MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
KAMI MENEMUKANMU*


__ADS_3

Seketika, mata Nicolas terbelalak lebar. Gadis cantik itu berubah menjadi manusia serigala padahal matahari masih menunjukkan sinarnya.


Tentu saja, hal mengejutkan tersebut membuat pemuda berambut pirang itu panik.


"Grrrr ...," erang manusia serigala yang matanya kini membidik Nicolas yang berada di atas pohon tak bisa pergi ke mana pun.


"Harun! Kenta! Help!" seru Nicolas panik.


Pemuda berambut pirang itu bisa merasakan naga di dalam tasnya ikut bergerak-gerak merasakan ketakutan yang sama.


Nicolas melihat sekitar, di mana ia sudah tak memiliki tempat lain untuk kabur karena di bawahnya ada manusia serigala yang siap menerkamnya.


Manusia serigala itu mulai memanjat. Nicolas makin menjerit histeris, ia tak bisa melakukan apa pun. Jaraknya terlalu tinggi jika melompat dan ia tak bisa berlari jauh karena pasti diterkam oleh manusia serigala itu.


"Minggir woi, cewek jadi-jadian! Cukuran sono! Bulumu kebanyakan!" seru Nicolas mulai frustasi karena ia sudah merasa nyawanya berada di ujung tanduk.


Nicolas bisa mendengar suara bayi naga di dalam tasnya mengeluarkan suara lengkingan kecil.


Nicolas melepaskan tas ranselnya yang berada di punggung dan kini ia hadapkan ke bagian depan tubuhnya. Ia membuka sleting itu dan mendapati bayi naga menaiki bagian atas telur yang belum menetas.


"Setidaknya, kalo Nico mati, ada temennya. Kolor temenin Nico ya," ucapnya memelas sudah pasrah dengan takdirnya.


Di sisi lain, Kenta dikeroyok oleh anak-anak yang ingin menghajarnya. Kenta melawan balik dengan melempari mereka menggunakan batuan yang ditemukan dalam sungai.


Namun, batu-batu yang berhasil dihindari oleh lawannya, kini dijadikan senjata untuk menyerang balik. Kenta terkejut, saat batu yang ia lemparkan, kini malah di arahkan kepadanya.


SWING! DUAKK!!


"AGH!"


BRUKK!! BYUURR!!


"Wohoo! Kita berhasil menjatuhkannya! Kita harus segera ambil telur naga itu. Ayo!" seru Oscar mengomandoi kawan-kawannya meninggalkan tepian sungai.


Oscar berhasil melemparkan sebuah batu dan mengenai kepala Kenta. Pemuda asal Jepang itu ambruk dengan darah segar mengalir di pelipis kanannya. Kenta pingsan, lalu tercebur di sungai.


Sedang Harun, masih berusaha melawan Troll yang ternyata memiliki kekuatan cukup besar dan sangat sulit untuk dijatuhkan.


"Harrghhh!!" erang Harun saat mendorong Troll tersebut dengan sekuat tenaga, tapi makhluk berwarna hijau tersebut tak mau mengalah. Ia balas meraung dan ikut mendorong tubuh Yeti kuat.


Saat suasana mencekam di mana Nicolas telah dikepung oleh empat anak yang siap untuk melukainya, tiba-tiba saja ....


"Oh! Apa itu barusan?" pekik seorang anak lelaki terlihat kaget ketika merasakan terpaan angin kencang melintas di atas mereka.


Semua orang mulai waspada saat cahaya matahari seperti tertutupi oleh bayangan besar dari atas langit. Spontan, semua anak mendongakkan kepala.


"Naga!" teriak Oscar lantang.


Seketika, semua anak berlari melarikan diri karena naga besar meraung kencang saat mendarat di dekat pohon tempat Nicolas berada.


Tubuh anak-anak itu terhempas terkena kepakan sayap besar dari seekor naga hijau yang tiba-tiba saja muncul.


