
Tips koinnya abis. Gak ada yg mau sedekah kah sama bumil biar semangat gitu ditengah ngetik sambil nahan encok. Kekeke. Hore akhirnya sudah eps 100đ Trims semuađHappy weekendâ¤ď¸
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
----- back to Story :
Saat anak-anak dari Bumi sedang berjuang menyelesaikan misi di Planet Mitologi, para orang dewasa yang berhasil dibangunkan mulai menyadari adanya hal aneh di sekitarnya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
TRINGGG!!
Suara dering telepon begitu nyaring terdengar di sebuah ruangan besar dengan banyak peralatan bengkel.
TRINGGG!!
BRAKK!
"Eko!"
"Tobil si melekedel! Opo sih, Ji? Bikin kaget aja," gerutu seorang pria berkepala botak yang terkejut dan langsung duduk.
"Ko! Semua orang pingsan dan aku tak bisa membangunkan mereka. Hanya kau satu-satunya yang sadar!" serunya dengan mata melotot dan napas tersengal.
TRINGGG!
"Iki opo meneh? Brisik banget!" gerutu pria bernama Eko karena telepon di bengkelnya berbunyi terus-menerus. "Halo? Siapa sih? Ganggu orang tidur aja!" tanyanya langsung sewot.
"Kau tak mengenali suaraku?!" jawab seorang pria di seberang sana terdengar kesal.
"Gayamu sok terkenal. Hanya orang yang beriman yang bisa tersambung ke jaringan ini," jawabnya marah. "Eh?! Wooo main serobot aja," gerutunya lagi karena pria yang dikenal bernama Eiji langsung mengambil gagang telepon itu.
"Halo? Ini siapa?" tanya Eiji terlihat panik.
"Jeremy. Oh, syukurlah kalian berdua hidup. Entah apa yang terjadi, tapi ... semua orang di mansion tak sadarkan diri. Mereka seperti ... bagaimana menyebutnya? Koma? Namun, mereka tidak sakit," jawab Jeremy yang berada di sebuah ruangan dengan dua wanita tergeletak di atas ranjang pasien sedang ia infus.
"Ya! Di sini juga demikian! Hanya aku dan Eko yang sadar," jawab Eiji panik.
Jeremy tampak pucat terlihat memikirkan sesuatu.
"Sudah coba hubungi yang lain?" tanya Jeremy lagi.
"Belum. Ide bagus. Aku akan menghubungi sektor A, sisanya kau. Oke?" pinta Eiji.
"Oke!"
Eko mengedipkan mata melihat Eiji keluar dari bengkel dengan tergesa. Pria gundul itu tampak bingung dan keluar dari bengkel dengan malas karena masih mengantuk. Tiba-tiba, KREK!!
__ADS_1
"Waduh! Tidur jangan sembarangan woi! Ngapain tidur di lantai?!" pekik Eko kaget saat ia tak sengaja menginjak kepala seseorang karena tergeletak dalam posisi melintang.
Namun seketika, mata Eko melebar.
"Loh, loh, ono opo iki? Kok, kok pada semaput semua?" tanyanya panik karena melihat para pekerja di Kastil itu tergeletak tak sadarkan diri.
"TERMINATOR!!" serunya panik dan langsung berlari menuju ke pusat kendali yang berada di bawah tanah.
Namun, ia hanya mendapati Eiji seorang yang sedang sibuk melakukan sesuatu dengan peralatan komunikasi.
"Eko, jangan diam saja! Bantu aku menghubungi semua markas di sektor A!" pintanya tampak tergesa.
Mata Eko melotot. Pria gundul itu dengan sigap menyalakan semua panel dan muncullah beberapa titik biru dalam layar yang mencakup seluruh peta dunia, tapi hanya negara-negara di benua Amerika saja yang terkoneksi dengannya yang berada di Rusia.
Eko memperdengarkan suara dari tiap markas yang ia coba hubungi. Sedang Eiji, melihat dari tampilan CCTV selama beberapa hari terakhir ketika orang-orang masih beraktivitas hingga pada akhirnya tak sadarkan diri.
"Oh! Endah ... Rexy ...?" ucap Eiji lirih yang membuat Eko mendatangi sahabatnya.
"Kui opo, Ji?!" pekik Eko dengan mata terbelalak lebar saat melihat sebuah portal muncul di depan anak perempuannya dan mereka masuk ke dalam. Setelahnya, portal itu lenyap.
Praktis, mata Eko dan Eiji melotot.
"Alien!" seru keduanya lantang.
Semua orang dewasa yang berhasil dihubungi, kini terhubung dalam jaringan teleconference. Orang-orang itu panik.
"Anak-anak tidak ada. Mereka menculik anak-anak!" seru Oneâ âayah dari Gibsonâ âdengan sang isteri ia baringkan di atas ranjang dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Entahlah. Namun sepertinya, tidak semua. Lihat, dia sadar," sahut Mixâ âayah dari Czarâ âmenunjuk Jonathan Benedict.
"Yee, Nathan udah gede, udah jadi Bapak bukan bocah lagi!" serunya kesal karena masih dianggap anak bawang.
"Namun, ada yang aneh. Sepertinya, hanya anak-anak berumur sekitar 7 tahun ke atas dan di bawah 20 tahun yang masuk dalam portal. Lihatlah, bayi Sandara masih di sini, tapi anak itu juga tak sadarkan diri. Malah ... ia dimasukkan dalam sebuah tabung entah bagaimana cara membukanya. Aku tak berani mengotak-atiknya," sahut Jamesâ âayah dari Nicolasâ â âmenunjukkan seorang bayi laki-laki sedang tertidur pulas dalam sebuah kapsul transparan entah siapa yang melakukannya.
