
Oag dan anak-anak terpilih memasuki gua yang berada di balik air terjun dekat sungai tersebut. Alien kecil meski ukuran tubuhnya lebih besar dari Oag, seperti memberikan petunjuk kepada kelompok itu ke suatu tempat.
Gua itu ternyata digenangi oleh aliran air seperti sungai. Jubaedah dan lainnya terlihat panik karena tinggi air itu sampai ke dada mereka.
Hihi yang bertubuh paling pendek merasa kesulitan karena ia timbul tenggelam berulang kali meski Bobby dan Oscar membantunya dengan mengangkat tangannya.
Oag mendekati gadis manis itu lalu menekan sebuah tombol yang berada di bagian punggung seragam khususnya.
PIP! BLUB!
"Oh!" kejut Tina saat tiba-tiba saja pakaian tersebut menggelembung.
Hihi mengapung di atas permukaan air seperti balon dengan bentuk manusia dalam keadaan tengkurap.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Kau seperti terbang, Hihi!" seru Jubaedah.
Seketika, wajah cemas itu berubah riang. Hihi terlihat senang karena ia seperti berenang, tapi di permukaan air karena mengapung tak tenggelam.
"Makasih, Om Oag!" ucap Hihi gembira.
Oag diam saja dan kembali berjalan mengikuti alien kecil yang bergerak dengan gesit. Ternyata, anak-anak memilih untuk menjadi seperti Hihi karena dianggap seru.
Praktis, gua yang tadinya sunyi menjadi riuh karena suara berisik anak-anak yang bergembira. Mereka seperti serangga air yang bisa bergerak bebas di atasnya.
"Jangan berisik!" bentak Oag yang suaranya terdengar dari dalam helm khusus itu.
Seketika, suara tawa itu lenyap dan berubah menjadi tegang.
Pasha berenang perlahan bagaikan perahu dayung mengikuti Oag hingga mereka tiba di sebuah gua yang gelap. Namun, cahaya biru kehijauan terang langsung menyinari gua tersebut.
"Woahhh! Indah sekali!" seru Tina sampai kaca pelindung di kepalanya ikut memantulkan sinar teduh tersebut.
"Seperti kristal!" sahut Oscar yang tak kalah kagumnya karena keindahan gua itu.
Oag mendongak dan menjulurkan tangannya ke dinding batu.
Seketika, "Oh! Itu ternyata hewan! Mereka mungkin seperti kunang-kunang!" sahut Jimmy ketika melihat cahaya itu terbang berpindah lokasi seperti tak suka disentuh.
"Hor! Hor!" panggil alien kecil itu terlihat senang ketika makhluk dalam gua seperti kunang-kunang bercahaya biru berterbangan di sekitarnya.
"Om Oag! Hewan-hewan bercahaya seperti kunang-kunang ini gak mau ditoplesin kah buat diteliti dan menjadi makhluk baru di planet mitologi? Bagus loh," tanya Jubaedah seraya terus menggerakkan kedua tangannya bagaikan dayung kayu hingga membuat tubuhnya bergerak maju perlahan.
Oag diam sejenak. Ia lalu mendekati Bobby dan membuka sebuah kantong di pinggul sisi kirinya. Bobby diam saja, tapi mengamati gerak-gerik Oag.
Alien bertentakel itu mengambil sebuah tabung kaca dalam kantong lalu memasukkan beberapa hewan bercahaya itu ke dalamnya.
Oag memasukkan tabung itu lagi ke dalam kantong di seragam yang Bobby kenakan.
"Jaga baik-baik temuan penting ini," ucap Oag menunjuk Bobby. Lelaki tinggi besar itu mengangguk paham.
"Om Oag gengsi ya ... gak bilang makasih sama Juby atas ide jeniusnya gitu?" tanya Jubaedah yang terlihat asyik berenang bersama Hihi di sampingnya.
__ADS_1
Oag diam saja dan kembali berjalan. Tina dan lainnya menahan senyum karena Jubaedah cemberut atas tanggapan dari pemimpin kelompok tersebut.
Gua yang gelap dan hanya bercahaya biru dari makhluk hidup penghuni dinding gua, menjadi penerang selama mereka menyusuri lorong tersebut.
