
Hampir 2 tahun sejak Ayatha meninggal, Andra sudah kembali hidup seperti biasa, dia
sudah bekerja, bekerja dan terus bekerja, dia melampiaskan semua perhatiannya
pada pekerjaan, membangkitkan kembali High Empire, dan dia berhasil, setelah
ayahnya di tangkap perusahaan itu hampir saja bangkrut, namun sekarang, Andra
dapat membuatnya bangkit lagi.
Wayren juga sudah menyelesaikan kuliahnya, dia belajar sangat giat untuk menyelesaikan
semuanya tepat waktu agar bisa membantu kakaknya, sekarang dia lebih tenang dan
bertanggung jawab.
Ayah mereka di vonis penjara untuk waktu yang lama, namun tanpa tuan ray ternyata kehidupan Nyonya Renata lebih baik, dia lebih banyak pergi berlibur dengan nanny,
berjalan-jalan menikmati hidupnya.
Andra terduduk di ruangan yang dulu adalah ruangan ayahnya, dia adalah presedir High Empire sekarang, tak lama Wayren datang ke ruangannya, Andra melihat sekilas, lalu
melanjutkan pekerjaannya.
" Tidak makan siang? " kata Wayren
pada kakaknya, dia sedikit berubah, terlihat lebih rapi.
" Mungkin aku akan makan disini, bukannya kau ada janji dengan Risa? Aku tidak ingin menganggu, " kata Andra
" Haha, jangan terlalu serius, perusahaan kita sudah stabil, tidak perlu terlalu
maksakan diri," kata Wayren tertawa
" Tetap saja, pekerjaan tetap harus di kerjakan, " kata Andra lagi dengan senyum
menatap Wayren
" Ehm… sebeneranya, Risa memaksaku untuk mengajakmu makan siang, karena... " kata Wayren terpotong, Andra melihat ke arah Wayren, dahinya bertekuk.
" Karena apa? " kata Andra
" Dia ingin mengenalkanmu dengan seorang temannya, " kata Wayren lagi
Andra tersenyum...
" Maaf, aku tidak tertarik, " kata Andra lagi. Ada kesuraman di matanya, dia
sudah tidak bisa merasakan cinta lagi, sudah mati terkubur bersama jasad Ayatha.
" Ayolah Kak, sampai kapan kau menyendiri seperti ini, kau juga butuh cinta," kata Wayren
Andra menatap adiknya yang sangat berharap.
" Baiklah, tapi aku tidak suka di paksa, aku hanya ingin datang dan makan," kata Andra
" Baiklah, " kata Wayren
Andra segera bersiap-siap, lalu mereka segera turun dan pergi menuju tempat yang di tentukan oleh Risa.
Wayren berjalan duluan, di ikuti oleh Andra di belakangnya, wajahnya tampak dingin
seperti biasanya. Hanya bisa tersenyum jika dengan orang-orang tertentu.
Wayren segera menuju tempat Risa, Risa yang melihat Wayren melambaikan tangan dengan semangat, semangatnya bertambah ketika melihat Andra di belakang Wayren,
akhirnya Wayren berhasil juga membawa Andra.
" Halo Kak, " kata Risa
senang, Wayren menatap pacarnya, kenapa dia tidak disapa?
__ADS_1
" Halo, apa kabarmu? " kata Andra lagi
" Aku baik Kak, " kata Risa
Andra bisa melihat wanita yang duduk membelakanginya. namun dia sama sekali tertarik melihatnya.
" Owh,
iya, aku ingin mengenalkan Kakak dengan temanku," kata Risa
Wanita itu berdiri, berbalik, Andra melihatnya, wanita itu cantik, tinggi dengan rambut
hitam panjang hingga sepinggang, Andra menatapnya, namun tidak tertarik untuk
menatapnya lama-lama.
" Hai, nama ku Jessica, " kata Jessica menyodorkan tangannya
Andra menyambutnya seadanya.
" Aku Andra," kata Andra menaikkan sedikit sudut bibirnya, tidak terlalu punya minta untuk tertawa.
Wayren duduk di samping Risa, sedangkan Andra duduk di samping Jessica, Wayren, Risa dan Jessica saling mengobrol setelah makan, Andra sibuk dengan handphonenya.
" Kak, kau di sini ingin bermain handphone atau apa? " kata Risa protes
" Ada hal yang harus aku bereskan, " kata Andra
" Benarkah? Maaf kalau kami menganggu mu, " kata Jessy, panggilan Jessica
tersenyum, Andra melihat senyuman Jessy, entah kenapa dia merasa senyuman Jessy
terlihat mirip dengan senyum Ayatha.
" Tidak apa-apa, " kata Andra
terasa dingin.
Andra menatap Wayren, ternyata Wayren juga merasa begitu. Tiba-tiba rasa di dada Andra
kembali berat. Dia merasa tidak enak disana.
" Aku rasa aku harus kembali, " kata Andra menyela obrolan mereka yang terlihat seru.
