
Seketika, wajah anak-anak itu langsung pucat saat melihat dari atas tebing, hutan tempat tinggal hewan-hewan karnivora harus mereka lewati.
Namun, tas Rex yang masih berisi satu ekor ubur-ubur membuat pemuda berambut hitam itu terlihat mantap saat berdiri di hadapan kawan-kawannya yang lesu.
"Kita masih bisa melintasinya! Kita punya ubur-ubur!" ucapnya mantap seraya menunjukkan ubur-ubur yang masih diam saja dalam tasnya.
"Maksudnya?" tanya Jubaedah bingung, tapi Rex malah tersenyum.
"Oh, aku tahu! Kau ingin menggunakan ubur-ubur itu untuk mengusir hewan-hewan bergigi tajam itu ya? Seperti yang kaubilang jika mereka takut dengan ubur-ubur ini?" tanya Boas seraya mendekat.
"Nah!" seru Rex seraya menjentikkan jari membenarkan tebakan kawannya.
Wajah para remaja yang tadinya sendu kini berbinar. Masih ada lima ubur-ubur dalam tas beberapa anak.
Mereka lalu berkumpul untuk membuat strategi agar tetap selamat melintasi hutan penuh misteri itu.
"Kita sudah kehilangan satu kawan kita. Jangan sampai kita kehilangan teman kita lagi. Aku sangat menyesal tak bisa menyelamatkan Teddy," ucap Lazarus sedih.
Semua anak mengangguk setuju. Lima dari anak Amerika yang mendapatkan wujud mitologi kurcaci, harus merelakan salah satu kawan mereka yang gagal keluar dari hutan saat dikejar oleh sekumpulan makhluk pemakan daging itu.
Teddy tertangkap dan sampai sekarang sosoknya tak muncul usai kejadian itu.
"Gibson dan Rangga bagaimana?" tanya Azumi cemas.
"Kalian sebaiknya menaiki Vadim saja. Bagaimana?" saran Pasha.
"Ya, aku tak keberatan. Aku kuat membawa mereka," jawab Vadim mantap.
"Terima kasih, Vadim. Maaf, merepotkan," sahut Rangga berkecil hati.
"Ah, tak masalah. Anggap saja salah satu caraku untuk diet. Hehe," jawabnya seraya mengelus perutnya yang buncit, tapi membuat anak-anak terkekeh.
"Baiklah. Semuanya, segera bersiap. Kita akan melanjutkan misi level 3. Semangat dan tetap waspada!" seru Gibson meski tangan kirinya tetap terjuntai lesu.
"Yeah!" jawab anak-anak semangat.
Gibson naik ke punggung pegasus Vadim di depan dengan Rangga di belakangnya. Rex berubah menjadi naga dan membawa semua kawan-kawannya yang tak memiliki kemampuan terbang kecuali Kenta.
Remaja asal Jepang itu sangat menyukai wujud naga Rex. Kenta duduk di depan dan lainnya berurutan di belakang.
"Ayo!" ajak Boas yang berubah menjadi peri.
Dengan sigap, kelompok itu terbang meninggalkan tebing tabung menuju ke hutan. Sayangnya, cahaya petunjuk jalan berada di permukaan tanah.
Rute selanjutnya tak terlihat karena cahaya biru itu memasuki hutan yang tak diketahui ke mana ujungnya.
Rex turun perlahan diikuti oleh kawan-kawan yang memiliki kemampuan terbang sepertinya. Rex segera kembali ke wujud manusianya berikut yang lain kecuali Vadim.
__ADS_1
Anehnya, lokasi itu sudah sepi. Hewan seperti ubur-ubur yang dapat melayang di udara tak ada di wilayah itu.
Padahal, Rex dan lainnya yakin jika masih ada beberapa ubur-ubur yang tertinggal karena tas mereka tak muat untuk memasukkan semuanya.
"Ke mana perginya? Apakah ... ubur-ubur itu sudah sadar lalu pergi? Jangan-jangan, ubur-ubur di tas kita sudah agresif lagi?" tanya Bara panik.
Gibson meminta kepada kawan-kawannya untuk mengeluarkan ubur-ubur yang masih berada dalam tas dengan hati-hati karena mereka yakin jika tentakelnya masih berfungsi untuk melumpuhkan syaraf motorik.
"Oh! Mereka masih bengong kok. Syukurlah," ucap Jubaedah lega saat melihat ubur-ubur di tas Rex.
"Sama, milik kami juga!" sahut Timo dan diangguki oleh anak-anak yang lain.
"Baiklah. Kita tak perlu ambil pusing ke mana perginya ubur-ubur yang tertinggal di tempat ini. Sekarang, kita fokus pada misi kita agar bisa segera pulang ke Bumi," tegas Gibson dan diangguki anak-anak yang setuju dengannya. "Nicolas. Tunjukkan pada kami soal idemu dengan Rex," pinta Gibson, dan remaja berambut pirang itu menunjukkan jempolnya.
Anak-anak melihat dengan serius saat Rex dan Nicolas seperti melakukan sesuatu pada seekor ubur-ubur yang diambil dari tas Rex.
"Bagaimana? Seperti balon ya?" tanya Nicolas saat ia berhasil mengikat salah satu ubur-ubur dengan tali dan membuat hewan itu melayang di sebelahnya.
"Iya, lucu ya?" sahut Tina dan diangguki kawan-kawan wanita yang lain.
"Oke, kita buat barisan," ucap Gibson yang masih duduk di punggung pegasus Vadim.
Anak-anak segera merapat dengan Nicolas, Rex, Mandarin, Lazarus, dan Kenta membawa ubur-ubur yang sudah mereka ikat.
