
Sedang di tempat Nicolas berada.
Pemuda itu ketakutan karena berada di tempat berkabut dan gelap. Seolah cahaya matahari tak bersinar di tempatnya berada saat ini.
Nicolas memanggil kawan-kawannya karena mereka tak ditemukan, begitupula makhluk penyimpan cadangan jiwanya.
Namun, Nicolas yakin, hadiah yang didapatkannya dari penyelesaian misi level 5 adalah untuk mengantisipasi saat menjalani misi level 6 tersebut.
"Hah, hah, tempat ini menyeramkan," ucap Nicolas dengan napas tersengal karena lelah berlari. Ia tak menemukan satu pun manusia di wilayah itu.
Nicolas tak menyerah dan terus berlari. Hingga tiba-tiba, ia merasakan pergerakan besar dari atas langit.
Pemuda itu berdiri mematung dengan mata terbelalak lebar ketika mendapati seekor hewan besar muncul dari balik kabut.
"What the hell is that?!" pekiknya kaget setengah mati melihat hal aneh sekaligus mengagumkan di hadapannya.
Saat Nicolas mencoba untuk memastikan penglihatannya, hewan seperti hiu itu ternyata melihat keberadaannya.
"Oh ... shiit," umpatnya dengan jantung berdebar kencang dan membuat tubuhnya gemetaran seketika. "Oh, shiit!" teriaknya yang kali ini langsung berlari kencang karena makhluk tersebut bergerak mengejarnya.
"HERRR!"
"AAAAA! Help!" teriaknya lari terbirit-birit berusaha menghindari kejaran dari makhluk yang seharusnya hidup di air itu, tapi ini malah hidup di udara.
Nicolas tak berani menoleh ke belakang, tapi ia bisa merasakan hewan besar seperti monster itu mengejarnya.
Nicolas akhirnya berbelok tajam memasuki sebuah gang yang sempit dan berharap makhluk itu tak mengejarnya, tapi ....
BRAKK!!
"AAAA!" teriaknya panik untuk kesekian kalinya karena hewan itu malah berusaha untuk menguburnya dengan puing-puing bangunan yang berjatuhan. Nicolas berusaha menghindar dan terus berlari mencoba menyelamatkan diri.
"Hah! Hah! Hah!"
BRUKK!!
"Agg," erangnya saat ia jatuh tersandung oleh sebuah papan yang melintang dan tak terlihat olehnya karena jalan yang gelap.
"Co-co ...," panggil seekor hewan yang ternyata adalah makhluk penyimpan setengah jiwanya.
"Oh! Akhirnya kumenemukanmu!" seru Nicolas senang saat mendapati hewannya yang seperti burung hantu itu muncul di depannya.
__ADS_1
Nicolas langsung mendekap hewan itu dan kembali berlari dengan menahan sakit di lututnya.
Nicolas tertatih lalu bersembunyi di balik dinding, mencoba menghindari kejaran dari monster mengerikan itu.
"Coco ...."
"Ssttt ... jangan berisik," ucap Nicolas seraya meletakkan telunjuk kanannya di depan bibir.
Hewan itu lalu diam dan menatap Nicolas saksama dengan mata bulatnya. Nicolas berjongkok dengan napas tersengal seraya memeluk hewan itu.
Nicolas mengintip ke arah lorong saat ia merasa hewan besar itu tak lagi mengejarnya. Ia juga mendongak ke atas langit dan tak melihat hewan seperti hiu itu melintas.
Tiba-tiba saja, makhluk penyimpan setengah jiwa miliknya melompat dan berjalan dengan kaki kecilnya ke suatu tempat.
"Hei! Kau mau ke mana?" tanya Nicolas memekik, tapi dengan suara ditahan.
Namun, hewan berbulu putih itu terus berjalan. Nicolas terpaksa mengikuti hewannya dengan berjalan mengendap. Makhluk itu masuk ke sebuah celah dari dinding bangunan di ujung lorong.
Nicolas merangkak karena merasa muat untuk masuk ke dalam. Hingga seketika, matanya melebar.
Suasana dalam bangunan itu berbeda karena ditumbuhi oleh rumput hijau dan bercahaya terang seperti pagi hari.
Nicolas makin terheran-heran, tapi makhluk miliknya itu duduk dengan imut di atas rumput tersebut.
"Hem, tempat yang bagus. Terima kasih, Coco," ucap Nicolas dengan senyuman seraya mengelus hewan mungilnya itu.
