
"Timo!" panggil Jubaedah dan Kenta bersamaan ketika mereka yakin, jika lelaki yang terdampar di tepi pantai itu adalah kawan mereka, Timo.
Kenta dan Jubaedah langsung berlari mendekat dengan tergesa. Kenta dengan sigap membalik tubuh Timo yang tengkurap menjadi terlentang.
"Tim-Tim, uyy! Bangun, Tim!" panggil Jubaedah seraya menepuk-nepuk kedua pipinya, tapi seperti sengaja sedikit keras hingga meninggalkan warna merah meradang di sana.
"Ish! Kau malah melukainya," desis Kenta terheran-heran dengan sikap teman perempuannya itu.
"Kalau dielus-elus, dia malah makin pules pingsannya," jawab Jubaedah tak sependapat.
"Ken-taa ...," panggil kelelawar Kenta yang kini terbang mendekat ke tubuh Timo.
Kenta dan Jubaedah mengamati gerak-gerik hewan berbulu putih itu saat menjilat wajah Timo yang basah.
"Hii, geli," ucap Jubaedah sampai tubuhnya bergetar karena merinding.
Namun, jilatan itu ternyata mampu membangunkan Timo. Sontak, Kenta dan Jubaedah terkejut saat kawan mereka mulai menaikkan tubuh lalu membuka matanya perlahan seperti orang push-up.
"Oh!" kejutnya dengan mata melotot.
"Timo!" teriak Jubaedah senang lalu memeluk pemuda asal Filipina itu.
Remaja itu kaget dan bingung karena tak bisa bergerak akibat didekap kuat.
"Hey, Juby," ucapnya dengan suara tertahan karena wajahnya menempel di dada gadis manis itu.
"Untung tidak ada Rex di sini," kekeh Kenta, tapi Timo dengan sigap melepaskan dekapan Jubaedah paksa hingga gadis manis itu hampir jatuh tersungkur.
"Aku tak mau cari masalah dengan Rex, Juby. Menjauhlah," ucap Timo yang membuat Jubaedah malah terkekeh geli. "Ah, aku senang sekali bisa bertemu kalian," sambung Timo lalu memeluk Kenta erat.
Tiga anak manusia itu tampak gembira karena senyumnya terkembang.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Jubaedah heran karena ia tak melihat kapal atau apa pun di dekat Timo.
"Hah, kalian tak akan percaya! Aku seperti kisah Pinokio. Aku masuk dalam mulut paus saat menjadi Merman. Aku hampir tewas karena diserang oleh duyung menyeramkan. Herannya, saat di dalam mulut ikan besar itu aku tak ingat apa pun. Mungkin, aku tertidur. Saat aku sadar, tiba-tiba sudah di sini," ucapnya berkisah.
"Juby dong, mati beneran," sahutnya malah seperti bangga jika sempat mati.
"Ha? Yang benar? Kau mati? Kalau begitu ... nyawamu tinggal satu?" tanya Timo memekik. Jubaedah mengangguk dengan mantap membenarkan dugaan kawannya. "Bagaimana ceritanya?" tanya Timo penasaran.
Baru Jubaedah akan membuka mulut, Kenta langsung memotong.
"Aku yakin, setelah kamu mendengarnya, kau akan dibuat mati kebingungan," sahut Kenta yang membuat Jubaedah mendesis kesal.
__ADS_1
"Tak apa. Aku mau dengar. Ayo ceritakan!" pinta Timo semangat seraya menepikan diri agar tubuhnya tak terkena terjangan ombak.
Jubaedah mengajak kawan-kawannya duduk di atas rumput menjauh dari bibir pantai. Dua remaja lelaki itu menurut lalu duduk melingkar.
Akhirnya, Jubaedah bercerita. Namun, seperti yang Kenta katakan, Timo seperti dibuat tak percaya dengan penuturan kawan perempuannya itu.
"Agak sulit bagiku untuk membuat kesimpulan dari ceritamu, Juby. Kau yakin dengan yang kaulihat? Kau tak berhalusinasi?" tanya Timo memastikan.
"Ish, bener! Ya udah kalau gak percaya," ucapnya merajuk.
Timo menghela napas seraya melirik Kenta yang menggaruk kepalanya. Mereka memilih untuk tak membahas hal ini lagi karena terlalu lelah untuk membuat dugaan.
"Oia, apakah kau sudah tahu apa misi kita selanjutnya? Aku belum tahu level 6 ini kita harus melakukan apa," tanya Kenta menatap Timo saksama.
Saat Timo menggeleng, tiba-tiba muncul portal di belakang pemuda itu Praktis, Kenta dan Jubaedah terkejut.
