MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
LELUHUR OAG*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Oag memimpin ekspedisi untuk memasuki wilayah hutan dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi meski tumbuhan hijau itu terlihat aneh bagi anak-anak tersebut.


"Hooorrr!"


"Oh! Kalian dengar suaranya? Besar sekali seperti seekor monster! Apakah ... mereka akan memangsa kita?" tanya Oscar ketakutan dan langsung merapatkan diri ke arah Bobby.


"Hihi takut," ucap Hihi dengan wajah pucat dan matanya sibuk melirik ke kanan dan ke kiri seraya memegang lengan Jubaedah erat.


"Suara hewan pemangsa tak seperti itu. Makhluk itu mungkin besar, tapi tidak berbahaya. Biasanya, dengan nada panjang seperti itu, tipikal makhluk tersebut sedang memanggil jenisnya. Jika predator, suara erangan mereka pendek dan besar. Mereka juga biasanya mengaum untuk beberapa kali menunjukkan kekuasaannya," terang Oag yang sepertinya sangat tahu dunia makhluk alien.


Anak-anak mengangguk paham meski wajah mereka tegang.


"Om Oag gak punya alat buat terjemahin bahasa? Papa Rex punya alat translator yang bisa terjemahin seluruh bahasa yang ada di Bumi, tapi ... yang diucapkan oleh manusia," tanya Jubaedah yang tampak biasa saja meski beberapa kali ia tersentak karena Hihi yang mengejutkannya.


"Alat translator?" ulang Oag seraya berjalan dengan tegap tak terlihat takut.


"Iya. Kan jenis makhluk di planet Mitologi banyak banget tuh. Walaupun rata-rata mereka menggunakan bahasa yang sejenis dengan om, tapi 'kan ada beberapa yang cuma kaya lengkingan, atau seperti makhluk Fur-fur apa gitu di planet permen. Kalau om Oag punya alat translator, pasti akan memudahkan kita untuk mengetahui bahasa mereka. Harusnya om Oag ketemu sama papa Rex buar diajarin bikinnya. Om Eiji pinter loh," ucap Jubaedah memuji calon mertuanya.


Sedang di sisi lain.


"Hatchim! Hatchim! Agh, ada apa ini? Cuaca terik, tapi kenapa aku bersin? Masa iya es ini membuatku terkena flu?" tanya Eiji seraya mengelap ingus di lubang hidung menggunakan tisu.


"Hahai! Nak Eiji jadi ingusan," ledek Eko yang sibuk membakar ikan di pinggir pantai bersama dengan Jonathan.


Eiji tak menanggapi sindiran itu dan kembali merebahkan diri di kursi malas dengan payung teduh di tepi pantai.


Eiji dan para mantan mafia lainnya menikmati indahnya pantai Cebu, Filipina sampai Jeremy memberikan kabar mengenai penelitiannya tersebut.


Kembali ke tempat Oag dan para anak-anak Bumi berada.


Kelompok itu berhasil menerobos hutan dan kini bertemu tanah lapang yang memiliki gunung-gunung batu menjulang di sekitar layaknya benteng.


"Hooorrr!"


"Suaranya makin jelas! Mereka pasti ada di sekitar sini!" ucap Tina dengan mata membulat penuh melihat ke sekitar padang rumput itu.


"Jangan berisik. Kita akan berjalan di pinggir hutan. Jangan memasuki ladang hijau itu. Kalian mengerti?" tegas Oag yang terlihat waspada.


Jubaedah dan lainnya mengangguk paham. Mereka berjalan berurutan di belakang Oag perlahan.


Hingga akhirnya, mereka merasakan kehadiran makhluk besar tersebut ketika menemukan sebuah sungai besar seperti menuju ke suatu tempat.


"Ikuti aliran sungai," titah Oag, dan anak-anak itu kembali mengangguk pelan.


