MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
PASHA DAN VADIM*


__ADS_3


Mandarin terlihat senang saat dipeluk oleh dua anak bertubuh gemuk yang terlihat akrab dengan dirinya. Azumi masih menjaga jarak dan memilih berdiri seraya mengamati tiga orang itu.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Hei, Azumi, kemarilah. Kenalkan, mereka kawanku. Orang tua kami bekerja pada satu perusahaan yang sama. Aku sudah menganggap mereka berdua seperti saudaraku," ucap Mandarin usai melepas rindu.


Azumi mengangguk dan melangkah dengan ragu. Pasha dan Vadim tersenyum merekah, tak menunjukkan wajah garang lagi.


"Hai. Aku Pasha. Kau gadis Asia tercantik yang pernah kutemui," ucapnya yang membuat Azumi langsung tersipu malu. Mandarin menyipitkan mata terlihat tak senang.


"Hai, aku Vadim. Kami berdua dari Rusia. Namamu Azumi 'kan? Apa kau berasal dari Jepang?" tanyanya seraya mengajak berjabat tangan.


"Ya. Aku dari Jepang. Salam kenal," ucap Azumi seraya membungkuk.


Vadim dan Pasha terlihat kikuk saat mengikuti gaya membungkuk sebagai salam penghormatan. Mandarin tersenyum tipis.


"Kalian bilang dari Rusia? Sedang seingatku, Mandarin dari China. Perusahaan orang tua kalian bekerja ada di mana? Rusia dan China cukup jauh menurutku," tanya Azumi penuh selidik.


Tiga pria itu mengedipkan mata terlihat bingung dalam memberikan penjelasan.


"Perusahaan bos dari orang tua kami berpusat di Rusia, tapi ada beberapa perusahaan lainnya yang dikelola berada di negara lain. Biasanya, kami berkumpul setiap satu tahun sekali sesama keluarga pekerja yang masih dalam lingkup satu grup perusahaan dengan lokasi yang selalu berbeda. Namun, ada acara akbar yang akan kami hadiri di Rusia sebentar lagi. Itu pertemuan pertama kami dengan anggota keluarga lain dari perusahaan ternama lainnya. Sayangnya, kami malah terdampar di planet antah berantah ini," ucap Mandarin kecewa.


"Pertemuan akbar? Di Rusia? Maksudmu ... acara seperti berkumpul seluruh anggota keluarga dari berbagai negara? Apakah ... tempat itu berada di Kaliningrad?" tanya Azumi lugu yang membuat mata tiga anak lelaki itu melebar seketika.


"Kau tahu tentang undangan itu?!" pekik Pasha, dan Azumi mengangguk.


Mandarin menyipitkan mata. Ia seperti menyadari sesuatu.


"Aku merasa, kita berempat ini seperti sudah ditakdirkan untuk bertemu. Meskipun kita tak berkumpul di Kastil Borka, Rusia, tapi kita bertemu secara tak sengaja di tempat ini. Apa ada yang sependapat denganku?" tanya Mandarin menebak.


"Apakah ini sengaja? Ulah para orang tua kita? Lalu ... kenapa kita ditempatkan di sebuah planet aneh dengan banyak makhluk dari negeri dongeng?" tanya Vadim seraya melongok ke luar jendela rumah pohonnya.


"Entahlah. Oleh karena itu, kita akan cari tahu. Ngomong-ngomong, kalian dapat dari mana semua makanan itu? Aku lapar, bagi ya," pinta Mandarin memelas.


Pasha dan Vadim mengangguk mengizinkan dengan senyum terkembang. Hihi menutup pintu dan terbang di sekitar empat anak manusia yang duduk melingkar dengan banyak makanan di hadapan mereka.


"Emph. Semua makanan ini, kami bawa dari tempat berkemah. Kau tahu 'kan, jika makanan itu penting untuk menyambung hidup. Nah, saat portal yang menyedot kami terbuka, aku menangkap semua tas ransel yang berhasil kugapai saat berada di ruang hampa udara. Aku tak peduli tas-tas itu milik siapa, yang penting, aku tidak kelaparan!" ucap Pasha sembari mengunyah keripik kentang dengan semangat.


Azumi dan Mandarin terkekeh. Mereka tak menyangka jika Pasha masih sempat memikirkan makanan padahal kondisi sedang genting.


"Aku dan Pasha sebenarnya sedang tidak bersama. Aku berada di Florida di kediaman rumah nenek Manda. Sebenarnya, ada beberapa anak lain yang tersedot. Namun aneh, saat aku bangun, anak-anak yang masuk portal bersamaku tak ada di sekitarku. Aku sendirian," sahut Vadim seraya membuka sebuah kemasan berisi popcorn rasa caramel.


