MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MISI DI BUMI*


__ADS_3

Perlahan, mata anak-anak dan para manusia dewasa terbuka. Kenta dan lainnya ikut terkejut karena mereka bangun dalam kondisi sama seperti pertama kali sebuah drone memindai mereka. Kenta bergegas bangun dan melihat sekitar. Ia melihat kawan-kawannya terlihat bingung dengan apa yang terjadi termasuk guru-guru.


Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


"Kenta-kun!" seru seorang gadis manis yang berlari ke arahnya.


Kenta langsung menoleh ke asal suara dan mendapati Azumi tersenyum lebar padanya.


"Azumi!" panggil Kenta senang lalu memeluk adiknya erat.


Keduanya terlihat bahagia karena tak menyangka sudah kembali ke Bumi usai menyelesaikan misi di Planet Mitologi. Azumi dan Kenta melihat kawan-kawan serta para guru yang masih linglung. Azumi lalu berbisik pada kakaknya dan Kenta mengangguk.


"Hei, Jiro. Apa yang terjadi pada kita?" tanya Kenta seraya mendatangi salah satu temannya yang terlihat bingung akan sesuatu.


"Entahlah. Kenapa aku tidur di atas rumput?" jawabnya heran.


Kenta bertatapan dengan Azumi. Keduanya semakin yakin jika ucapan si malaikat ketika di Planet Mitologi bila semua ingatan anak-anak yang kalah dalam permainan dan para manusia dewasa dihapuskan. Keduanya ingat dengan kejadian terakhir saat di perkemahan musim panas. Sayangnya, musim telah berganti dan memasuki musim gugur. Para orang dewasa kebingungan dengan hal ini.


"Perasaanku saja atau udara mulai dingin ya?" ucap salah satu kawan Kenta seraya mengusap telapak tangan karena menggigil.


"Semuanya masuk ke dalam. Acara di luar sudah selesai," pinta salah satu guru dan semua anak mengangguk.


Para peserta kemah musim panas memasuki pondok satu per satu di mana mereka merasa jika perkemahan sudah berakhir meski dirasa sangat cepat. Azumi berjalan di samping Kenta seraya menggenggam tangannya terlihat akrab.


"Kau sudah meminta semuanya pada Oag?" tanyanya Azumi menatap kakaknya lekat. Seketika, Kenta menelan ludah. Ia terlihat gugup akan sesuatu.


"Mm, maaf. Ada beberapa hal yang harus aku ubah mengingat ... kau tahu 'kan jika akan ada bencana menerjang Bumi? Kuganti permintaanmu dengan hal yang lebih bermanfaat," jawabnya berbisik. Praktis, wajah Azumi berkerut.


"Kalau begitu, bersiaplah hidup tanpa rambut, Kenta-kun!" ucap Azumi melotot yang membuat Kenta panik dan spontan berlari. "Jangan kabur! Lihat saja, aku tak main-main dengan ancamanku!" teriak Azumi marah yang kini sudah berani bersikap garang kepada kakaknya.


Dulunya, Azumi dikenal pemalu dan tak pernah marah. Semua anak yang baru menyadari sisi lain dari Azumi dibuat kaget akan perubahan drastis itu.


Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.


"Kita sudah kembali?" tanya Rangga di mana Bara sudah berdiri di hadapannya ikut terlihat gugup. Bara mengangguk membenarkan seraya melihat sekitar.


"Kau sudah menyebutkan permintaanmu pada pria tampan itu? Apakah kau berhasil menggunakan kesepuluh dari jatah hadiah kita?" tanya Bara menatap Rangga lekat. Pemuda berkulit hitam itu menjawab dengan senyum licik disertai dua alis terangkat.


"Yeah, bagus! Hah, aku tak sabar dengan pertemuan besar nanti. Kita harus bersiap, Rangga," bisik Bara, dan Rangga mengangguk setuju.


Hal serupa juga terjadi di seluruh belahan dunia lain. Musim yang tiba-tiba sudah berganti menjadi gugur, membuat perkemahan musim panas diakhiri. Orang-orang dibuat bingung dengan apa yang terjadi. Namun, tak ada satu pun bukti yang dibisa dijelaskan oleh para cendikiawan di Bumi akan fenomena aneh itu. Oag dan Jenderal yang mengawasi para manusia dari Planet Mitologi melalui kamera rahasia hanya bisa tersenyum di mana usaha mereka tergolong rapi karena tak meninggalkan barang bukti.


Hingga akhirnya, pertemuan di Kastil Borka Rusia dilangsungkan. Ini pertama kalinya seluruh mafia dalam jajaran 13 Demon Heads dan juga The Circle berkumpul. Mereka mengajak anak-anak seperti yang sudah dijanjikan sesuai permintaan Vesper saat akhir hidupnya. Seketika, Kastil Borka yang biasanya sepi itu menjadi ramai dan penuh dengan manusia. Meski demikian, para mafia masih menutup jati diri tentang masa lalu mereka. Sayangnya, mereka tak tahu jika anak-anak itu telah mendapatkan ingatannya kembali dan menyadari jati diri sebenarnya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Selamat datang. Wah, sudah lama sekali kita tak bertemu. Apa kabarmu, Tuan Victor," sapa Eiji dengan Rex dan Monica berdiri menghimpitnya.