Harun dan Bobby ikut terpental karena angin yang berhembus kuat dari naga hijau. Tubuh Harun terhantam batang pohon dan membuatnya pingsan seketika.


Sedang Bobby. Saat tubuh Troll-nya terhempas, ia tersangkut di semak-semak. Bobby segera berubah dan berlari kencang menghindari wilayah tersebut.


Nicolas mampu bertahan dengan berpegangan kuat pada dahan pohon seraya memeluk tasnya. Bayi naga terus menyuarakan lengkingannya seperti sebuah panggilan.


Nicolas yang ketakutan hanya bisa memejamkan mata dan tak menyadari saat naga itu mendekatinya seraya mengendus.


Tubuh Nicolas gemetaran. Ia tak berani membuka mata, tapi ia menyadari pergerakan di depan tubuhnya.


Perlahan, Nicolas membuka mata. Seketika, tubuhnya mematung saat mendapati ada seekor naga besar yang wajahnya tepat berada di depan matanya.


BRUKK!!

__ADS_1


Nicolas pingsan dan jatuh ke atas rumput. Beruntung, telur naga tersebut tidak pecah karena tas yang dipeluknya telah digigit oleh gigi induk naga yang mendengar panggilan anaknya.


Bayi naga hijau masuk ke dalam mulut sang ibu bersama telur naga yang ditemukan oleh kelompok Kenta.


Naga besar itu kembali mengepakkan sayapnya. Perlahan, naga itu terbang usai mendapatkan apa yang menjadi miliknya. Harun, Nicolas, dan Kenta tergeletak tak sadarkan diri di tempat antah berantah.


Entah sudah berapa lama tiga orang itu terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri. Kenta merasakan kulitnya seperti disentuh oleh benda kasar.


Kenta mencoba membuka matanya yang terasa lengket karena ia mendengar suara tangisan lirih di dekatnya.


Perlahan, Kenta menggerakkan anggota tubuhnya yang terasa kaku. Ia juga merasakan sakit di kepala hingga membuat matanya kembali terpejam.


"Hiks, Kak Kenta ... kak Kenta ...."


Suara anak perempuan terdengar begitu sedih memanggil namanya. Kenta mulai membuka matanya semakin lebar, meski wajahnya sayu.


"Kak Kenta!" seru seorang anak perempuan yang suaranya masih sama.


Kenta terkejut ketika tubuhnya dipeluk oleh seseorang yang tak ia ketahui siapa anak perempuan tersebut karena pandangannya masih kabur.


"Hem?" jawabnya lesu dan perlahan menoleh seraya menahan sakit di kepalanya.


"Kak Kenta. Ini Azumi. Kak Kenta," panggil gadis cantik berponi seraya meneteskan air mata.


Sayangnya, Kenta tak bisa melihat dengan jelas. Pandangannya kabur dan sosok yang menyebut dirinya Azumi terlihat samar di matanya.


"Azumi?" panggil Kenta mengulang.


Ia melihat kepala gadis itu mengangguk, tapi Kenta tetap tak bisa melihat dengan jelas padahal ia sudah membuka matanya berulang kali.


"Kak Kenta kenapa?" tanya Azumi terdengar bingung.


"Kak Kenta, gak bisa lihat dengan jelas. Semuanya terlihat buram. Apa kaubenar Azumi, adikku?" tanya Kenta memastikan dan berusaha untuk bangun, tapi tubuhnya terasa sakit.


"Hiks, ini Zumi, Kak ...," jawabnya sedih dan semakin menangis terisak.


Kenta membuka dan menutup matanya berulang kali. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit, tapi ia merasakan ada benda yang melekat di kepalanya.


"Kepalamu tadi berdarah, tapi sudah dijahit oleh Azumi. Semoga tak ada luka serius. Kautahu 'kan jika tak ada rumah sakit di tempat ini. Apa kau tak bisa melihat?" tanya seorang anak lelaki seraya melambaikan tangan di depan mata Kenta di mana pemuda itu adalah Ryan.


