Wang, Pak Wang tidak pernah begitu tampak ragu, dia orang yang sangat mengerti Andra, dan dia tahu Andra tidak suka jika dia ragu-ragu seperti itu.
" Pak Wang, katakan padaku apa yang ingin kau katakan? " kata Andra dingin
Pak Wang terhenti, jika Andra sudah seperti itu, dia tidak bisa lagi menolak. Pak wang
mendekati Andra dengan langkah ragu, membuat Andra makin penasaran.
Pak Wang menyerahkan tabletnya pada Andra, di sana ada sebuah foto, foto itu
memperlihatkan seseorang wajahnya tidak terlihat karena tertutup badan salah
satu orang mendorongnya, orang itu sedang di dorong oleh beberapa orang,
__ADS_1
seperti ranjang pasien, karena terlihat tiang infus di sampingnya. Andra menatap Pak Wang.
" Ada foto selanjutnya Tuan," kata Pak Wang masih ragu-ragu
Andra mengeser fotonya ke sebelah, tangannya bergetar melihat hal itu, di foto kedua, wajah orang itu terlihat jelas, itu Ayatha, di dekatnya Maxi terlihat, Ayatha
tampak tidak sadar, kepalanya di perban. Napas Andra tiba-tiba terasa berat,
bahkan serasa tidak bisa bernapas lagi.
" Jelaskan, " kata Andra tercekat
" Foto itu baru saya dapatkan beberapa hari yang lalu, foto-foto itu seharusnya di
hapus, namun seorang teman dari saya mendapatkan foto itu, lalu mengirimkan
pada saya, foto itu diambil 3 hari setelah pemakaman dari Nona Ayatha, " kata Pak Wang.
" Artinya? " kata Andra menatap Pak Wang tajam
" Kemungkinan besar, Nona Ayatha masih hidup, " kata Pak Wang
" Kenapa Pak Wang tidak memberikan saya foto ini lebih cepat? " kata Andra sedikit marah
" Anda sedang mempersiapkan pernikahan Anda, saya takut kabar ini akan membuat
semuanya berantakan, namun saya tidak bisa menyembunyikannya, saya tahu betapa
anda mencintai nona Ayatha, " kata Pak Wang
Mata Andra memerah, napasnya benar-benar berat, dia segera keluar, bahkan melewati Nyonya Renata dan Wayren, Nyonya Renata dan Wayren berpandangan dengan tatapan heran, kenapa dengan Andra?
Andra segeramenuju mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke arah kantor Maxi, begitu sampai dia langsung masuk dan naik ke tempat ruangan Maxi.
Dia segera mengarah ke ruangan Maxi, namun di hadang oleh Asisten Ed.
" Aku ingin bertemu dengan Maxi? " kata Andra.
" Tuan Maxi sedang tidak bisa diganggu, " kata Asisten Ed
Andra tidak peduli, dia menatap asisten ed dengan tatapan yang dapat mengintimidasi
siapapun, lalu dia memuka pintu ruangan Maxi dengan paksa,
Andra masuk dengan langkah yang mantap, asisten ed mencoba menghentikannya, namun kalah tenaga dengan Andra, Maxi melihat Andra masuk, Andra terus melangkah menuju ke arah Maxi, Maxi memberikan gestur untuk asisten Ed berhenti, Andra lalu
berhenti tepat di meja Maxi, Maxi menatapnya dengan heran.
" Ada apa Andra? " kata Maxi lagi
Andra meletakkan tablet yang sedang menunjukkan foto Ayatha, Maxi tampak terkejut, namun dia mencoba tenang.
" Foto ini diambil dari CCTV di bandara, di ambil 3 hari setelah pemakaman Ayatha,
jelaskan padaku bagaimana bisa Ayatha ada di bandara jika dia sudah dikuburkan?
dan data ini seharusnya terhapus, di mana dia? Apa yang kau tutup-tutupi dari ku? " kata Andra
Maxi melihat foto itu lagi, di foto itu memang terlihat jelas wajah Ayatha dan dirinya. Dia
tidak bisa mengelak, tanggal pengambilan pun terpampang jelas.
