
Di ruang kerja, Maxi dan Andra tampak berbincang serius. Maxi memandang Andra.
" Kenapa tiba-tiba menikah? Aku tahu kau bukan orang yang suka mengambil
keputusan yang tiba-tiba, " kata Maxi, tampak sangat berwibawa walau hanya mengunakan baju santainya.
Andra menatap Maxi, senyumnya sedikit kecut, dia sebenarnya tidak ingin
menceritakannya, namun sepertinya jika Maxi tahu mungkin lebih mudah, toh,
mereka sudah menikah, Maxi tak mungkin lagi memisahkan mereka.
" Sebelum menikah, aku bertemu Ayahku di penjara, entah bagaimana, dia tahu tentang Raphael," kata Andra dengan suara beratnya.
Maxi tampak diam, namun wajahnya tampak berpikir
" Aku sudah tahu, dia pasti mengetahui hal ini, " kata Maxi
" Yah, cepat atau lambat dia pasti mengetahuinya, dia mengatakan dia harap kami bersatu kali ini, " kata Andra serius
" Andra, sebenarnya apa masalahmu dengan Ayahmu? " Kata Maxi menatap Andra,
Andra tersenyum sedikit, sekarang Maxi adalah keluarganya, dia berhak tahu.
" Aku bukan pewaris keluarga Tadder, Ibuku kandungku sudah meninggal saat
aku lahir, ibu Wayren merawatku dan menjadikan aku kembaran Wayren, Ayah berpikir akulah yang membuat wanita yang dia cintai meninggal. " kata Andra menjelaskan sesingkat mungkin
" Begitu? Tapi kau anaknya? Mengapa orang tua bisa bertingkah seperti itu, " kata Maxi
mengerutkan dahinya
Andra pun sampai sekarang tidak tahu alasannya, mengapa ayahnya begitu membencinya,Membencinya hingga ingin dia merasakan begitu banyak kesedihan, seperti dia menjaga Andra tetap hidup untuk merasakan siksaan batin.
" Kalau butuh bantuan, akan dengan senang hati aku bantu, sekarang kita keluarga, " kata Maxi dengan berwibawa namun mengayomi.
" Terima kasih kak," kata Andra sedikit tersenyum.
" Jangan terlalu sungkan, baiklah, lebih baik kita ke sana, nanti Christine dan Ayatha
akan marah jika kita terlalu lama di sini, " kata Maxi tertawa kecil
" Baiklah" kata Andra
Maxi bangkit, Andra pun begitu, mereka keluar dari ruang kerja Maxi, menuju ke ruang tengah, saat di ruang tengah, Maxi melihat hanya ada Christine di sana, dia memasang
wajah bertanya, Christine mengerti Maxi mencari Ayatha, dia menunjuk ke arah
balkon, Ayatha sedang menimang Liam yang tertidur.
" Wah, dia memang hebat mengurus anak, " kata Maxi mendekati istrinya
Andra memperhatikan Ayatha, melihat Ayatha yang sedang mengendong Liam kecil,
dia mendatanginya, rasanya melihat Ayatha mengendong bayi seperti itu rasanya
bagai mimpi, Andra sangat menyukai pemandangan ini, walaupun mereka punya Raphael, namun rasanya kurang, Andra belum menikmati bagaimana melihat Ayatha mengurus bayinya.
" Dia tertidur? " Kata Andra
yang sudah sampai di belakang Ayatha, berbisik halus agar Liam tidak terbangun, Ayatha sedikit kaget, melihat kearah Andra, lalu tersenyum dan mengangguk.
" Selena, biar aku bawa dia ke kamar, " kata Christine yang juga mendekati Ayatha, tampak senang melihat anaknya sudah tidur pulas, Ayatha memberikan Liam pada
ibunya, lalu Christine membawa Liam masuk.
" Liam sangat lucu," kata Ayatha pada Andra
" Yah, tapi aku sudah punya anak laki-laki, lahirkan anak perempuan untuk ku, " kata Andra lembut
" Iya, aku juga ingin anak perempuan, " kata Ayatha tersenyum
" Baiklah, ayo masuk, " kata Andra
Mereka masuk, melihat Maxi yang duduk di depan Raphael sambil menyuapi Raphael kue.
" Ayah, ibu, makan," kata
Raphael dengan mulut penuh.
" Rapha, tidak baik berbicara sambil makan," kata Ayatha lembut, Raphael mengangguk.