"Apa ... kalian mendapatkan misi?" tanya Azumi penasaran.


Dua anak itu terlihat seperti mengingat-ingat, tapi pada akhirnya hanya mengangkat kedua bahu. Namun sepertinya, mereka tahu sesuatu.


"Aku sudah melihat beberapa anak berubah bentuk seperti makhluk-makhluk di planet aneh ini. Kau lihat Hihi?" tanya Vadim menunjuk peri yang asyik berputar itu.


Mandarin dan Azumi mengangguk pelan.

__ADS_1


"Dia sebelumnya manusia. Gadis kecil, ya ... mungkin berumur sekitar 7 atau 8 tahun. Dia berhasil menangkap seekor peri. Namun, ia tak memperhatikan instruksi. Entah dia bodoh atau bagaimana, peri yang berhasil ditangkap malah dimakan. Oleh karena itu ... dia tak bisa berubah lagi menjadi manusia," ucap Vadim menjelaskan.


Praktis, mata Azumi dan Mandarin melebar.


"Tapi kan ... peri itu besar," sahut Azumi menatap Hihi dengan takut.


"Tidak. Aslinya, tubuh peri itu kecil. Mm ... sekitar ...," jawab Pasha melihat telapak tangannya, "ah, sebesar telunjuk. Namun, saat Hihi berubah, dia menjadi sebesar itu. Tempat ini benar-benar aneh," sambung Pasha yang membuat Mandarin dan Azumi melongo seketika.


"Ka-kau, ada di situ saat dia memakannya?" tanya Mandarin memastikan. Pasha mengangguk.


"Ternyata, lokasi tempatku dan Vadim tak terlalu jauh. Saat Hihi memakannya, aku berteriak histeris. Vadim mendatangiku dan disitulah aku bertemu dengannya. Sepertinya, Hihi tak bisa berubah menjadi manusia lagi," jawab Pasha menilai.


"Namun kata tuan Pohon, Hihi adalah peri hutan yang tinggal di tempat ini," tanya Azumi heran.


"Oh! Kalian bertemu tuan Pohon? Ah, dia itu pikun. Dia selalu mengulang kata-kata sampai kami bosan. Dia bahkan tak bisa membedakanku dengan Vadim," jawab Pasha sebal.


"Biar kutebak. Pasti kalian dibawa ke sebuah rumah pohon yang mengatakan itu jasad ayahnya?" tanya Vadim. Mandarin dan Azumi mengangguk membenarkan.


Pasha dan Vadim terkekeh sembari mengunyah makanan dengan santai.


"Ya, begitulah. Ia saja tak ingat jika Hihi bisa berubah menjadi sebesar ini. Dia seperti tak menyadarinya. Bayangkan saja, dari telunjuk bisa berubah menjadi setinggi dada. Tuan Pohon sepertinya rabun," kekeh Pasha dan Vadim malah tertawa gembira.


Azumi dan Mandarin saling memandang dengan senyuman.


"Lalu ... apakah kalian menemukan manusia lainnya?" tanya Mandarin penasaran seraya membuka sebuah bungkusan berisi biskuit kentang.


"Ya. Namun, beberapa dari mereka memilih untuk berpetualang. Kami berpikir jika lebih baik menetap di sini karena pasti akan ada anak lainnya yang datang. Dan lihat, kami bertemu dengan kalian berdua. Teoriku memang hebat," ucap Vadim bangga.


"Wah, kau satu pemikiran denganku!" sahut Mandarin riang, dan Vadim mengajak tos, begitupula dengan Pasha.


"Entahlah. Langit dan cuaca di sini aneh. Kami tak bisa membedakan kapan pagi dan malam. Kami hanya tahu, saat perut kami keroncongan," jawab Pasha santai.


"Ha?" tanya Azumi bingung.


"Perut keroncongan, tandanya jam makan. Anggap saja sekarang. Saat kalian datang, kami sedang makan siang. Nah, jika nanti perut kami keroncongan lagi, tandanya sudah malam. Karena seingatku, aku masuk ke portal usai sarapan," jawab Pasha serius.


"Jadi ... penunjuk waktu dari perut keroncongan ya? Boleh juga," sahut Mandarin terkekeh, dan Pasha mengangguk mantap.


Azumi diam sejenak terlihat berpikir. "Ya. Aku rasa kau ada benarnya. Seingatku, saat portal menyedotku dan anak-anak lainnya, usai kami sarapan. Lalu, pertandingan dilakukan. Kalian pintar," ucap Azumi memuji seraya mengambil sebuah cokelat batangan siap untuk dimakan.


"Sudah kami bilang, kami itu jenius. Kalian harus percaya pada kami!" ucap Vadim bangga.