Jubaedah dan lainnya menurut tak berani bertingkah mengingat Oag sendiri belum pernah ke planet tersebut. Mereka terlihat berhati-hati dengan mata memindai sekitar.


Beruntung, detektor adanya ancaman yang terpasang pada pakaian khusus mereka tak berbunyi. Anak-anak lega karena tak ada pemangsa di sekitar.


Anak-anak mulai merasa lelah karena sungai itu ternyata cukup panjang yang entah akan membawa mereka ke mana.

__ADS_1


Namun, sungai itu memasuki wilayah hutan rimbun. Terdengar suara gemercik air seperti air terjun.


Hingga tiba-tiba, "Oh! Oh! I-itu!" pekik Hihi menunjuk saat mata bulatnya melihat pergerakan dari balik tikungan sungai.


"Apa Hihi?" tanya Jimmy penasaran.


"Tadi Hihi liat ada alien seperti Oag yang kepalanya muncul dari balik pohon besar sebelah sana. Hihi yakin!" jawabnya panik.


Mata Oag menyipit. Ia meminta kepada anak-anak untuk tetap berjalan meski harus sedikit menjauh dari tepian sungai. Jubaedah dan lainnya menurut.


"Hoorrr!"


"Suaranya semakin dekat!" seru Pasha yang diangguki anak-anak lain karena sependapat.


Ketika mereka saling bergandengan karena takut, tiba-tiba, DEM! DEM!


"Oh! Oh! Tanahnya ... tanahnya bergetar!" pekik Oscar ketakutan yang membuat semua anak langsung menghentikan langkah dengan mata melotot memindai sekitar.


Benar saja, SRAKK!


"Hooorrrr!"


"I-i ... itu ...," tunjuk Bobby sampai tubuhnya gemetaran dan kepalanya mendongak saat melihat sosok alien seperti Oag, tapi berukuran ratusan kali lebih besar darinya.


Oag bahkan ikut terkejut hingga matanya ikut melebar. Namun anehnya, para alien mirip Oag tersebut tampak biasa saja ketika mendapati sekumpulan manusia tersebut.


Satu per satu, jenis dari makhluk tersebut keluar dari rimbunan pepohonan. Mereka mendatangi sungai dan berkumpul di sana.


Jubaedah dan lainnya melongo saat melihat hewan-hewan bertubuh raksasa itu berkoloni layaknya kumpulan makhluk, tapi tak berbahaya karena mereka memakan ikan, buah-buahan, dan juga ujung daun yang baru tumbuh.


Oag diam saja, tapi senyumnya terkembang. Tentakelnya bergerak seperti menunjukkan kegembiraannya. Makhluk dengan tubuh paling tinggi tersebut menatap Oag saksama.



"Hoorrr ... hor, hor," ucap alien raksasa tersebut seraya membungkukkan tubuhnya seperti ingin mengamati lebih jelas lagi makhluk yang mirip dengannya, tapi bertubuh kecil itu.


Anak-anak langsung menyingkir dan berkumpul karena takut. Oag berdiri seorang diri saling bertatapan dengan alien raksasa itu.


"Aku tak mengerti yang kau ucapkan, tapi aku yakin, di sinilah aku berasal," ucap Oag seperti mengajak bicara.


Tak lama, para alien raksasa lainnya ikut mendekat. Mereka mengelilingi Oag. Bahkan, alien paling kecil dari jenis itu masih terlihat begitu besar saat ia berdiri di samping Oag.


"Hor! Hor! Horrr!" ucap alien kecil itu saat berlari kecil mengelilingi Oag.


Oag yang tak mengerti bahasa para leluhurnya hanya bisa merentangkan tangan dengan senyum terkembang.


Tangan Oag diendus dan tentakel para alien raksasa itu mulai bergerilya di tubuh pemimpin ekspedisi itu.


Jubaedah dan lainnya bergidik ngeri karena terlihat mengerikan. Oag diam saja saat ia seperti coba dikenali oleh para leluhurnya dari juluran tentakel di bagian mulutnya itu.