"Baik, Tuan Eiji. Kau terlihat awet muda. Apakah ... kau menggunakan balsem Tora atau semacamnya?" tanya Victor yang membuat Eiji langsung menepuk lengan kawan asal Australia itu.


Victor terkekeh dan merasa jika ucapannya barusan bukan masalah besar. Ia berpikir, jika Boas tak paham dengan hal itu. Padahal, Boas tahu siapa pria yang disebut Tora tersebut. Namun, Boas memilih diam.

__ADS_1


"Oh ya. Kalian sebaiknya berkenalan. Dia Boas, putera dari Aisha dan juga Victor," ucap Monica kepada puteranya, Rex.


"Hei, Boas. Akhirnya ... kita bertemu dengan cara yang benar layaknya manusia beradab pada umumnya," ucap Rex seraya mengajak Boas berjabat tangan.


"Hahaha. Ya. Jadi, begini ya, rasanya. Cukup seru," jawabnya dengan senyum terkembang.


Praktis, kening para orang tua berkerut. Rex dan Boas bahkan langsung akrab. Rex mengajak Boas untuk ikut dengannya mengincipi hidangan di mana ia mengatakan jika Jubaedah ikut andil dalam memasak.


"Oh ya? Juby memasak? Hahaha, bukan ikan bakar 'kan?" tanya Boas berkesan menyindir, tapi Rex terkekeh.


"Kali ini, dia membuat kue. Aku juga tak menyangka jika kue buatannya enak. Ibu Juby sangat hebat dalam memasak," jawab Rex.


Siapa sangka, gerak-gerik dua remaja itu diamati oleh orang tua mereka. Victor dan Eiji saling memandang terlihat bingung, begitupula Monica dan Aisha.


"Untuk sebuah pertemuan pertama. Ini sangatlah aneh dan mencurigakan. Apakah ... mereka sudah kenal sebelumnya?" tanya Aisha heran.


"Entahlah. Rex tak pernah menyebut jika memiliki kawan dari Australia bernama Boas," sahut Monica ikut bingung.


"Mungkin ... berkenalan lewat internet? Media sosial?" imbuh Eiji menduga.


Victor dan lainnya menganggap hal itu sedikit masuk akal jika anak-anak mereka berkenalan di dunia maya. Akhirnya, kecurigaan keduanya sirna dan kembali fokus pada acara akbar yang dinantikan itu.


Hanya saja, gerak-gerik anak-anak yang tergabung dalam Demon Kids tak bisa luput dari pengawasan sepasang mata yang menyadari hal aneh itu.


"Ada apa, Sayang? Apa yang mengusikmu?" tanya Jordan seraya memberikan segelas wine pada sang isteri—Sandara Liu.


"Aku rasa ini bukan hanya sekedar firasat. Aku harus membuktikannya," jawab Sandara seraya menerima gelas wine dan meneguknya sedikit, tapi sorot matanya tetap membidik kumpulan para remaja yang sudah seperti sebuah kelompok karena mereka berkumpul di sudut ruangan seraya menikmati sajian.


"Pastikan mereka tetap berada di Kastil usai acara. Buat sebuah alasan sehingga mereka menginap dan tak pergi dari tempat ini. Bisa kaulakukan hal itu untukku, Sayang?" tanya Sandara dengan senyum tipis menatap suaminya lekat seraya memberikan gelas wine yang masih tersisa.


"Mudah. Anggap saja sudah kulakukan," jawab Jordan seraya menerima gelas itu, lalu mengecup kening Sandara lembut.


Anak-anak Demon Kids berkumpul dan terlihat seru dengan dunia mereka. Sedang Gibson, matanya sibuk melihat sekitar seperti mencari sesuatu.


"Ada apa, Gib?" tanya Ryan heran karena kawannya seperti tak fokus akan sesuatu.


"Ah, tidak. Hanya saja ... oh!" pekiknya tiba-tiba yang membuat semua anak menoleh ke arahnya.


"Kau melihat apa?" tanya Tina penasaran dengan potongan cake pada ujung garpunya.


"Kenapa Tante cantik itu menatapku seperti itu?" tanya Gibson yang matanya kini saling beradu dengan sosok wanita cantik berambut panjang dan memakai riasan tebal.



"Oh, itu Tante Lysa Herlambang. Dia wanita cantik yang sukses. Dia punya perusahaan elektronik di Jerman. Suaminya seorang Sultan. Terus punya dua anak namanya King D dan Fara. Juby kenal karena Bang Otong temenan sama King D," jawab Jubaedah dengan wajah berbinar.