" Aku rasa suaramu itu bisa menghipnotis ya?" Kata Maxi pada adiknya
" Memangnya kenapa Kak?" Kata Ayatha bingung
" Yah, kau bisa membuat semua orang mengikuti kata-katamu, " kata Maxi lagi
" Haha... tidak juga," kata Ayatha sedikit tertawa.
" Ehm, Raphael tidak sekolah?" Kata Maxi menatap Ayatha
" Kami sedang memikirkan sekolah yang cocok untuknya," kata Ayatha
" Andra bukannya kalian punya sekolah? " Kata Maxi
__ADS_1
" Ya, " kata Andra sekenannya
" Kenapa tidak sekolah di sana? " Kata Maxi
" Aku inginnya dia bersekolah di sana, namun Ayatha masih ragu, dia tidak mau Raphael
di perlakukan khusus, " kata Andra menjelaskan
" Bukannya itu bagus, jika dia sekolah di sekolah milik kalian, keamanannya akan
terjamin, urusan dispesialkan, bisa di urus bukan? " Kata Maxi
Ayatha memandang suaminya, Andra juga memandangnya.
" Baiklah, biarkan dia sekolah di sana," kata Andra
" Ehm... tapi tidak ada perlakuan spesial ya, biar kan dia bersosialisasi seperti biasa," kata
Ayatha
" Iya, akan ku urus, " kata Andra
tersenyum, dia senang Maxi mendukung keinginannya.
" Owh, iya, Paman punya sesuatu untuk Raphael." kata Maxi mengelurkan kotak perhiasan. Andra dan Ayatha memandang dengan penasaran.
Dia mengeluarkan gelang pengenal yang mirip dengan milik Maxi, ada ukiran
mahkota di gelangnya.
" Andra aku minta izinmu memberikan Raphael gelang ini, walaupun nanti dia akan memakai namamu, tapi dia tetap saja setengah Medison, " kata Maxi
Andra menatap Maxi, lalu mengangguk..
" Iya kak, " kata Andra
Maxi mengenakan gelang itu pada Raphael, Raphael melihat gelangnya, saat memakaikan gelang itu, Maxi melihat tanda pengenal Tadder di jari Raphael.
" Rapha seperti pangeran, 2 tanda pengenal sekaligus, " kata Maxi tertawa
" Iya, Ibu memberikannya beberapa hari yang lalu. " kata Ayatha tersenyum
" Dia memang sudah spesial dari lahir. " kata Maxi kembali menyuapi Raphael.
" Terima kasih Paman, " kata Raphael
ketika selesai makan
" Sama-sama, bermainlah bersama Sus," kata Maxi
" Kalian akan menginap? " Kata Maxi
menatap pasangan pengantin baru itu.
" Ehm...besok aku ingin membawa Ayatha dan Rapha ke desa, dia bilang ingin ke
pemakaman orang tuanya, " kata Andra, Ayatha memandang Andra, Andra belum ada mengatakan apapun soal pergi ke desa. Tapi dia tidak berkata apa-apa.
" Owh, baiklah, hati-hatilah besok, " kata Maxi lagi
" Iya kak," kata Ayatha.
Setelah itu mereka berbincang-bincang lagi hingga malam mereka pulang. Di perjalanan...
" Benarkah besok kita akan ke desa? " Kata Ayatha sesekali melihat Raphael yang sudah tertidur.
" Iya, aku sudah merencanakannya, tadinya ingin memberitahumu jika sudah sampai di
rumah, tapi karena tadi kakak menayakan itu, jadi harus memberitahukannya dulu, " kata Andra
" Ehm, tapi tidak menganggu pekerjaan mu? " Kata Ayatha lagi
" Aku mengambil cuti, sudah mengatakannya pada Wayren, dia yang akan mengurus
semuanya, seharusnya ini jatah bulan madunya, tapi karena Risa keburu
hamil dan tidak memungkinkan untuk pergi, jadi cutinya aku ambil, " kata Andra
tersenyum sambil melirik istrinya
" Owh, baiklah," kata
Ayatha
" Kita akan selesaikan semua yang ingin kamu lakukan dulu di sini, soal bulan madunya nanti kita pikirkan lagi, " kata Andra
" Aku baru pulang kesini, tidak ingin kemana-mana, lagi pula aku belum pernah
meninggalkan Raphael lama dan jauh, pasti di sana nanti jadi tidak tenang," kataAyatha
" Ehm..baiklah, lagi pula bulan madu bisa di mana saja," kata Andra tersenyum, Ayatha hanya tertawa kecil.