Tiga remaja itu langsung berdiri terlihat tegang ketika muncul tulisan dalam portal yang bersinar terang.
Ketiganya berguman, tapi berakhir dengan memekik bersama. "Kraken?!"
"Oh! Oh!" ucap Timo seraya memegangi dadanya seperti terkena serangan jantung.
Perlahan, portal itu lenyap. Tiga remaja itu pucat seketika di mana mereka sudah pernah mendengar tentang kisah Kraken sebelumnya.
"Gila! Itu monster yang sangat besar mungkin seperti Hydra! Bedanya, Hydra masih bisa kita lawan di permukaan karena kita memijak tanah. Kalau Kraken? Kita tercebur dan bisa tenggelam tanpa harus melawannya," ucap Kenta berpendapat seraya memegangi kepalanya yang mendadak terasa berat.
"Kenapa harus lawan gurita sih? Kan Juby geli!" sahut Jubaedah merengek meski air matanya tak menetes.
"Ini baru level 6, tapi kenapa rasanya seperti berhadapan dengan level 10 ya?" ucap Timo lesu dengan wajah malas.
Tiga anak itu memilih untuk tak berpikir dan bermalas-malasan di atas rumput. Mereka mulai merindukan sekolah, omelan orang tua, dan juga kesibukan saat di Bumi.
Siapa sangka, hal itu membuat ketiganya mulai membuka diri. Hingga malam menjelang, mereka malah asyik bercerita tentang pengalaman masing-masing di kehidupannya seraya menatap langit malam yang berubah-ubah warna seperti pelangi.
"Oh, jadi kau ke Rusia karena ada acara? Lalu ... kau sebenarnya tinggal di Turki? Namun, karena orang tuamu sama-sama dari Indonesia, kau bisa bahasa Indonesia campuran. Begitu?" tanya Timo menyimpulkan yang kali ini kisah Jubaedah bisa ia telaah.
"Iya. Rexy sama Juby sering ketemu di Rusia dan Turki. Kayaknya, papi Eko punya bisnis gitu sama papa Rexy. Kita sering diajak dan main bersama, jadinya akrab. Hampir tiap bulan ketemu padahal jarak Rusia sama Turki jauh loh. Namun terkadang, kami ketemu di negara mana gitu tempat bisnis orang tua," imbuh Jubaedah menceritakan hubungannya dengan Rex.
"Aku belum pernah ke Rusia dan Turki. Bolehkan aku berkunjung ke sana suatu saat nanti? Ayahku mengatakan, jika aku ingin pergi ke suatu tempat, bilang saja padanya. Dia akan senang hati mengantarkan. Hanya saja, entahlah. Padahal ... ayah tiriku sudah lama tinggal bersamaku, tapi ... yang kuingat hanya tentang ayah kandungku Tora," ucap Kenta terlihat sedih.
Jubaedah dan Timo diam sejenak. "Ayah tirimu baik hati gak?" tanya Jubaedah penasaran dengan tangan bersedekap di atas perut.
"Iya, baik. Baik banget malah. Dia juga hebat karena bisa berbagai bahasa. Pintar dan terlihat cekatan. Hanya saja, seperti ada yang ditutupi dari masa lalunya. Ia sepertinya enggan bercerita saat kuminta berkisah tentang keluarganya. Dia bilang ... tak ingat. Dia hanya tahu jika yatim piatu lalu dibesarkan oleh keluarga kaya dan menjadi asisten di sana hingga puluhan tahun. Setelah itu, ia mendapatkan kebebasan setelah memutuskan untuk pindah bekerja. Lalu ayah tiriku bertemu dengan ibuku di Jepang dan menikahinya. Namun lucunya, dia dan dua pria Asing yang tinggal di Kastil tuan Arjuna sepertinya bersaudara. Tiga orang itu sangat akrab. Bahkan, nama mereka bertiga huruf depannya D semua. Aneh 'kan?" jawab Kenta yang kini menceritakan tentang keluarganya dan sang ayah tiri.
__ADS_1
"Ha? Tiga-tiganya berhuruf D?" sahut Jubaedah terheran-heran dan Kenta mengangguk membenarkan.
"Mereka orang asing? Seperti orang Eropa atau Amerika begitu?" tanya Timo penasaran.
"Hem. Aku juga memiliki saudara perempuan dari ibu dan ayah tiriku itu. Namun, hanya satu. Katanya, ibuku repot karena harus mengurus banyak anak. Namun, aku menyayangi adikku itu karena ia berbeda dengan saudara-saudariku dari keturunan ayah Tora. Dia seperti orang asing karena mirip orang Eropa," jawab Kenta semangat.