Nicolas yang lelah dan kehilangan tasnya, memilih merebahkan dirinya di samping makhluk lucunya itu dengan perasaan lega.
Sedang di tempat Jubaedah berada.
Gadis manis itu malah terlihat asyik dan masa bodoh dengan keberadaannya sekarang. Sedang Kenta cemas karena adiknya tak ada bersamanya.
"Kamu lucu banget sih?" ucap Jubaedah seraya mencolek-colek hewan penyimpan setengah jiwanya yang duduk di atas sebuah kain. Hewan itu diam saja seperti tersenyum dan hanya memandangi Jubaedah.
"Kamu ini hewan apa sih? Telinganya gede, ekornya kaya tupai, tapi warnanya abu-abu. Hem, Juby kasih kamu nama Cabi ya?" ucapnya gemas lalu memeluk hewan lucu miliknya itu yang seperti pasrah saja dengan yang Jubaedah lakukan.
"Sekarang bagaimana, Juby? Kita harus mencari teman-teman yang lain. Kita terpisah," ucap Kenta panik yang mondar-mandir di dalam gua temuan mereka.
"Di luar gelap, Kenta. Nanti ketemu makhluk seram gimana? Besok pagi aja carinya pas matahari udah muncul. Juby juga capek," jawabnya seraya mengelus kakinya yang terasa sakit karena harus menerjang udara dingin di luar.
__ADS_1
Kenta menatap Jubaedah saksama yang terlihat letih. Pemuda itu akhirnya mengangguk. Kenta yang penasaran dengan gua temuan mereka ingin mencoba menelusurinya.
"Aku ingin melihat ke dalam," ucapnya.
"Ajak hewanmu, Kenta," ucap Jubaedah saat hewan mirip kelelawar, tapi berbulu itu terbang mengitari pemuda asal Jepang tersebut.
"Ya. Jika dalam 30 menit aku tak kembali, cari aku ya," pintanya.
"Kamu mah ngrepotin," sahutnya memasang wajah sebal, tapi Kenta malah meringis dan tetap pergi. "Gitu tuh kalo temenan sama anak cowok. Nyusahin," ucap Jubaedah yang malah berkeluh kesah dengan hewan peliharaannya.
Kenta terus berjalan di lorong gelap tak dikenalnya, tapi pemuda itu tak takut. Ia ingin berubah menjadi burung Phoenix, tapi ukurannya yang besar akan membuat lorong itu malah runtuh. Kenta mengurungkan niatnya.
"Ken-taa ...," panggil makhluk bersayap itu saat ia tiba-tiba saja berhenti.
"Ada apa? Kau menemukan sesuatu? Hal buruk? Baik?" tanya Kenta menatap hewannya saksama.
Hewan berbulu putih itu kembali terbang dan Kenta dengan sigap mengejarnya. Hingga tiba-tiba, SRAKK!!
"Wow!" pekiknya kaget saat ia hampir saja jatuh dari tebing.
Namun, gua yang ditempatinya bersama Jubaedah cukup aneh. Ia menemukan aliran sungai dengan cahaya gemerlap di dasar gua.
Kenta melihat sekitar dan merasa jika ia seperti berada dalam perbatasan dimensi yang sulit untuk dijelaskan.
"Kita harus kembali dan memberitahukan hal ini pada Juby. Ayo, Bat!" ajaknya, dan hewan miliknya itu kembali terbang mengikuti Kenta.
Namun, saat Kenta kembali, Jubaedah sudah tertidur lelap seraya memeluk hewan penyimpan jiwanya itu di lantai gua beralaskan kain.
Kenta mengembuskan napas panjang dan akhirnya memilih untuk membiarkan Jubaedah beristirahat.
Kenta berjalan keluar dari bibir gua dan melihat sekitar. Tempat ia dan Jubaedah berada sekarang dikelilingi oleh salju tebal dan cuaca dingin.
Namun anehnya, gua tempatnya berteduh terasa hangat. Kenta yang bingung akhirnya memilih untuk ikut beristirahat di samping Jubaedah.
Beruntung, dua remaja itu tak terpisah dengan makhluk penyimpan cadangan jiwa mereka dan tetap memakai tas saat tersedot oleh badai aneh.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Tips lagi ah mumpung koinnya ada. Siapa tahu bisa buat lebaran. Amin. Jangan lupa vote vocernya sebelum angus ya man teman. Pendek dulu masih pilek. Tengkiyuw❤️