Meadow

Meadow
Aku iri padanya


__ADS_3

Setelah itu Wayren mengantarkan Risa ke kamarnya. Ayatha juga sedang mengurus beberapa barang yang


di bawanya dari rumah, Nyonya Renata sedang menyuapi Raphael ditemani oleh penjaga Raphael.


Andra melihat Ayatha sedang mengeluarkan baju dari kopernya, dia mendekati Ayatha.


" Kenapa pindah ke kamar ini?" Kata Andra menatap Ayatha.


" Lalu pindah kemana?" Kata Ayatha tersenyum


" Pindah saja ke kamarku," kata Andra terasenyum mencoba mengoda Ayatha.


" Ingat kita belum menikah, " kata Ayatha menyentuh hidung Andra sambil


tersenyum bercanda.


" Haha, ya terserah, aku juga bisa pindah ke sini, " kata Andra


" Aku akan mengunci pintunya nanti, " kata Ayatha lagi


" Silahkan, aku bisa membuka kunci semua kamar di sini, kau lupa ini rumah ku, " kata Andra


" Dasar," kata Ayatha tanpa memperhatikan Andra, dia menaruh beberapa pakaiannya ke dalam lemari


yang ada.


" Aku sudah bilang, jangan terlalu benyak bekerja jika aku ada di sini, " kata Andra mendekati Ayatha,


menatapnya dengan dalam namun lembut.


" Baiklah Tuan Andra, lalu anda ingin melakukan apa? " Kata Ayatha yang akhirnya menanggapi calon suaminya itu.


" Kau tahu aku sekarang sedang iri dengan Wayren, " kata Andra menatap Ayatha.

__ADS_1


" Iri kenapa? " Kata Ayatha dengan wajah bertekuk.


" Iri karena dia pasti sangat bahagia mengetahui Risa hamil, dia bisa menemani Risa untuk melakukan pemeriksaan, pasti rasanya sangat bahagia, saat dulu kau hamil Raphael,


siapa yang menemanimu memeriksa kandungan? " Kata Andra lagi


" Ehm, saat aku hamil, aku masih dalam perawatan, kakak menyediakan beberapa dokter untuk menjagaku, jadi mereka bertangung jawab untuk memeriksa kandunganku juga, " kata Ayatha menjelaskan, Andra memandanginya dengan kasih sayang.


" Owh, lalu saat kau melahirkan siapa yang menemanimu? " Kata Andra ingin tahu


" Ehm..kak Maxi, dia mengambil cuti 1 tahun untuk menjagaku, " kata Ayatha jujur


" Aku harus berterima kasih pada kakak nanti, " kata Andra seadanya, dari nada bicaranya tampak dia agak cemburu, Ayatha menangkap nada bicara Andra, dia mendekat kearah Andra, membenamkan diri memeluk Andra.


" Nanti jika aku hamil lagi, kau bisa melakukan semuanya," kata Ayatha menenangkan Andra.


" Yah, kali ini aku tidak akan melewatkan apapun, " kata Andra membalas pelukan Ayatha, mencium kepalanya. Merasakan kasih sayang yang membuatnya tak bisa melepaskan wanita ini.


Pintu kamar Ayatha di ketuk seseorang, Ayatha melihat Andra, dia belum mau melepaskan pelukannya


" Ayatha, apakah kau ada disana? " suara Nyonya Renata terdengar


Ayatha mendengar itu langsung melepaskan pelukannya, Andra tersenyum, lalu berjalan membuka pintu kamarnya.


" Owh, Andra, kau disini juga, maaf mengganggu kalian, ibu ingin memberikan sesuatu, " kata Nyonya Renata


" Tidak ibu, masuklah, " kata Ayatha yang muncul di belakang Andra


" Baiklah, " kata Nyonya Renata


Nyonya Renata masuk kedalam, dia duduk di ranjang Ayatha.


" Kemarilah, " kata Nyonya Renata, Ayatha duduk di sampingnya, Andra hanya memperhatikan, Nyonya Renata

__ADS_1


mengeluarkan sebuah kotak perhiasan, dia membukanya.


" Ini adalah tradisi keluarga, walau kalian belum menikah, tapi bagaimanapun Raphael adalah cucu pertama keluarga ini, dia adalah penerus darah keluarga Tadder, kau ingin atau tidak ingin mengunakan nama itu, dia tetap saja penerus keluarga, karena itu ibu memberikan ini padanya, akan Ibu serahkan padamu," kata Nyonya Renata sangat lembut dan elegan, dia memegang tangan Ayatha dengan hangat.


Ayatha melihat kedalam kotak perhiasan itu, ada gelang, kalung, gelang kaki dan sebuah cincin, cincin itu mirip yang sering di gunakan oleh Andra namun lebih kecil, Ayatha senang melihatnya, begitu juga Nyonya Renata, dia tersenyum lembut. Ayatha memandang Andra.


" Itu tanda pengenal keluarga Tadder, dulu aku tak mendapat itu, Wayren yang mendapatkannya, tidak aku sangka anakku akan mendapatkannya, " kata Andra lagi, mendekat kearah Ayatha, melihat ibunya lembut


" Maafkan ibu, kau seharusnya mendapatkan itu dari kecil, " kata Nyonya Renata


" Tidak masalah Bu, itu bukan salahmu, ehm… aku akan pergi menemui Ayah nanti


sore, " kata Andra, Nyonya Renata dan Ayatha memandangnya dengan tidak percaya. Namun Nyonya Renata


pandai menyembunyikan perasaannya.


" katakan salam ibu untuknya, " kata Nyonya Renata menunduk, Ayatha berbalik mengenggam tangan calon ibu mertuanya, membuat Nyonya Renata merasa di perhatikan.


" Tentu akan ku sampaikan, " kata Andra.


" Nenek! Nenek! " Teriak Raphael terdengar.


" Wah, dia sudah mencariku,"kata Nyonya Renata senang mendengar Raphael mencarinya.


" Iya, ibu jangan terlalu capek bermain dengan Raphael, biar aku saja yang bermain


dengannya, " kata Ayatha lagi


" Tidak, cucuku bergitu pintar dan tampan, aku tak pernah lelah bermain dengannya," kata Nyonya Renata berdiri, tersenyum manis melihat pasangan di depannya, lalu keluar mencari cucu kesayangannya.


" Ehm.. apa kau yakin akan pergi sendirian? " Kata Ayatha menatap Andra cemas


" Tidak apa-apa, dia hanya ayahku, dia setuju atau tidak, aku tidak peduli, kita

__ADS_1


akan tetap menikah, " kata Andra tersenyum.


" Baiklah, aku akan menunggumu " kata Ayatha.


__ADS_2