"Kau sepertinya menggerakkan tanganmu. Aku bisa mendengar dengan jelas suaramu, tapi tak bisa melihat wajahmu. Sepertinya, mataku bermasalah. Apa mataku terluka?" tanya Kenta.


"Kami tidak tahu. Saat kami menemukanmu, kau terbaring di sungai. Kami segera mengangkatmu saat Azumi mengatakan bahwa kau Kakaknya. Apa kautahu, selama ini, Azumi mencarimu," jawab seorang anak lelaki di mana remaja itu adalah Mandarin.


Kenta masih bisa mendengar suara Azumi menangis. Kenta mulai menggerakkan kepalanya dan mendapati ada banyak bayangan anak-anak di sekitarnya.


Ia juga bisa melihat kobaran api unggun samar di dekatnya. Ia ingat kejadian terakhir, tapi ia tak tahu jika lemparan batu yang membuatnya tak sadarkan diri, menyebabkan penglihatannya bermasalah. Kenta terlihat sedih dengan pandangan tertunduk.


"Kak Kenta," panggil Azumi lagi seraya memegang kedua tangannya lembut.


Kenta menaikkan pandangannya dengan senyuman. Ia balas menggenggam kedua tangan adiknya lalu meletakkan di kedua pipinya. Ia bisa merasakan tangan Azumi yang dingin dan gemetaran karena hatinya bersedih.


"Aku tak apa. Aku masih hidup. Terima kasih sudah menemukan dan menyelamatkanku. Kau ... memang adikku yang hebat. Kakak tahu jika kaupasti bisa bertahan di tempat ini. Kak Kenta, bangga padamu, Azumi," ucap Kenta dengan senyum terkembang.


Azumi memeluk Kenta erat dan masih menangis. Kenta balas memeluk sang adik seraya menepuk punggungnya lembut.


Semua anak yang berada dalam kelompok Azumi terlihat sedih karena pertemuan itu tak seperti yang mereka harapkan.


"Oh! Bagaimana dengan telur naga dan Kolor Hijau?!" serunya yang membuat semua orang terkejut mendengarnya.


"Kami tak menemukan kolor warna hijau di tempat kalian pingsan," jawab Jubaedah dengan wajah lugunya.


Kenta yang tak bisa melihat dengan jelas siapa lawan bicaranya, memejamkan mata sejenak.


"Maksudku ... bayi naga. Kami menamainya Kolor Hijau," jawab Kenta.

__ADS_1


"Ha? Nama macam apa itu? Namun, tak ada naga atau pun telur di tempat ini. Kami hanya menemukanmu, lalu pemuda berambut pirang dan ... seekor Yeti," ucap seorang anak di mana remaja itu adalah Rex.


"Oh! Harun? Nicolas? Di mana mereka sekarang? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Kenta langsung melebarkan mata.


"Ya. Temanmu si rambut pirang sedang menemani temanmu yang tadi berubah menjadi Yeti. Sepertinya, dia juga terluka. Setidaknya, kalian baik-baik saja," jawab anak lelaki lain di mana remaja pria itu adalah Timo.


Kenta terlihat lega. Azumi sudah mulai bisa meredakan tangisannya. Kenta mengucek matanya, tapi penglihatannya masih buram.


Hingga akhirnya, Kenta mendengar pembicaraan dengan bahasa yang tak ia mengerti.


Matanya menyipit dan mencoba fokus saat melihat ada sekumpulan orang kerdil berbicara dengan anak lelaki di seberang api unggun.


Rex dengan sigap memberikan daun warna merah muda agar Kenta mengerti pembicaraan para makhluk Mitologi di planet itu.


Kenta awalnya ragu, tapi Azumi meyakinkannya. Kenta akhirnya mau memakan daun seperti kertas tersebut.


"Oh! Benarkah?!" pekik anak lelaki itu terkejut seperti mengetahui sesuatu.


"Apa katanya?" tanya Azumi menatap kawan lelakinya yang kini berjalan mendekati Kenta.