Hingga akhirnya, perjalanan mereka berakhir saat tiba di sebuah tangga batu seperti menuju ke tempat lain.
"Hor! Hor!" panggil alien kecil tersebut yang mengajak kelompok Oag untuk mengikutinya ke suatu tempat yang entah akan membawa mereka ke mana.
"Om Oag. Sepertinya ... kita sudah pergi sangat jauh. Apakah ... keberadaan kita masih terdeteksi oleh tim Tentakel Merah di pesawat? Kalau kita tersesat bagaimana?" tanya Pasha panik saat seragam yang menggelembung itu sudah kembali kempes.
Oag dengan sigap melakukan panggilan karena diingatkan. Namun sepertinya, ucapan dari Pasha benar. Oag tampaknya kesulitan menghubungi timnya seolah sinyal keberadaannya tak terlacak.
"Jangan bilang kita tersesat," ucap Tina panik saat mereka keluar dari gua tersebut.
Tempat baru yang mereka pijak sangat berbeda dengan sebelumnya. Tak ada warna hijau menyejukkan mata karena wilayah itu gersang, berdebu, berpasir, dan dipenuhi oleh gunung-gunung yang curam.
"Aku ingat jalan saat kita sampai ke tempat ini. Selain itu, kita memiliki pemandu jalan. Jangan khawatir," tegas Oag tenang, tapi anak-anak tak berpikiran demikian.
Hingga akhirnya, alien kecil tersebut berlari kencang seperti mendatangi sesuatu. Oag dan anak-anak ikut berlari mengejar karena tak ingin tertinggal.
"Woah!" seru Jimmy langsung mendaki sebuah batuan dengan cepat lalu berdiri pada potongan benda seperti kepala pesawat yang sudah rusak.
"Itu apa?" tanya Oscar sampai matanya melotot saat melihat di kejauhan terdapat sebuah benda berbentuk seperti cincin, tapi lebih mirip layaknya pesawat atau sejenisnya yang sudah rusak dan ditinggalkan.
"Hor! Hor!" panggil alien kecil itu seperti mengajak kelompok Oag untuk mendekati benda usang tersebut.
Oag dengan sigap berlari berikut anak-anak yang mengejarnya meski tak secepat dua alien itu. Terlebih, Pasha dan Oscar yang memiliki tubuh gemuk merasa kesulitan.
"Tekan tombol di atas kepalamu!" jawab Oag seraya berlari.
Pasha meraba helm di atas kepalanya. Ia merasakan seperti ada tombol di sana. Saat Pasha menekannya, "Wow! Wow! Wow!" teriaknya panik karena tubuhnya seperti melayang.
"Gravitasi di planet ini seperti di Bulan. Kalian bisa melompat sambil berlari. Hati-hati," ucap Oag yang membuat semua anak saling memandang seketika.
"Benarkah?" ucap Bobby ragu, tapi ia segera menekan tombol di atas kepalanya.
PIP!
"Hahaha! Benar! Kakiku seperti terpantul! Ini hebat! Kita bisa bergerak dengan melakukan lompatan jauh seperti bermain trampolin. Ayo!" seru Bobby, dan semua anak segera menekan tombol di atas helm.
Hihi malah melompat layaknya kelinci. Sedang Pasha yang belum terbiasa, berulang kali jatuh meski tubuhnya terpantul.
Pasha akhirnya bergerak seperti kodok karena tak ingin terperosot saat melakukan lompatan.
"Hahaha! Ini menyenangkan!" seru Jubaedah yang mulai terbiasa bergerak di permukaan planet baru tersebut.
"Hah, bagiku tetap saja melelahkan," keluh Pasha karena dua kakinya belum bisa bergerak layaknya manusia yang berjalan dengan normal.
Namun, anak-anak itu berhasil melintasi daratan berdebu hingga ke tempat jatuhnya pesawat entah milik siapa.
Oag seperti melakukan pemindaian dengan telapak tangannya yang ternyata memiliki lapisan khusus seperti sebuah lendir.
"Woah! Pesawat ini besar sekali!" ucap Jimmy seraya menekan kembali tombol di atas kepalanya agar ia bisa kembali berjalan normal dalam pesawat rusak tersebut.