"Rex akan memimpin jalan di depan. Lalu, pembawa ubur-ubur lainnya berada di antara beberapa anak sebagai pelindung. Barisan terakhir adalah Lazarus. Kalian paham?" tegas Gibson dan diangguki semua anak, meski mereka terlihat gugup.
Namun, Lazarus dengan berani malah melangkah ke depan seraya menarik ubur-ubur dengan tali dalam genggamannya.
"Zar, hati-hati!" seru Rangga cemas.
"Berani mendekati kami, akan kubuat kalian semua lumpuh!" seru Lazarus garang seraya menarik ubur-ubur itu mendekati hewan-hewan bergigi tajam tersebut.
Praktis, hewan-hewan itu langsung berlari dengan panik. Siapa sangka, dugaan Rex benar jika hewan-hewan bertelinga runcing itu takut dengan ubur-ubur tersebut.
"Yeah!" seru Timo gembira karena rencana mereka berhasil dengan memanfaatkan ubur-ubur lucu, tapi mematikan itu.
"Ayo! Kita harus bergegas sebelum ubur-ubur ini tak lagi bisa menjadi penjaga kita," seru Gibson memimpin misi.
"Ayo!" jawab anak-anak serempak.
Segera, anak-anak itu berjalan berurutan sesuai dengan instruksi di awal.
Rex memimpin di depan diikuti oleh pegasus Vadim yang ditunggangi oleh Gibson dan Rangga. Selanjutnya di belakang mereka, ada Jubaedah masih dengan wujud Lady Dragon-nya.
Lalu dibarisan berikutnya ada Mandarin yang membawa ubur-ubur. Di belakangnya ada Pasha, Azumi, empat anak Amerika bernama Jimmy, Rocky, Peter, dan Bruce.
Setelahnya ada Kenta yang ikut membawa ubur-ubur sebagai penjaga barisan ketiga disusul oleh Ryan, Tina, Timo, dan Laika di belakangnya.
__ADS_1
Selanjutnya barisan keempat. Nicolas membawa ubur-ubur dengan anggota Bara, Boas, Czar dan Harun lalu ditutup oleh Lazarus di barisan paling terakhir sebagai penjaga kelompok.
Anak-anak itu terlihat tegang saat memasuki hutan berkabut. Ubur-ubur yang diikat melayang di samping kanan dan kiri mereka.
Sedang Rex, sengaja mengarahkan ubur-ubur itu di depannya menggunakan kayu dengan mendorongnya seraya berjalan.
Sedang Lazarus, harus menoleh beberapa kali untuk memastikan ubur-uburnya tak lepas saat mengikutinya di belakang yang sengaja pergelangan tangan kanannya ia ikat dengan tali agar tak lepas jika terpaksa berlari.
Sedang, anak-anak yang lain terlihat waspada seraya melihat garis cahaya di permukaan tanah yang mereka pijak di mana rute menuju portal misi level 3 berada.
"Hewan-hewan itu masih mengawasi kita. Seram," ucap Azumi berbisik di mana pergerakan mereka masih diintai oleh makhluk bertelinga runcing itu.
"Tetap berjalan, jangan berlari. Aku khawatir, jika kita melakukan gerakan mengejutkan, mereka akan berpikir jika kita lengah. Tetap tenang dan waspada," ucap Gibson menasehati seraya menoleh ke belakang.
"Hem, kami mengerti," jawab Ryan gugup dan terlihat takut saat matanya memindai sekitar hutan itu.
"Eh, tapi ... gelembungnya udah gak ada lagi loh. Ke mana ya?" tanya Jubaedah yang membuat anak-anak lainnya baru menyadari hal tersebut.
"Oh iya! Tadi ada ya, banyak lagi. Sebenarnya, fungsi dari gelembung-gelembung itu apa ya?" tanya Timo menyahut.
"Entahlah. Namun, firasatku gelembung itu bukan pertanda baik. Aku malah berharap, gelembung itu tak muncul lagi," sahut Czar dan disetujui oleh semua anak.
Cukup lama mereka berjalan menyusuri hutan mengikuti garis cahaya. Tiba-tiba saja, Rex menghentikan langkah yang membuat wajah kuda Vadim menabrak punggungnya.
"Apa sih, Rex? Jangan rem mendadak dong," seru Rangga hampir jatuh dari punggung Vadim.
"I-itu ... ubur-uburnya ... mulai goyang-goyang. Jangan bilang dia udah sadar," ucapnya yang membuat mata semua anak melebar.
Praktis, para pemimpin regu yang memegang tali pada ubur-ubur itu melihat hewan transparan tersebut.
Benar saja, ubur-ubur itu mulai menggerakkan tentakel dan sayap di bagian atas kepala mereka seperti sudah sadar.
"Wa! Wa!" teriak Lazarus histeris dan membuat semua anak langsung menoleh ke belakang.
"Aaaaa! Ubur-uburnya mendekat!" teriak Laika lantang dan membuat semua anak panik seketika karena hewan itu kini bergerak ke arah mereka.
"Run!" seru Harun dengan mata melotot dan membuat semua anak bergegas melangkah.
Rex dan lainnya melepaskan tali mereka lalu berlari kencang menjauh dari ubur-ubur tersebut agar tak berakhir seperti Gibson dan Rangga.
Sayangnya, Lazarus lupa jika tangannya masih terikat dengan ubur-ubur yang ia bawa. Lazarus berlari kencang dan melupakan ubur-ubur yang kini tertarik kuat olehnya.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya mbak Aju❤️semoga bisa segera dubbing lagi ditengah kemualan yang mulai melanda. hadeuh😵jangan lupa vote vocernya keburu angus ya gaes. makasih💋
__ADS_1