"Kata para kurcaci, ada jenis naga yang bisa menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Hanya saja, yang bisa melakukannya adalah bayi naga," ucap Gibson serius.


"Oh ya? Lalu ... di mana mencari naga itu?" tanya Azumi antusias. Kenta terlihat serius mendengarkan.


Mandarin yang ikut mendengar hal itu, mencoba menanyakan lokasi naga tersebut kepada para kurcaci. Namun, para manusia kerdil terlihat enggan untuk memberikan informasi.


"Kami berjanji akan membantu kalian menemukan telur-telur naga yang dicuri. Namun, kumohon, bantulah kawan kami dulu," pinta Mandarin memelas.


Para kurcaci itu lalu berkumpul seperti berdiskusi. Tak lama, kurcaci bertopi jingga mendekat seperti memberitahukan sesuatu.


"Tempat itu cukup berbahaya. Tempat itu adalah sarang para naga. Mereka tak menyukai manusia. Bau kalian pasti akan tercium dan hal itu bisa membuat para naga marah. Hanya para kurcaci yang bisa mendekat karena mereka menganggap kami seperti ibu asuh mereka," ucap kurcaci tersebut yang membuat semua orang langsung terdiam.


"Apakah ... tempat itu jauh? Berapa lama untuk sampai ke sana?" tanya Pasha ikut mendekat.


"Hem, dua hari perjalanan. Sayangnya, untuk bisa masuk ke sana, harus ada pertukaran. Biasanya, kami membawa telur naga sebagai syarat masuk ke sarang naga," jawab kurcaci tersebut. Praktis, semua orang langsung lemas seketika.


"Kami punya dua," sahut Nicolas tiba-tiba.


Semua orang langsung menoleh ke arahnya. Mata Azumi dan lainnya melebar ketika mereka melihat Nicolas meletakkan sebuah tas lalu mengeluarkan dua buah buntalan kain berwarna hitam di atas batu secara perlahan.


Seketika, cahaya terang muncul dari salah satu telur ketika buntalan kain itu dibuka. Semua orang dibuat kagum karena tempat mereka berteduh yang awalnya gelap menjadi terang benderang karena telur naga tersebut berpijar seperti lava.



"Oh! Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Vadim seraya menunjuk.


"Sepertinya, anak-anak yang mengeroyok kami sebelumnya tergesa saat kabur dari naga. Mereka meninggalkan sebuah tas dan ternyata, ada dua buah telur di dalamnya. Aku bisa merasakan jika telur yang menyala ini akan menetas sebentar lagi. Embrionya bergerak-gerak," jawab Nicolas seraya menujuk telur naga yang bercahaya layaknya bara api.


Para kurcaci mendekat dan berdiri mengelilinginya. Mereka saling berbisik seperti membicarakan sesuatu.


"Asal kalian tahu, ini adalah jenis telur naga api. Naga di dalamnya cukup berbahaya jika sampai menetas bukan di habitatnya. Kita semua, bisa terbakar," tegas kurcaci topi merah, dan hal itu mengejutkan semua anak yang mendengar.


"Yang dikatakan si pirang ini benar, telur ini akan menetas. Sebaiknya, kita segera berangkat, atau kita, akan menjadi arang karena bayi naga ini sangat merepotkan. Ia membakar apa pun yang disentuh oleh ekornya. Ia belum bisa mengendalikan api di tubuhnya. Jadi ... bersiaplah menjadi abu," imbuh kurcaci topi biru.


Ryan serasa ingin pingsan mendengar hal tersebut. Anak-anak lainnya dibuat tegang seketika.


Kenta bisa melihat cahaya terang dari telur naga itu. Kini, penglihatannya tergantung pada dua telur naga tersebut.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Jangan lupa boom like audio book yg lele rekam ya. Terutama bagi para pembaca yg belom bisa sedekah vote poin. Boom like dan komen kalian membantu tips koin secara tidak langsung. Tengkiyuw ❤️


__ADS_2