Hingga tiba-tiba, "Horg! Horg!" seru alien terbesar seraya menghentakkan kaki sehingga tanah yang dipijak oleh anak-anak berguncang.

__ADS_1


Alien lainnya langsung bergerak menjauh dari Oag seolah dia seperti sebuah ancaman. Jubaedah dan lainnya bingung karena para alien itu menyuarakan erangan seperti tak menyukai kehadiran Oag.


"Hoorrrgg! Horrgg!" erang alien paling besar seperti pemimpin mereka.


Oag terlihat kaget. Terlebih saat alien yang paling besar itu mulai mengayunkan kaki depannya seperti ingin melakukan sesuatu.


Benar saja, DUAKK!


"Oag!" seru Bobby dengan mata melotot saat tubuh Oag dihempaskan begitu saja hingga ia terlempar jauh dan tercebur ke dalam aliran sungai.


Anak-anak panik dan segera berlari mendatangi Oag yang terlihat baik-baik saja, tapi seperti kaget.


Para alien raksasa itu seperti mengamuk karena mereka langsung berlari menjauh dan meninggalkan wilayah sungai tersebut.


"Om Oag! Om! Kau tak apa?" tanya Pasha cemas seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Oag agar segera naik ke daratan.


Namun, Oag terlihat sedih. Ia diam saja saat sebagian tubuhnya terendam air sungai. Anak-anak tampak iba meski mereka juga waspada saat melihat sekitar takut hal buruk terjadi.


"Mereka ... membenciku. Mungkin ... mereka juga membenci jenisku yang berbeda dari wujud asli mereka," ucapnya lirih terdengar sedih.


"Naik dulu aja, Om. Kita cari tahu kebenarannya. Pasti ada penjelasannya. Ayo, jangan menyerah!" ucap Jubaedah memberikan semangat.


"Iya, Oag! Ayo. Kita sudah jauh-jauh datang kemari," sahut Hihi dengan wajah lugunya.


Oag diam saja menatap anak-anak manusia itu yang berdiri di tepian sungai seperti kasihan padanya.


Saat Oag mengulurkan tangan, tiba-tiba makhluk terkecil dari kumpulan raksasa itu kembali lagi. Praktis, Jubaedah dan lainnya tertegun seketika.


"Hor, hor!" ucapnya seraya berlari-lari kecil ke sana kemari di tepian sungai.


Jubaedah dan lainnya saling melirik dalam diam karena tak paham. Tiba-tiba, alien terkecil itu berlari menuju ke air terjun lalu menunjuknya dengan salah satu kaki depan.


Mata anak-anak dan Oag langsung tertuju pada air terjun yang ditunjuk oleh alien itu.


"Pergilah ke air terjun melalui tepian sungai. Aku akan berenang menuju ke sana," tegas Oag.


Anak-anak mengangguk paham dan segera berlari kecil mendatangi air terjun. Alien kecil itu ikut berlari dengan cepat lalu memasuki guyuran air terjun yang deras.


Namun seketika, mata Oag dan anak-anak melebar saat melihat alien tersebutĀ tiba-tiba saja menghilang di balik guyuran air terjun tersebut.


"Kok ilang? Dia ke mana?" tanya Jubaedah bingung.


"Hor! Hor!" panggil alien kecil itu saat kepalanya kembali muncul di balik tumpahan air terjun yang mengejutkan semua orang.


"Mungkin ada jalan masuk ke sana. Ayo!" ajak Bobby, dan semua anak segera menerobos guyuran air deras itu dengan Oag mengikuti di belakang.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya dirikušŸ˜ Smg bisa selesai akhir bulan ini. Aminā¤ļø Kwkwkw ditunggu sedekah poin dan koin dari para LAP lainnya. Lele padamušŸ’‹


__ADS_2