Semua orang dewasa yang terhubung saling diam mencoba untuk berpikir.
"Alien ini pasti. Yakin Eko," jawabnya mantap.
"Gak pakai sok tau loh ya, Om," sahut Jonathan memicingkan mata.
"Nih kalo gak percaya. Eiji, tunjukin temuan kita," pinta Ekoâ âayah dari Jubaedahâ âdan Eijiâ âayah dari Rexâ âmenampilkan beberapa tayangan dari rekaman CCTV yang berhasil ia retas melalui satelit.
"Semua portal muncul di seluruh dunia dalam waktu bersamaan. Itu piyik-piyik kesedot terus ilang! Namun sebelumya, ada drone yang mindai. Eiji ingat kalau ketemu drone itu lalu dia pingsan," ucap Eko mantap.
"Ya! Aku ingat hal itu. Ada drone yang menyinariku lalu tak lama, aku pingsan," sahut Drakeâ âayah dari Rangga.
"Mungkin sinar itu melakukan pemindaian lalu menganalisis targetnya. Maksudku, drone itu melakukan pemilahan antara manusia dewasa dan anak-anak sesuai kategori. Yang tak masuk kategori anak-anak orang itu dilumpuhkan, sedang yang masuk kategori anak-anak diambil. Aku yakin seperti itu," tegas Jeremyâ âayah dari Timo dan Tina.
"Ya ampun. Itu anak-anak kita diapain? Jangan-jangan buat praktik uji coba. Badannya disayat terus isi organnya dibongkar. Aduh Bara," keluh Biawak Putihâ âayah dari Baraâpanik.
__ADS_1
"Jangan bicara yang tidak-tidak!" teriak Danielâ âayah dari Mandarinâ âmarah.
Namun, hal itu malah membuat para orang dewasa bersiteru karena mengemukakan pendapat masing-masing. Praktis, suasana dalam telekonferensi itu riuh seketika.
Sedang di Planet Mitologi. Tempat anak-anak Bumi berada.
"Kamu kenapa, Juby?" tanya Rex bingung karena kekasihnya seperti mengalami gatal-gatal karena berulang kali menggosok-gosok lengannya.
"Juby ngerasa kaya digremetin ulet bulu. Merinding dari tadi," jawabnya seraya melihat sekitar.
"Bukannya kaupernah bilang. Jika merasakan hal seperti itu, tandanya kau sedang dibicarakan oleh orang lain," ucap Rex.
"Ha? Ada yang gibahin Juby gitu? Ish, bener-bener," sahutnya langsung melirik kawan-kawannya yang mulai bangun di hari gelap.
"Mungkin Rex yang ngomongin Juby dalam hati," ucapnya.
"Ha? Rexy batin apaan?" tanya Juby langsung menatap kekasihnya sebal.
"Kok cewek Rexy jadi cantik dan wangi ya?" jawabnya dengan senyuman, tapi gadis manis itu langsung tersipu malu seraya menutupi wajahnya yang merona dengan rambut panjangnya.
"I-ih, Rexy gombal," ucapnya seraya mendorong tubuh kekasihnya, dan Rex hanya terkekeh karena baginya Jubaedah sangat menggemaskan.
"Sabar ... sabar ... nanti pas di Bumi, Bara akan cari pacar. Kalau perlu, sepuluh sekaligus!" ucap Bara mantap seraya mengelus dadanya karena selalu memergoki kemesraan dua insan itu.
"Lu ngapa dah, Bar? Sensi mulu," tanya Rangga terkekeh, tapi Bara hanya menjawab dengan telunjuk mengarah ke Jubaedah dan Rex. Rangga menahan tawa.
"Oke! Semuanya sudah bangun dan bersiap?" tanya Gibson berdiri tegap di depan kumpulan anak-anak yang kembali menggunakan tas ransel.
"Yes!" jawab semua anak senang.
"Vadim. Gunakan kompasmu untuk menunjukkan pada kita arah rumah pohon," pinta Gibson dan Vadim mengangguk cepat.
Saat Vadim akan memejamkan mata, tiba-tiba sebuah portal muncul dan mengejutkan semua anak.
"Jangan bilang misi level 5!" pekik Mandarin dengan wajah tegang.
Anak-anak terlihat bersiap saat dugaan dari kawan mereka itu ternyata benar. Gibson dan lainnya berdecak kesal karena mereka harus menjalankan misi lagi padahal ingin beristirahat untuk sementara waktu.
"Tebas kepala Hydra? Tiap satu kepala yang berhasil di potong oleh satu anak, dianggap berhasil menyelesaikan misi level 5 dan mendapatkan hadiah," guman Timo.
"Gila! Hydra?!" pekik Lazarus langsung melotot.
"Hydra yang kepalanya banyak itu? Yang katanya kalau ditebas satu nanti bisa muncul 2 dan seterusnya? Yang itu?!" pekik Boas tampak pucat.
Anak-anak yang mengetahui sosok itu mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi terlihat shock. Beberapa dari mereka langsung lemas seketika.
SRINGG!!
__ADS_1
"Gak usah dikasih liat wujud Hydra segala, buset!" pekik Bara kesal ketika dalam portal menampilkan tayangan dari Hydra yang sedang mengamuk.
"Juby mau nulis surat wasiat dulu buat Papi," ucap Jubaedah lesu langsung menyingkir dari portal dan menjauh pergi.