Jubaedah dan Timo ber-Oh seperti kagum.
"Kayaknya keluargamu seru banget. Rame! Juby cuma punya abang doang, itu aja jarang ketemu. Sekalinya ketemu, berantem terus. Abang sibuk sama temennya si King D. Malah Juby sering iri dan sedih, karena abang lebih akrab sama temennya itu ketimbang adiknya sendiri," ucap Jubaedah langsung murung.
"Namanya unik, King D," sahut Timo terkekeh pelan.
"Malah, mas King D baik sama Juby. Dia sering kasih Juby oleh-oleh kalau abis pergi sama abang. Sering temenin Juby main kalau bapak, ibu atau abang lagi sibuk sama kerjaan. Juby malah ngrasa, mas King D lebih cocok jadi kakak kandung, ketimbang bang Otong. Juby benci sama abang," ucapnya terlihat sedih dan marah.
"Eh, jangan seperti itu. Aku yakin jika abangmu memiliki alasan kenapa bersikap demikian. Aku tak menyangka jika kau bisa sedih. Kau selalu terlihat ceria dan bersemangat. Seolah hidupmu penuh dengan pelangi dan kupu-kupu. Namun siapa sangka, dibalik tawamu, hatimu juga tertutup mendung," sahut Timo yang membuat Jubaedah perlahan tersenyum.
"Hah, entah kenapa, cerita kalian membuatku mengantuk seperti mendengar dongeng sebelum tidur," ucap Kenta yang sudah memejamkan mata seperti siap terlelap.
Jubaedah dan Timo terkekeh karena merasa jika ucapan Kenta ada benarnya.
"Kamu gak mau cerita lagi, Timo? Kisahmu kurang banyak," tanya Jubaedah mulai mengulik.
"Hem, cerita apa ya? Aku hanya punya satu saudari dan itu Tina. Kami sering menghabiskan waktu bersama karena tinggal dalam satu rumah. Ibu kami juga akrab dan jarang bertengkar. Malah, kami lebih sering melihat ayah dimarahi oleh ibu-ibu kami entah apa masalahnya. Sampai ayah pernah bilang seperti ini padaku. 'Timo, besok jika kau ingin menikah, satu wanita saja. Dua sungguh merepotkan'. Ya, begitulah kira-kira," kekehnya diakhir cerita.
Jubaedah dan Kenta ikut terkekeh membayangkan penderitaan ayah Timo selama ini.
"Aku sebenarnya juga penasaran dengan ayahku. Jika dia masih hidup, kira-kira ... ayah Tora akan mengatakan apa ya? Dia meninggal begitu saja, dan tak meninggalkan pesan apa pun padaku," ucap Kenta sedih.
"Udah, Kenta. Ikhlasin, biar papimu tenang di sana. Walaupun sekarang ada papi baru, tapi setidaknya hargai keberadaannya. Ia juga pasti merasa sulit dan sungkan hidup di antara kalian. Pasti dia adaptasi cukup lama, terlebih harus bisa akrab dengan kalian. Juby tahu ini saat dengar cerita dari papi yang pernah cerita soal bosnya. Malah menurut Juby, bos papi lebih gila lagi karena nikah sampai lima kali! Kok bisa ya?" pekik Jubaedah yang membuat mata Kenta kembali terbuka padahal tadi sudah tertutup.
"Nikah empat kali? Anaknya ada berapa?" tanya Kenta memekik.
"Nikahnya lima kali, tapi anaknya cuma 4. Nah, papi kerja dengan mereka berempat. Join bisnis bareng gitu. Makanya, Juby antusias banget pas diajak ketemuan jajaran yang diadain 5 tahun sekali itu. Katanya, seluruh keluarga datang dan kastil Borka yang guede banget bakal sumpek! Terlebih, setelah tahu kalau kalian juga sepertinya masuk dalam jajaran. Kita bakal reunian!" seru Jubaedah senang dengan kedua tangan terangkat.
Kenta dan Timo mengangguk terlihat tak sabar untuk menghadiri acara itu. Mereka tampak penasaran dengan orang-orang yang pernah diceritakan sebelumnya saat mereka menghabiskan waktu bersama kawan-kawan lainnya sambil mengobrol seperti hari ini.
Perlahan, tiga anak itu tak lagi bersuara. Kenta, Timo dan Jubaedah mulai tertidur lelap ditemani oleh kelelawar putih milik Kenta yang masih terjaga.
***
kwkwkw ngabisin tips koin buat nambah2 beli kuota bulanan. jangan lupa boom like audio book rekaman lele ya biar lele dapat saweran koin dari MT. makasih❤️
__ADS_1