" Oh, aku harus mengantar Risa ke suatu tempat, Jessy tidak punya kendaraan untuk
pulang, bisa kau antarkan dia? " kata Wayren
" Oh, tidak apa-apa, aku akan pulang sendiri," kata Jessy lagi, dia tersenyum manis. Andra terdiam, senyuman Jessy mirip sekali dengan senyuman Ayatha.
" kau benar-benar mirip dengan sesesorang," kata Wayren menatap kakaknya, sepertinya dia mengetahui senyuman itu milik siapa.
" Baiklah " kata Andra
" Terima kasih, " kata Jessy.
Andra bangkit dari tempat duduknya, di ikuti oleh Jessy, Risa dan Wayren masih
menunggu, mereka melihat kakaknya berjalan dengan Jessy, Risa dan Wayren
terlihat senang sekali, mungkin saja kakaknya nanti bisa melupakan Ayatha.
Andra masuk ke dalam mobil, Jessy mengikutinya, dia duduk di samping Andra, Andra menatapnya sekilas, wajahnya dingin.
" Maaf, apakah kita bisa berhenti sebentar di toko bunga? " kata Jessy
" Baiklah, " kata Andra, dia menepikan mobilnya ketika melihat toko bunga.
Jessy lalu turun, Andra sebenernya tidak punya minat untuk turun, namun dia lalu melihat bunga camelia putih di sana, dia lalu keluar. Dia menuju ke tempat bunga camelia
itu.
__ADS_1
" Wah, bunga camelia putih, cantik sekali, kau tahu artinya? Bunga ini untuk seseorang
yang kau rindukan, " kata Jessy tersenyum
Andra menatap Jessy, adegan ini pernah dilakukannya dengan Ayatha, benar... tiba-tiba
napasnya berat, dia pergi meninggalkan Jessy, Jessy mengerutkan dahi.
Andra kembali ke mobilnya, menunggu Jessy. Jessy membawa bunga sedap malam ke dalam mobil Andra, Andra memperhatikan, itu bunga kesukaan Ayatha.
" Bunga ini sangat harum, aku sangat menyukainya, kau tahu ini bunga apa? " kata Jessy
" Sedap malam, " kata Andra
seadannya
" Benar, " kata Jessy dengan senyum manisnya, Andra menatap wanita ini, kenapa dia sama seperti Ayatha, walaupun saat diam, Jessy tidak terlihat seperti Ayatha, namun ketika tersenyum, mereka terlihat sama, senyum mereka sama, bunga kesukaanya juga.
" Sekarang, maaf merepotkan ya, bisa antarkan aku ke rumah, rumah ku ada di perumahan white piony," kata
Jessy sambil memakai sabuk pengaman.
Andra terkejut, menatap Jessy dalam-dalam, perumahan itu juga perumahan Ayatha dulu,
gadis ini sebenarnya siapa?
" Kenapa? kenapa memandangiku seperti itu? " kata Jessy gugup, Andra terlalu tampan bahkan saat memasang wajah dinginnya
" Tidak apa-apa, akan aku antarkan, " kata Andra dingin
Andra mengantarkan Jessy masuk kedalam perumahan itu, dia berjalan menyisiri
perumahan itu, Andra tanpa sadar malah mengarahkan mobilnya ke rumah Ayatha
dulu.
" Wah, bagaimana kau tahu rumah ku? " kata Jessy menyadarkan Andra, dia kaget... ini
kan rumah Ayatha
" Ini rumah mu? "kata Andra
kaget
" Bukan, itu rumah kosong, rumahku di sebalahnya, aku baru pindah kesini, masih mendekorasi, makanya membeli bunga ini, " kata Jessy
Andra melajukan mobilnya sedikit lebih kedalam, melihat rumah Jessy yang persis di
samping rumah Ayatha. Dia ingat kejadian di rumah itu, hatinya menjadi sangat
sakit.
" Andra, terima kasih ya, " kata Jessy yang ternyata sudah di luar
" Sama-sama, " kata Andra
" Hati-hati ya, " kata Jessy tersenyum
Andra menatapnya lagi, dia terhipnotis akan senyuman itu, betapa akrab dan seperti
sangat familiar, wajah Andra suram, Jessy sudah berajalan masuk kedalam
rumahnya. Andra melihat punggung Jessy, gadis itu dari perawakan tubuh berbeda
dengan Ayatha. Ayatha gadis yang mungil, tidak terlalu tinggi, sedikit kurus,
putih. Jessy gadis yang tinggi, badannya semampai, lebih berisi dari pada Ayatha,
tidak telalu putih namun kulitnya bersih.
Andra kembali ke alam nyata, dia lalu melanjutkan mobilnya, wangi bunga sedap malam yang di tinggalkan Jessy menusuk hidungnya, membuat memory-memory yang di tinggalkan Ayatha terasa bangkit kembali.
__ADS_1