" Aku gugup ingin pulang besok," kata Ayatha
" Kenapa? " Kata Andra
__ADS_1
" Paman dan bibi waktu aku dinyatakan meninggal, apa mereka ada?" Tanya Ayatha
" Mungkin, aku tidak tahu, aku masih koma waktu itu," kata Andra lagi.
" Ehm, berapa lama kau koma? " Kata Ayatha,
kalau di ingat-ingat Ayatha sama sekali tidak pernah bertanya apapun selama dia
berpisah dengan Andra.
" 2 bulan lebih sepertinya," kata Andra
" Owh, itu lama sekali," kata Ayatha, dia ingat terakhir kali itu, Andra menariknya, memberikan badannya sebagai pelindung Ayatha, entah kenapa rasanya
badannya nyeri.
" Bagaimana dengan mu? " Kata Andra
" Aku koma 2 hari, itu juga kata kak Maxi,lalu... Ehm… " kata Ayatha tak ingin
menjelaskan, di matanya ada kengerian, saat pertama kali membuka matanya, yang
ada di matanya waktu itu, yang pertama kali dia lihat adalah wajah keras Tuan
Ray, Ayatha menatapnya takut, sangat takut, Tuan Ray mendekat, lalu membisikkan
bahwa Ayatha telah membunuh Andra, saat itu rasanya dunia itu berhenti
berputar. Hening, rasanya seluruh badannya mati rasa... Lalu Tuan Ray kembali
mengatakan dia akan membuat Ayatha menyusul Andra, Ayatha saat itu langsung
drop, apa lagi Tuan Ray mematikan alat bantuan napas bagi Ayatha... Tubuhnya
kejang beberapa saat, dan denyut jantungnya berhenti, lalu para dokter berhasil
membuatnya kembali lagi.
" Ayahku menemuimu? Benar? " Kata Andra dengan suara beratnya
" Iya, dia bilang aku membunuhmu, " kata Ayatha, di matanya penuh dengan kengerian.
Andra menatap Ayatha, dia menghentikan mobilnya. Mata Andra yang hitam itu
bagaikan langit malam ini, sedikit suram
" Aku yakin kau tidak bisa memaafkan Ayahku, tapi, aku tetap harus minta
maaf padamu, " kata Andra
" Tidak apa-apa, toh itu sudah belalu, " kata Ayatha
" Iya, yang penting sekarang kita bersama," kata Andra memegang tangan Ayatha
dengan hangat.
" Benar, " kata Ayatha tersenyum, mengeratkan tangannya.
" Ayatha, bagaimana kalau kita tinggal di rumah kita saja?, di sana ibu juga sudah
punya Wayren dan Risa, aku merasa rumah itu terlalu ramai sekarang, " kata Andra menatap Ayatha.
" Aku tidak ada masalah ingin tinggal dimana saja, asalkan bersama kalian, tapi
sepertinya harus membicarakan hal itu pada Ibu, tahu sendiri kan Ibu sekarang
tidak bisa dipisahkan oleh Raphael walaupun sebentar saja, " kata Ayatha.
" Yah, nanti kita bicarakan dengan Ibu, " kata Andra tersenyum
" Ayo pulang, nanti ibu khawatir, " kata Ayatha lembut
Baru saja Ayathamengatakannya, handphonenya Andra bergetar, dari Nyonya Renata.
" Tuh kan, " kata Ayatha
Andra hanya tertawa....lalu mengangkat panggilan ibunya.
" Halo Bu?" Kata Andra
" Kapan kalian akan pulang? Ibu sudah kangen dengan Raphael, di mana dia?, " kata Nyonya Renata
" Raphael sudah tidur, kami sudah di jalan" kata Andra lagi
" Baiklah, hati-hati di jalan, cepat
pulang, kasihan Rapha tidur di mobil, " kata Nyonya Renata.
"Baiklah Bu," kata Andra patuh, dia menutup panggilannya.
" Apa kata ibu? " Kata Ayatha
" Menyuruh cepat pulang, dia kangen dengan Raphael," kata Andra
" Haha, belum pindah saja sudah begini, yakin ingin pindah?" Kata Ayatha
__ADS_1
" Yah, kita coba saja nanti, " kata Andra tersenyum, dia lalu mulai menjalankan mobilnya lagi.