
Mobil Andra memasuki perkarangan rumahnya, dia lalu membuka pintu Ayatha terlebih dahulu,
Raphael sudah ingin turun, dia sudah memandang ayahnya terus, Andra lalu membuka pengaman car seat Raphael dan langsung menurunkannya. Ayatha sudah lama sekali tidak ke rumah ini, sedikit berubah, bunga di taman lebih banyak, selainnya rumah ini masih tetap sama.
Seorang kepala pelayan menyambut mereka, seorang wanita yang tidak Ayatha kenal.
" Di mana Bibi Moi?"kata Ayatha
" Dia sudah pensiun beberapa tahun lalu, pulang ke desa," kata Andra menatap Ayatha, Ayatha
sedikit kecewa, dia pernah berjanji akan memberikan hadiah pada Bibi Moi, sampai dia pensiun dia belum memberikannya
" Kenapa? "kata andara melihat wajah kecewa Ayatha
" Aku pernah mengatakan ingin memberikan hadiah untuknya, tapi sampai sekarang belum ku lakukan, " kata Ayatha
" Nanti kita akan ke desanya, dan memberikan hadiah untuknya, dia pasti senang bertemu denganmu, atau kaget, karena terakhir yang dia tahu, kau sudah meninggal, " kata Andra tersenyum
.
" Benarkah?"kata Ayatha
" Iya, dia sangat sedih waktu itu, " kata Andra
" Kalau begitu kita harus bertemu dengannya, " kata Ayatha lagi
" Pasti, nanti akan ku atur waktu kita pergi kesana, sekalian ke desa dan tempat Yosa, " kata Andra
" Baiklah kalau begitu, ehm… kenapa terasa sepi? "kata Ayatha
" Aku sengaja tidak memberitahu mereka, Bibi Han, dimana ibu dan yang lainnya, " kata Andra bertanya kepada kepala pelayan yang baru.
__ADS_1
" Nyonya Besar, Nyonya Renata, Tuan Wayren dan Nona Risa semua sedang ada di ruang makan," kata kepala pelayan itu sopan
" Baiklah, ayo masuk, nanti Raphael terkena flu jika terlalu lama di luar, " kata Andra senang
Ayatha sedikit gugup masuk kedalam rumah itu, Andra mengenggam tangannya, sedangkan Raphael ada di genggamannya tangannya yang satu lagi, rumah itu benar-benar tak berubah, semua prabotnya, kursinya, tata lentaknya, tetap sama dengan terakhir Ayatha ada disana.
" Tunggulah disini sebentar, aku ingin melihat mereka dulu, " kata Andra, sepertinya Andra ingin memberikan kejutan untuk ibunya.
" Baiklah, " kata Ayatha. Andra lalu meninggalkan mereka.
" Ibu, Ibu… itu Nanny, Nenek, dan Ayah, " kata Raphael melihat foto keluarga yang besar tergantung di sana, mata Ayatha menatap sosok yang terlihat tegas dan keras, tubuhnya sedikit bergetar, dia sangat trauma membayangkan hal-hal yang di perbuat oleh Tuan Ray padanya, dia mengenggam tangan Raphael lebih erat.
Andra memasuki ruang makannya, benar saja, di sana sudah berkumpul Ibunya, Nanny, Wayren dan Risa, mereka melihat kedatangan Andra, Nyonya Renata menyambutnya dengan hangat.
"Andra? Tumben jam segini sudah pulang, mari makan bersama, sudah lama kita tidak makan bersama, " kata Nyonya Renata senang sekali melihat Andra sudah pulang jam segini, biasanya dia pulang sangat malam dari kantor.
" Baiklah Bu, tunggu sebentar, " kata Andra, dia meninggalkan Nyonya Renata yang mengerutkan dahi, Wayren dan Risa juga agak bingung melihat kelakuan Andra.
" Ayo," kata Andra
Andra kembali mengenggam tangan Ayatha, berjalan menuju keruang makan. Sesampainya di ruang makan, semua mata tertuju pada m ereka, Raphael tersenyum senang melihat neneknya, Nyonya Renata terkejut melihat kedatangan Raphael dan Ayatha, dia sangat senang melihat cucunya datang, dia langsung berdiri, dan Raphael berlari mendekatinya.
" Nenek! " kata Raphael yang datang kepelukan neneknya, mencium pipi neneknya, lalu Nyonya Renata menciumnya balik.
"Raphael tidak ingat Nanny? " kata Nanny sedikit cemburu
" Nanny juga " kata Raphael mencium pipi Nanny, membuat Nannynya senang dan Nyonya Renata tertawa, tiba-tiba ruangan itu sangat ramai
" Ibu, Nanny," kata Ayatha memberikan salam, Nyonya Renata dan Nanny tersenyum lalu kembali bermain
dengan Raphael.
__ADS_1
"Ayatha! " kata Risa keras, membuat semua perhatian jadi mengarah ke Risa, dia tidak percaya bisa melihat
sahabatnya lagi, Risa bangkit dan menghambur memeluk Ayatha, sangat erat sampai Ayatha saja kaget, namun dia hanya bisa tertawa, membalas pelukan Risa.
" Apa kabarmu? " kata Ayatha lembut
" Kau ke mana saja? Aku sangat merindukanmu… akhirnya kakak bisa membawamu pulang juga, " kata Risa
sengugukan. Menangis dalam pelukan Ayatha.
" Hei jangan menangis, aku disini sekarang," kata Ayatha
" Maafkan istriku, dia memang selalu suka mendramatisir, apa kabarmu Ayatha? "kata Wayren yang sudah ada di
belakang istrinya.
" Baik, " kata Ayatha tersenyum pada Wayren, Wayren tidak berubah, satu-satunya yang berubah hanya gaya rambutnya, membuat dia makin mirip dengan Andra. Wayren sedikit canggung dengan Ayatha, tentu dia merindukan Ayatha, bahkan ingin memeluknya, tapi tidak mungkin di depan istrinya.
" Rapha, beri salam pada Bibi dan Pamanmu, " kata Andra dengan suara beratnya namun juga lembut, Raphael yang mendengar kata ayahnya langsung berlari mendekat pada Risa dan Wayren.
" Selamat malam Bibi dan Paman, " kata Raphael dengan gaya imutnya
" Wah, betapa tampannya, imut sekali, " kata Risa mencubit pipi Andra gemas, membuat Raphael sedikit cemberut, namun dia malah lebih lucu. Risa lalu berjongkok, terus tersenyum gemas melihat Raphael.
" Aku mau satu, " kata Risa memandang Wayren dengan wajah memelas.
" Yah, nanti kita buat satu, " kata Wayren salah tingkah, membuat Andra dan Ayatha tertawa melihat mereka.
" Sudah, sudah, mari kita lanjutkan makan malamnya, Ayatha, bolehkah Ibu menyuapi Raphael? "kata Nyonya Renata berharap
" Tentu Ibu," kata Ayatha tersenyum, Nyonya Renata sangat senang.
__ADS_1
" Raphael biar nenek yang suapi ya, " kata Nyonya Renata mengoda Raphael, Raphael dengan senang hati mengangguk
Andra menarik kursi untuk Ayatha duduk, lalu setelah itu mereka makan malam bersama, makan malam yang penuh tawa dan kehangatan keluarga.