
Setelah menempuh penerbangan yang melelahkan, Satyr dan sekumpulan anak-anak yang berhasil hingga ke level 7 dalam permainan Maniac, akhirnya tiba di sebuah wilayah kering dengan cuaca panas terik menyengat.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Wah, gurun pasir!" seru Timo dengan mata melotot karena tak menyangka hal tersebut.
"Kita sudah hampir tiba. Bersiaplah!" sahut Satyr lantang.
Mata semua anak-anak menyipit melihat setumpuk pasir panas yang menjadi perbukitan berundak dan menutup wilayah hijau yang tadi mereka lewati.
"Oh, itu dia!" pekik Rex saat melihat sosok Sphinx yang duduk di dalam bangunan besar terbuat dari batu.
"Semuanya, waspada! Kita mendarat!" ujar Gibson seraya menggenggam pedang Elf-nya erat.
Semua anak ikut melakukan hal yang sama. Rex dan kawan-kawan yang memiliki kemampuan terbang turun perlahan di dekat bangunan besar itu.
Mereka melihat sekeliling di mana hanya ada satu bangunan terbuat dari batu dan tempat itu dihuni oleh Sphinx.
"Woah ... dia besar sekali," kagum Czar sampai kepalanya mendongak saat ia berubah menjadi manusia lagi.
"Sekali injak kita mati," sambung Ryan, dan semua anak yang berdiri di depan Sphinx mengangguk dengan wajah tegang.
Mereka masih menjaga jarak dengan sosok besar bersayap, berkepala manusia seorang wanita, bertubuh singa yang memiliki kuku tajam dan runcing di jari-jarinya.
"Lihat! Seperti kataku, dia tak bergerak dan badannya keras seperti batu," ujar Satyr yang kini berdiri di samping makhluk berwarna kehijauan itu seraya menepuk-nepuk lengan singanya.
Namun tiba-tiba, "AAAAA!" teriak Nicolas mengejutkan semua anak saat melihat tubuh Satyr terangkat ke atas karena dicengkeram oleh salah satu tangan singa Sphinx.
"Di-dia hidup!" pekik Harun menunjuk sampai tergagap.
"Hem, aku mengingatmu. Kau datang lagi, Satyr. Namun, kali ini kau membawa manusia. Kerja bagus, mereka akan menjadi budak dan juga makananku. Hem, hem, hem, hem," tawanya seperti sebuah deheman.
"Kami bukan budak dan bukan makan siangmu! Enak saja!" seru Vadim marah.
Sphinx menatap sekumpulan anak-anak manusia tersebut termasuk Rex yang masih dalam wujud naga. Bola matanya bergerak ke arah Satyr yang berusaha untuk lepas dari genggaman kuat itu.
"Katakan tujuan kalian datang kemari," pinta makhluk itu yang menjadikan Satyr sebagai tawanannya.
"Kau berada dalam salah satu daftar makhluk Mitologi yang harus diserahkan kepada sosok hitam. Kami harus menangkap dan membawamu padanya!" jawab Gibson lantang.
Praktis, mata Sphinx melebar seketika.
__ADS_1
"Harghhh! Tidak bisa! Aku tak mau dan aku tak sudi! Kalian bukan tandinganku meskipun berkawan dengan para makhluk Mitologi!" jawab Sphinx menolak dengan keras dan mencengkeram Satyr semakin kuat.
"Arrghhh!"
"Satyr!" panggil Kenta pucat karena makhluk setengah kambing itu menjerit kesakitan.
Semua anak langsung melakukan posisi siaga. Sphinx masih dalam posisi duduk tak beranjak dengan Satyr dalam cengkeraman.
"Serang dia!" seru Lazarus yang berubah menjadi Centaur.
Sphinx tampak terkejut saat para anak manusia itu berubah menjadi makhluk Mitologi untuk menyerangnya.
Akan tetapi, KLANG!!
"Pe-pedang Elf-ku patah!" pekik Timo terkejut yang masih dalam wujud manusia ketika bilah pedangnya jatuh di atas lantai batu.
"Tubuhnya keras seperti batu! Senjata kita tak bisa menyakitinya!" teriak Boas melakukan hal serupa dengan pedang Elf ia sabetkan ke tubuh Sphinx, tapi tak menggoresnya sedikitpun.
"Hem, hem, hem, hem," tawanya lagi seperti orang berdehem.
Anak-anak terlihat bingung. Gibson yang masih berdiri dengan wujud manusia di depan Sphinx menyipitkan mata.
"Semuanya mundur! Hentikan serangan," pinta Gibson tegas.
"Bagaimana jika sebuah kesepakatan?" tawar Gibson.
Tiba-tiba, Sphinx tersenyum miring seraya merenggangkan cengkeraman. Tubuh Satyr terlihat lemah dan napasnya tersengal.