"Perasaanku tidak enak dengan tatapannya," jawab Gibson yang membuat semua anak ikut berwajah tegang.


"Hai," sapa seorang pria tampan yang tiba-tiba muncul di hadapan kumpulan anak-anak itu.


Vadim sampai tersedak karena tak menyadari kedatangannya. Praktis, mata semua anak kini tertuju pada pria yang memiliki aura seorang penguasa.

__ADS_1


"Ya?" jawab Pasha seraya menelan ludah.


"Perkenalkan. Aku ... Jordan Boleslav," jawabnya dengan senyum tipis. Anak-anak mengangguk di mana ingatan mereka sedikit samar dengan sosok bernama Jordan. Namun, embel-embel Boleslav terdengar familiar. "Aku dan isteriku Sandara Liu mengadakan pesta yang khusus mengundang anak-anak untuk merayakan ulang tahun putera kami. Itu dia isteriku," ucap Jordan seraya menunjuk tempat Sandara berada di mana wanita cantik itu sudah membidik para remaja Demon Kids dari tempatnya duduk. Wajah anak-anak itu terlihat tegang seketika.



"Jika kalian tak keberatan, maukah datang untuk ikut meramaikan acara?" tawar Jordan.


"Mm ... soal itu, kami tak keberatan, tapi harus izin pada orang tua dulu," jawab Timo gugup.


"Sudah Ayah izinkan," sahut Jeremy yang tiba-tiba muncul di belakang Jordan.


"Oh, benarkah? Cepat sekali," tanya Timo terheran-heran, tapi Jeremy hanya tersenyum.


"Pastikan mereka pulang dengan selamat, Jordan," tegas Jeremy menatap Jordan tajam.


"Tentu saja, Profesor. Jangan khawatir. Akan kupulangkan mereka semua begitu acara sudah selesai," jawab Jordan tenang.


Jeremy mengangguk lalu menepuk pundak putera Boleslav tanda ia mempercayainya. Jeremy beranjak dan meninggalkan kumpulan anak-anak dengan Jordan masih menatap mereka saksama.


"Kalau boleh tahu, acaranya di mana, Om?" tanya Bara gugup.


"Italia. Kalian sudah pernah ke sana sebelumnya?"


"Woah! Italia! Luar negeri?" tanya Rangga sampai melebarkan mata. Jordan mengangguk.


"Aku belum pernah ke sana sebelumnya. Pasti seru sekali!" sahut Laika, dan diangguki semua anak.


"Kita akan pergi dua hari lagi begitu acara di Kastil Borka selesai. Aku sudah meminta izin pada orang tua kalian dan mereka memperbolehkan. Jangan khawatir, kalian berada di tangan seorang pria yang bisa diandalkan. Itu saja dariku, dan ... nikmati pestanya," ucap Jordan seraya memajukan sedikit gelas berisi wine sebagai salam perpisahan.


Anak-anak mengikuti gerakannya dengan segelas jus dalam genggaman. Jordan melangkah pergi, tapi kharismanya seperti pria sejati yang membuat wajah para remaja perempuan merona.


"Tampan sekali," ucap Azumi sampai wajahnya memerah.


"Dia sudah memiliki isteri yang bernama Sandara Liu. Jangan macam-macam. Paman Jordan itu orang hebat. Dia memiliki perusahaan terkemuka di Rusia. Begitupula isterinya yang memiliki perusahaan farmasi di Italia. Hampir sama dengan Ayah Timo dan Tina di Filipina," sahut Rex, dan semua orang mengangguk paham.


"Oh, oh!" pekik Jubaedah seraya menepuk lengan Rex kuat, tapi membuat putera Eiji merintih kesakitan.


"Apa sih?" tanya Rex seraya mengelus lengannya yang sakit.


"Bisakah kita berikan serum itu pada Bibi Sandara? Atau ... Ayah Timo? Mungkin mereka bisa melakukan sesuatu dengan darah-darah makhluk Mitologi yang kita minta sebagai antisipasi bencana di masa depan!" tanya Jubaedah dengan mata membulat penuh.


"Ah, benar yang dikatakan Juby! Kalian membawanya?" tanya Harun menatap kawan-kawannya satu per satu. Semua anak mengangguk.


"Ini kesempatan kita. Nanti, kita cari alasan agar bisa datang ke perusahaan farmasi milik Nyonya Sandara di Italia. Buat dia percaya dengan cerita kita. Kurasa, kita sudah menemukan orang yang tepat untuk diberikan darah-darah itu," ucap Nicolas mantap, dan semua anak mengangguk setuju.


Kini, mata para remaja itu tertuju pada Sandara yang terlihat begitu menawan. Para remaja lelaki tersipu malu karena bagi mereka, Sandara Liu terlihat masih sangat muda dan memancarkan aura tersendiri.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2