" Maxi, di mana Ayatha? " kata Andra emosi, matanya merah menatap Maxi
" Di suatu tempat di bumi ini, aku tidak akan memberitahumu, " kata Maxi menatap tajam pada Andra
Badan Andra lemas, hatinya terasa sangat lega, namun seperti kehilangan seluruh tenaganya.
__ADS_1
" Dia masih hidup? " kata Andra,
air mata berkumpul di matanya memburamkan penglihatannya.
" Masih, dia masih hidup, hidup sehat dan bahagia, " kata Maxi lagi.
Andra sangat senang, dia tidak percaya Ayatha masih hidup, selama ini dia selalu bermimpi akan menemukan nya, ternyata mimpinya benar... Ayatha masih hidup, rasanya dia ingin berteriak sekerasnya karena terlalu senang..
" Katakan padaku di mana dia ? "kata Andra
"Tidak akan, " kata Maxi dengan suara tajam
Andra terdiam... apa maksud Maxi tidak ingin memberitahukannya?
" Kenapa ? "kata Andra
" Andra, Ayatha sudah hidup dengan sangat baik 3 tahun ini, dia sangat bahagia sekarang,
aku tidak ingin ada siapapun yang menghancurkannya ? "kata Maxi
" Bagaimana dia bisa bahagia, kebahagiaannya hanya bersama ku, aku tahu itu, mungkin dia selalu tersenyum, tapi dia tidak akan bahagia, dia hanya bisa bahagia bersamaku, " kata Andra dengan nada tinggi
" Baginya kau sudah meninggal, " kata Maxi
Andra terdiam... bagaimana bisa? Andra masih hidup, jadi selama ini, Andra mengira Ayatha meninggal, dan Ayatha pun menganggap Andra sudah tidak ada.
" Bagaimana bisa kau melakukan hal sekejam ini ? " kata Andra menatap Maxi tak percaya.
" Kejam? Apa yang kau tau tentang kejam?, Ayahmu yang kejam, Ayatha terbaring
koma, 2 hari dengan kekuatannya dia bangun, mencarimu, namun yang datangnya
bukan dirimu, namun ayahmu, aku tidak tahu bagaimana dia bisa keluar, namun dia
mendatangi Ayatha, dalam keadaan yang begitu lemah, ayahmu mengatakan padanya
kau sudah meninggal, kau tahu bagaimana keadaannya, keadaanya langsung
memburuk, dia jatuh dalam koma kembali, bahkan dinyatakan sudah meninggal,
namun untungnya sesaat kemudian dokter bisa mengembalikan denyut jantungnya
lagi, lalu aku memalsukan kematiannya, menjaga dia, mengirimnya ke suatu
tempat, agar tidak di ganggu oleh kalian lagi, menurutmu apa aku kejam? " kata Maxi juga terusik emosinya
Andra terdiam... semua kembali karena Ayahnya, apa yang dia cari? Dia
benar-benar ingin menghancurkan hidupnya, apa mungkin karena Andra ibunya
meninggal, ayahnya juga ingin melakukan hal yang sama?
Andra lemas, dia berlutut di depan Maxi.
" Aku mohon, beritahu di mana dia? " kata Andra menatap Andra dengan tatapan sangat frustasi
" Bahkan jika kau memberikan seluruh perusahan dan kekayaanmu pun, aku tidak akan memberitahukannya, lepaskan dia Andra... biarkan dia hidup bahagia, dia bangkit dengan sangat susah payah, dia bahkan bagaikan tak hidup saat tahu kau sudah meninggal, hanya menatap kosong di kursi rodanya, sekarang dia sudah bisa
tertawa, aku tak akan mengambil resiko apapun untuk mengganti hal itu, lagi
pula kau sudah punya pengantinya bukan? Kenapa tidak merelakannya saja? " kata Maxi lagi
" Akuakan menemukannya, " kata Andra dengan tekat, lalu berdiri menatap Maxi dengan tajam
" Temukan lah, saat kau menemukannya, aku akan angkat tangan, berarti memang nasib kalian yang berjodoh, " kata Maxi
Andra mengertakan giginya dengan keras, dia emosi menatap Maxi, dia meninggalkan
__ADS_1
kantor Maxi.