Mandarin dan Azumi mengangguk setuju. Empat anak itu terlihat gembira. Hihi ikut menikmati cokelat yang Azumi berikan. Hari itu, anak-anak tersebut berkumpul di rumah pohon seraya memikirkan rencana selanjutnya.


Ternyata, benar perkataan Vadim dan Pasha. Di tempat mereka berada, tak terlihat kapan pergantian waktu saat malam dan pagi karena wilayah mereka berada di antaranya.


Azumi terlihat telaten saat membersihkan rumah dibantu oleh Hihi mengumpulkan kemasan sisa makanan. Azumi bahkan juga menghitung sisa stok karena ia yakin jika akan tinggal cukup lama di rumah pohon itu.


"Azumi. Kami mau mandi dan mengambil persediaan air. Kau mau ikut?" tanya Vadim yang membuat Azumi langsung melangkah mendekat.


"Mandi? Di mana?" tanya Azumi penasaran.

__ADS_1


"Ada sungai dekat sini. Namun, jika kita memasuki wilayah itu, suasana seperti malam hari. Nah, tapi jangan takut. Malam hari di tempat ini malah lebih aman ketimbang saat pagi. Kami sudah 3 kali ke sana saat malam hari dan tak bertemu makhluk apapun, tapi jika pagi menjelang, banyak makhluk datang ke sungai. Jadi agar aman, kita harus bertukar waktu dengan para makhluk itu," ucap Pasha menjelaskan.


"Woah, kau hebat. Kau sudah mempelajari semua seluk-beluk tempat ini dengan baik. Aku kagum padamu," ucap Mandarin memuji dan dua anak itu terlihat bangga dengan pengetahuan mereka.


"Ayo," ajak Vadim sebagai penunjuk jalan.


Hihi ikut serta dengan jalan di paling depan untuk menunjukkan arah. Cahaya kerlip dari Hihi sangat membantu sebagai penerang jalan yang gelap.


Azumi terlihat takut, tapi Mandarin selalu menggandengnya dan memastikan jika mereka akan baik-baik saja.


Vadim dan Pasha menggendong sebuah tas ransel entah berisi apa. Mereka berjalan di belakang Mandarin dan Azumi dengan santai.


Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah sungai yang terlihat indah. Pasha memberikan korek api gas kepada Hihi dan peri itu terbang untuk menyalakan lampu dari sebuah alat penerang yang sudah digantung pada sebuah pohon.



"Woah! Indah sekali," ucap Azumi senang karena tempat tersebut meski gelap dan bercahaya biru, tapi tak terlihat menakutkan.


"Kalian bisa mandi di sini. Nah, Azumi, pakailah ini. Aku menemukan pakaian wanita yang sepertinya pas dengan ukuranmu dari tas temuanku," ucap Vadim seraya memberikan sebuah baju ganti kepada gadis cantik itu.


"Wah, terima kasih," ucap Azumi senang.


Azumi yang telah terbiasa dengan mandi bersama saudara saudarinya, terlihat tak kikuk saat melepaskan pakaian.


Vadim, Mandarin dan Pasha terbengong saat melihat Azumi hanya memakai pakaian dalaam seperti bikini masuk ke sungai dengan Hihi ikut berenang bersamanya.


Tiga pemuda itu malah melongo saat Hihi dan Azumi malah terlihat senang ketika saling menciprati air.


Sayap Hihi juga ternyata anti air seperti bulu unggas. Hihi dengan mudah terbang dan menyelam seperti tak kesulitan.


Hihi membantu Azumi dengan menggosok punggungnya menggunakan bunga-bunga yang bermekaran di tepian sungai agar tubuhnya wangi. Dua gadis meski berbeda wujud itu terlihat gembira. Mereka menikmati waktu mandi bersama.


"Ehem!" dehem Mandarin karena dua kawannya malah melamun melihat Azumi mandi.


"Hehe, hehe," kekeh Pasha begitupula Vadim.


"Jadi ... apa isi tas kalian?" tanya Mandarin penasaran yang menutupi sosok Azumi dengan punggungnya.


"Oh! Kami memiliki botol air minum cukup banyak. Kita ambil air minum dari air terjun kecil di dekat sini untuk persediaan," jawab Vadim.


Mandarin mengangguk pelan. Namun, ia khawatir jika Azumi di tinggal sendirian.


"Jangan khawatir, Hihi akan melindunginya," ucap Pasha dan Mandarin mengangguk pelan.


Azumi melihat Mandarin mendatanginya dan pamit untuk mengambil air. Azumi mengangguk tak keberatan.


Azumi terlihat nyaman saat mandi di sungai yang jernih itu dalam cahaya redup kebiruan bersama Hihi.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


Masih eps bonus dari vote koin mak Ben😎 Tengkiyuw lele padamu😍


__ADS_2