MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
SEMANGAT MENCARI YANG LAIN*


__ADS_3

Praktis, Czar panik seketika. Ia dengan sigap merobek jaring di tubuh sahabatnya karena Ryan seperti pingsan.


Beruntung, hewan penyimpan cadangan nyawa milik Laika yang terperangkap bersama Ryan, masih sanggup bertahan meski ikut lemas karena kehabisan oksigen.


"Uhuk! Hah ... hah, bertahanlah, Ryan. Aku akan mengeluarkanmu dari sini," ucap Czar dengan wajah tegang dan pucat karena merasa paru-parunya terhimpit.


Czar menyeret tubuh Ryan menuju ke bibir gua dengan susah payah dan jatuh berulang kali. Hewan penyimpan cadangan jiwa Laika yang ikut lemas, tergeletak di atas dada Ryan.


Sedang, hewan milik Czar sudah lebih dulu berada di luar gua di mana badai salju sudah lenyap.


"Argh, hah, hah, sedikit lagi, se ... di ... kit, lagi ...," ucapnya menyemangati diri dengan tubuh sudah roboh sembari menarik kedua kaki Ryan dalam posisi duduk.


Namun, Czar yang seperti sudah kehabisan energi akhirnya roboh dengan tubuh terlentang. Tangannya berhasil keluar dari bibir gua, tapi tidak dengan tubuhnya.


"Piii! Piii!" panggil hewan penyimpan cadangan milik Czar panik dan terus melengking.


Hewan itu memanggil tuannya yang perlahan ikut memejamkan mata.


Di sebuah tempat dalam gua.



Czar merasakan pergerakan di sekitarnya. Ia melihat seperti ada sebuah pohon di tengah-tengah kolam dengan air yang jernih dan terpapar sinar matahari dari celah gua.


Pemuda itu masih merasa lelah dan mengantuk. Saat Czar akan memejamkan matanya lagi, tiba-tiba dadanya dinaiki oleh sesuatu dan wajahnya dijilat hingga membuatnya bangun sepenuhnya.


"Agh!" keluhnya karena wajahnya menjadi basah.


"Piii!" seru hewan penyimpan cadangan jiwa miliknya sedang melompat-lompat terlihat riang.


"Oh, hei!" panggil Czar dengan senyum terkembang seraya bangun perlahan.


"Czar!" panggil seorang gadis langsung berlari mendatangi dan memeluk kepalanya erat.


Czar terkejut dan malah diam dengan mengedipkan mata.


"Wait, wait. Laika? Sungguh, itu kau?" tanya Czar langsung melepaskan pelukan dan menatap kawan perempuannya saksama.


"Yes, it's me! Aku takut kau tak selamat. Syukurlah," jawabnya dengan senyum terkembang lalu duduk bersimpuh di sampingnya.


"Hei!" panggil Rangga seraya mendekat.


Mata Czar melebar. Ia melihat kawan-kawannya muncul di sekitarnya. Pemuda itu langsung duduk dengan kain masih menyelimuti tubuh bagian bawah.

__ADS_1


"Kalian di sini? Sungguh? Ini bukan mimpi?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Ya! Senang bisa menemukanmu, Kawan!" seru Timo seraya menepuk salah satu pundak remaja Rusia itu.


Czar tampak senang. Ia berpelukan dengan kawan-kawannya satu per satu. Hingga ia menyadari jika Ryan yang ikut bersamanya, tak ada di dekatnya. Sontak, Czar panik seketika.


"Pasti kau mencari Ryan. Jangan khawatir, dia selamat. Hanya saja, dia sepertinya trauma dengan gua. Ia berada di luar bersama Jubaedah dan Rex," sahut Pasha yang membuat Czar bernapas lega.


"Oh, kita ... di mana? Apakah aku sudah keluar dari gua laba-laba?" tanya Czar dengan kepala mendongak melihat sekitar.


"Ya. Kami menemukanmu dalam kondisi tak sadarkan diri bersama Ryan dan hewan milik Laika. Beruntung, hewan milikmu memanggil kami saat terbang didekat gua," jawab Rangga berkisah.


"Terima kasih. Kalian datang tepat waktu," ucap Czar dengan senyum terkembang.


"Kompas membawa kami kemari saat meminta tempat perlindungan. Siapa sangka, ada gua dengan tempat indah seperti ini dalam pegunungan bersalju," jawab Laika.


"Namun, kata Timo, tempat ini mirip seperti saat ia, Rex dan Gibson berurusan dengan para duyung. Namun bedanya, saat itu pohonnya memiliki daun warna merah muda, tapi yang ini hijau seperti pohon biasa. Kenapa bisa mirip ya? Apa kita kembali ke tempat yang sama?" sahut Pasha ikut bingung.


Semua anak terdiam dan melihat sekitar dengan saksama.


"Kita harus bergegas untuk mencari yang lain. Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik? Kau dan Ryan pingsan seharian. Kalian baru bangun pagi ini," tanya Kenta yang membuat mata Czar melebar.


"Benarkah? Wah, aku tak pernah tidur selama itu. Lalu ... bagaimana dengan hewan penyimpan cadanganku dan Laika? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Czar cemas, dan Laika mengangguk cepat dengan senyuman. Czar kembali lega.