__ADS_1
"Om Oag! Apakah pesawat ini milik leluhurmu? Lihat! Ada tulisan Mitologi pada dinding ini!" seru Jubaedah saat menunjuk sebuah dinding besi seperti sengaja digores dengan benda tajam untuk membuat tulisan.
Mata Oag melebar. Ia segera mendekat saat alien yang mengantarkannya itu hanya duduk diam di lantai pesawat tersebut.
Oag seperti berusaha membaca tulisan itu. Namun, Jubaedah merasa jika jenis tulisan tersebut sedikit berbeda dengan yang ia temukan bersama kawan-kawannya di kastil kala itu.
"Bagaimana?" tanya Bobby seraya ikut mendekat.
"Ya, kau benar, Juby. Ini adalah pesawat dari para dewa. Tampaknya, para ilmuwan pernah berkunjung ke planet ini," ucap Oag seraya melihat sekitar.
"Apa yang tertulis pada dinding itu?" tanya Tina penasaran.
"Tulisan ini lebih kuno dari Mitologi. Aku pernah melihatnya di perpustakaan peninggalan leluhur. Hanya saja, aku tak bisa membacanya. Aku harus menyalinnya untuk diterjemahkan di pesawat. Namun satu tulisan yang jelas di sini adalah 'GIGANT-MARVELOUS'," terang Oag, dan anak-anak mengangguk paham.
"Udah Juby bilang. Bikin alat translator yang bisa nerjemahin tulisan seperti pemindai gitu. Kalau gini 'kan repot. Harus difoto dulu, lalu dibawa ke pesawat, baru diterjemahin," keluh Jubaedah dengan tangan menyilang depan dada.
Oag melirik Jubaedah tanpa suara. Namun, anak-anak lain mengangguk setuju. Hingga tiba-tiba, Tina menyadari jika Hihi tak ada.
"Hihi? Hihi! Kau di mana?!" panggilnya panik seraya menoleh ke sekitar. Praktis, anak-anak lain ikut panik.
"Hihi di sini! Om Oag! Ada bangkai mayat! Dari bentuknya seperti jenismu!" jawab Hihi yang suaranya berada sedikit jauh dari kumpulan tersebut.
Oag segera mencari keberadaan Hihi diikuti oleh anak-anak lainnya. Alien kecil yang mengantar, mengikuti di belakang rombongan itu.
"Om Oag! Lihat!" tunjuk Hihi ke sebuah kursi di mana terdapat sebuah jasad yang sudah menjadi tengkorak.
Jasad itu masih memakai seragam, dan duduk terpasang sabuk pengaman. Oag melebarkan mata. Ia mendekati mayat itu dan mengamatinya saksama.
"Adakah rekaman mengenai pendaratannya? Apakah ada mayat lainnya? Kru pesawat mungkin?" tanya Bobby menatap Oag lekat.
"Bantu aku mencarinya. Susuri sekitar. Aku berada di sini untuk mencari tahu tentang data pesawat," tegasnya.
Anak-anak itu mengangguk paham. Hihi tampak tak takut dengan alien kecil yang berjongkok di sampingnya itu.
"Kamu serem, tapi tidak jahat kan?" tanyanya, dan alien itu diam saja menatap Hihi lekat. Hihi lalu menunjuk jasad dari mayat itu. "Pernah melihat yang seperti ini di tempat lain?" tanya Hihi, tapi alien itu diam saja.
Hihi masih menunjuk jasad tersebut, dan pada akhirnya, alien itu seperti memahami maksud dari ucapan Hihi.
Hihi berlari mengikuti alien itu yang bergerak dengan gesit. Hihi melewati banyak lorong yang entah membawanya ke mana karena ia terpisah cukup jauh dengan anak-anak lainnya.
"Hor! Hor!" panggil alien itu, dan seketika mulut Hihi menganga.
"Om Oag! Hihi nemuin alien kaya om di dalam tabung!" seru Hihi yang suaranya menggema sampai ke kokpit.
Praktis, Oag dan anak-anak yang berpencar di beberapa lokasi bergegas mendatangi suara Hihi berasal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
makasih tipsnya lele padamu❤️ kwkwkw kumat magernya kalo siang bolong gini😩
__ADS_1