"Apa yang kauinginkan dan harus kaukorbankan?" tanya Sphinx yang menjadikan Satyr jaminan.
"Kita melakukan pertandingan teka-teki. Jika aku bisa menjawab satu pertanyaanmu, kau harus membuat satu anggota tubuhmu yang keras seperti batu menjadi lunak layaknya kami," pinta Gibson tegas.
Semua anak diam begitupula Sphinx yang menatap Gibson serius.
"Baiklah. Namun, jika kau tak bisa menjawab pertanyaanku, Satyr akan kumakan, begitupula seterusnya dari kalian satu per satu akan menjadi santapanku," ucap Sphinx seraya menunjukkan gigi bertaringnya.
Anak-anak menelan ludah terlihat pucat.
"Setuju."
"Kau gila, Gibson!" teriak Satyr panik karena dirinya dikorbankan.
Sphinx tersenyum miring. "Aku baru menyadari jika kalian pasti anak-anak Bumi yang mengikuti permainan Maniac. Dan kau, Satyr. Kau adalah yang terburuk dari semua makhluk Mitologi di penjara Hades ini. Kau malah membantu para anak manusia untuk menyelesaikan misi. Kau tak bisa dimaafkan. Kau akan mati dengan mengenaskan di tangan para tahanan karena dianggap pengkhianat!" teriak Sphinx melotot tajam pada Satyr yang kini tampak tegang karena diancam. "Kau salah memihak, Satyr. Kau akan menerima akibatnya," tegas Sphinx.
__ADS_1
Satyr terdiam dan terlihat pasrah dengan takdirnya. Gibson dan lainnya mencemaskan kondisi Satyr jika benar ia akan tewas di penjara Hades karena memihak para anak manusia di Bumi. Gibson terlihat berpikir keras seperti memikirkan sesuatu.
"Jika aku bisa menjawab semua pertanyaanmu, kau harus ikut dengan kami untuk bertemu dengan sosok hitam. Jumlah kami, tak sebanding dengan jumlah anggota tubuhmu. Kami 14 anak dengan Satyr menjadi 15. Sedang tubuhmu, hanya terdiri dari 4 kaki, ekor, kepala, sepasang sayap, dan badan. Sedang dua kaki depanmu sudah bisa bergerak berikut kepala. Jumlah yang kautawarkan tak sebanding. Sebagai gantinya, dengan sukarela kau ikut dengan kami," tegas Gibson menunjuk.
Tampak ketegangan di antara Gibson dan Sphinx. Nyawa anak-anak itu dipertaruhkan termasuk Satyr.
"Hem, setuju," jawab Sphinx menunjukkan seringainya.
"Gibson ...," panggil Bara terlihat takut, tapi pemimpin kelompok itu mengangguk meyakinkan kawan-kawannya jika mereka akan menang.
"Baiklah. Karena kalian tamu dan aku Tuan rumahnya, aku yang akan mengajukan pertanyaan lebih dahulu," ucap Sphinx.
"Tunggu!" teriak Rex. Semua orang menoleh ke arah naga hijau tersebut termasuk Sphinx. "Harus ada wasit permainan agar tak ada yang curang. Aku menawarkan diri sebagai juri pertandingan ini," ucap Rex mantap.
"Hem, baiklah. Itu bukan hal besar untukku," jawab Sphinx tenang.
"Aturannya. Tombakku ini sebagai pengatur waktu layaknya jam. Ketika ia bergerak, tandanya pertanyaan yang diberikan harus segera dijawab. Sekali salah dalam menjawab, dianggap gugur dan menerima konsekuensinya," ucap Rex yang membuat kawan-kawannya terkejut.
"Kau ini sebenarnya memihak siapa, Rex?!" pekik Rangga melotot.
"Aku wasit. Aku netral dan tidak berkubu. Aku rasa, aturanku ini sudah cukup adil bagi dua kelompok. Bagaimana?" tanya Rex menatap Gibson dan Sphinx tajam.
"Setuju," jawab keduanya bersamaan.
Sedang anak-anak lain terlihat frustasi. Mereka panik karena takut jika Gibson kalah. Selain itu, mereka akan ditumbalkan nantinya. Jantung para remaja itu berdebar kencang.
JLEB!
Rex mulai menancapkan tongkat Lady Elf di atas pasir. Terlihat bayangan seperti pergerakan jam di atas pasir panas itu. Semua anak terlihat gugup ketika Gibson dan Sphinx saling memandang terlihat fokus.
"Oke, mulai!" seru Rex lantang saat pergerakan bayangan mulai terlihat.
Sphinx menunjukkan seringai. Sedang Satyr, memejamkan mata seperti pasrah dengan takdirnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy makasih tipsnya diriku💋 lele padamu😍
__ADS_1