Czar mengangguk paham. Pemuda asal Rusia itu melihat jika banyak perlengkapan yang berhasil dikumpulkan. Bahkan, tasnya yang hilang juga ada di sana.


"Bagaimana kalian menemukan tas-tas itu?" tanya Czar bingung.


"Oh, kami meminta petunjuk pada kompas. Ternyata, beberapa tas kita tersebar di beberapa wilayah dekat sini, kecuali milikku yang memang sudah tak bisa diselamatkan. Kami yang bisa terbang, berpencar untuk mengambilnya seharian kemarin sembari menunggu kalian sadar. Siapa sangka, semua barang berharga kita berhasil ditemukan dengan selamat!" jawab Rangga senang.


Czar merasa lega. Ia tak menyangka jika kawan-kawannya memiliki inisiatif hebat semacam itu.


Semua botol air minum yang kosong sudah terisi penuh dengan bantuan kerang penetral racun milik Timo.


Pemuda asal Filipina itu mengatakan jika kolam tersebut adalah air tawar dan bisa diminum atau digunakan untuk mandi.


Secara bergantian, anak-anak yang dibagi menjadi kelompok perempuan dan laki-laki, membersihkan diri karena tubuh yang kotor.


Air yang mengalir masuk ke dalam kolam karena ada celah kecil diretakan dinding batu bagian bawah, tapi tak diketahui mengarah ke mana.


Anak-anak bernapas lega karena kali ini, tempat itu seperti pemandian di kolam renang biasa. Mereka terlihat senang karena tak perlu berurusan dengan makhluk Mitologi air mana pun yang sempat membuat Rangga trauma.


Sayangnya, celah itu tak bisa dilewati oleh manusia, hanya ikan-ikan dari planet Mitologi yang berukuran paling besar setelapak manusia dewasa.

__ADS_1


Timo memanfaatkan hal itu dengan menangkap ikan-ikan tersebut dan mengeringkannya dengan bantuan panas api dari sosok Phoenix Kenta.


Sore itu, usai semua persiapan perbekalan dirasa cukup hingga ke misi berikutnya, semua anak berkumpul di dalam gua.


"Jadi ... Rangga dan Juby tersisa satu nyawa. Baiklah, kita harus lebih berhati-hati," tegas Kenta, dan diangguki semua anak.


"Soal mimpi Jubaedah, sayangnya Rangga tak mengalaminya. Namun entah kenapa, aku sedikit percaya dengan yang Jubaedah katakan jika kita seperti memiliki kembaran atau bisa disebut kloningan," ucap Laika yang membuat semua anak berwajah serius seketika. Mata Jubaedah berbinar karena ada yang memihaknya. "Aku teringat kawan kita Jimmy yang tewas dengan darah warna biru di punggung. Aku rasa, itu sedikit tak wajar," sambungnya.


"Tuh 'kan dibilang. Juby gak pernah boong. Selama di planet Mitologi, baru kali itu Juby mimpi dan inget dengan jelas. Biasanya 'kan kalau orang mimpi suka lupa dan cuma inget sebagian doang," sahutnya ngotot.


"Semoga kita mendapatkan jawaban dari mimpi tersebut," ucap Rex mencoba menengahi. Semua anak mengangguk setuju. "Bagaimana? Siap untuk melanjutkan perjalanan berikutnya?" tanya Rex terlihat siap untuk meneruskan misi.


Semua anak mengangguk dan terlihat serius. Rex kembali memegang kompas tersebut seraya memejamkan mata. Ia terlihat begitu serius dengan permintaannya.


Tak lama, jarum pada kompas bergerak. Senyum semua anak terkembang. Mereka terlihat siap dengan tas dalam gendongan.


"Kita akan bertemu Tina. Semoga, dia juga bersama kawan-kawan lainnya," ucap Rex tegas seraya memberikan kompas itu pada Jubaedah karena lelaki Asia tersebut akan berubah menjadi naga.


"Hem! Amin, amin! Juby gak sabar pengen pulang ke Bumi!" sahut Jubaedah senang.


Satu per satu, anak-anak itu keluar dari gua dibantu oleh Pasha yang berubah menjadi Manticore dan Czar yang menjadi Griffin.


Sebagian dari mereka sampai lupa jika memiliki perubahan wujud karena panik. Hanya beberapa saja yang ingat dan menggunakan hal tersebut dengan baik.


Rex segera merubah dirinya menjadi naga untuk mengangkut kawan-kawannya yang tak mendapat tumpangan dari Pasha dan Czar.


Mereka kini lebih berhati-hati agar tak terpisah dan bertemu dengan badai aneh yang membuat mereka tercerai-berai.


"Ayo berangkat!" seru Jubaedah gembira.


"Let's go!" jawab semua anak serempak dengan tangan terangkat ke atas.


Rex, Pasha dan Czar dengan sigap mengepakkan sayap mereka. Tiga makhluk dengan kemampuan terbang itu segera meninggalkan wilayah pegunungan es menuju ke tempat Tina berada. Timo berharap, adiknya baik-baik saja.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Jangan lupa boomlike audio book Secret Missions ya😍 Lele lagi ngebut semuanya biar bisa selesai sesuai jadwal. Trims untuk diriku atas tipsnya. Kwkwkw lele padamu😆

__ADS_1


__ADS_2